Rindu Yang Tak Tersampaikan

Rindu Yang Tak Tersampaikan
23. Ada apa dengan Rindu?


__ADS_3

Sesampainya di sekolah terlihat Rindu dan Cello sama-sama pergi menuju kelas nya terlihat adik kelas juga beberapa teman-teman seangkatan nya tersenyum menggoda kedua nya untuk pertama sekali melihat kedua nya jalan bersama seperti ini dengan hangat tanpa ada wajah dingin Rindu.


"Temben Rindu... hari ini pergi bareng Cello" kata Winda melihat ke arah nya nampak Rindu sendiri mengambil buku bendahara untuk melihat uang tabungan kelas.


"Iya gak sengaja jumpa di jalan, bukan gak sengaja sih tapi memang dia nya aja yang ingin pergi sama-sama dengan ku" kata Rindu sambil terus mencentang nama yang telah memberi uang tabungan.


"Hahaha... aku tau sih" kata Winda


"Oh ya...aku mau bilang sesuatu padamu" kata Winda namun saat ia ingin mengatakan nya guru Dena datang dan langsung menjelaskan pembelajaran hingga ia pun tidak jadi mengatakan nya pada Rindu.


"Nanti aja lah udah ada bu Dena takut kena hukuman nanti" kata Rindu tersenyum melihat ke arah Winda.


"Rindu... bagaimana uang tabungan kelas lancar " tanya ibu Dena


"Alhamdulillah lancar buk" kata Rindu


"Alhamdulillah kalau gitu, kita lanjutkan ke pelajaran sejarah ya, buka halaman 21 mengenai kerajaan Islam di Nusantara" kata Ibu Dena yang nampak bangkit dari kursi nya dan menulis judul besar di papan tulis sambil menggambar peta Indonesia dan menunjukkan ke pada semua murid semua warna tanda yang menunjukkan letakkan kerajaan islam zaman dulu.


Terlihat mereka mendengar semua penjelasan ibu Dena dan kini satu persatu dari mereka menjelaskan tentang kerajaan Islam dengan bahasa masing-masing.


Rindu telah menyelesaikan tugas nya ia beranjak dari kursi nya dan dengan tenang menjelaskan pada teman nya mengenai kerajaan islam.


"Terimakasih Rindu, kamu bisa duduk sekarang" kata ibu Dena


"Terimakasih buk" kata Rindu yang terlihat duduk kembali ke kelasnya setelah selesai menjelaskan di hadapan semua teman-teman nya.


Dan kini giliran yang lain menjelaskan nya nampak hampir semua nya telah selesai terlihat lah ibu Dena bangkit dari kursi nya dengan tak lupa memberi PR kepada mereka sebelum meninggalkan kelas.


"Buka halaman 23 kerjakan 20 sial coss dan essay ya... jangan lupa besok langsung kumpul kan ke kelas IPA 4, ibu jam 08.00 udah ada di sana" kata ibu Dena


"Yah.. buk perasaan setiap hari selalu ada PR, kasih minggu depan aja buk" kata Cello.


"Cello kamu bukan kelas 1 SMK lagi ya, gak takut ujian nasional nanti. Katanya mau ngedapetin hati Rindu harus semangat nya mencontohkan Rindu juga lah" kata Ibu Dena seraya tersenyum sambil melihat ke arah Rindu.


"Ya Allah buk... apaan sih buk, sedikit-sedikit tiap membahas Cello pasti ujung-ujungnya yang kena Rindu" kata Rindu dengan wajah bete.


"Yah abis, anak jaman sekarang memang ya, kalau jatuh cinta itu nampak-nampak kali kenapa gak mencontohkan kisah cinta di zaman Nabi, terutama kisah Cinta Sayyidah Fatimah dengan imam Ali yang saling menyembunyikan rasa cinta nya bahkan jin pun tidak mengetahui nya"kata ibu Dena terlihat menggandeng tas ransel dan berdiri di pintu hendak keluar.


"Bukan saya buk... Cello tuh yang harus dengerin baik-baik" kata Rindu melihat ke arah nya dengan malas


"Cie Rindu.. jangan terlalu jual mahal, kasihan Cello lelah nanti, udah rasa Rindu tidak terbalaskan kini rasa cinta pun tidak terbalaskan" kata Ardi wali kelas mereka.


