
"Ya kita tidak tau kapan bisa ketemu lagi, aku masuk ke rumah ku dulu, Assalamu'alaikum" kata Gio tersenyum ke arah nya terlihat ia menutup kembali pintu rumah nya.
"Waalaikumsalam" jawab Cello nampak termenung melihat sikap Gio yang merasa seperti hendak pergi.
Di lain sisi rumah Rindu terasa sangat sepi, ia membuka pintu rumah nya dan melihat di sekeliling sudut rumah nya dari mulai di dapur, kamar orang tua nya juga di taman belakang tidak ditemuinya kedua orang tuanya dan nampak Rindu duduk di kursi dapur sambil meneguk segelas air dingin dan ia berfikir positif saja bahwa kedua orang tuanya sedang pergi ke pasar atau ke rumah teman mereka.
"Ini sudah jam 5 sore, namun ayah dan bunda masih belum pulang juga, di mana mereka sebenarnya" kata Rindu duduk di ranjang nya.
Tak lama suara Handphone Rindu berdering dan secepatnya ia mengangkat saat mengetahui itu panggilan dari ayah nya.
π±"Assalamu'alaikum Rin" kata ayah nya
π±"Waalaikumsalam, ayah di mana? " kata Rindu nampak berbaring di ranjang nya sambil memijit perlahan kening nya nampak helai rambut nam panjang tersebut terurai berantakan, Rindu dengan memakai baju tipis sampai lutut terus menggoyangkan kaki nya.
π±"Ayah di tanggerang di rumah kakak mu Rabi'ah. Bunda juga ada di sini, nak.. kamu gak apa-apa untuk malam ini tinggal sendiri kan, besok ayah dan bunda baru pulang sore atau malam " kata ayah nya nampak sang istri duduk di kursi sebelah nya menemani kedua cucu laki-laki nya bermain.
π±"Kenapa gak menunggu ku pulang, aku juga mau pergi ke tempat kakak, aku juga kangen pada para keponakan ku, ayah dan bunda lebih baik jujur aja pada Rindu, kalian marah kan karena aku menolak untuk menikah dengan pria pilihan ayah" kata Rindu mulai menangisπ ia begitu sedih ditinggal sendirian seperti ini.
π±"Bukan gitu sayang, jangan menangis..ya ayah kecewa, ayah marah tapi ayah tidak membenci mu sungguh kami berfikir ingin mengajak mu namun kamu besok harus pergi ke sekolah makanya dari itu ayah dan bunda tidak mengajakmu" kata Ayah nya nampak bangkit dari kursi nya dan berdiri di teras rumah sambil melihat ke arah halaman yang sejuk.
__ADS_1
π±"Apa kak Rahmah juga ada di sana" tanya Rindu
π±"Tidak... kami tidak akan setega itu berkumpul keluarga tanpa mengajak mu, kamu mungkin lupa kalau kamu tetap lah anak ayah walaupun telah mengecewakan ayah tapi bagi ayah kamu adalah putri kesayangan ayah, jangan lupakan itu" kata Ayah nya.
Terdengar suara Rindu mulai menangis tersedu-sedu meskipun ayah nya mengatakan seperti itu rapi Rindu tetap lah merasa bahwa ia telah benar-benar dilupakan oleh ayah dan bunda nya.
π±"Ya terserah ayah dan Bunda saja, aku tidak sama seperti kak Rahmah dan kak Rabi'ah, Assalamu'alaikum" kata Rindu menutup Handphone nya tanpa menunggu salam dari sang ayah.
"Rindu... Rindu" kata ayah nya "
"Kenapa suamiku" tanya ibu Rahmi
"Sudahlah...nanti juga ia baik lagi, dia sudah besar sebentar lagi umur nya menginjak 18 tahun, ia harus bisa bersikap dewasa, menjaga emosi nya. Kamu terlalu mendengar perkataan nya, selalu menuruti semua keinginan nya dan lihat sekarang satu keinginan kita ia tidak mau memenuhi nya" kata ibu Rahmi nampak meminta pada kedua cucu nya yang berumur 6 dan 7 tahun itu untuk pergi bermain di dalam bersama pengasuh nya agar kedua cucu nya tidak mendengarkan pembicaraan mereka tentang Rindu.
