
Dalam perjalanan nampak Rindu menangis dan ia kembali menghapus air mata nya, Cello terus melihat Rindu sampai ia pun tidak fokus dengan keseimbangan sepeda nya hingga nampak Cello hampir terjatuh dari sepeda nya untung dengan sigap Cello kembali menyeimbangkan sepeda nya dan kini mereka telah sampai di kompleks rumah mereka. Dan rumah yang pertama adalah Rumah Cello sehingga Cello pun meminta izin pada Rindu agar ia akan mengantarkan Rindu sampai ke rumah nya baru setelah itu ia kembali ke rumah nya.
"Rindu... kamu terlihat ketakutan... biar aku mengantarkan mu sampai rumah" kata Cello yang nampak cuaca nya pun semakin gelap, entah akan turun hujan.
"Iya... boleh... aku sangat ketakutan, benar yang kamu katakan kita harus tetap waspada meskipun semua yang terjadi untuk kita sudah takdir nya"kata Rindu dengan tersenyum tipis melihat ke arah Cello.
" Ya...lupakan saja, mari sebelum makin gelap nantinya "kata Cello dan terlihat kedua nya pergi bersama sambil mendayung sepeda masing-masing dan kini telah sampailah di rumah Rindu nampak tanpa menunggu dan berbicara lagi Cello langsung melaju dengan cepat agar sampai ke rumah nya.
"Assalamu'alaikum... "kata Rindu dengan tangan bergetar sambil terus mengetuk pintu.
" Waalaikumsalam... nak ini udah jam berapa.. janji kami pulang nya jam berapa... ayah dan bunda sangat mengkhawatirkan mu"kata ibunda nya"
"Maaf bunda... lain kali aku tidak akan pulang terlambat lagi" kata Rindu dan kini terlihat ia masuk ke dalam rumah nya setelah menaruh kembali sepeda nya ke garasi terlihat Rindu langsung menuju ke kamarnya dan membersihkan diri sambil kini nampak ia membentang kan sajadah nya dan shalat bermunajat kepada sang Pencipta alam semesta.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh" kata Rindu terlihat ia telah selesai shalat dan nampak dengan air mata ia berdoa pada yang maha Kuasa agar dijauhkan dari marabahaya, kejadian yang tadi sore sungguh membuat nya terbayang kan bagaimana jika si pengemudi mobil tidak dengan cepat memberhentikan mobil nya mungkin kini ia sudah ada di rumah sakit dan sangat berterimakasih pada ya Rabb bahwa ia masih dalam selamat sehat wal afiat.
"Rindu... " panggil ibunya yang ada di dapur terlihat sibuk membuat kan minuman berupa teh hangat dan beberapa macam biskuit.
"Iya Bunda... ada apa" kata Rindu dengan rambut yang masih basah terlihat ia memakai baju piama yang celana nya sampai lutut kaki memperlihatkan betis ramping nya dan lengan baju sampai siku.
__ADS_1
"Nak... tolong letakkan biskuit dan beberapa kue ini ke dalam topless kaca ya sayang, bunda mau menemui ayah mu dulu...ini udah jam 8 mungkin kah dia akan datang" kata Bunda nya sambil pergi ke ruang tamu
"Iya Bunda... tapi" kata Rindu sebelum ia menyelesaikan kalimat nya terlihat Bunda nya langsung pergi dan nampak Rindu meletakkan dengan perlahan kue tersebut.
"Memang siapa yang datang... kenapa ayah dan Bunda sama sekali tidak mengatakan apapun padaku" kata Rindu dalam batin nya terlihat ia kini sudah selesai dengan tugas nya dan berniat kembali masuk ke kamar nya namun tak kala baru membuka pintu kamar nya terdengar suara ketukan pintu beberapa kali dan ia pun langsung berlari ke arah pintu untuk membuka pintu dan melihat siapa tamu yang sangat ditunggu-tunggu oleh kedua orang tuanya.
"Assalamu'alaikum.... " kata seorang pria dengan baju koko dan celana hitam polos, berhidung mancung dan nampak mengetuk pintu untuk sekian kalinya
"Assalamu'alaikum" kata nya sekali lagi
"Iya.. Waalaikumsalam" kata Rindu sambil membuka pintu nya dan betapa tercengang nya ia saat mengatahui bahwa yang mengetuk pintu dari tadi adalah pria yang tadi sore hampir menabrak nya dan kini di malam ini ia berdiri tepat di hadapan nya dan terlihat saat melihat Rindu ia langsung mengucapkan kata astagfirullah dan membalikkan diri nya seperti enggan melihat dirinya.
