Rindu Yang Tak Tersampaikan

Rindu Yang Tak Tersampaikan
10. Berterimakasih pada Cello


__ADS_3

Kini terlihat mereka berada di kantin saat jam istirahat biasa nya Rindu dan Winda menghabiskan waktu di sini mengobrol sambil makan bersama dan tak terkecuali Cello yang juga semenjak Rindu selalu memilih kantin ini untuk makan maka ia pun selalu datang ke sini di saat jam istirahat.


Meskipun Cello mengatakan pada Arman dan Gio bahwa ia tidak menyukai Rindu hanya ingin berteman dengan baik dan hanya suka menggoda nya saja karena nama Rindu yang jarang di dengar nya itu tetap saja kedua sahabat nya ini tidak percaya karena terlihat Cello tidak hanya ingin Rindu berteman baik dengan nya, meladenin rayuan nya namun juga ingin Rindu jatuh cinta kepada nya karena selama ini Cello sangat ahli merayu memberikan berbagai pantun cinta dan syair cinta namun faktanya keahlian tersebut tidak bernilai apa-apa pada Rindu di mana Rindu suka dengan pria yang pintar dan tidak suka banyak bicara.


"Winda... boleh kami duduk di sini" kata Arman


"Boleh... tapi jangan cari ribut ya" kata Winda


"Ya tentu saja... kenapa setiap kami bertiga ingin duduk bersama kalian... selalu di bilang jangan cari ribut" kata Arman dan terlihat Gio dan Cello duduk berhadapan dengan mereka Cello sengaja memilih kursi yang berhadapan dengan Cello sedangkan Arman berhadapan dengan Winda, Gio duduk di samping Arman nampak Gio memperhatikan Arman yang dari tadi matanya tidak berkedip melihat Winda gadis berkulit sawo matang ini nampak tersenyum padanya.


"Cello.... " panggil Rindu yang duduk di hadapan nya dan sontak membuat kaget Cello yang baru memakan Mie bakso hingga ia pun tersedak dengan cepat Rindu mengambil kan air putih untuk nya.


"Ini Cello minum dulu.. maaf ya.. jadi ngagetin "kata Rindu sambil memberikan minuman di gelas putih


"Iya gak apa-apa.. " kata Cello mengambil air minum dari tangan Rindu.


"Ada apa Rindu" tanya Cello melihat ke arah nya


"Terimakasih banyak ya... udah cabut semua berita ku tentang kecelakaan di madin" kata Rindu melihat ke arah nya yang duduk di depan nya sambil meminum teh hangat


"Iya sama-sama... " jawab Cello tersenyum sambil terlihat perlahan-lahan tengan Cello menyentuh tangan Rindu secepat kilat Rindu menarik tangan nya lagi.

__ADS_1


"Tetap gak berubah kan... mengambil kesempatan dalam kesempitan" kata Rindu


"Tau nih Cello... bilang cuman ingin menjadi teman baiknya Rindu aja... tapi jangan-jangan ada niat terselubung nih... udah Cello kalau suka bilang aja... gak usah banyak cengcon" kata Winda "sambil tertawa


***


Cello hanya diam tersenyum terlihat kini mereka saling memaafkan satu sama lain Arman meminta maaf pada Rindu karena di group chat ngatain Rindu yang bukan-bukan begitu pun Gio meminta maaf pada Rindu dan Rindu pun sudah memaafkan mereka.


"Maaf, tapi ngomong-ngomong gak lama lagi kita kan akan tamat sekolah...kalian rencana nya lanjut kuliah atau langsung kerja atau apa?. gimana gambaran nya" kata Rindu sambil meminum es teh dingin duduk di kantor nampak ke lima nya terlihat asik mengobrol dan Rindu pun sudah mulai membuka pertemanan yang baik dengan Cello dan genk nya sehingga ia terlihat nyaman berbicara dengan mereka dan Cello nampak begitu senang.


"Kalau aku berencana lanjutkan kuliah... bagian Teknik dan setelah itu kerja, punya rumah menikah dan punya anak lalu bahagia... itu adalah keinginan ki jika berbicara mengenai harapan di masa depan" kata Arman tersenyum sambil membayangkan harapan nya tersebut.


"Iya terimakasih" jawab nya tersenyum.


"Kalau kamu Gio... apa gambaran masa depan mu" tanya Winda pada Gio yang nampak sudah menyelesaikan makanan nya dan terlihat kini sedang minum.


