Rindu Yang Tak Tersampaikan

Rindu Yang Tak Tersampaikan
17. Assalamu"alaikum hati


__ADS_3

"Cello... kamu mau apa? biar aku traktir" kata Rindu melihat ke arah nya nampak mereka berdua berdiri di depan abang yang menjual martabak coklat tersebut.


"Bener nih... " kata Cello


"Iyalah, kalau gak bener gak mungkin aku nawarin" kata Rindu yang nampak memberikan uang untuk abang penjual dan ia pun mengambil makanan yang telah di belinya dan duduk di satu kursi sambil menyantap makanan yang ada di tangan nya.


"Ini dek... uang kembalian nya" kata abang penjual


"Gak usah bang, uang kembalian nya untuk dia aja. Mungkin dia mau pesan makanan ini juga" kata Rindu sambil melihat ke arah Cello dan terlihat Cello mengangguk tanda setuju bahwa ia ingin makanan yang seperti Rindu juga.


"Iya... saya pesan satu seperti Rindu" kata Cello yang nampak mengambil tempat duduk di samping Rindu dan tak lama abang penjualan pun memberikan martabak coklat tersebut ke padanya.


Nampak mereka makan bersama di satu meja yang sama, Cello terlihat begitu bahagia hingga pada di titik saat ia terus melindungi Rindu ia hampir salah memasukkan makanan bukannya ke mulut nya malah ke hidung nya, Rindu yang melihat itu pun tertawa nampak ia sudah habis semua makanan nya sedangkan Cello masih tersisa.


"Kamu kenapa... sampai salah memasukkan makanan seperti itu" tanya Rindu melihat ke arah nya dengan tertawa.


"Eeemm... gak kok... tadi aku lagi pikir" kata Cello namun nampak ia tidak melanjutkan pembicaraan nya


"Lagi pikir apa... oh ya ini udah mau masuk waktu Ashar... kita cari Mesjid yang dekat di sini yuk" kata Rindu sambil beranjak dari kursi


"Iya yuk... tapi tunggu dulu aku habiskan semua makanan ini dulu, tinggal dikit lagi takut dosa nanti membazir... kasihan makanan nya nangis" kata Cello yang terlihat terburu-buru memasukkan semua makanan tersebut ke mulia nya dan memakan nya


"Masih aja percaya mitos seperti itu, oh ya biasanya yang lama makan itu perempuan tapi ini malah laki-laki..." kata Rindu yang terlihat duduk kembali menunggu Cello menghabiskan semua makanan nya


"Ya... karena dari tadi aku asik ngelihat kamu... eh maksudnya itu" kata Cello tanpa sadar ia telah mengatakan nya.


"Nah... akhirnya ke bongkar juga.. memang ya bahaya kalau perempuan pergi jalan bersama dengan pria yang bukan mahram walaupun tujuan nya cuman jalan biasa aja tapi malah ke hal lain pikiran nya" kata Rindu melihat ke arah Cello.

__ADS_1


"Ya kan namanya aja di setiap tempat yang kita datangi atau dimanapun kita berada yang namanya godaan syaitan itu selalu ada" kata Cello yang nampak kini ia mencuci mulut nya dengan tisu di meja, ia telah selesai menghabiskan semua makanan nya dan sambat berterima kasih karena Rindu membayar makanan nya juga.


"Jadi secara tidak langsung kamu ingin katakan bahwa dari tadi kamu mikirin aku karena godaan syaitan... Astaghfirullah al-azim Cello... aku sungguh tidak menyangka" kata Rindu dengan tertawa dan nampak ia pergi ke parkiran sepeda nya dan Cello pun mengikuti nya sambil ingin menjelaskan apa maksud dari perkataan nya.


"Tidak... bukan itu maksudnya... kamu salah paham" kata Cello yang nampak kini berada di depan Rindu


"Iya... baiklah... cepat jangan terlambat.. mari kita ke Mesjid terdekat sini, jangan sampai terlambat" kata Rindu dan kini ia pun mendayung sepeda nya dengan kencang nampak Cello pun mengikuti nya dengan sepeda tak kalah kencang nya ingin menyeimbangi kecepatan Rindu mendayung sepeda nya.


"Rindu..! Hati-hati...kamu pernah kecelakaan" kata Cello melihat ke samping nya


"Iya... kamu tau bahwa takdir itu tidak bisa dihindari, berhenti lah setiap aku ngebut kamu mengatakan aku pernah kecelakaan, memang ya aku pernah kecelakaan tapi yang namanya takdir kita sebagai hamba Allah harus bisa menerima nya, aku akan berhati-hati" kata Rindu yang nampak kimi mereka membelokkan sepeda mereka ke gerbang besar tersebut begitu banyak orang yang datang untuk shalat berjamaah di sana dan kini Rindu dan Cello terlihat meletakkan sepeda mereka di sudut terkahir sama di tempat parkiran motor dan mobil.


"Iya tapi bukan berarti kita tidak waspada" kata Cello nampak sedang mengunci sepeda nya dan Rindu pun hanya diam nampak Cello pergi ke tempat wudhu laki-laki dan Rindu pergi ke tempat wudhu perempuan dan terlihat mereka berjalan terpisah.


Sesampainya di dalam Mesjid nampak Rindu pergi ke arah lemari kaca terdapat banyak mukena putih di sana dan Rindu pun mengambil nya dengan cepat agar tidak keduluan di ambil orang hingga nantinya akan membuat ia menunggu lagi untuk mendapatkan mukena.


