
"Panggil Ahnaf saja pak. Seperti biasa jujur setiap ada yang memanggil saya Ustadz saya merasa sangat terbebani, saya takut akan sifat sombong." kata Ahnaf tersenyum yang terlihat kini ia dan pak Adi sama-sama duduk di sofa ruang tamu saling berhadapan.
"Baiklah Ahnaf, bagaimana kabarmu? " kata Pak Adi dengan tersenyum
"Alhamdulillah baik Pak." kata Ahnaf dengan tersenyum nampak ia berbincang hangat dengan orang tua Rindu hingga lupa inu Rahmi mempersilahkan Ahnaf untuk minum.
"Silahkan Ustadz, di minum dulu, asik ngobrol sampai lupa saya mempersilahkan Ustadz untuk minum"kata ibu Rahmi dengan tersenyum dan nampak membuka toples kue dan meminta Ahnaf untuk mencicipi kue dan biskuit juga.
" Terimakasih buk"kata Ahnaf sambil mengambil minuman teh hangat tersebut dan meminum nya.
Cuaca di malam ini tidak seperti biasanya di luar nampak sangat sunyi dan terlihat seperti hujan tak akan reda, terus menghujani nampak Rindu yang berada di kamar nya sedang mengintip di balik pintu melihat ke arah ruang tamu ingin mendengar apa saja yang dibicarakan oleh kedua orang tua nya dan Ahnaf.
Hingga tibalah kini Rindu pun akhirnya keluar tanpa di minta oleh kedua orang tuanya memberanikan diri untuk duduk bersama mereka. Kini ia sangat penasaran hubungan apa yang dimiliki antara kedua orang tua nya dan seorang pria yang duduk bersama orang tuanya.
"Assalamu'alaikum" kata Rindu dengan jilbab yang dililitkan di leher nya berwarna coklat, baju berwarna coklat pula dan nampak ia menggunakan celana yang longgar hitam tersenyum ke arah kedua orang tuanya.
"Waalaikumsalam sayang. mari duduk, kami ingin berbicara dengan mu" kata Ayah nya dan nampak Rindu duduk di sofa bersebelahan dengan ayah nya yang berada di sisi kiri nya dan juga di sebelah kanan nya duduk Ahnaf yang nampak melihat ke arah nya.
"Sayang, kenalkan ini Ahnaf Ardiansyah dia mahasiswa ayah di kampus" kata pak Adi tersenyum dan terlihat ia mengarahkan tangan nya ke arah Ahnaf dan Rindu pun seketika melihat ke arah tangan yang mana ayah nya menunjuk.
__ADS_1
"Salam, Ahnaf" kata Ahnaf dengan tersenyum ke arah gadis bermata hitam bening itu sambil bersalam jarak jauh
"Salam, Rindu Adi Rahmi" kata Rindu yang juga melakukan hal yang sama.
"Ada perlu apa Ustadz Ahnaf datang ke sini ayah" tanya Rindu sambil berbisik pada ayah nya nampak sang ayah tersenyum dan mengatakan kami akan menjelaskan nya sekarang padamu duduk lah dengan tenang dan mendengar lah dengan baik.
"Ahnaf, putri bapak bertanya tujuan mu datang ke sini, bisa kamu jelaskan sekarang" kata pak Adi melihat ke arah sesosok pria berparas tampan ini.
"Baik saya akan mengatakan nya pada putri bapak yang bernama Rindu, tapi sebelum nya saya ingin meminta maaf pada bapak dan ibu karena tadi sore saya telah menabrak Rindu untung kecelakaan tersebut dapat dihindari" kata Ahnaf"
Nampak Rindu menggenggam tangan nya kuat-kuat ia begitu takut jika pria yang sekarang ada di hadapan nya adalah calon pasangan yang ayah nya pilihkan, ia benar-benar sedang tidak berkeinginan menikah.
"Terimakasih banyak, sebelumnya Rindu. saya telah banyak mendengar tentang mu dari ayah mu, namun sama sekali saya belum pernah melihat mu secara langsung atau tidak langsung baru pertama kali saat di mesjid dan kedua kali nya di rumah mu, Ayah mu menginginkan ku untuk menikahi mu, apakah kamu bersedia untuk menjalani ta'aruf dengan ku"kata Ahnaf dengan tersenyum ke arah nya.
