
Cuaca begitu bersahabat tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin, dan terdengar suara bel berbunyi nampak para murid lari bergemuruh menuju pintu gerbang, ada yang pulang dengan jalan kaki ada yang pulang dengan motor dan Rindu salah satunya nampak ia hari ini tidak membonceng siapapun dan ia pun langsung pulang ke rumah nya mengendarai motor dengan perlahan.
"Assalamu'alaikum Bunda... ini Rindu" kata Rindu dengan terus mengetuk pintu nya ia tidak memencet bel lantaran suara bunyi yang mengganggu telinga Rindu.
"Waalaikumsalam... kamu udah shalat Zhuhur di sekolah" tanya ibunda nya dan terlihat Rindu mencium tangan ibunya dan masuk ke rumah membuka sepatu nya dan kaos kaki hitam milik nya.
"Enggak Bunda... aku lagi Haid.." kata Rindu yang nampak duduk di sofa dengan bersandar.
"Eemm... yaudah.. pergi ke kamar terus bersihkan diri dan langsung turun kita akan sarapan" kata Ibunda nya yang nampak pergi menuju dapur.
"Baik Bunda" jawab nya dan sekarang Rindu menaiki anak tangga menuju kamar nya dan langsung meletakkan sepatu di ranjang sepatu begitu juga dengan taa dan buku-bukunya. Kini nampak Rindu mengambil Handuk putih dan langsung ke kamar mandi membersihkan dirinya.
Nampak Rindu telah siap dan ia pun dengan setelan abaya hitam dan jilbab hitam turun menuju meja makan dan kedua orang tuanya ini nampak heran dengan pakaian Rindu yang biasanya dipakai ketika ia mau pergi dan untuk berada di rumah saja sama sekali tidak harus memakai pakaian tersebut.
"Ayah... cepat juga pulang nya"kata Rindu sambil menarik kursi untuk dia duduk disamping ayahnya dengan tersenyum.
__ADS_1
" Iya... hari ini ayah minta izin untuk tidak masuk, setelah mengantarkan Rani dan orang tuanya pulang ke rumah mereka, ayah pun pulang bantu Bunda di rumah sesekali menemani Bunda supaya gak kesepian, biasanya kamu berangkat sekolah dan ayah berangkat kerja kan Bunda sendiri aja di rumah "kata Ayah nya dengan tersenyum
"Eeemm... romantis nya, Ayah pengertian banget sama Bunda...semoga cinta kalian gak akan pernah pudar... Bunda..lihat ayah tu... Bunda beruntung banget loh punya suami seperti ayah" kata Rindu nampak tersenyum bahagia dan kini ia melihat ke arah ibunda nya untuk melihat ekspresi sang Bunda ketika mendengar ayah nya mengatakan ingin menemani bunda nya.
"Ya benar banget... Bunda sangat beruntung.. dan sebenarnya semua anak-anak Bunda juga beruntung dengan pasangan nya masing-masing" kata Ibunda nya sambil pergi duduk di meja makan berhadapan dengan Rindu sambil membawa sup hangat untuk suami dan anaknya ini.
"Semua anak Bunda kecuali aku, Rindu kan belum menikah Bunda" kata Rindu sambil menyantap makan siang nya.
"Tapi akan bukan... kamu tau gak.. bahwa menikah muda itu baik untuk perempuan apalagi udah ada calon nya...iya kan yah.." kata Ibunda nya dengan melihat ke arah suaminya ini dan sambil meminum air putih dan tersenyum pada anaknya.
"Ayah.... Bunda... menikah itu memang pilihan terbaik untuk dua orang yang saling mencintai namun untuk sekarang aku tidak mencintai siapapun, aku ingin melanjutkan pendidikan ku ke jenjang yang lebih tinggi, aku memiliki impian untuk menjadi pengacara dan membantu khusus nya kaum perempuan memperoleh keadilan dan hak yang sama, bukankah perempuan itu madrasah pertama nya anak-anak.. dan tentu seperti apa ibunya menentukan siapa anaknya kelak... apa yang salah jika aku melanjutkan kuliah dan setelah itu baru menikah "kata Rindu yang nampak menghentikan makan siang nya dan melihat ke arah Ibunda dan ayahnya.
" Ayah dan Bunda tidak mengizinkan kamu kuliah... kamu lihat kedua kakak mu mereka dari kecil menimba ilmu di pesantren dan setelah itu menikah dengan ustadz di pesantren mereka dan kini keduanya bahagia dengan keluarga masing-masing memiliki anak-anak.. apa kamu tidak mau punya anak di umur mu masih muda kamu akan seperti teman dengan anakmu, apalagi memiliki pasangan ustadz "kata ibundanya yang nampak kini merapikan meja makan dan menaruh piring kotor ke tempat pencucian.