"Sudah-sudah gak usah ribut. Kerjakan soal itu.. Asalamualaikum" kata ibu Dena meninggalkan ruangan mereka.


"Waalaikumsalam" jawab semua nya dan kini nampak Winda dan Rindu langsung keluar karena ini sudah jam istirahat nampak di perjalanan ke kantin Winda mengatakan hal yang tadi tertunda yang mana sebelumnya ia ingin mengatakan pada Rindu, kini dengan tidak sabar nya dan dilanda rasa bahagia Winda pun memegang tangan Rindu dan membawa nya ke belakang kelas tepat nya di daerah yang di penuhi rerumputan dan jauh dari murid lainnya.


"Win... Win... ada apa ini kenapa kamu bawa aku ke sini" kata Rindu yang kini nampak melihat ke arah nya


"Rindu... aku senang sejaki, tau gak" kata Winda

__ADS_1


"Ya enggak tau lah, kamu belum bilang apa" kata Rindu


"Arman menyatakan cinta nya padaku dan dia menembak ku untuk menjadi pacar nya" kata Winda tersenyum


"Terus kamu jawab apa" tanya Rindu


"Ya tentu saja, aku mau. Hari ini kami resmi pacaran" kata Winda nampak duduk di lantai keramik yang agak tinggi


"Aku tidak setuju" jawab Rindu ikut duduk bersama nya.


"Kenapa, harus nya kamu senang dong, sahabat mu bahagia" kata Winda melihat ke arah samping kiri nya ini


"Winda...kamu lupa kalau kamu sudah berjanji pada dirimu sendiri, dan aku juga selalu mengingatkan mu bahwa kamu mengatakan tidak lagi mau berpacaran jika ada ikhwan yang menyukai mu maka kamu ingin langsung menikah, tidak lagi yang namanya berpacaran, kamu lupa akan hal itu" tanya Rindu


"Iya aku tau, tapi pacaran yang kumaksud kan saat itu adalah pacaran yang tidak baik, ini kan aku dan Arman pacaran sambil LDR, kami saling jauh dan jarang ketemu hanya ada ikatan saja di antara kami namun kami telah sama-sama serius dalam hubungan ini" kata Winda nampak bangkit dari tempat duduk nya dan berencana pergi ke kantin.


"Tidak ada namanya pacaran yang baik, jangan gabungkan yang haram dengan yang halal, haram tetap haram Win... aku sebagai teman mu hanya mengingatkan mu untuk kebaikan saja, tidak kah kamu mengambil pelajaran dari yang dulu-dulu di mana kamu telah disakiti oleh pria yang kamu katakan sangat mencintai mu, kamu segala-galanya bagi nya, memberi janji untuk selalu setia namun nyatanya hubungan mu dengan mantan mu buruk seperti ini dan kamu ingin merubah untuk tidak lagi berada dalam hubungan yang manis sesaat itu, Winda kenapa kamu tidak konsisten "kata Rindu nampak sebagai sahabat Rindu tidak suka jika Winda melanggar janji yang dibuat pada diri nya sendiri.


" Rindu... kamu sahabat ku, aku tau kamu ingin yang terbaik untuk ku, baiklah jika menurut mu ini yang baik maka aku akan memutuskan berada dalam hubungan seperti ini namun bagaimana aku menikah nanti jika tidak pacaran, aku tidak saling mengenal dengan nya"kata Winda nampak memegang tangan Rindu


"Winda, biarlah urusan tersebut Allah yang mengatur nya, semua dunia dan seisi nya milik Allah, sudahlah untuk apa membuat diri kita repot memikirkan hal yang sudah memang ditakdirkan untuk kita, pasti takdir kita akan menemukan jalan nya sendiri untuk menemui kita, aku contoh nya berusaha merencanakan dan mengatur kehidupan ku jadi seperti ini dan seperti ini namun hasil nya malah berantakan dan kacau namun saat semua nya ku serahkan pada yang maha Kuasa, semua nya baik-baik saja. "kata Rindu tersenyum dan begitu senang nya Winda bisa merubah keputusan nya yang salah itu dan cara pandang nya yang salah.


" Baiklah mari kita ke kantin "kata Winda mengajak Rindu


" Maaf Winda... aku nanti menyusul, kamu pergi lah duluan "kata Rindu nampak seperti orang yang sedang terburu-buru dari tadi Rindu terus melihat jam tangan nya.


