
"Subhanalladzi sakhara lana hadza WA ma kunna lagu muqrinin, WA innaa ilaa robbina lamunqolibuun, Maha suci Allah yang memudahkan kendaraan ini dan tiada kami mempersekutukan bagi-nya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami" kata Rindu sebelum pergi dan nampak ia mengendarai motor nya sampai ke sekolah di dalam perjalanan lagi-lagi bertemu dengan Cello yang menjengkelkan.
"Rindu... selamat pagi" kata Cello sambil mengendarai motor nya yang berisik entah apa yang dilakukan Cello pada suara motor nya sehingga jadi begitu berisik berbeda dengan suara motor orang lain yang sama dengan nya.
"Pagi... ngomong-ngomong aku gak butuh pembelaan dari mu... kamu urus saja urusan mu sendiri biar aku urus urusan ku... aku gak suka apa yang kamu katakan di group chat yang jelas semua nya tidak ada arti untuk ku... jangan beri kesempatan untuk orang lain salah paham antara kamu dan aku... jelas kamu hanyalah murid yang sekelas dengan ku... itu saja hubungan kita... cuman sebatas murid di satu kelas...jadi jangan bersikap sok akrab dengan ku, di luar anggap saja kita tidak saling kenal"kata Rindu melihat ke arah nya.
"Kenapa kamu terlalu serius... aku kan cuman bercanda lagi pula nama mu sangat bagus berbeda dari yang lain dan aku suka dengan nama mu... karena itu aku sering menggoda kata Rindu" kata Cello yang nampak tidak ingin sama sekali jika tidak bertegur sapa dengan Rindu ia tidak akan bisa karena mereka tinggal di satu komplek yang tidak jauh sehingga kerap bertemu di dalam perjalanan.
"Ya aku memang terlalu serius.. jadi jangan bercanda dengan ku karena aku tidak menganggap candaan mu itu sebagai gurauan saja justru aku menganggap itu adalah ejekan yang melukai perasaan ku... banyak murid perempuan di kelas kita mengapa kamu suka bercanda dengan ku... pilih saja di antara mereka yang menerima candaan mu itu sebagai candaan pula"kata Rindu nampak ia menggas motor nya di kecepatan yang tinggi meninggalkan Cello yang jauh tertinggal di belakang nya.
"Apa Rindu tidak sadar bahwa ia baru saja mengalami kecelakaan... dan dengan santai nya ia menaikkan kecepatan tinggi " kata Cello terlihat ia mengendarai motor nya dengan kecepatan sedang dan akhirnya sampai di sekolah, ia pun memakirkan motor nya tak jauh dari Rindu memakirkan motor nya karena memang antara parkiran kendaraan murid laki-laki dan murid perempuan di tempat yang sama.
"Rindu...... Rindu.... " panggil Aidan yang merupakan ketua OSIS baru di sekolah mereka ia murid kelas 2 IPA 1 lebih muda satu tahun dari Rindu namun tubuh nya yang tinggi semampai membuat nya seperti murid kelas 3, Aidan salah satu murid terbaik di sekolah ia menjadi perwakilan sekolah untuk Olimpiade matematika nasional dan termasuk murid tertampan di sekolah memiliki kulit kuning langsat dengan rambut lurus seperti idol Korea.
Nampak Rindu melihat ke arah nya dan menghampiri nya sedangkan Cello yang sebelumnya ingin masuk ke ruangan kelas jadi menunda kepergiannya dikarenakan ingin tau apa yang dibicarakan Rindu dengan Aidan.
"Kamu kenapa pergi sekolah" tanya Aidan berdiri di hadapan nya
"Apa maksud dari pertanyaan mu... aku tidak mengerti" tanya Rindu yang merasa heran dari pertanyaan Aidan.
__ADS_1
"Maaf... aku dengar kabar katanya kamu masuk penjara karena menabrak seseorang dan malarikan diri" kata Aidan merasa tidak enak hati sebenarnya harus mengatakan itu pada Rindu namun ia ingin tau kebenaran nya.
"Tidak Aidan... kabar itu berisi kebohongan jangan percaya dengan apa yang kamu baca... aku tidak melarikan diri dari kecelakaan tersebut, keluarga ku dan keluarga korban sudah menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan, kecelakaan itu sudah berlalu, sekarang aja orang tua ku menjemput korban dan keluarga nya dari rumah sakit pulang ke rumah nya... kini kami baik-baik saja"kata Rindu merasa kesal terhadap pemberitaan itu ia sudah tau berita tersebut tak lain keluar dari mulut teman sekelas nya yang suka membesarkan masalah apapun jika terkait dengan dirinya.