"Sayang ku... kalian bermain sama mbak dulu ya di dalam rumah" kata ibu Rahmi
"Kenapa nenek dan kakek marah pada burin" kata kedua nya burin adalah singkatan bunda Rindu panggilan keponakan Rindu untuk dirinya.
"Bukan marah sayang, nenek dan kakek hanya kesal sedikit aja seperti umi kalian yang kesel karena kalian tidak mau belajar itu aja" kata nenek mereka.
__ADS_1
"Oh gitu... oke... kami mau main sama mbak dulu ya" kata kedua nya
"Iya sayang... " jawab nenek mereka sedangkan pak Adi sang kakek hanya diam dan menciun kening kedua cucu laki-laki nya ini sebelum mereka pergi.
"Kamu terlalu keras pada Rindu, sudahlah biarkan soal pasangan dia saja yang memilih, kalau menurut kita cocok belum tentu untuk dia cocok tapi kalau ia suka dan cocok maka kita menerima juga semuanya yang terpenting kan Rindu bahagia, jangan terlalu muluk-muluk dalam memilih pasangan untuk Rindu, sudahlah kasihan dia"kata Ayah Rindu.
****
"Bukan gitu yah, aku ibunya aku hanya ingin Rindu bahagia seperti kedua putri kita lainnya, kamu pikir aku tidak menyayangi nya justru aku sangat menyayangi nya ia dari kecil selalu sakit-sakitan dan aku tidak ingin ia menjalani hidup ini dengan mengalami kesakitan juga. aku ingin dia selalu berada dalam kebahagiaan dan menurutku Ahnaf adalah yang tepat untuk nya"kata Ibu Rahmi
"Buk... bahagia versi siapa yang sedang kamu bicarakan, versi ibuk sendiri atau versi Rindu. Jika Rindu memiliki pasangan yang sederhana dan ia menerima itu dengan bahagia maka itu termasuk kebahagiaan dan walaupun ia memiliki pasangan baik sekali di mata kita namun ia merasa tidak cocok dengan nya dan tidak bahagia maka itu bukanlah kebahagiaan. Kebahagiaan semua orang itu berbeda-beda buk, dalam memilih pasangan itu harus lah sekufu agar seimbang mungkin kenapa Rindu menolak karena ia merasa tidak sekufu dengan Ahnaf dan susah untuk menyeimbangkan. Ia tidak ingin membuat PR dalam rumah tangga nya mungkin menurut ayah itu juga menjadi pertimbangan nya, kita harus mengerti dia juga kan"kata Ayah Rindu nampak ia terus berfikir positif tentang semua keinginan anak nya termasuk dalam hal pasangan namun tidak dengan ibu nya Rindu yang nampak sulit melepaskan keputusan itu pada Rindu mungkin karena Rindu satu-satunya nya putri nya yang belum menikah.
"Loh kenala ayah jadi mendukung keputusan Rindu yang salah, ayah harus nya mendukung ibu" kata ibu Rahmi
"Ayah tidak tau lagi harus bilang apa, coba ibu pikirkan sendiri Rindu siapa nya ayah hingga ayah mendukung nya dan ibu siapa nya ayah hingga ayah mendukung ibu, ibu kenapa sebenarnya" kata pak Adi yang nampak bangkit dari kursi nya dan masuk kembali ke rumah meninggalkan ibu Rahmi yang duduk di teras rumah sendirian.
"Yah... yah.. kok ibu ditinggal" kata ibunya Rindu nampak ia menghela nafas dan tetap tidak mau merubah keputusan nya bahwa pasangan Rindu nanti nya haruslah yang ia setujui dan tidak ingin putri nya ini memilih dengan suka hati tanpa mau mendengarkan pendapat nya.
Di lain sisi nampak Rindu sedang menunggu kedatangan Winda sang sahabat untuk pergi ke rumah nya sekaligus menginap di rumah nya selama ibu dan ayah nya kembali entah itu besok malam atau beberapa hari lainnya yang pasti dari pembicaraan ayah nya. Rindu menarik kesimpulan bahwa belum tentu juga besok mereka pulang karena akan melihat-lihat keadaan di sana dulu.
__ADS_1