" Baiklah... cepat ya"kata Winda yang nampak telah pergi meninggalkan diri nya seorang diri.


Semua teman Aidan nampak berdiri memanjang seperti sedang menghadiri upacara hari tiap hari senin, Rindu mencurigai hal itu jika memang Aidan ingin pembicaraan ini rahasia di antara ia dan dirinya mengapa harus ada teman nya di sini batin Rindu.


"Ada apa, aku tidak punya banyak waktu tolong cepat katakan apa mau mu" kata Rindu


"Pertama silahkan duduk di kursi hijau nan panjang ini" kata Aidan


"Aku tidak mau, mengapa aku harus menuruti mu, katakan kenapa semua teman mu ada di sini" kata Rindu


"Aku mohon, dengarkan dan lihat " kata Aidan berharap Rindu tidak pergi dari tempat yang telah direncakan nya ini


Terliat Rindu pun duduk menuruti tanpa membantah sebenarnya ia begitu sangat malu namun karena Aidan memohon dan memasang wajah sedih akhirnya ia pun menurut dengan perasaan kalut.


Nampak suara nyanyian bertema cinta, dinyanyikan oleh teman Aidan dan suara tersebut sukses mengundang para murid lainnya dan kini suara yang kian terdengar memenuhi seluruh tempat tersebut bahkan yang semula nya hanya teman Aidan kian bertambah lagi dan lagi dari kelas lain bahkan Riska dan biola teman sekelas Rindu pun ikut berkumpul sungguh Rindu begitu bingung dengan hal ini ia bangkit dari kursi hendak pergi namun Aidan menarik tangan nya dan memintanya untuk duduk.


"Aidan ini tidak lucu, kamu harus menghormati ku sebagai kakak kelas mu dan mantan ketua OSIS di sini" kata Rindu


"Iya aku menghormati mu bahkan lebih dari itu aku siap melakukan nya" kata Aidan dan tak berapa lama Aidan berlutut dengan setangkai mawar merah ada di tangan kanan nya dan boneka berwarna putih ada di tangan kiri nya.


"Teman ku sudah cukup bernyanyi nya" kata Aidan semua teman nya pun nampak diam


Dan di lain sisi Winda dan Arman, Cello juga Gio pun nampak penasaran mereka bingung mengapa semua teman-teman nya berkumpul.

__ADS_1


Winda yang tadi nya ingin membicarakan perihal ia telah memutuskan Arman untuk tidak berpacaran jadi terhenti setelah terfokus kan pada teman nya yang berlari-lari seperti sedang mengambil hadiah gratis.


"Apa yang terjadi, mengapa semua orang lari dan berkumpul di taman itu" kata Cello menunjukkan ke arah teman tersebut di mana semua murid berdiri berbentuk lingkaran menutupi Rindu dan Aidan yang berada di tengah mereka.


"Aku tidak tau.. coba kita tanyakan pada Ardi ketua kelas yang lebih tau biasanya tentang hal ini" kata Winda


"Ada apa di sana, mengapa semua orang berkumpul di sana" tanya Arman


"Iya kenapa, apa sedang bagi- bagi THR" kata Gio nampak ke-empat nya duduk di meja panjang yang sama Winda yang biasanya duduk dengan Rindu kini sendiri saja di kursi panjang tersebut.


"Kalian belum tau? " kata Ardi


"Tau apa, memang nya ada apa" tanya Cello


"Iya, langsung bilang aja kenapa sih, bikin penasaran aja" kata Winda


"Winda kamu juga tidak tau padahal kamu sahabat nya Rindu, kalau mereka bertiga aku bisa memaklumi apalagi Cello tapi kamu" kata Ardi sambil tertawa


"Kamu Ardi, mau berhadapan dengan kami, jawab saja kenapa semuanya berkumpul di taman itu" kata Cello nampak berdiri di hadapan Ardi dan memegang kerahasiaan baju Ardi, Cello yang tinggi nampak berhasil membuat Ardi yang tidak setinggi nya jadi ketakutan hingga ia pun meminta maaf menunjukkan tanda dua jaridan mengatakan maaf.


