Rindu Yang Tak Tersampaikan

Rindu Yang Tak Tersampaikan
30. Hari yang sedih


__ADS_3

"Udah, kamu cepat lah wudhu, aku tunggu. " kata Winda setelah membangunkan Rindu ia pun terlihat memakai mukena nya.


Selang beberapa lama Rindu telah selesai berwudhuk dan juga memakai mukena ia pun langsung membentangkan sajadah nya di samping Winda. Terlihat keduanya shalat dengan khusyuk dan setelah mengucapkan salam sesudah shalat keduanya sama-sama mengangkat kedua tangan dengan memanjatkan doa masing-masing.


"Ya Allah... lancarkan lah kepergian ku ke Inggris untuk menlanjutkan pendidikan, hilangkan kah rasa cinta ku pada yang bukan milik ku," hilang kan lah keraguan dalam hati ku, ya Allah lindungilah sahabat di samping ku ini, berilah ia kebahagiaan yang baik dalam setiap hari yang dijalaninya. "Gumam Winda dengan menangkup kan kedua tangan nya dan nampak ia melihat ke arah Rindu di samping nya yang khusyuk berdoa.


"Ya Allah." Semoga pilihan ini benar baik untuk hamba. Mudah-mudahan dengan ini kedua orang tua hamba bisa bahagia dan senang"Gumam Rindu dalam benak nya nampak ia menyalami tangan nya dan melihat ke arah Winda dengan tersenyum.


"Kenapa senyum?" Tanya Winda yang sudah melepaskan mukenanya juga melipat sajadah, terlihat ia langsung mengambil pakaian sekolah nya dari tas nya. Sambil mendengar perkataan Rindu.


"Kamu gak marah lagi sama aku kan" tanya Rindu sambil melipat mukena nya dan juga sajadah nya terlihat kini keduanya sama-sama sedang memakai pakaian sekolah.


"Enggak tapi jujur perkataan mu semalam pada Ahnaf kasar. " Jelas ia sakit hati, "Kamu tau kan bahaya nya melukai hati hamba yang dicintai Allah. " Kata Winda yang sudah selesai memakai pakaian sekolah nya dan kini nampak menghadap ke arah cermin sedang memakai hijab segi empat berwarna putih.


"Tau." Tapi memang nya Ahnaf hamba yang dicintai Allah. "Tanya Rindu melihat ke arah nya yang juga sudah selesai memakai pakaian sekolah dan menunggu Winda selesai memakai Jilbab.


"Tentu saja," Kamu pernah dengar ceramah tentang ciri-ciri hamba yang dicintai Allah."Bagaimana keistimewaan yang Allah berikan pada nya hingga apabila ada orang yang menyakitinya langsung Allah membantu nya di luar nalar kita." Kata Winda telah selesai memakai hijab nya nampak duduk di sofa dan menunggu Rindu memakai hijab.


"Oke." kamu ingin bilang bahwa Ahnaf memiliki ciri-ciri atau kriteria hamba yang dicintai Allah" Kata Rindu sambil memasang peniti di jilbab nya.


"Iya, aku mau kalau jodoh ku nanti seperti nya. " kata Winda kini keduanya sama-sama pergi ke arah meja dapur dan terlihat Rindu mengambil roti tawar dan selai anggur.


Terlihat keduanya terus berbicara perihal Ahnaf, selagi mendengar Winda terus bercerita tentang berbagai hal nampak Rindu menyiapkan sarapan pagi untuk nya dan juga sahabat nya Winda, ia melapisi roti dengan selai dan mengambil jus jeruk di kulkas untuk Winda.


"Ini Winda," makan dulu nanti kita lanjut berbicara "kata Rindu memberikan roti tersebut dan jus kepada Winda nampak sahabat nya ini mengambil nya dan langsung memakannya.


"Terimakasih "kata Winda tersenyum


" Sama-sama "Kata Rindu seraya terus memakan roti nya.


" Oh ya Rindu," aku senang kamu memutuskan untuk melanjutkan ta'aruf dengan Ahnaf, aku yakin kalian akan bahagia tapi apa kah Ahnaf mau setelah kamu menolak nya"kata Winda yang telah siap sarapan dan ia pun meminum jus nya.