"Emm.. baiklah... maaf aku telah salah paham... tapi mungkin lebih baik kamu sekarang pergi ke madin lihat banyak berita tentang kecelakaan yang kamu alami tertempel di semua papan madin" kata Aidan
"Apa..... siapa yang menempelkan nya ke madin,seperti orang yang tidak punya pekerjaan saja" kata Rindu
"Aku tidak tau... yang pasti tidak perlu memikirkan siapa orang nya, kamu bersabar aja sebentar lagi kamu juga akan tamat dari sekolah ini, dan tidak akan mengalami kejadian ini lagi mudah-mudahan.." kata Aidan
"Tidak Aidan...kalau aku diam mereka akan menjadi-jadi" kata Rindu
"Baiklah Rindu... aku permisi Assalamu'alaikum" kata Aidan "
"Waalaikum'salam... " jawab Rindu singkat dengan segera ia pergi ke madin yang memang arah nya sama menuju ruangan kelas nya namun saat sampai di majalah dinding ia melihat papan hitam panjang tersebut kosong ia terkejut melihat nya siapa yang mengambil semua tulisan berita tersebut.
Melihat itu Rindu pun kembali ke kelas nya sebentar lagi akan masuk guru mata pelajaran sejarah sehingga semua murid pun mempersiapkan ulangan mereka ada yang siap-siap menulis konsep berupa kertas-kertas kecil namun Cello yang duduk di belakang sama sekali tidak melakukan nya ia mengumpulkan semua buku nya termasuk tas nya ke depan kelas, satu hal yang Rindu kagum juga dari Cello adalah meskipun Cello bukan murid pintar namun ia tidak melakukan aksi curang untuk sebuah nilai yang memuaskan ia tetap apa adanya dirinya.
Lama menunggu guru mata pelajaran sejarah sama sekali tidak ada kabar padahal waktu telah lewat hanya tinggal sejam lagi seblum ganti mata pelajaran lain terlihat lah ketua kelas yaitu Aldi memberitahukan bahwa guru sejarah tidak masuk karena berhalangan hadir sehingga untuk ulangan nya di tunda minggu depan dan hari ini mereka di minta untuk melengkapi catatan masing-masing karena akan diperiksa bersamaan dengan ulangan nanti nya.
__ADS_1
****
Ruangan kelas nampak hening sebelum akhirnya suara tersebut sukses membuat Rindu marah hingga terjadi lah kejadian yang sebelumnya selama Rindu bersekolah kejadian tersebut tidak pernah dialaminya dan cenderung dihindari tapi kali ini Rindu tidak dapat menahan amarah nya lagi.
"Heyyy... kalian...gimana pendapat kalian jika ada orang merasa tidak bersalah sudah membuat orang lain luka parah" kata Riska duduk di meja ketiga dekat dengan jendela.
"Jelas orang itu tidak tau malu... sudah menyakiti orang lain sampai harus di rawat di rumah sakit... eh dianya santai merasa tidak bersalah" kata Biola sahabat karib Riska yang duduk telat di samping nya kedua nya berasa di satu meja yang sama dari kelas 1,2 dan bahkan sekarang.
"Rindu.... diam.... diam, kamu tidak perlu meladenin orang seperti mereka yang tidak punya rasa empati" batin Rindu pada dirinya sendiri untuk menguatkan batin nya ia kembali menulis catatan sejarah di buku nya.
"Riska... kamu" kata Aldi ketua kelas merasa kesal dengan sikap Riska yang mencari keributan sehingga membuat ruangan yang tadi nya penuh keheningan senyap malah gaduh nampak semua murid di kelas 3 IPA 2 yang terdiri 40 orang ini tau bahwa yang dibicarakan Riska dan genk nya adalah Rindu Adi Rahmi.
"Udah ketua... diam aja...jika gak ingin ada keributan lebih baik diam aja" kata Riska
"Benar kan... orang yang tidak punya rasa malu tentu tidak merasa bahwa dia bersalah... sungguh memalukan dasar wanita yang tidak terhormat" kata Biola perempuan bermata biru ini yang merupakan blasteran Indo-Amerika nampak tertawa bersama dengan Riska dan Eli ketiga nya memang diketahui murid yang suka membully.
"Iya setuju benget dengan mu Biola" Teriak Eli dengan tertawa murid yang lain menatap Rindu dengan penuh rasa kasihan.
"Rindu jangan... sabar istigfar aja... semoga mereka sadar bahwa yang dilakukan nya itu salah" kata Winda sambil memegang tangan Rindu yang nampak mulai meluap-luap marah nya.
__ADS_1
"Lepas Winda... jika kamu teman ku tolong lepaskan tangan mu dari ku" kata Rindu dengan mata hitam bening nya menatap Winda sadar bahwa Rindu benar-benar marah membuat Winda pun akhirat melepaskan tangan nya yang dari tadi menahan Rindu pergi ke meja tempat Riska, Biola dan Eli duduk.