
"Benar Rindu... kamu harus berani berbicara...tidak hanya Rindu tapi kita semua di sini harus berani berbicara, berkata jujur apa yang ada di pikiran dan hati kita" kata Cello dengan melihat ke arah Rindu
"Iya aku setuju... sebenarnya berani berbicara itu tidak hanya harus dilakukan perempuan tapi laki-laki juga.. ya meskipun kita tau di masyarakat sekarang ini perempuan lebih diam namun keadaan telah berubah perempuan jadi lebih Speak up" kata Winda
"Kami tunggu ya... dalam beberapa hari ini kamu harus berani berbicara pada kedua orang tua mu" kata Gio
"Rindu... aku tidak bisa melihat mu menikah" kata Cello Spontan
"Kenapa" tanya Rindu heran dan mulai curiga bahwa Cello kembali ke sifat nya itu di mana menggoda gak jelas.
" Rindu... aku tidak akan bisa menitipkan salam rindu ku pada burung untuk mu, aku tidak akan bisa melihat burung post ku mengembalikan Rindu ku untuk mu...kamu salah memiliki nama Rindu "kata Cello
" Dengar Cello... aku mohon jangan mulai lagi meskipun aku tidak menikah dalam waktu cepat yang pasti aku akan menikah dan itu dengan pasangan ku... jadi lupakan memikirkan aku... sudah ya... aku sudah tau bahwa kamu mencintai ku tapi aku tidak mencintai mu silahkan tanam kata-kata ku itu di hatimu... aku fikir hari ini rayuan mu itu tidak adalahi ternyata masih juga"kata Rindu dengan kesal sambil beranjak dari kursi nya dan membiarkan ke kelas terlihat Winda mengikuti nya dari belakang.
Dalam perjalanan ke kelas nya Rindu nampak diam saja dan merasa ada yang salah dengan nya mengapa ia harus marah kalau Cello menyukai nya bukankah itu hak nya. Terlihat ia duduk di meja nya sambil mengambil buku sebagai obat untuk mengalihkan amarah nya.
__ADS_1
"Rindu... ada apa dengan mu... kamu perempuan teraneh yang kutemui.. mengapa kamu marah jika Cello mencintai mu, apakah cinta itu kejahatan atau mungkin kamu gak mau dicintai oleh Cello yang tidak sebanding ilmu nya dengan mu gitu ya. " kata Winda duduk di samping nya
"Bukan gitu... sama sekali aku tidak membedakan orang dari dasar ilmu, aku sendiri masih banyak yang tidak ku ketahui... kalau bicara masalah ilmu, jin dan iblis aja lebih pintar dari manusia mereka duluan diciptakan dari kita namun dikeluarkan dari surga karena sombong tidak mau mengikuti perintah Allah untuk bersujud pada Nabi Adam dan sekarang aku pun sama gitu juga maksud kamu menyombongkan diri ku karena aku selalu mendapatkan juara kelas, sungguh jika seperti itu aku lebih jahat dari jin karena apa jin dan iblis sudah pernah tinggal di surga sedangkan manusia seperi aku tidak sama sekali jadi bisa kamu bayangkan akan hal itu"kata Rindu menatap mata Winda teman nya ini.
"Lalu mengapa kamu marah ketika Cello menggoda mu dengan memakai nama mu, ia tidak mengejek mu, ia hanya bercanda dengan mu, ia suka berbicara dengan mu ia mencintai mu Rindu... dan kamu tidak menyukai nya oke baiklah perasaan tidak bisa dipaksa namun dengan sikap mu seperti itu menunjukkan bahwa kamu membedakan siapa saja yang boleh mencintai mu... bukankah Aidan juga menggoda mu dan ia sering bercanda dengan mu mengapa kamu tidak marah karena ia pintar ia berpandangan luas atau karena ketua OSIS"kata Winda menatap nya sambil memegang tangan Rindu namun seketika Rindu melepaskan tangan Winda dari nya dan nampak Guru masuk ke kelas mereka dan mengucapkan Assalamu'alaikum serentak semua murid mengucapkan waalaikumsalam dan nampak Arman, Cello dan Gio baru masuk ke kelas berada di belakang guru dan nampak duduk di kursi mereka paling belakang.
Nampak semua murid belajar dan mendengarkan guru yang sedang memberi materi.
"Baiklah.... ini kalian gak lama lagi di sini... semester 2 udah bisa dibayangkan akan banyak datang dari Universitas ini dan itu untuk promosi... jadi bapak harapkan di semester 1 ini jangan ada main-main... tentu kalian ingin semua nya lulus kan" kata guru sambil duduk di kursi setelah menulis pembelajaran di papan tulis melihat ke arah mereka semua.
"Iya Pak... " jawab mereka serentak "
***
Namun lemparan kertas itu mengenai nya lagi dan Rindu benar-benar kesal hingga akhirnya ia melihat ke arah belakang dan bertanya pada teman nya yang duduk di meja ke tiga sebelah kiri.
__ADS_1
"Jia... siapa yang melempar kertas ini padaku" kata Rindu sambil mengambil kertas kecil tersebut dan melempar nya ke arah luar jendela saat guru di depan tidak melihat ke arah nya.
"Cello... " kata Jia melihat ke arah nya
"Cello.... gak ada kerjaan... selesaikan tugas mu... jangan buat aku marah ya.. kalau enggak aku akan adukan kamu kepada guru biar diberi hukuman"kata Rindu pada nya nampak Cello hanya tersenyum aja.
" Yaudah.... lapor aja sama guru... aku udah terbiasa diberi hukuman.... coba baca lembar kertas itu aku menulis kata minta maaf... aku ingin minta maaf padamu karena sudah berani bercanda dengan mu"kata Cello yang nampak melihat ke arah Rindu yang jauh jarak antara kedua nya.
Seketika Rindu pun membuka lembar kertas kecil itu dan ia pun membaca tulisan yang tertuang dalam kertas putih tersebut.
Di mana tertulis Cello benar-benar jatuh cinta padanya dan berharap dirinya diberi kesempatan untuk memenangkan hati Rindu.
Nampak ada opsi pilihan untuk Rindu ya atau tidak dan Rindu pun nampak dengan cepat tanpa berfikir panjang memilih tidak ia terlihat mengolomkan jawaban B. tidak. Dan nampak kembali melempar kertas itu pada Cello, hati siapa yang tidak terluka saat mengetahui cinta nya ditolak dan inilah yang dialami Cello, cinta bertepuk sebelah tangan.
"Mungkin benar apa yang dikatakan Arman, lebih baik aku melupakan Rindu namun apakah bisa, aku sungguh hanya menginginkan dia dihatiku" gumam Cello namun ia juga harus sdar bahwa dirinya tidak sepadan dengan Rindu.
__ADS_1
"Baiklah silahkan kumpul tugas nya, bapak akan menghitung sampai 10...satu dua.... tiga...sepuluh... baik... ini sudah habis yang mengumpulkan nya bukan" kata Guru tersebut sambil terlihat merapikan buku cetak milik nya.
"Iya Pak... sudah habis semuanya" jawab mereka serentak begitu pun dengan Rindu yang juga setelah melemparkan kertas tersebut, ia dan Winda diminta tolong oleh pak guru untuk membawa buku tugas ini ke ruang guru tepat nya di meja beliau.