Rindu Yang Tak Tersampaikan

Rindu Yang Tak Tersampaikan
24. Jodoh mu maut


__ADS_3

"Cello... tunggu aku," kata Gio nampak berlari ke arah nya diikuti oleh Ardi juga.


"Cepatlah... kita jangan melewati kejadian seperti ini"kata Cello nampak kini ketiga nya sudah ada di taman tersebut terlihat mereka meminta para teman yang lain untuk memberi ruang jalan untuk mereka.


"Rindu... saat hati ini menembus dinding Rindu


Gelora hati ku terus bergejolak tak menentu


Aku sadar hati ini telah menjadi milik Rindu


burung berkicau memberi tau tentang Rindu ku.


Rindu.... aku tak dapat berdiam sungguh aku tidak bisa diam aku harus mengatakan nya maukah kamu menjadi Kekasih ku untuk hari ini dan seterusnya.


jika kamu menerima ku bersedia menjadi kekasih ku maka ambillah bunga mawar merah ini namun jika kamu menolak ku maka ambillah boneka putih ini"kata Aidan pria berambut lurus ini nampak berlutut di hadapan nya dan tersenyum berharap Rindu mengambil bunga warna merah.


"Te..rima... Terima... Terima... Terima... Terima" sorak semuanya dengan suara keras


"Aku menunggu jawaban mu Rindu" kata Aidan namun Rindu nampak dihadapkan pada perasaan dilema karena di satu sisi ia menolak menjalin hubungan yang tidak halal dan telah menjadi prinsip untuk nya bertahun-tahun ia sangat menjaga akan prinsip tegas nya apapun yang terjadi mau sekalipun ia jatuh cinta pada pria tersebut tetap ia tidak akan menerima nya begitu pun dengan Aidan sosok pria yang dikagumi nya namun tidak untuk mencintai nya karena bagi nya Aidan adalah adik kelas nya dan tetap seperti itu.


Namun di sisi yang lain telah banyak orang berkumpul di sini bahkan semua teman Rindu dan Aidan ada di sini membuat Rindu berfikir akan perasaan Aidan jika dia menolak itu akan membuat Aidan malu.

__ADS_1


"Tidak... ini bukan kesalahan mu Rindu, kamu tidak menginginkan hal ini, tetap lah pada istiqamah mu" Gumam Rindu untuk menguatkan hati nya sendiri


Tak lama terlihat Rindu meminta Aidan berdiri dan Aidan pun lantas berdiri dengan tegap dan siap untuk menerima kenyataan bahwa Rindu menolak nya dengan mengambil boneka berwarna putih membuat semua orang terkejut dan terlihat Cello dan Winda juga Gio begitupun Arman tersenyum namun tidak dengan teman-teman Aidan yang mengasihani nya.


"Maafkan aku Aidan, aku tidak bisa" kata Rindu mengambil boneka putih tersebut lalu manaruh kembali ke kursi hijau dan ia pun lari ke arah kelas nya dan tak lama semua murid pun kembali ke kelas nya masing-masing tak kala mendengar bunyi lonceng kelas mungkin karena listrik yang padang sehingga suara otomatis sebagai penanda jam masuk tidak di hidupkan.


Aidan diam menunduk dan tanpa disadari air mata nya menetes perlahan dan terlihat ia pun menghapus nya begitu sedih ketika Rindu menolak nya.


Tak lama beberapa jam kemudian terlihat lah semua murid bersorak gembira saat mendengar suara bel berbunyi menandakan pulang dan tak sengaja saat melewati gerbang sekolah motor Rindu dan Aidan berpapasan hingga membuat kedua nya kikuk namun Rindu tak melihat ke arah nya ia langsung menaikan gas kereta nya dan melaju cepat mungkin setelah hari ini Rindu dan Aidan akan susah untuk berbicara lagi.


"Ya Allah, setiap manusia memiliki rasa cinta dan hamba pun memiliki rasa cinta, tolong hamba ya Allah tetap kan hati ini pada imam hamba kelak" Gumam Rindu dengan terus mengendarai kereta nya sungguh ia tidak ingin berfikir akan hal itu karena pada fakta nya ia akan tetap pada prinsip nya.


