Rindu Yang Tak Tersampaikan

Rindu Yang Tak Tersampaikan
22. Akhirnya pernikahan ini tidak terjadi


__ADS_3

Waktu terus berganti suara gemuruh hujan begitu deras nya, nampak Rindu berbaring di kamar nya dan ia telah memutuskan akan masuk ke pesantren setelah tamat sekolah. Tidak ingin membuat ayah dan ibunya mengalami rasa kecewa untuk kedua kalinya hingga Rindu pun telah meyakinkan dirinya bahwa ia tidak pergi kuliah.


Besok pagi adalah awal dari kebahagiaan yang begitu senang ia rasakan bagaimana tidak pernikahan yang direncanakan secara tiba-tiba tidak terjadi.


Nampak Rindu menghubungi sahabat nya Winda dan menceritakan kejadian tersebut ia melihat jam telah menunjukkan pukul 24.00 malam membuat Rindu pun memutuskan untuk tidak menelfon nya karena waktu yang telah larut ia tidak ingin mengganggu Winda dan nampak Rindu menaruh kembali handphone nya di meja belajar dan pergi ke kamar mandi untuk berwudhuk dan setelah itu nampak ia kembali naik ke atas tempat tidur hanya sedetik baru menutup mata tiba-tiba suara bunyi handphone nya terus berdering berkali-kali membuat Rindu pun mengangkat nya dengan cepat tanpa melihat nota panggilannya dari siapa, ia berfikir itu dari Winda yang sempat di miscall nya tadi.


📱"Assalamu'alaikum Winda, kamu tau" kata Rindu yang nampak bersandar di tempat tidur nya dengan tak lupa mengaluk bantal guling nya.


📱"Waalaikumsalam... tau apa, aku bukan Winda tapi Aidan"jawab Aidan yang terlihat ia masih duduk di sofa nya dan bersandar.


📱"Emm.. maaf Aidan, aku pikir Winda. Ada apa, menelfon di tengah malam seperti ini, ada hal yang sangat penting sehingga tidak bisa berbicara di sekolah saja" kata Rindu yang nampak sudah sangat mengantuk terlihat ia menguap sedati tadi.


📱"Gak, aku hanya ingin katakan padamu sekarang takut besok lupa memberi tau mu. aku ingin saat jam istirahat kamu pergi ke taman sekolah dekat dengan kelas ku" kata Aidan


📱"Untuk apa? " tanya Rindu


📱"Rahasia, datang saja aku benar-benar mengharapkan kehadiran mu di sana, i am wait" kata Aidan yang nampak tersenyum.


📱" Baiklah... Assalamu'alaikum "kata Rindu menutup pembicaraan nya dengan Aidan)


📱" Waalaikumsalam"kata Aidan sambil menutup handphone nya dan terlihat kini ia pergi ke tempat tidur nya.

__ADS_1


Suara Adzan berkumandang dengan indah dan Rindu sangat mengenal suara muazin tersebut tak lain adalah Ahnaf. Nampak Rindu bangkit dari tempat tidur nya untuk mengambil wudhu sebelum itu ia melihat handphone nya dan terdapat chat dari Aidan yaitu mengingatkan nya untuk bangun subuh dan hal ini menimbulkan kecurigaan Rindu terhadap sikap Aidan yang makin ke sini begitu perhatian terhadap nya.


"Dia baik sekali menanyakan apa aku sudah bangun untuk shalat subuh" gumam Rindu dan terlihat tersenyum mematikan handphone nya dan pergi ke kamar mandi membersihkan diri, sekalian berwudhu.


Dalam shalat nya ia terlihat sangat tenang bersyukur ia masih di beri kesehatan dan nafas untuk bangun di pagi hari ini.


"Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh" kata Rindu mengucapkan salam setelah selesai shalat.


"Ya Allah...pemilik 99 nama-nama indah, yang maha mematikan dan maha menghidupkan, Hamba memiliki rencana sendiri untuk kehidupan hamba namun hamba lupa bahwa rencana mu jauh lebih indah, Ya rabb yang menentukan kehidupan hamba, jika ini yang terbaik untuk hamba permudahkan lah dan dekatkanlah namun jika ini buruk bagi hamba berilah yang terbaik, ya Allah berilah hamba jati yang selalu bersyukur...Amiin Allah humma Amiin "kata Rindu yang terlihat menghapus air mata nya terlihat kini ia melipat sajadah nya dan juga mukena nya meletakkan nya dengan rapi di tempat gantungan.