***
__ADS_1
" Ustadz lagi-lagi ustadz... ayah... Bunda haruskah aku menikah dengan seorang ustadz.. jika aku ditakdirkan bukan menikah dengan ustadz... lalu bagaimana tetap memaksa juga, bukannya dalam islam yang paling utama adalah melihat agamanya, yang akan menyelamatkan Rindu dunia akhirat...apapun profesi nya yang paling penting baik dalam segi agama nya, siapapun laki-laki itu jika memiliki ilmu agama yang baik, menjalankan syariat agama sesuai sunnah maka itu sudah baik untuk Rindu menikah dengan nya"kata Rindu dengan bersuara lembut pada kedua orang tuanya yang sangat mengatur mengenai pasangan anak-anak nya.
"Kami adalah orang tua mu... kami ingin yang terbaik untuk mu, kami ingin kamu bahagia jadi turuti saja keinginan kami... pokoknya kamu harus menikah setelah tamat sekolah ini" kata ayah nya menutup pembicaraan dan pergi meninggalkan meja makan nampak Rindu meneteskan air matanya.
"Apa karena Ayah dan Bunda tidak ingin merawat ku lagi, tidak ingin membiayai kuliah ku, aku menjadi beban kalian sehingga kalian ingin aku cepat-cepat meninggalkan rumah kalian" kata Rindu berbalik melihat ayah nya dan nampak sang ayah tidak menghiraukan dan pergi menuju lantai atas hendak duduk di teras yang penuh dengan beragam jenis sayuran yang ditanam nya di dalam pot berwarna hitam dan putih disusun nya begitu indah nya.
"Bukan seperti itu nak.. jangan berfikir sejahat itu, kami ingin selalu dekat dengan mu namun hari itu juga akan terjadi dan semua anak perempuan memang setelah menikah akan tinggal di rumah suaminya" kata Ibunda nya dan terlihat beranjak dari kursi nya dan duduk di samping Rindu dan memegang kedua tangan anak nya ini.
"Kalau bukan seperti itu seperti apa juga... bagaimana jika setelah menikah, umur suami Rindu tidak panjang sehingga meninggalkan Rindu dan anak-anak Rindu... siapa yang akan menyanggupi kelangsungan hidup kami, tentu perempuan harus memiliki keahlian, harus punya ilmu agar bisa merawat dan membesarkan anak-anak nya, menyekolahkan mereka, jika Rindu memiliki pekerjaan tentu hal tersebut tidak perlu Rindu takuti karena Rindu memiliki kemampuan untuk bekerja namun jika hanya mengandalkan dari suami maka setelah suami tiada... apa yang akan terjadi... kami akan terlantar dan mengharapkan iba dari orang-orang "kata Rindu dengan meneteskan air matanya berusaha membuka hati kedua orang tuanya untuk mau memberi izin nya untuk kuliah.
" Siapa bilang kamu akan terlantar.. ayah dan Bunda ada untuk mu, lagi pula anak Bunda sangat pintar yang selalu memenangkan juara kelas dan perlombaan di luar sana kamu akan bisa mengatur waktu dan lagi pula setelah menikah kamu tetap boleh bekerja dan jangan berkata seperti itu lagi belum apa-apa kamu sudah mengharapkan umur suamimu tidak panjang... kamu tidak boleh seperti itu umur adalah rahasia Allah " kata Ibunda nya.
" Apa Ayah dan Bunda bisa menjamin bahwa umur kalian panjang, benar umur rahasia Allah sehingga kita tidak tau apa yang nantinya akan terjadi, sebagai manusia perlu usaha dan mempersiapkan diri bukan hanya menunggu dan berpangku tangan"kata Rindu sambil memegang tangan sang Bunda.
"Kenapa kamu keras kepala... apa susahnya sih menurut pada orang tua, dulu kakak mu ketika dilamar sama sekali tidak bermasalah seperti mu" kata Ibunda nya
__ADS_1
"Tentu mereka tidak masalah karena memang ia dan kakak ipar saling mencintai dan menikah adalah obat terbaik untuk mereka sedangkan aku tidak berkeinginan untuk saat ini bun... " kata Rindu yang nampak frustasi sudah karena kedua orang tuanya tetap pada keputusan mereka.