Rindu Yang Tak Tersampaikan

Rindu Yang Tak Tersampaikan
6. Sudah memaafkan


__ADS_3

"Hey kalian yang tidak terhormat, kamu Riska perempuan kok bisa bicara seperti itu sih... kasihan Rindu" balas Cello dengan memberikan emoticon marah. ๐Ÿ˜ก๐Ÿ‘ฟ๐Ÿ‘ฟ๐Ÿ˜ก


"Kenapa gak suka lo... suka ya sama Rindu... mau di PHP in... sama cewek kutu buku itu" balas Riska dengan emoticon mengejek ๐Ÿ˜œ


"Memang nya apa urusan nya dengan kamu kalau aku suka atau tidak suka dengan Rindu... intinya jangan ada satu pun dikelas ini yang ngatain Rindu, ngehina dia atau merendahkan dia... jika berani berhadapan dengan ku" balas Cello


"Gak usah sok jadi Preman di kelas ini, muak banget liatnya, gak usah komen kalau gak suka.. lebih baik belajar aja sana... gak suka lihat cowok cuman andelin otot aja... kalau bisa kecerdasan ditingkatkan" balas Riska


"Friend...udah-udah... kenapa jadi ribut kayak gini sih..Shalat maghrib, udah Adzan" balas Winda


"Oke... ustadzah" balas Arman dengan emoticon senyum cinta ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


"ish... orang yang kita bicarain mana ya... gak nongol-nongol" balas yang lain


"Iya juga ya... gak muncul lagi sembunyi kali.. atau takut.. entah lah, penakut banget.. dikit aja digertak udah mewek... Rindu Oh Rindu.. katakan pada Cello dia Rindu" balas yang lain mengirimkan emoticon ketawa ngakak๐Ÿคฃ


"Semoga Allah mengampuni dosa kita semua, karena pada hakikatnya kita semua manusia yang penuh dengan kekhilafan... bagi orang yang merendahkan Rindu, menjelekkan nama Rindu tanpa ada rasa penyesalan sungguh Rindu sudah memafkan๐Ÿ™๐Ÿ™" balas Rindu dan nampak ia langsung menutup Handphone nya dan kembali untuk mengambil wudhu shalat maghrib nampak setelah selesai ia menunggu handphone dari ayah dan bunda nya sama sekali tidak ada panggilan apapun Rindu nampak sangat khawatir ia melihat jam sudah pukul 8 malam.


Dan kini nampak ia pergi ke luar rumah nya duduk di kursi halaman rumah nya dengan ditemani secangkir teh hangat.


Rumah sakit


"Bagaimana keadaan Rani anak saya dok...ia tidak mengalami sakit yang serius kan dok.." tanya ibu korban dengan di dampingi suami nya.

__ADS_1


"Tenang buk.. pak... anak anda baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan ia tidak mengalami sakit yang serius...besok pagi sudah bisa di bawa pulang dan di rawat di rumah saja... sampai luka nya mengering ada 7 jahitan di tubuh nya jadi saya harap ibu dan bapak berhati-hati sampai luka tersebut kering dan pulih jangan banyak beraktivitas kalau bisa untuk sementara waktu ia izin tidak sekolah sambil menunggu pulih mungkin ia bisa mengambil belajar dari rumah jika tetap memaksa pergi ke sekolah "kata dokter pria paruh baya yang nampak sudah sangat ahli dalam bidang nya.


"Baik dok... terimakasih banyak" kata ibu dari Rani yang merupakan remaja perempuan yang tadi sore di tabrak oleh Rindu kini ia telah siuman dan berbaring di rumah sakit beristirahat.


"Sama-sama... saya izin permisi" kata dokter dengan tersenyum dan pergi meninggalkan mereka berempat.


Terlihat ibu Rahmi dan pak Adi berada di samping orang tua Rani dengan hati yang merendah berharap agar masalah ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan dan mereka akan menanggung semua biaya pengobatan.


****


"Maaf buk.. kami orang tua dari Rindu yang mana telah menabrak anak ibu dan bapak Rani kami meminta maaf atas keteledoran putri kami, kami harap ibu dan bapak dapat memafkan nya" kata Ibu Rahmi memegang kedua tangan ibunya Rani.


"Iya buk... kami telah memafkan nya, itu murni kecelakaan udah naas Rani mengalami kecelakaan.. malah kami sangat berterima kasih pada ibu dan bapak udah mengurus semua biaya nya dan menunggu bersama kami... mungkin kalau orang lain tidak akan mau bertanggung jawab..."kata ibunya Rani dengan memegang kembali tangan ibu Rahmi dengan tersenyum.


"Terimakasih banyak pak... telah mau mengerti" jawab pak Adi.


"Baiklah... seperti nya Rani sudah sadar... mari kita lihat dia... " kata ibunya Rani kepada semuanya nampak mereka pun sama-sama masuk ke ruangan Rani di rawat nampak ia tersenyum pada ayah dan ibunya, terlihat sang ibu membantu Rani untuk bersandar di ranjang tersebut dengan menaikkan tempat sandar nya.


