Rindu Yang Tak Tersampaikan

Rindu Yang Tak Tersampaikan
11. Rencana masa depan


__ADS_3

"Ya..... udah di jelaskan tu sama Winda... bahwa kamu Arman masih ada kesempatan mungkin dari hari ini sudah mulai dipersiapkan untuk menjadi calon suami Winda" kata Rindu dengan tersenyum sambil bertepuk tangan.


"Ya benar tu... jadi gak sabar nunggu hari pernikahan Winda dan Arman.. seperti nya di antara kita berlima mereka deh yang pertama mengikat janji suci sehidup semati" kata Gio dengan tertawa sambil mencolek Arman dengan sikunya.


"Iya benar tuh... ini kita sepakat aja ya.. bahwa siapapun yang menikah dia harus undang kita makanya dari itu jangan hilang komunikasi di antara kita" kata Cello dengan tertawa dan terlihat ia tersenyum penuh makna memandang wajah Rindu yang dari tadi tidak berhenti melukis senyuman saat melihat sangat sahabat yaitu Winda tersipu malu di goda oleh mereka semua.


"Ya aku setuju... kita tidak boleh hilang komunikasi tapi kalian kuliah nya di sekitar jakarta kan"tanya Rindu


"Ngak... aku akan kuliah di Singapura" kata Arman


"Aku akan kuliah di Bandung " kata Gio melihat ke arah Rindu


"Aku InsyaAllah akan kuliah ke Inggris... orang tua ku dan aku bahkan sudah mencari asrama untuk ku dan kami juga sudah melihat universitas yang nanti aku akan kuliah di sana tepat nya di Birmingham" kata Winda"melihat ke arah Rindu yang nampak sedih.


"Winda.....aku akan kesendirian tanpa mu" kata Rindu yang nampak memeluk nya dan Winda pun nampak membalas pelukan nya itu dengan heran karena sebelumnya kedua nya telah sepakat untuk melanjutkan kuliah ke Birmingham namun mengapa tiba-tiba Rindu mengatakan ia akan sendirian.


"Wait...what happened.. bukannya kamu juga akan kuliah ke Birmingham, kita telah sepakat bukan" kata Winda melepaskan pelukan Rindu yang duduk di samping nya ini nampak Cello, Arman dan Gio hanya diam melihat sikap kedua nya.

__ADS_1


Rindu nampak menghela nafas dengan wajah sedih dan terlihat teman nya ini bingung melihat satu sama lain apa yang terjadi dengan rencana masa depan Rindu batin mereka.


"Maaf Winda... aku tidak jadi ke Birmingham.. kedua orang tua ku melarang keras aku untuk pergi ke sana" kata Rindu kepada mereka semua dan nampak mereka menyimak dengan baik penjelasan dari Rindu.


"lalu... kamu kuliah di jakarta aja..." tanya Winda nampak memegang tangan Rindu ia merasakan bahwa teman nya ini sedang di landa masalah.


"Tidak....aku tidak bisa mengatakan pada kalian aku kuliah atau tidak, aku tidak bisa memastikan itu. " kata Rindu dengan sedih nampak air mata nya perlahan-lahan menetes dan ia pun dengan lekas menghapus air mata yang membasahi bulu mata lentik nya itu.


"Ceritakan ada apa... sekarang giliran kamu Rindu yang menjelaskan rencana masa depan mu, kita semua udah kecuali kamu belum... aku ingin mendengarkan" kata Cello nampak tegang ia melihat raut wajah Rindu yang terlihat sedih dan ia mengkhawatirkan Rindu.


"Iya itu benar... Ceritakan rencana masa depan mu Rindu" kata Arman dengan melihat ke arah Rindu.


sambil menghela nafas terlihat di sekitar mereka satu persatu teman pergi dari kantin dan masuk ke ruangan mereka masing-masing begitu pun juga dengan penjual nya yang terlihat kini datang ke meja mereka untuk menghitung apa saja pesanan mereka berapa uang yang harus di bayar oleh kelima teman ini.


"dua-dua nya" jawab mereka serentak yang terlihat tidak sabar mendengarkan Rindu bercerita.


