Rindu Yang Tak Tersampaikan

Rindu Yang Tak Tersampaikan
1. Hari pertama masuk sekolah


__ADS_3

Pagi yang begitu tenang mendengar ayat suci yang dilantunkan oleh kedua orang tuanya pak Adi dan ibu Rahmi. Namun Rindu, hari ini tidak dapat mengaji bersama kedua orang tuanya karena dalam masa Haid.


Mendengar lantunan ayat suci dalam keadaan seperti ini sangat baik untuk Rindu ia mendapat pahala. Tinggal di rumah yang mendisiplinkan ilmu agama dan mengutamakan akhlakul karimah membuat Rindu sangat patuh atas perintah dari kedua orang tuanya.


Ia anak ketiga dari tiga bersaudara, dua kakak nya telah menikah di umur yang sangat muda yaitu antara 20 dan 22 tahun. Dan Rindu yang berumur 17 tahun ini sama sekali tidak memperdulikan apakah ia harus menikah muda atau tidak karena ia menyerahkan semua nya pada Allah dan kedua orang tuanya.


Namun kini ia fokus akan cita-cita dan impian yang ingin ia wujudkan untuk itu ia sangat rajin dan giat dalam menuntut ilmu terutama kedisiplinan masuk sekolah di hari pertama ini.


satu tahun lagi ia akan tamat dari sekolah ini dan menempuh pendidikan di perguruan tinggi.


"Bunda.... tidak perlu repot-repot untuk menyiapkan sarapan ku, aku sudah makan dua roti dan itu sudah cukup" kata Rindu tersenyum sambil memakai sepatu dan terlihat ia siap pergi dengan memegang dua buku besar matematika dan sosiologi.


"Baiklah... kamu di antar oleh ayah ke sekolah atau naik motor aja... " kata Ibunya memegang bahu Rindu dan tersenyum.


"Aku naik motor matic aja Bun... " kata Rindu mencium tangan ibunya dan ayah nya yang nampak menghampiri keduanya.


"Nak... ini hari pertama mu masuk sekolah, setelah libur panjang....ingat, jangan sampai terlambat... langsung ke sekolah.. jangan pergi ke mana-mana lagi... " kata ayah nya memperingati Rindu.


"Siap ayah" kata Rindu tersenyum dan langsung ke garasi mengendarai motor matic warna merah milik nya.


Dalam perjalanan ia sangat bahagia tidak sabar nya untuk tamat di sekolah jakarta Islamic school, sangat muak dan marah setiap mendengar kata candaan memakai kata Rindu.

__ADS_1


"Entah apa yang difikirkan oleh kedua orang tua ku mengapa mereka memberi ku nama Rindu, sungguh...setiap hari ada saja yang mengejek ku dengan nama tersebut.... bagus sih.. nama nya namun haruskah Rindu... "gumam Rindu sambil mengendarai motor matic nya, nampak ia memakai helm berwarna hitam sehingga tidak terlalu melihat siapa yang memanggilnya.


***


"Rindu...... "teriak dengan merdu nya terdengar suara seorang laki-laki namun Rindu tidak menggubris nya dan fokus mengendarai motor nya menuju sekolah.


"Rindu........ Oh... Rindu.... " kata seorang pria berambut ikal itu yang sama mengendarai motor berwarna hitam, nampak ia kini mengedarai motor di samping Rindu.


Namun Rindu tidak memperdulikan nya dan memilih diam, terlihat memasang wajah kesal.


"Sombong banget sih... dipanggil gak nyaut-nyaut... " kata Cello terlihat membuka kaca helm nya dan menekan klakson motor nya untuk menyadarkan Rindu.


"Aku terburu-buru... jadi tolong jangan sekarang" kata Rindu membuka kaca helm nya dan melihat ke arah Cello. Kini nampak para pengendara motor dan mereka berhenti karena lampu merah nampak para pejalan kaki sedang menyebrang jalan, ada yang sambil membawa barang dagangan nya berupa kerupuk, minuman kopi dan es potong lilin.