Rani terlihat hampir di seluruh kaki, tangan hingga kepala nya dibaluti perban dan ia pun tersenyum pada kedua orang tua Rindu.


"Nak...ini orang tua nya Rindu yang gak sengaja nabrak kamu, ucap terimakasih sama beliau udah ngebantu proses administrasi mu nak" kata ibunya"


"Terimakasih pak.. buk.. " kata Rani tersenyum sambil mencium tangan mereka.

__ADS_1


"Sama-sama Rani.. harusnya ibu dan ayah nya Rindu yang berterimakasih begitu banyak pada mu dan juga kedua orang tua mu, kalian sambat baik mau mengerti akan keadaan Rindu.. dan tidak memproses ini ke kantor polisi, sungguh dari tadi Rindu menelfon bunda dan bapak menanyakan kondisi mu, ia sangat khawatir terdengar dari suara nya ketika menelfon bunda, ia terharu dengan kebaikan kalian padahal ia sudah menabrak mu sampai seperti ini dan kamu memafkan nya"kata ibu Rahmi sambil tersenyum memegang tangan Rani.


"Tidak apa-apa buk" kata Rani tersenyum memegang kembali tangan bundanya Rindu.


"Panggil Bunda aja sama seperti Rindu... kamu seumuran dengan Rindu ya... "kata ibu Rahmi


" Iya buk... tapi saya sekolah di pesantren kalau Rindu di jakarta Islamic bunda ya.. "tanya Rani gadis berjilbab putih kurung ini nampak melihat ke arah ibunda nya Rindu.


" Benar nak... Rindu sekolah di jakarta Islamic... namun bapak ingin setelah tamat dia melanjutkan ke pesantren... mungkin ke pesantren kamu aja.. "kata pak Adi tersenyum


" Iya itu benar sayang... kami berfikir bahwa lebih baik Rindu melanjutkan ke pesantren dari pada kuliah "kata ibu Rahmi nampak kedua nya berdiri sambil melihat ke arah Rani.


" Iya setuju... jadi Rani bisa menjadi teman Rindu..."kata Rani bersemangat gadis berkulit putih ini nampak begitu senang dengan hal itu.


"Iya namun sayangnya" kata ibu Rahmi dengan sedih dan menghela nafas.


"Kenapa buk..." tanya ibunya Rani nampak penasaran dengan apa yang dimaksudkan oleh ibunya Rindu ini begitu pun sang suami nampak heran.


"Sayangnya.. Rindu ingin sambung kuliah... ia menolak pergi ke pesantren" kata ibu Rahmi


"Kenapa seperti itu... Pesantren tempat menuntut ilmu agama... yang mana dunia ini dan isinya hanyalah sementara, akhirat yang selamanya, dunia ini Fana akan musnah, saat meninggal nanti apa yang akan kita bawa ke alam kubur, apa yang akan dijawab nya nanti di liang kubur pada malaikat munkar dan nakir saat kita ditanyai, Man rabbuka, Ma dinuka, Man nabiyyuka, Ma kitabuka, Aina qiblatuka, Man ikhwanuka, apa yang dijawabnya nanti pada malaikat yang tidak berpaling dari perintah Tuhan nya, mulut kita telah dikunci saat itu, hanya amal ibadah lah yang menjawab. Malaikat Munkar dan nakir tidak menanyai pertanyaan di liang kubur mengenai pelajaran matematika, rumus fisika dan unsur kimia atau pergeseran bumi dan ilmu sosial lainnya... saya sangat tidak setuju dengan hak itu, lebih baik saran saya aja untuk ibu dan bapak agar memberikan nasehat kepada Rindu sampai ia merubah pandangan nya"kata ibunya Rani dengan melihat ke arah ibu Rahmi.


Nampak kedua orang tua Rindu berfikir yang sama juga, mereka sebenarnya telah jauh-jauh hari memikirkan nya dan malah memaksa putri nya untuk mau menuruti keinginan mereka, memang Rindu keras kepala ia sekali memutuskan keputusan nya maka akan sulit merubah keputusan nya, berbeda dengan kedua kakak nya Rahmah dan Rabi'ah kedua nya sangat penurut dan dari kecil sampai dewasa memilih untuk mengenyam pendidikan di pesantren dan tak lama setelah selesai dengan menuntut ilmu kedua nya langsung di lamar oleh ustadz di pesantren masing-masing dan itulah harapan terbesar kedua orang tuanya termasuk ibunya yang menekankan ketiga anak nya untuk dapat memiliki suami seorang ustadz dan hanya satu orang saja yang belum menikah yaitu Rindu sehingga mereka sangat antusias untuk Rindu agar ke pesantren menuntut ilmu agama sekaligus berharap dapat mempunyai menantu seorang ustadz dari Rindu.

__ADS_1


__ADS_2