"Dek... ke sini penuhi shaf... "kata seorang perempuan yang nampak bercadar putih


****


" Kak Nisa... "kata Rindu yang nampak bersalaman dengan nya nampak kini mereka duduk untuk menunggu iqamah


" Iya Rindu... pergi sendiri? ibu Rahmi di mana"kata Nisa tersenyum


"Aku pergi sendiri kak... " kata Rindu tersenyum


"pulang nanti bareng kakak aja... naik mobil" kata Nisa

__ADS_1


"Enggak kak.. makasih, aku bawa sepeda kalau aku pulang dengan kakak, sepeda ku bagaimana? " kata Rindu


"Iya juga ya... baiklah mungkin lain kali"kata Nisa nampak kini semua orang telah berdiri termasuk mereka dan mendengarkan iqamah yang merdu dari seorang pemuda yang entah siapa itu.


Kini nampak semua nya shalat berjamaah di imami oleh pemuda yang tadi iqamah.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh "ucap imam nya


lalu kemudian para makmum juga begitu pun Nisa dan Rindu yang juga telah selesai shalat.


" MasyaAllah suara imam nya sangat bagus ya.. lantunan ayat suci yang dibaca nya sangat merdu di telinga, sampai bikin nangis"kata Rindu melihat ke arah Nisa dengan tersenyum


"Ya tentu saja, yang jadi imamnya adalah ustadz Ahnaf beliau satu fakultas dengan kakak di bidang ilmu tafsir" kata Nisa dengan tersenyum


Nampak kini mereka mengangkat tangan berdoa mengikuti bacaan doa imam dan kemudian saat setelah selesai pembicaraan mengenai ustadz Ahnaf kembali dibicarakan oleh Rindu dan Nisa.


"Benarkah..kalau begitu umur kakak dengan umur ustadz Ahnaf sama" kata Rindu yang masih memakai mukena


"Iya 22 tahun kami sama-sama mengambil S2 di bidang yang sama, dan ia juga sangat baik beda dengan pria di luar sana jarang kita dapat bertemu dengan pria yang baik karena Allah bukan baik karena ada sesuatu, Ahnaf juga tidak hanya bagus suara nya namun tampan, kaya ilmu dan kaya rasa tanggung jawab dan... "kata Nisa namun belum selesai ia berbicara mengenai Ustadz Ahnaf, Rindu menyela perkataan nya.


" Maaf kak, memotong perkataan kakak.. tapi sepertinya ada sesuatu antara kak Nisa dengan ustadz Ahnaf, atau mungkin ustadz Ahnaf telah mengucapkan Assalamu'alaikum ke hati kakak yaitu hati kakak sudah ditempati oleh cinta nya ustadz Ahnaf "kata Rindu sambil tersenyum ke arah Nisa yang nampak kembali memakai cadar putih nya.


" Iya... jangan bilang pada siapapun ya... ini rahasia di antara kita, kakak malu sekali jika ini diketahui oleh banyak orang, apalagi nanti mereka akan menyalahkan cadar kakak karena telah jatuh cinta pada Ahnaf teman satu unit kakak"kata Nisa yang terlihat kini kedua nya sama-sama melipat kan kembali sajadah nya dan Rindu pun membuka mukena nya dan melipat dengan rapi kini mereka berdua berjalan berdampingan.


"Kenapa harus menyalahkan cadar kakak? cadar adalah mubah di perbolehkan dan kita tidak boleh melarang kakak untuk melepaskan cadar hanya karena sikap dan sifat yang ada pada kakak yang tidak disukai oleh orang lain karena itu adalah memenuhi hak pribadi lagi pula penilaian manusia tidak akan merubah penilaian Allah kepada hamba nya untuk apa terlalu difikirkan apa pendapat manusia, yang penting kita tetap pada jalur nya dan soal jatuh cinta. Ayah Rindu menjelaskan bahwa cinta itu terbagi ke dalam beberapa tingkatan dan perhatian lah pada diri sendiri bahwa jatuh cinta adalah fitrah manusia dan cinta yang utama adalah cinta kepada Allah maka dari itu jangan ada nafsu dalam cinta kepada mahkluk jika ada nafsu maka itu bukan cinta karena Allah jika seorang muslimah seperti kakak mencintai ustadz ahnaf karena Allah maka yang harus dilakukan ialah lebih mendahulukan Ridho Allah dari pada Ridho orang yang dikasihani nya"kata Rindu melihat ke arah Nisa terlihat kini mereka sudah berada di pintu Mesjid untuk perempuan sedangkan di sisi lainnya ada pintu khusus untuk laki-laki.


"Allah humma barik laha, terimakasih ya Rindu atas penjelasan mu, memang putri nya dosen kakak pintar-pintar semua ya" kata Nisa memuji setelah mendengar nasehat Rindu tentang ia yang khawatir akan perihal jatuh cinta yang salah dipahami oleh kebanyakan orang.

__ADS_1


"MasyaAllah... kakak bisa aja memuji, aku hanya banyak mendengar ceramah ustadz tentang cinta agar tidak terjerumus ke yang namanya pacaran karena kan di masa-masa remaja ini jatuh cinta sering di alami oleh insan yang sebaya dengan ku maka dari itu aku menjelaskan nya ke kakak sesuai dengan apa yang ku pahami tapi kakak bisa bertanya pada guru kakak agar lebih jelas dan ada pertimbangan pendapat lain"kata Rindu tersenyum nampak kini mereka berhenti dan berdiri sejenak.


"Tentu tapi penjelasan mu sudah menerangkan apa yang perlu kakak lakukan untuk hati kakak" kata Nisa tersenyum nampak kini mereka menyudahi pembicaraan dengan saling memeluk dan juga akan berpisah jalan.


__ADS_2