
Sesampainya di ruang guru, Winda dan Rindu pun meletakkan buku tersebut ke meja pak guru nya. Nampak semua guru sedang sibuk dengan berkas-berkas untuk pelatihan keguruan. Saat akan keluar tidak sengaja Rindu berpapasan dengan Aidan yang mana nampak sedang mengurus persiapan acara Mural sekolah.
"Rindu... kamu sibuk gak.." tanya Aidan berdiri di depan nya nampak banyak teman-teman Aidan yang berada di sana.
"Gak ada... kenapa" kata Rindu
"Perasaan bukan hanya Rindu aja yang ada di sini tapi aku juga ada, tapi kamu gak menyapa ku Aidan" kata Winda yang berada di samping Rindu.
"Iya... maaf... apa kabar" tanya Aidan tersenyum melihat ke arah nya.
"Alhamdulillah baik... ngomong-ngomong aku mau langsung balik ke kelas... kamu Rindu mau tetap di sini atau mau pergi bareng ku ke kelas" kata Winda.
"Gak Winda... kamu duluan aja... kalau guru nya masuk ke kelas sebelum aku sampai ke kelas tolong bilang aku telat masuk ada keperluan di OSIS" kata Rindu melihat ke arah teman nya ini.
"InsyaAllah... jangan lama-lama ya" kata Winda dan nampak ia pergi meninggalkan Rindu dan Aidan juga teman-teman keanggotaan OSIS.
__ADS_1
"Rindu... aku sedang sibuk mengurus persiapan acara Mural... kamu mau gak bantuin aku dan anggota lainnya... lebih-lebih kamu sudah berpengalaman di acara sekolah... aku susah mengatur acara nya, kamu mau bantu kan.." kata Aidan nampak tersenyum padanya"
"Iya boleh... coba aku lihat sudah seperti apa persiapan nya" tanya Rindu tersenyum pada nya sambil meminta diberikan kertas yang ada di tangan Aidan yang merupakan ketua OSIS yang mana lebih muda satu tahun dari Dirinya.
"Ini... lihatlah.. apa menurut mu masih ada yang kurang.. ada krayon, pensil, penggaris dan semua peralatan menggambar juga beberapa cemilan biskuit dan lainnya... " kata Aidan yang nampak kini mereka duduk di kursi taman sekolah terlihat tidak hanya mereka saja yang ada di sana juga beberapa anggota OSIS lainnya namun pusat perhatian terarah kepada mereka berdua dari murid lainnya yang berada di luar kelas mereka masing-masing melihat Rindu dan Aidan yang nampak sangat dekat mengobrol satu sama lain.
Terlihat juga Rindu sesekali melihat ke arah kelas nya apakah guru kelas nya yaitu Ibu Dena sudah masuk lantaran ini adalah mata pelajaran nya beliau.
"Udah kok semua nya... tapi ini untuk kebutuhan acara kalau tempat pentas nya gak di hias" kata Rindu melihat ke arah nya
"Iya juga sih... kayaknya dana OSIS mencukupi.. berarti kalau kita hias perlu ada sewa pelayanan untuk dekorasi nya" kata Aidan melihat ke arah Rindu
"Ya benar, kalau begitu jam 2 kita sudah ada di sekolah untuk menghias panggung nya, kamu harus datang aku jemput... " kata Aidan nampak tersenyum pada Rindu sambil memegang tangan Rindu memohon agar Rindu mau pergi siang ini dan seketika Rindu melepaskan tangan Aidan darinya.
"InsyaAllah aku akan datang... tolong jangan lakukan hal seperti itu lagi... gak sopan, kita bukan mahram " kata Rindu yang nampak kini ia mengembalikan kertas tersebut pada Aidan.
__ADS_1
"Terus yang sopan nya seperti apa.. kayak Cello itu yang menulis nama mu hampir di seluruh sudut-sudut kelas dan bahkan menyanyikan lagu Rindu di depan umum... itu sopan bagi mu" kata Aidan dan seketika Cello yang tak jauh dari nya mendatangi Aidan karena mendengar nama nya disebut-sebut.
***
"Apa maksud kamu menyebutkan nama ku, aku tidak sengaja lewat mau ke ruang guru namun mendengar kamu menyebut nama ku dengan nada marah seperti itu, jika kamu ada masalah dengan pacar mu ini jangan libatkan nama ku" kata Cello setelah melihat ke arah Aidan ia pun melihat ke arah Rindu yang duduk di samping Aidan seketika Rindu yang mendengar bahwa Cello mengatakan bahwa ia pacar nya Aidan membuat Rindu sontak sangat emosi.
"Lain kali jangan mendengar pembicaraan orang itu setengah-setengah.. biar gak salah paham..dan apa tadi kata mu pacar... maksudmu apa?..kamu tau kan bahwa pacaran itu dilarang dalam agama dan masih juga kamu berfikir aku akan berpacaran... dan lagi pula aku pacaran atau tidak bukan urusan mu... aku tidak berpacaran dengan Aidan... kita hanya membicarakan masalah acara Mural yang diadakan sekolah "kata Rindu menatap penuh amarah pada Cello.
" Iya... kami tidak berpacaran tapi kami saling tertarik satu sama lain dan soal nama mu aku menyebutkan nya karena aku melihat kamu sangat sering merayu Rindu sampai menyanyikan nama Rindu di depan semua orang, apa Rindu sama sekali tidak marah akan itu, ya aku hanya mengatakan itu saja... maaf kamu tersinggung.. "kata Aidan dengan menatap Cello dengan tajam nampak ia malas sekali harus berbohong pada Cello bahwa mereka saling tertarik yang pada fakta nya Rindu sama sekali tidak tertarik berpacaran dengannya entah karena umur nya yang lebih muda dari Rindu atau karena lain hal nya, Rindu yang berada di sana sungguh kesal akan sikap kedua orang di depan nya ini lebih-lebih semua murid memperhatikan nya dan nampak Rindu memilih untuk pergi dari sana dan menuju ke kelas nya yang mana sebentar lagi akan pulang sekolah.
Aidan dan Cello melihat kepergian Rindu sampai di mana lama-kelamaan Rindu menghilang dari pandangan mereka.
"kamu yakin Rindu tertarik dengan mu... asal kamu tau Rindu bercerita pada kami semua bahwa ia menyukai orang lain dan itu bukan dirimu.. jadi jangan berbohong dan sebagai ketua OSIS kamu harus memberi contoh pada anak-anak buah mu bahwa kejujuran sangat diutamakan dalam setiap kehidupan apalagi untuk menjadi pemimpin" kata Cello melihat ke arah nya.
"Gak usah mengajari aku, lebih baik kamu Fikir tentang dirimu sendiri, semua orang mengatakan kelemahan mu di bidang akademik, dan sekarang mau memperlihatkan pada ku bahwa kamu sangat pintar" kata Aidan
__ADS_1
"Adab di atas ilmu.. aku lebih baik tidak berilmu dari pada berilmu namun tidak diterapkan dalam kehidupan nya, bersikap sopan lah... aku lebih tua dari mu" kata Cello pada Aidan
"Aku akan respect pada orang yang memang pantas kita hormati.. " kata Aidan nampak pergi meninggalkan Cello yang masih berdiri di kursi taman dan tak lama Cello pun ikut pergi juga dengan tangan yang digenggam nya penuh amarah karena Aidan sudah berani-beraninya mengatakan bahwa Rindu tertarik padanya juga marah karena Aidan mengatakan bahwa ia tidak pantas dihormati.