"Siapa yang datang Rindu" kata ibunya dan tak kalah terkejut nya ibu Rahmi yang berjilbab biru nampak meminta Rindu untuk segera pergi dengan memberi kode dengan matanya.
Terlihat Rindu pergi menuju kamar nya dengan perasaan yang resah, ia berfikir untuk apa pemuda tersebut datang ke rumah nya, apa hubungannya dengan kedua orang tua Rindu dan ia sangat ingin sekali pertanyaan di dalam benak nya untuk si pemuda tersebut terjawab
"Astaghfirullah.. bukankah dia perempuan yang hampir tertabrak oleh ku, mengapa ia berada di rumah dosen ku pak Adi.. apakah Rindu ini benar Rindu anaknya dosen ku.." batin Ahnaf dan terlihat ia membalikkan diri nya melihat ke arah ibu Rahmi dengan tersenyum dan kepala menunduk.
"Assalamu'alaikum buk, saya Ahnaf Ariansyah" kata Ahnaf dengan tersenyum nampak ia bersalaman dengan ibu Rahmi, salaman jarak jauh.
__ADS_1
"Waalaikumsalam Ustadz, ibu tau. Ayah nya Rindu sudah mengatakan semua nya... silahkan masuk Ustadz" kata ibu Rahmi dengan tersenyum mempersilahkan Ahnaf masuk ke dalam rumah dan terlihat Ahnaf memasuki rumah dosen nya dengan perlahan-lahan dan kini ia sudah duduk di ruang tamu.
"Pak Adi dimana buk" kata Ahnaf yang terlihat duduk berhadapan dengan ibundanya Rindu
"Sebentar lagi juga akan sampai.. oh ya Ustadz...saya minta maaf sebelumnya " kata ibu Rahmi wanita paruh baya ini nampak merasa tidak enak atas sikap putri bungsu nya ini dan merasa malu.
****
"Minta maaf untuk apa buk.. " kata Ahnaf yang nampak bingung
"Ya maaf soal Rindu.. putri ibu dia tidak seharusnya membuka pintu masih berpakaian piama pendek seperti itu, sangat tidak sopan" kata ibu Rahmi
"Tidak apa-apa buk, saya memaklumi nya mungkin karena di dalam rumah" kata Ahnaf ia juga tidak terlalu memikirkan kesan pertama nya bertemu dengan Rindu karena untuk nya ia hanya di minta oleh dosen nya untung saling mengenal satu sama lain.
"Terimakasih Ustadz... udah mau mengerti.. oh ya, Ustadz masih sangat muda tapi sudah menjadi seorang Ustadz yang banyak penggemar nya nih" kata ibu Rahmi
"Allhamdulilah, segala puji bagi Allah dan kembali ke padanya, sebenarnya untuk saya pribadi banyak penggemar tidak terlalu saya fikirkan yang paling penting lebih ke rasa keinginan saya untuk mereka dapat menjadi pribadi yang lebih baik dan bisa mengambil apa yang baik dalam diri saya dan membuang apa yang buruk dalam diri saya"kata Ahnaf pemuda yang merupakan mahasiswa dari ayah nya Rindu ini kerap kali mengisi kajian akbar dan berbagai macam acara tausiyan juga kerap menjadi imam pengganti sehingga begitu banyak penggemar nya.
Kampus salah satu tempat Ahnaf dalam mengamalkan ilmu nya ia kerap mengumpulkan para mahasiswa seperjuangan atau adik leting untuk mendengar beberapa motivasi dalam belajar ilmu agama dan pentingnya ilmu hingga hal tersebut membuat pak Adi senang atas sikap dan sifat nya sehingga membuat nya berharap anak kesayangan nya bisa berjodoh dengan Ahnaf.
__ADS_1
"MasyaAllah... benar Ustadz... saya rasa gak salah ayah nya Rindu dalam memilih" kata ibu Rahmi dengan tersenyum bahagia.
"Tentu saja... Ustadz Ahnaf adalah contoh pemuda terbaik dari yang terbaik menurut versi ayah" kata ayah nya Rindu tersenyum nampak ia dan ahnaf memeluk dan terlihat Ahnaf mencium tangan dosen nya ini.