****
Terlihat Rindu hanya diam beberapa saat mata sang ibunda dan ayah nya begitu tajam memberi kode padanya bahwa untuk menganggyk nampak Rindu menghela nafas dengan hati yang sedih menahan rasa kecewa nya pada kedua orang tua nya karena tetap menikahkan nya padahal sebelum nya mereka meminta nya untuk memilih dua pilihan antara pergi ke pesantren atau menikah dan ia pun akhirnya memutuskan untuk ke pesantren dan tidak melanjutkan kuliah nya meskipun cita-citanya adalah ingat menjadi seorang pengacara namun karena hanya dua pilihan dan ia tidak mau menikah.
Namun tanpa mendengar kan dan memperdulikan keinginan nya membuat Rindu begitu kecewa.
__ADS_1
"Rindu,bagaimana kamu sudah memutuskan keputusan mu" kata Ahnaf
"Sudah, maaf sebelumnya Ustadz, saya tidak bisa, saya tidak ingin menikah untuk waktu sekarang. saya bukan perempuan yang Anda cari, saya sangat nakal dan begitu keras kepala saya juga anak yang pembangkang. ada orang lain di luar sana yang mencintai anda apa adanya" kata Rindu melihat ke arah Ahnaf dengan tegas tanpa ada kata yang terkendala Rindu sukses membuat ayah dan ibunya syok mendengar semua perkataan nya, mereka benar-benar tidak bisa menerima sikap sang anak yang begitu tidak sopan kepada Ahnaf.
Rindu telah mengetahui bahwa Ustadz Ahnaf yang merupakan mahasiswa ayah nya adalah Ustadz Ahnaf yang sama yang diceritakan oleh Nisa, ia bingung harus menceritakan seperti apa kepada Nisa, ia takut Nisa tidak mau lagi menjadi sahabat, saudara untuk nya karena masalah Ahnaf yang ingin menjalani ta'aruf dengan nya.
Perempuan yang baik seperti Nisa yang begitu ramah dan rendah hati kepada siapapun dia temui. Bagaimana bisa Ahnaf tidak mengetahui akan perasaan Nisa dalam benak Rindu timbul
perasaan mengapa Nisa tidak berterus terang akan perasaan nya dalam islam sendiri kita bisa mencontohkan dari kisah cinta Rasulullah dan ummul mukminin Khadijah di mana Sayyidah Khadijah lah yang menyatakan rasa cinta kepada baginda Rasulullah.
"Apa maksud dari perkataan mu Rindu, ada orang lain yang mencintai saya, bisa kamu mengatakan namanya jika memang ada" kata Ahnaf yang nampak melihat ke arah Rindu dengan rasa penasaran dan Rindu pun bisa mengatahui nya.
"Jelas dari kata-kata mu bahwa kamu juga sekarang sedang mencintai namun mengapa sekarang malah datang ke rumah ku, apa kedua orang tua ku memaksa mu, apakah perjodohan ini bukan di dasarkan pada keikhlasan" Gumam Rindu yang nampak melihat ke arah ayah nya.
"Dia adalah" kata Rindu namun belum selesai ia mengatakan nama nya sang ibunda menyela pembicaraan nya.
"Rindu apa yang kamu katakan, bagaimana bisa kamu berbicara dengan begitu lancang pada Ahnaf, kenapa dengan mu" kata ibunya yang nampak sanga marah terlihat ia berniat pergi ke arah anak nya seperti ingin memukul Rindu namun pak Adi menahan istri nya terus memegang tangan sang istri agar tetap tenang dan duduk saja.
Namun hal lain ditunjukkan oleh ayah nya di mana pak Adi meminta Rindu untuk kembali ke kamar nya nampak Ringan tak bisa berbuat banyak ia ingin sekali menyebutkan nama Nisa namu ayah nya menarik tangan nya sambil memberi kode dengan mata agar ia pergi ke kamar nya.
__ADS_1
Terlihat Rindu pun pergi ke kamar nya dengan wajah tersenyum, ia yakin setelah ini kedua orang tuanya tidak akan lagi dan lagi menjodohkan nya dengan siapa pun itu, sungguh rasa semangat nya untuk melanjutkan pendidikan begitu tinggi dan ia tidak ingin harus terhenti karena keinginan orang tua nya untuk nya menikah mengikuti sang kakak.