"Aku gak tau, tapi aku akan mengatakan kepada orang tua ku bahwa aku ingin melanjutkan ta'aruf ini" kata Rindu dan terlihat ia telah selesai sarapan


Winda hanya diam setelah itu keduanya sama-sama berangkat ke sekolah dengan angkot. " Hari ini Rindu tidak mengendarai kereta nya karena ingin merasakan naik angkot bersama dengan Winda yang jarang sekali ia lakukan semenjak dirinya sudah memiliki kendaraan sendiri. Kini keduanya sama-sama mengenang saat bersama sebelum keduanya akan berpisah mengingat minggu depan mereka akan ujian nasional dan setelah itu tidak akan bisa bertemu lagi karena Winda akan berangkat ke Inggris setelah pengumuman kelulusan.


Di lain sisi Ahnaf duduk di meja makan nya dengan kedua orang tuanya, ia merupakan anak tunggal sehingga sang ibu sangat menyayangi nya dan juga sangat memperhatikan segala hal tentang anak nya termasuk masalah jodoh.

__ADS_1


"Abi... Ahnaf langsung ke kampus ya, " Mungkin agak telat pulang nya"Kata Ahnaf sambil beranjak dari kursi nya dan seketika sang ayah memanggilnya untuk duduk kembali.


"Tunggu nak. Abi dan umi ingin bertanya pada mu mengenai Rindu putri nya pak Adi dosen mu di kampus" kata abinya.


****


"Bukankah Ahnaf sudah bilang bi, kalau Rindu menolak nya dan lagi pula Rindu tidak seperti yang dikatakan oleh pak Adi, ia berbeda dari yang diceritakan sangat keras kepala" Kata Ahnaf.


"Dia sudah berubah Fikiran, tadi pagi ayah nya menelphone katanya Rindu ingin melanjutkan ta'aruf dengan mumu, bagaimana kamu mau atau tidak" kata Abinya.


"Enggak bi, tolong sampaikan hal itu pada orang tua Rindu, jangan tanyakan kenapa. Assalamu'alaikum Abi, Umi" Kata Ahnaf nampak mencium tangan abi nya dan juga umi nya. Ia pun tanpa menunggu lama langsung pergi, kedua orang tua Ahnaf hanya bisa diam mereka tidak mungkin memaksa karena bagaimana pun ini yang menjalani adalah Ahnaf.


Dan kini Winda dan Rindu sudah sampai di sekolah mereka langsung masuk ke dalam kelas dan belajar terlihat guru wali jelas mereka membagikan kartu ujian kepada mereka masing-masing.


"Baiklah." Anak-anak ibu ini sudah masa akhir kalian berada di sekolah, dan juga bertemu ibu, Semoga kalian sukses dalam mengejar impian kalian dan satu nasehat ibu terus berprasangka baik kepada Allah walaupun cobaan dan semua keinginan kalian tidak terwujud karena Allah tau apa yang terbaik untuk semua hamba nya jadi jangan merasa paling menderita. "Kata ibu Dena dengan tersenyum kepada mereka.


" Iya buk tentu kami akan selalu ingat nasehat ibu"Kata Rindu dan juga teman nya yang lain mengiyakan apa yang dikatakan Rindu.


Setelah selesai istirahat nampak Rindu pergi ke Mushola yang ada di sekolah untuk shalat Dhuha dan kini setelah selesai ia tidak bisa menemukan sepatu nya.


"Kenapa kak" Tanya adik kelas.


"Ini sepatu kakak, perasaan kakak letakkan di sini, tapi udah gak ada lagi" Kata Rindu


"Saya bantu carikan kak ya" Kata Adik kelas nya.


"Gak ngerepotin, kamu mau shalat kan" Kata Rindu


"Udah selesai kak, gak apa-apa saya tolong carikan sesama hamba Allah harus saling tolong menolong ka " Kata adik kelas nya.


"Iya, terimakasih ya" Kata Rindu tersenyum ke arah nya.


"Sama-sama" kata nya.


Dan kini keduanya terus mencari sepatu yang hilang tersebut hingga hampir masuk jam mata pelajaran berikutnya, Rindu pun berhenti mencari dan terlihat putus asa ia pun meminta adik kelas nya untuk berhenti mencari.


"Sudah lah dek. " Gak apa-apa, gak perlu cari lagi, kamu masuk aja ke kelas mungkin guru mu sudah ada di kelas nanti takut dihukum "Kata Rindu

__ADS_1


"Baiklah kak, Semoga orang yang mengambil sepatu kakak, akan mendapatkan ganjaran dari Allah. " Kata adik kelas nya nampak meminta izin untung pergi dan kini hanya Rindu saja seorang diri yang masih berada di tangga mushola sekolah sambil bersedih karena kejadian ini terjadi kedua kalinya. Dan ia benar-benar ingin tau apa motif orang yang mencuri sepatu nya.


