Rindu Yang Tak Tersampaikan

Rindu Yang Tak Tersampaikan
26. Siasat Licik


__ADS_3

Setelah kejadian di sekolah di mana dirinya di tolak oleh Rindu di depan semua orang membuat Aidan merasa bahwa Rindu tidak menghargai nya, setelah semua yang dilakukan dari mulai persiapan hingga keberaniannya menyatakan cinta di depan semua orang nyatanya tetap tidak berpengaruh apa-apa untuk Rindu jelas hal itu membuat Aidan murka bukan kepalang hati nya bagai tertusuk jarum begitu sakit setiap mengingat saat di mana dirinya di tolak dengan kalimat singkat seperti itu.


"Kamu kenapa Aidan" tanya sahabat nya miko sambil bermain game waktu terus berjalan setelah pulang sekolah bahkan sampai jam 17.00 sore ini mereka tidak berpindah tempat tetap duduk di depan layar game mereka.


"Kamu tau aku kenapa, gak usah pakai tanyak lagi, aku sangat kesal" kata Aidan sambil melempar keyboard game 🎮 milik nya hingga terpantul ke lantai dan rusak bukan karena ia kalah bermain game dengan miko justru karena Rindu.


"Ya aku tau pasti karena Rindu" kata Miko yang duduk di samping nya mematikan game nya dan meletakkan keyboard game di meja yang di penuhi beragam macam cemilan dan air minum kemasan.


"Sekarang mendengar namanya saja membuat ku kesal, aku benci kata Rindu" kata Aidan melihat ke arah sahabat nya ini yang berambut keriting kecoklatan nampak memakai kacamata hitam.


"Bagaimana kalau kita mengerjai Rindu, kita buat dia jadi menyesal karena telah berani menolak mu" kata Miko nampak tersenyum ke arah nya.


"Mengerjai yang seperti apa? aku tidak ingin bersikap keras kepada nya dia itu perempuan" kata Aidan


"No... maksudku bukan kriminal itu kampungan sekali, pria yang melakukan tindakan itu tidak pantas dikatakan pria berkarakter tapi pria penjahat. Kita hanya membuat dia tidak nyaman berada di sekolah, kita mengerjai nya secara sembunyi-sembunyi maksudku contohnya kita menyembunyikan sepatu nya agar ia pulang tanpa alas kaki atau bisa juga menyembunyikan baju sekolah nya saat ia memakai baju pentas untuk latihan drama. Aku dengar kelas mereka setelah selesai jam seni budaya akan lanjut jam matematika, kamu tau sendiri guru matematika itu sangat tegas ia tidak suka jika murid sekolah tidak mematuhi peraturan sekolah termasuk dalam berpakaian. Dan jika kita mengambil baju nya itu, saat ia latihan otomatis setelah selesai latihan ia tidak memiliki baju sekolah lagi dan harus memakai baju latihan nya dan ya. kamu bisa membayangkan kelanjutan nya seperti apa" kata Miko dengan tersenyum nampak Aidan setuju dengan usulan Miko untuk mengerjai Rindu dan terlihat kedua nya saling melempar tawa mereka.


"Wah... Wah.. ide yang bagus, siasat yang cemerlang sekali, tumben hari ini kamu pintar" kata Aidan tertawa


"Pintar dalam mengerjai orang" kata Miko mengolok untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


"Hahaha... kamu sadar ternyata. tapi gak papa setidaknya dibutuhkan" kata Aidan tertawa nampak kedua nya saling tos untuk kesepakatan kerja sama mengerjai Rindu.


Di lain sisi terlihat Winda membawa tas sekolah berwarna coklat dan nampak ia juga membawa baju sekolah yang di masukkan nya ke dalam tas beserta buku pelajaran nya untuk besok pagi karena ia akan pergi ke sekolah dari rumah Rindu. Akan menghabiskan waktu jika ia kembali pulang ke rumah nya dulu baru pergi ke sekolah setelah mendapatkan izin dari orang tuanya untuk menginap di rumah Rindu terlihat Winda tidak menunggu lama dan langsung berangkat saat itu juga diantar oleh ayah nya sampai ke pintu rumah Rindu. Adzan Maghrib berkumandang terlihat keduanya sudah sama-sama memakai mukena dan siap untuk pergi ke Mesjid yang dekat dengan rumah Rindu untuk shalat berjamaah.