"dek... jangan stress dulu.. lebih baik selesaikan sekolah dulu..." kata abang - abang yang nampak di belakang nya membawa kedua putri yang masih kecil untuk ke sekolah dasar.


" Eh bang...memang nya setelah lulus sekolah boleh stress...lagi pula suka-suka saya mau nyanyi atau enggak... suara-suara saya situ yang repot "kata Cello melihat ke belakang.


Bapak muda tersebut tidak meladeni perkataan Cello namun kedua anak nya yang berseloroh saat mendengar lagu yang dibawakan oleh Cello begitu nyaring ditelinga dua anak perempuan tersebut hingga mereka menutup telinga.


" aduh.... suara nya jelek sekali"kata anak perempuan yang duduk di depan ayah nya sedangkan yang dibelakang terlihat muntah-muntah bohong

__ADS_1


"huak... huak... kepala ku pusing ayah... suara nya jelek sekali... bisakah ayah suruh abang itu diam"kata anak tersebut.


"Tuh lihat anak saya... sampai muntah dengar suara kamu..." kata bapak muda tersebut dan tak berapa lama terlihat sudah lampu hijau dengan segera bapak tersebut mengendarai motor nya melaju cepat.


"Masih kecil pintar acting tuh anak... pakai acara muntah segala lagi...kan suara ku bagus... iyakan adek Rindu... " kata Cello namun saat ia melihat di samping nya Rindu sudah melaju cepat mengendarai motor nya meninggalkan Cello meski mereka satu sekolah dan satu arah rumah namun tetap saja Rindu selalu sentimen kepada Cello.


"huh.... sabar Rindu... sabar hanya satu tahun lagi sekelas dengan nya setelah itu kamu pergi jauh sehingga ia tidak bisa bertemu dengan mu selama-lamanya" kata Rindu pada dirinya sendiri.


sekarang nampak Rindu sudah sampai di sekolah nya ia turun dari motor nya dan mendorong pelan motor nya ke arah parkiran karena melihat guru nya berdiri di depan pintu gerbang.


nampak ia mencium satu persatu tangan guru nya yang berada di pintu gerbang, jilbab putih dengan baju batik dan rok abu-abu nampak ia begitu ramah kepada guru-guru nya.


"Rindu... rangking berapa... " kata seorang guru wanita yang paruh baya.


"Alhamdulillah... pertama buk... " kata Rindu tersenyum dan nampak ia pun masuk ke sekolah dan mendorong motor nya sampai parkiran dan memakirkan dengan rapi mengikuti motor lainnya yang sudah terparkir dengan teratur.


sedangan Cello yang kini sudah sampai ke sekolah nampak memberi senyum yang manis pada Guru nya dengan mencium tangan terlihat ia terburu-buru mengejar Rindu, murid terpintar di kelas nya dan di sekolah.


"heh...cepat sekali masuk... tunggu dulu, setelah memakirkan motor mu... bantu ibu bersihin ruangan kepala sekolah" kata Ibu Dena"merupakan wali kelas mereka.


"yah... ibu.... Rindu kan anak murid ibu juga... dia gak ibu suruh... saya akan semangat jika ibu menyuruh nya juga"kata Cello memasang wajah sedih.

__ADS_1


" hem.... modus kamu ya, mau deketin Rindu belajar dengan rajin dulu dan memperoleh juara kelas, entar Rindu sendiri yang datang ke kamu... mana mau Rindu sama kamu sekarang, ia pasti mencari calon suami yang pintar dan rajin"kata ibu Dena.


"memang ibu Dena ini, suka sekali mengungkit-ungkit kepintaran, apa dia gak tau bahwa aku mati-matian belajar namun tetap saja aku tidak paham sama sekali, haruskah aku menunjukkan padanya betapa aku lelah mendengar omelan ibu dan ayahku setiap hari melihat nilai ku, bukan memberi semangat malah membuat ku jadi putus asa untuk bersama dengan Rindu"gumam Cello dalam hati nya nampak ia mengangguk mematuhi perkataan guru nya dan siap untuk membersihkan ruangan kepala sekolah sehabis ia memakirkan motor.


__ADS_2