"Aku yakin orang yang mencuri sepatu ku juga orang yang sama yang mencuri sandal ku di Mesjid" Gumam Rindu dengan menggenggam tangan nya. Terlihat ia begitu kesal nampak Aidan dan Miko yang memperhatikan nya dari jauh mendekati nya berpura-pura tidak tau apa yang terjadi padahal mereka lah yang mengambil sepatu Rindu.


"Cuaca begitu cerah bersinar hari ini, matahari begitu terang dengan sinar kemerahan nya namun ada yang salah dengan matahari yang duduk di sini ia nampak suram dan redup, sinar nya memudar." Ada apa Rindu? "Tanya Miko berdiri di depan nya nampak Aidan tersenyum atas kata-kata Miko untuk Rindu.


"Bukan urusan mu"Kata Rindu melihat ke arah nya dan kembali melihat ke arah bawah tanah.


"Ayolah Rindu jangan sedih, lkhlas kan sepatu mu, lagi pula kan kamu bisa membeli nya lagi, atau mungkin tidak punya uang." Biar aku yang membayarnya aku kasihan melihat mu sedih. "Kata Aidan nampak kedianya duduk di lantai agar menyeimbangi duduk nya Rindu.


" Dari mana kamu tau aku kehilangan sepatu"Tanya Rindu curiga.


Nampak Miko menatap tajam ke arah Aidan bagaimana bisa ia hampir saja membongkar kejahatan nya sendiri dan membuat Rindu curiga terlibat Aidan langsung memutar otak mencari alasan yang dapat diterima dan tidak dicurigai.


"Tentu saya dari adik kelas, katanya kamu kehilangan sepatu, kami langsung ke mari"Kata Aidan tersenyum tipis.


"Siapapun yang mengambil sepatu ku dan sandal ku, aku harap ia merasakan yang sama dengan apa yang kurasakan yaitu kehilangan barang yang disayanginya "Kata Rindu bangkit dari tempat duduk nya dan ia pun langsung pergi tanpa alas kaki semua murid sekolah menatap nya aneh dan bertanya kenapa ia tidak memakai sepatu sedangkan Aidan dan Miko tertawa terbahak-bahak sukses menjahili Rindu dan Aidan sangat suka melihat Rindu sedih.


"Seperti hari di mana kamu membuat ku sedih, seperti itu lah hari ini aku membuat mu sedih" Gumam Aidan


"Kak Rindu, sepatu nya mana" Kata adik kelas laki-laki nampak tertawa.


"Hilang." Jawab Rindu sambil terus berjalan.


"Langsung beli lah, masa iya pergi ke sekolah gak pakai sepatu, semiskin itukah," Sampai gak mampu beli. " Kata murid kelas yang duduk di kursi taman tertawa bersama teman mereka melihat Rindu tanpa alas kaki.


Mendengar hal itu Rindu langsung berhenti dan pergi ke arah empat anak perempuan yang sedang duduk santai di bawah pohon rindang.


"Jangan pernah meremehkan orang lain dan jangan pernah merasa paling kaya karena itu adalah titipan semata, " Dan tidak usah bersikap seperti Langit karena kamu tinggal di bumi"Kata Rindu pergi dan tidak mengopen lagi apa yang dikatakan oleh ke empat nya meskipun ia tau apa yang mereka katakan sangat keterlaluan.


"Kasihan banget nasib sungguh tidak beruntung kepada mu Rindu mantan ketua osis yang sok cantik" Teriak mereka.


"Dasar tukang iri, kalian yang pantas nya dikasihani" Gumam Rindu melihat ke belakang dan kembali meneruskan jalan nya untuk sampai ke kelas.


"Ya Allah kaki ku sungguh perih, hari ini cuaca nya cerah sekali, berilah saat pulang sekolah hujan sehingga kaki ku bisa terlindungi dengan air hujan" Kata Rindu yang terlihat kini mengangkat kan satu kaki nya untuk melihat telapak kaki yang memerah tersebut.


Teman Rindu di kelas bertanya-tanya mengapa ia pergi tanpa sepatu termasuk Winda dan Cello terus melihat ke arah Rindu, kedua nya bisa melihat Rindu kesakitan karena kaki nya yang memerah akibat berjalan di terik matahari.

__ADS_1


__ADS_2