"Aku khawatir keinginan ku untuk memiliki mu tidak akan terwujud, aku berharap suatu hari bisa menjadi pria sukses dan bertanggung jawab, aku akan menjadi pria berilmu namun aku takut saat aku kembali kamu telah menjadi milik orang lain dan aku tidak bisa menggambarkan perasaan ku jika hal itu akan terjadi, Ya Allah jangan ada seorang pun mendekati nya"kata Cello nampak ia berbicara pada dirinya sendiri namun tak sadar bahwa ada teman nya Gio yang duduk di belakang kereta nya mendengar kan perkataan nya.


"Cello... aku bisa dengar yang kamu katakan, sungguh ya enggak di kelas, gak di rumah gak di mana pun pikiran mu hanya Rindu. Kamu pergi saja ke Surabaya tinggal di sana 1 tahun saja sudah membuat mu melupakan Rindu aku jamin itu, wanita di sana lebih cantik, baik dan dunia ini tidak kehabisan wanita shalehah, lupakan Rindu dia hanya membuat mu lemah, pikirkan saja harapan orang tua mu terhadap mu, Rindu bukan siapa-siapa mu"kata Gio mulai kesal dengan sahabat nya ini karena masih menyukai Rindu yang notabene nya secara terang-terangan menolak nya.


"Kamu tidak mengerti yang namanya perjuangan" kata Cello


"Perjuangan apa? perjuangan cinta? Cello. kamu salah berdoa meminta Rindu agar tidak dideketin oleh siapa pun, itu namanya bukan berjuang yang namanya berjuang itu kamu yang dipilih Rindu dari siapapun di luar sana dan lagi pula doa yang bagus itu adalah berharap dia diberikan yang terbaik entah itu dengan mu atau orang lain"kata Gio sambil melihat ke arah spion.


****

__ADS_1


"Kamu pernah jatuh cinta gak sih? " kata Cello


"Aku pernah jatuh cinta dan solusi ku kepada mu adalah mengejar cinta ilahi jika di fikiran mu cinta Rindu maka kamu akan dipenuhi nafsu jahat yang akan merusak dirimu saja, tidak kah kamu mendengarkan tausiah saat di mesjid percuma kamu datang tapi tidak didengarkan"kata Gio


"Cinta ilahi? " kata Cello


"Ya cinta Ilahi, kenikmatan terindah adalah mendapatkan cinta ilahi, sikap mu seperti itu aku khawatir akan membuat dirimu jadi melupakan cinta nya yang abadi" kata Gio


"Kamu benar, jadi doa apa yang aku ucapkan agar perasaan ku pada Rindu hilang dan aku tidak akan lagi memikirkan nya" kata Cello


"Berdoa saja agar dijauhkan dari nya dan didekatkan jika itu takdir mu dan takdir nya dan jangan lupa juga jodoh yang pasti datang dan tidak akan tertunda adalah maut" kata Gio tersenyum


Cello melihat ke arah nya dalam benak nya mengapa teman nya ini setiap hari kata-kata nya selalu mengingatkan kematian ada yang salah kah dengan Gio batin Cello dan kini nampak sudah sampai di rumah Gio, rumah yang sederhana berwarna hijau nampak Gio turun dari kereta Cello dan mengucapkan terimakasih padanya sambil memeluk nya.


Cello membalas pelukan sahabat nya ini dan ia mulai merasakan bahwa ada yang ditutupin oleh sahabat nya ini dilihatlah Gio nampak pucat ia pun tidak begitu melihat dengan jelas saat di sekolah dan kini wajah Gio yang dekat dengan nya membuat Cello bisa melihat bahwa Gio sedang sakit.


"Kamu sakit Gio, sakit mu tidak parah kan hanya demam atau pilek saja" kata Cello mulai lembut nada suara nya melihat Gio dengan penuh kasih.


"Ya tidak parah, aku masuk ke rumah dulu, aku takut akan terlewat kan waktu shalat. oh ya sahabat ku jangan lupa nomor 24434 ya walaupun kita berada jauh pesanku tetap lah satu hal itu" kata Gio tersenyum nampak ia berdiri di depan rumah nya yang pintu masih tertutup itu.


"InsyaAllah aku akan selalu ingat pesan mu namun tunggu dulu apa maksud mu kita berada jauh hanya beda kota, kamu memiliki nomor ku dan sosial media ku" kata Cello bangkit dari kereta nya dan pergi mendekati Gio dan kini kedua nya berdiri saling berhadapan.

__ADS_1


__ADS_2