"Maaf... lepaskan dulu baru aku katakan" kata Ardi terlihat lah Cello melepaskan nya dan kini betapa tidak sabar nya ia ingin mendengarkan sebenarnya ada kaitan apa perkumpulan semua murid degan Rindu


"Mereka berkumpul itu karena ingin melihat Rindu di tembak" kata Ardi.


"Apa? " kata mereka semua sangat terkejut mendengar nya terutama Winda yang barusan saja ia berpisah dengan Rindu dan kini malah kabar buruk didengar nya tentang sahabat terbaiknya ini, Winda tidak tau bahwa ia dan ketiga nya ini salah paham dengan kalimat yang dilontarkan oleh ketua kelas nya ini.


"Siapa yang berani menembak sahabat ku, apa masalah mereka dengan Rindu mengapa ingin menyakiti Rindu, mereka ingin Rindu tiada atau apa sih" kata Winda dengan marah dan wahah nya yang memerah nampak menggebrak meja, Arman yang melihat amarah Winda jadi ngeri sendiri ia berfikir bagaimana nanti ketika Winda marah padanya pasti akan langsung memutuskan nya dan memukul nya batin Arman.


"Siapa yang ingin menyakiti Rindu? " kata Cello


"Bukan.. Astaghfirullah kalian, kita ini semua nya murid yang baik dan takut pada perbuatan keji seperti itu lagi pula satu sekolah ini kita keluarga, maksudku Rindu di tembak adalah Aidan ingin Rindu menjadi pacar mu jadi dia menyiapkan semua ini untuk menembak Rindu dengan cara nya yang telah lama dipersiapkan oleh nya sebenarnya Aidan telah lama jatuh hati pada Rindu bahkan ketika masih SMP dan kini saat ada kesempatan baru ia berani dan percaya diri bahwa cinta nya tidak akan ditolak "kata Ardi panjang lebar menjelaskan agar teman nya yang terlihat dari luar banyak akal namun dari dalam begitu polos dengan pribahasa orang hingga bisa salah paham.


" Aku tidak menduganya. Ada apa dengan Rindu, apa ia menerima nya sungguh sangat disayangkan, aku dengar Aidan hanya cinta pada nya karena fisik nya saja bukan dari hati yang tulus "jawab Gio


"Aku tidak akan membiarkan nya" kata Cello nampak marah dan menggebrak meja hingga ibu pemilik kantin marah dan mengomel padanya.


"Maaf buk, saya khilaf " kata Cello nampak tersenyum ketakutan pada ibu kos nya ini yang sangat galak.


"Tenang, Cello. Rindu tidak akan menerima cinta nya Aidan" kata Winda


"Dari mana kamu tau, kamu yakin sekali. bisa saja Rindu menerimanya lagi pula ia belum pernah berpacaran dan mungkin bagi Rindu ini sebagai pengalaman untuk nya bahwa pacaran itu seperti ini, manis awal pahit akhirnya ya solusi nya cari pengganti lain selesai, pasti Rindu mau deh" kata Arman.


"Kamu bilang apa Arman, memang ya cowok itu sama saja. kamu pacaran masih memikirkan cari pengganti lain, cowok yang mau berpacaran itu adalah cowok yang tidak serius dengan pasangan nya, kamu sungguh mengecewakan, sampai jumpa 10 tahun ke depan. Kita putus" kata Winda pergi dari tempat tersebut dan ia langsung ke kasir membayar makanan nya dan terlihat pergi menyusul teman yang lain ke taman tersebut.


"Winda maaf... win, aku menyesal" kata Arman nampak memanggil Winda dengan keras dan mengejar nya.


"Rasain... emang enak diputusin pacar dengan sangat kejam. tuh rasain yang suka cari pengganti" kata Gio tertawa terbahak.


"Kasihan amat nasib Arman" kata Ardi dengan tertawa sama hal nya dengan Gio dan Cello sendiri masih pada amarah nya mendengar kan kalimat bahwa Aidan ingin Rindu menjadi pacar nya.

__ADS_1


"Kamu pintar namun Menyia-nyiakan wanita seperti Rindu dengan menjadi kan nya hanya sebagai pacar, lihatlah suatu hari nanti aku yang tidak sepintar diri mu tidak akan menyiakan wanita seperti Rindu dengan cara menjadi kan nya sebagai istri" Gumam Cello dalam hati nya nampak ia pergi ke arah teman tersebut ingin melihat semua kejadian di sana.


__ADS_2