"Kalau aku juga sama hal nya dengan Arman akan lanjut kuliah,bekerja di BMKG lalu memiliki rumah yang besar, kendaraan yang bagus, menikah dan punya anak lalu bahagia" kata Gio yang sudah menyelesaikan minuman nya"


"Dan Cello... apa lanjut kuliah juga sama hal nya dengan kedua sahabat mu ini" tanya Rindu pada nya


"Enggak Rindu... aku tidak melanjutkan kuliah, dari pada menghabiskan uang orang tua ku sedangkan aku tidak serius kuliah jadi lebih baik gak usah, lagi pula di lihat dari kepintaran aku sama sekali gak mampu, aku sadar akan kemampuan ku" kata Cello melihat ke arah Rindu

__ADS_1


"Dengar Cello... kepintaran itu tidak datang begitu saja.. kata Imam Syafi'i jika kita tidak tahan dengan lelah nya belajar maka kita harus tahan dengan yang namanya kebodohan, lagi pula setiap manusia memiliki kemampuan yang berbeda mungkin kamu tidak bisa dalam hal ini maka bisa dalam hal lain jangan berputus asa"kata Rindu


"Apa yang dikatakan Rindu benar... pada hakikatnya kita sama-sama memiliki mata, telinga, kaki dan tangan semua anggota tubuh kita sama, lalu timbul pertanyaan mengapa orang itu bisa sedangkan kita tidak padahal makanan nya sama yaitu nasi, kita harus berusaha jangan mudah menyerah" kata Winda


****


"Iya benar... tapi aku yakin kalau aku tidak akan lanjut kuliah, lebih baik aku langsung bekerja ya..walaupun aku tau tidak akan sama seperti orang yang kuliah namun ini lebih baik untuk ku saat ini, aku tidak berharap lebih memiliki rumah yang besar karena cukup yang kecil saja tapi nyaman dan memiliki istri yang menerima ku apa adanya"kata Cello sambil menghela nafas ia sadar bahwa dirinya dan Rindu bertolak belakang dari segi ilmu dan sosial.


"Oke cukup dari kita bertiga sekarang kalian berdua... apa rencana masa depan kalian... ya kita hanya sekedar merencanakan namun tetap yang menentukan adalah Allah SWT" kata Cello melihat ke arah Rindu dan Winda


"Oke aku dulu ya" kata Winda dengan tersenyum dan melihat ke arah Rindu


"Iya silahkan" kata Rindu dan terlihat bersemangat untuk mendengar rencana impian Winda ke depan.


"Jadi.... aku ingin lanjut kuliah di jurusan B. Inggris, menjadi guru mengabdi sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, mencerdaskan anak-anak negeri ini dan berharap semoga mendapatkan suami yang baik agama nya membimbing ku, melindungi ku dan menjadikan ku sebagai ratu di hati nya seorang.. dan tentu nya dengan kehadiran anak-anak yang menjadi pelengkap kebahagiaan kami, sama-sama mendidik mereka menjadi ustadz dan ustadzah "kata Winda dengan tersenyum bahagia memikirkan masa depan nya nampak Rindu dan Cello juga sahabat nya itu tersenyum melihat Winda yang sudah nampak tidak sabar untuk menunggu kapan hari tersebut datang untuk nya.


" Eeemm.. manis nya harapan... aku do'ain juga semua apa yang diharapkan segera diijabah oleh Allah dan juga berarti pasangan mu seorang ustadz karena kamu ingin mendidik anak mu menjadi ustadz dan ustadzah "kata Rindu sambil memegang tangan Winda sahabat nya ini.


" Iya itu benar... berarti pasangan mu harus seorang ustadz... jika seperti itu aku gak bisa menjadi calon suami mu karena aku bukan seorang ustadz "kata Arman melihat ke arah Winda gadis dengan mata cantik ini nampak tertawa begitu pun dengan yang lain terutama Rindu yang sudah tau bahwa Arman naksir Winda.


" Ya harus nya sih seperti itu berharap jodoh ku seorang ustadz tapi jika tidak bisa pun tidak apa-apa yang pasti seorang ustadz dan ustadzah bisa lahir dari rahim ku, kamu masih ada kesempatan kok Arman "kata Winda tersenyum ke arah Arman dalam hati Winda ia tau bahwa Arman naksir padanya.

__ADS_1


__ADS_2