Rindu terbilang jarang sekali shalat di Mesjid, ia lebih suka shalat di rumah begitu juga hari ini namun dalan hal ini Winda berbeda pandangan dari Rindu yang lebih senang shalat di Mesjid karena banyak orang yang ditemui nya dan bisa mendengar langsung ceramah di Mesjid. Karena menghormati keputusan teman nya sekaligus ingin membuat teman nya ini senang terhadap nya membuat Rindu pun mengalah dan mau di ajak shalat di Mesjid bersama-sama. Karena pada faktanya shalat di rumah baik dan shalat di Mesjid juga baik tergantung situasi yang baik dan memungkinkan untuk perempuan.


"Rindu... udah pakai mukena, udah semuanya apalagi sih yang dia tunggu mukena nya juga udah aku pegang ini, apanya yang dicari nya lagi" Gumam Winda yang nampak ngambek karena melihat semua orang sudah pergi bersama-sama untuk shalat.


****


"Dek... tunggu apa lagi? yok pergi sama-sama ke Mesjid, Rindu mana? " kata ibu paruh baya yang mengenakan mukena putih, berdiri dengan tiga ibu lainnya di depan rumah Rindu.


"Itulah buk, saya masih nunggu Rindu, ibu duluan aja" kata Winda tersenyum mempersilahkan ibu-ibu tersebut untuk melanjutkan perjalanan nya sampai ke Mesjid yang mana terdengar suara Adzan begitu merdu membuat Winda penasaran siapa muadzin nya.


"Iya buk, Waalaikumsalam" jawab Winda tersenyum, ibu-ibu di komplek perumahan Rindu tidak asing lagi dengan Winda karena memang mengetahui bahwa Winda adalah teman nya Rindu yang begitu sering bermain di sini dari kecil hingga kini ia sudah terbiasa dengan kegiatan yang diselenggarakan oleh ibu-ibu komplek.


"Rindu ayolah, tunggu apa lagi, nanti kita terlambat dan malah kebagian shalat di shaf terakhir" Teriak Winda menunggu di teras rumah sambil sesekali melihat ke dalam rumah apakah Rindu sudah siap.


"Iya sabar" kata Rindu nampak telah keluar, ia terlihat begitu berseri-seri air wudhu di wajahnya membuat nya jadi bercahaya dan terlihat Rindu sedang mengunci 🔐 pintu rumah nya.

__ADS_1


"Habis bersolek ya makanya lama" kata Winda melihat dengan tajam ke arah sahabat nya ini ia memperhatikan begitu teliti area wajah Rindu.


"Enak aja, gak lihat nih, air wudhu masih ada di wajah ku, sedikit pun aku gak pakai bedak lagian ke Mesjid kok malah make-up, ke pesta baru tuh dan itu pun jangan berlebihan dosa" kata Rindu


"Ya...ya baiklah, jadi kenapa lama sekali" kata Winda melihat ke arah nya.


"Yok kita pergi, di jalan nanti aku bilang kenapa lama" kata Rindu


"Yaudah nih ambil sajadah nya pegang sendiri" kata Winda nampak Rindu mengambil sajadah nya yang di berikan Winda untuk nya dan kini terlihat keduanya sama-sama jalan kaki untuk sampai ke Mesjid.


"Jadi aku lama itu karena sibuk mencari kunci rumah dan akhirnya ketemu di laci kamar ku " kata Rindu tersenyum "


"Yah...udah aku bilang sebelum nya jangan asal narok barang nanti kamu lupa. Sekarang lihat terbukti, yang bunda kamu bilang itu memang benar kalau kamu itu keras kepala" kata Winda yang nampak sebal terhadap Rindu.


"Yah sorry-sorry, tuh Mesjid nya!! kita mau sampai pun, udah aku bilang jarak Mesjid dengan rumah ku dekat, kamu sering main di sini tapi lupa latak Mesjid di mana" Kata Rindu tersenyum sambil memegang bahu Winda dan jalan bersama.


"Oh iya benar dekat ya, kok aku bisa lupa ya" kata Winda nampak heran pada dirinya sendiri.


"Yah aku bisa maklum juga mungkin karena kamu lebih keinget letak tempat yoga ibu-ibu di sini" kata Rindu tertawa

__ADS_1


"Hahahaha..." tawa Winda sambil terus berjalan dan kini mereka telah sampai di Mesjid dan terlihat masuk ke dalam Mesjid yang sudah ramai. Nampak shaf para laki-laki juga sudah penuh semuanya dan shaf perempuan juga penuh tersisa lah shaf paling belakang.


**Mohon di komen, like dan share apabila cerita ini bagus dan bermanfaat untuk kalian dan orang lain. Terimakasih 🙏🙏❤❤


__ADS_2