Matahari menyingsing dengan indah, cahaya kemerahan tersebut menyinggung kilauan gadis jelita ini nampak ia membuka lebar-lebar kaca jendela nya dan menghirup udara segar dari luar ia melihat jam telah menunjukkan ke pukul 06.30 Wib tanpa menyadari di bawah tepat nya di jalanan berdiri Cello melihat ke arah nya dengan menengadah kan kepala nya melihat ke arah jendela yang terbuka tersebut nampak pemilik jendela menutup kembali dengan kuat hingga tersentak membuat kaget Cello. Namun Cello hanya diam dan tersenyum nampak mengenakan sarung dan baju koko putih bersama peci yang dipakai nya ia yang baru pulang dari mesjid pun nampak berjalan kaki menuju rumah nya.


****


"Selamat pagi ayah, bunda" kata Rindu menarik kursi dan duduk tersenyum pada mereka dengan rapi memakai seragam sekolah, sangat cantik mengenakan hijab putih)


"Pagi" jawab kedua orang tuanya dengan singkat tanpa melihat ke arah nya.


Rindu pun memakan nasi goreng nya, meminum minuman nya dan nampak ia pun dengan lahap setelah selesai sarapan langsung mengambil buah kesukaan nya.


"Pepaya ini lebih enak dari yang sebelumnya, bunda beli di mana"tanya Rindu

__ADS_1


" Ayah sudah selesai, ayah berangkat kerja dulu"kata pak Adi beranjak dari kursi nya dan terlihat ibu Rahmi mencium tangan suaminya dan mengantarkan nya sampai ke pintu sedangkan Rindu hanya terdiam melihat sikap ayah dan ibunda nya yang tidak seperti pagi-pagi sebelum nya wajah senyuman mereka tidak diberikan kepada Rindu membuat Rindu sedih.


"Jika kamu sudah selesai, letakkan piring nya di wastafel, jangan lupa tutup pintu setelah pergi" kata Ibundanya yang terlihat pergi menaiki anak tangga hendak ke kamar nya.


"Bunda... ada apa, kenapa sikap nya berbeda hari ini" tanya Rindu berlari ke arah ibunya nanpak sang bunda sudah berada di tangga atas sedangkan Rindu yang berada di tangga bawah bertanya dengan suara keras.


"Tanyakan pada dirimu" kata ibunya melihat ke arah nya dan pergi


"Apa karena pernikahan ku tidak terjadi, apa masalah nya? kenapa harus sekarang. Menikah itu saat kedua belah pihak siap dan aku tidak siap, kenapa dengan kalian hanya karena masalah ini mengabaikan ku, aku tidak suka didiamkan seperti ini, tolong jangan berfikir tentang pernikahan ku, aku akan menikah dengan pria yang kucintai dan mencintai ku juga, yang bertanggungjawab dan paham ilmu agama"kata Rindu dengan terus berbicara entah ibunya mendengarkan nya atau tidak terlihat sang ibu sudah menutup pintu.


Rindu pergi dengan perasaan marah dan sedih ia mengendarai motor nya dengan lambat, suara klakson dari Cello tidak membuat nya marah sama sekali tidak seperti biasanya.


"Rindu... oh Rindu sinar matahari tersebut sedang bersedih mungkinkah itu karena tidak ada Cello" kata Cello mengendarai motor nya


"Cello....oh Cello kegeeran sekali kamu" kata Rindu melihat ke arah nya nampak ia telah menghapus air matanya berfikir Cello tidak tau dia menangis namun ternyata kesedihan Rindu tetap diketahui oleh Cello.


"Rindu... kenapa menangia, aku tau kemudian sedang sedih" kata Cello terus berbicara dengan Rindu di dalam perjalanan nampak keadaan jalanan sedang sibuk-sibuk nya di mana mobil, kereta dan para pedagang pun telah ramai membuat kedua nya kesulitan untuk mengendarai motor nya dengan perlahan karena kemarahan pengedara lainnya.


"Memang nya jalanan ini punya bapak loh, yang cepat bawa motor nya, saya bisa terlambat ke kantor" kata seorang laki-laki yang dari tadi terus menerus mengklakson untuk Cello dan Rindu.


Rindu yang marah menjadi marah saat mendengar kata kasar tersebut di lontarkan oleh nya terhadap dia dan Cello membuat Rindu tidak bisa diam membalas nya.

__ADS_1


"Hei bang... jalanan ini memang bukan punya bapak kami tapi bukan juga punya bapak anda jadi yang sama-sama mengerti bahwa jalanan ini milik negara, sadar diri jangan asal bicara, anda bisa saja berbicara dengan nada sopan meminta kami menaikkan kecepatan bukan malah kasar seperti ini"kata Rindu berhenti dan melihat ke arah pengendara tersebut nampak pengendara tersebut hanya diam dan Rindu pun terlihat menaikkan kecepatan motor nya dan pergi dengan cepat begitu pun dengan Cello mengikuti Rindu.


__ADS_2