
Di dalam mobil nampak keadaan diam senyap sampai kini,ny telah tiba di rumah Rindu yang tak jauh, sekejap menutup mata saja langsung sampai tanpa ada obrolan apapun.
"Bagaimana cara aku memulai hubungan yang baik dengan mu sedangkan kamu sendiri tidak mau melihat ku ataupun berbicara padaku" Gumam Ahnaf dalam batin nya terlihat ia sudah memberhentikan mobil nya
Terlihat Rindu dan Winda keluar dari mobil nya Ahnaf, Winda begitu senang bisa melihat Ahnaf dengan dekat dan bisa semobil.
"Ahnaf ganteng banget ya" kata Winda berbisik pada Rindu nampak keduanya berdiri di depan rumah sedangkan Rindu hanya diam saja pura-pura tidak mendengar pujian Winda kepada Ahnaf.
"Bang Ahnaf terimakasih ya" kata Winda kepada Ahnaf yang berdiri di depan nya.
"Iya sama-sama, tapi ngomong-ngomong gak ditawarin ke rumah nih untuk minum? " kata Ahnaf dengan tersenyum, niat nya hanya bercanda namun hal tersebut tidak dianggap sama oleh Rindu yang merasa bahwa Ahnaf tidak pantas mengatakan hal itu karena rumah nya tidak ada kedua orang tua nya dan tidak baik di jam seperti ini.
"Anda harus tau batasan, sebagai orang berilmu sudah tentu harus bersikap sesuai ilmu nya, ini sudah jam berapa dan anda masih berharap kami menawarkan untuk bertamu di rumah. Anda orang yang tidak tau batasan!!sama sekali, apa anda tau saya fikir anda itu orang nya baik luar dalam, tetapi tidak sama sekali anda justru berbeda, gara-gara kedatangan anda ke rumah saya di hari itu juga orang tua saya marah kepada saya sehingga mereka pergi tanpa mengajak saya ikut bersama mereka"kata Rindu dengan marah sontak Ahnaf dan Winda terkejut mendengar perkataan Rindu.
Ahnaf tak percaya dengan apa yang didengar nya dari mulut Rindu begitu tajam ucapan Rindu hingga menimbulkan rasa sakit di hati nya.
__ADS_1
"Rindu..... " kata Winda sambil memegang bahu Rindu dan melihat ke arah sahabat nya yang berdiri di samping nya ini.
"Kenapa kamu berbicara seperti itu? " tanya Ahnaf dengan baik padanya
"Rindu... kenapa kamu melampiaskan amarah mu pada orang lain, kamu sadar gak sih bahwa makin hari sikap mu terus berubah-ubah. Bukan bang Ahnaf yang harus tau batasan tapi kamu yang harus tau batasan. Kamu harus tau dan sadar bahwa kata-kata mu menyinggung orang lain, kamu harus tau batasan sampai sejauh mana kamu boleh berbicara dan tidak berbicara, kamu sangat kekanak-kanakan sekali, kamu tidak menghormati orang yang lebih tua dari mu, bang Ahnaf hanya bercanda kenapa kamu serius seperti ini, aku tidak suka Rindu yang sekarang, aku suka dengan Rindu yang dulu, aku tidak merindukan Rindu yang sekarang berdiri di depan ku ini"kata Winda dengan tak kalah marah nya kepada Rindu sahabat yang selama ini dikenal nya selalu dapat menjaga kata-kata nya justru malah lantang berbicara tanpa berfikir dulu sungguh Winda menggeleng-gelengkan kepala nya tak habis fikir dengan sikap Rindu.
Rindu hanya diam dan diam ia tidak berani melihat ke arah Ahnaf dan juga Winda, ia sadar bahwa kata-kata nya buruk dan ia merasa sangat bersalah namun karena kesedihan nya membuat ia jadi tidak berfikir baik seperti ini nampak Rindu hanya menundukkan pandangan nya dari mereka berdua.