"Rencana masa depan ku... aku berharap pada yang maha Kuasa agar aku bisa mewujudkan impian menjadi pengacara, mengambil jurusan Hukum, menegakkan keadilan dan menjadi wanita berpengaruh di Indonesia juga untuk membuat kedua orang tua ku bangga dengan keberhasilan ku"kata Rindu dengan tersenyum setiap mengingat cita-citanya

__ADS_1


"Lalu bukannya untuk menjadi pengacara kamu harus kuliah... kenapa kamu bilang tidak bisa memastikan kamu akan kuliah atau tidak" kata Cello memandang nya dengan penuh harapan bahwa Rindu tidak dijodohkan dengan orang lain oleh kedua orang tua nya, ia melihat gelagat Rindu seperti menunjukkan bahwa ada tekanan yang sedang di alaminya.


***


"Iya itu benar.... harus kuliah namun kalian tau termasuk Winda bahwa orang tua ku sejak dulu tidak suka jika aku kuliah, apalagi kedua kakak ku menikah di umur yang masih terbilang muda, kini anak mereka aja udah besar dan kedua nya menikah dengan seorang Ustadz dan mereka ingin aku"kata Rindu namun belum selesai ia berbicara Winda memotong pembicaraan Rindu.


"Dan orang tua mu menginginkan kamu untuk menikah dengan seorang ustadz juga mereka akan menjodohkan mu dengan seorang ustadz kamu akan menikah setelah tamat dari sekolah ini benar itu" tanya Winda dan sontak hal tersebut membuat Arman, Gio terkejut dan termasuk Cello yang terbelalak mata nya dan telinganya bagai do sambar petir atas perkataan Winda ia tidak rela Rindu menikah dengan orang lain namun ia juga tidak bisa memiliki nya karena perbedaan yang mereka punya apalagi dia yang tidak sepadan dengan Rindu, dan terlebih keinginan orang tua Rindu untuk menikahkan Rindu dengan seorang ustadz.


"Katakan itu tidak benar Rindu" Gumam Cello sambil memandang wajah Rindu dengan sedih.


"Iya itu benar dan aku tidak berdaya menolaknya..."kata Rindu dengan menghela nafas nampak ia menampilkan wajah sedih melihat ke arah depan dengan pandangan kosong.


"Apa kamu di paksa menikah"tanya Cello dan seketika ia menambah kan perkataan nya pada Rindu.


" Jika ia... lebih baik kamu jujur pada mereka katakan keputusan mu bahwa kamu tidak mau menikah... dan ingin melanjutkan kuliah "kata Cello yang nampak tegang tanpa sadar ia memegang gelas dengan cukup kencang, Arman yang berada di samping nya meminta Cello dengan berbisik pada nya ini mengontrol emosi nya.


" Cello.... jangan menunjukkan amarah mu, kamu harus sadar bahwa kamu bukan siapa-siapa nya Rindu... dan berhentilah memikirkan Rindu karena kamu dengar sendiri orang tua Rindu akan menikahkan nya... kamu menikah dengan orang lain saja" kata Arman berbisik pada nya

__ADS_1


"Ya... aku akan jujur pada mereka... dan lagi pula jika aku memang berjodoh dengan ustadz tentu di mana pun ia berada kami akan bersama dengan takdir yang Allah kehendaki, namun jika tidak maka kita manusia harusnya bisa menerima segala ketetapan Allah pada kita, bukan memaksa untuk sesuai kemauan kita.... harusnya orang tua ku tau akan hal itu kalau kedua kakak ku jodoh nya ustadz tentu itu adalah takdir nya namun belum pasti dengan ku, bagaimana bisa orang tua ku sangat pemilih untuk siapa saja orang yang boleh melamar ku, sampai sekarang aku juga bingung pada mereka... mengapa memaksa ku untuk menjalani kehidupan yang sama dengan kakak ku dan lagi pula aku belum siap dengan semua tanggung jawab, menjadi seorang istri dan seorang ibu... tidak bisa hanya menitipkan wejangan-wejangan saja karena butuh ilmu juga"kata Rindu dengan melihat ke arah mereka, ia sendiri belum berkata jujur pada kedua orang tua nya bahwa ia tidak mau menikah dulu.


__ADS_2