"Terimakasih atas kata-kata mu, aku akan pergi sekarang, tapi sebelum itu aku ingin bilang, Jika kamu menyakiti hati seseorang, lalu orang itu mengadu pada Allah lewat sujud nya, kamu benar-benar dalam posisi yang berbahaya" kata Ahnaf menjauh dari rumah Rindu nampak ia melihat ke arah Winda mengucapkan salam dan tersenyum.
"Assalamualaikum Winda... senang bertemu dengan mu" kata Ahnaf nampak pergi dan naik ke mobil nya tanpa menunggu lama ia langsung tancap gas pergi. Winda dan Rindu hanya bisa melihat mobil Ahnaf yang makin lama makin menjauh dari mereka.
****
"Jika kamu menyakiti hati seseorang, lalu orang itu mengadu pada Allah lewat sujud nya, kamu benar-benar dalam posisi yang berbahaya"
__ADS_1
Kalimat itu terus terngiang-ngiang di telinga Rindu, sambil mengalir air mata nya nampak Rindu bersandar di tempat tidur nya dan menangis. Satu sisi ia telah menyakiti perasaan kedua orang tua nya dengan tidak menerima keputusan mereka untuk menikahkan dirinya dengan pilihan orang tua nya, dan di sisi lain hati seseorang telah di sakiti untuk kedua kalinya nya hingga membuat orang tersebut mengadu pada Rabb nya.
"Aku bukan Rindu yang seperti dulu lagi, aku bukan nya tambah baik justru makin buruk dan hal itu keluar dari mulut sahabat ku, benar Winda, kamu benar. Maafkan aku" kata Rindu seraya mengelus lembut rambut Winda yang sebahu dan terlihat Winda berbalik ke sisi kiri membelakangi nya.
Rindu pun akhirnya mencoba untuk tertidur meskipun dalam keadaan penyesalan dan sedih nampak di sepertiga malam ia terbangun dan langsung ke kamar mandi mengambil wudhu.
Dengan udara yang begitu dingin, sayup-sayup kesedihan terpancar dari mata Rindu, terlihat insan yang bersujud pada Rabb nya berharap ketenangan jiwa dan hati yang tentram.
"Assalamu'alaikum.. warahmatullahi.. wabarakatuh" ucap Rindu dan kini nampak ia mengangkat kedua tangan nya bermunajat kepada yang maha Kuasa.
"Ya Rabb! " Ampuni lah dosa-dosa hamba, hilang kan lah luka di hati hamba." Jika ini keputusan yang benar maka berilah kehidupan yang baik untuk hamba tapi jika ini bukan keputusan yang benar maka berilah petunjuk yang terbaik yang harus hamba pilih. Rabbana Attina Fiddunya Hasanah Wafilakhirati hasanatau Wakinna Azzabannar. " Kata Rindu seraya menangkup kan kedua tangan nya.
"Aku berubah fikiran seperti nya keputusan kedua orang tua ku yang benar. " Aku akan langsung katakan kepada mereka bahwa aku mau melanjutkan proses ta'aruf dengan Ahnaf. "Gumam Rindu yang terlihat sambil melipat sajadah nya dan mukena nya kini ia kembali berbaring di atas tempat tidur dan bayangan wajah kedua orang tua nya terus terlintas di fikiran nya mungkin ini adalah pertanda bahwa keputusan yang diambil nya salah dan keputusan kedua orang tua nya yang benar fikir nya.
Adzan subuh berkumandang terlihat Winda membangunkan Rindu dengan terus menggoyang kan tubuh Rindu.
__ADS_1
"Rin!" Bangun Rin, "Kita shalat shubuh bersama yuk." Kata Winda.
"Eemm." Iya, kamu udah wudhu."Kata Rindu bangun dari tempat tidur nya dan terlihat ia mematikan bunyi dering jam yang terletak di meja samping ranjang tidurnya.