
"Rindu!!" kenapa kaki mu, kok kamu gak pakai sepatu "Tanya Winda menghampiri nya yang berdiri di depan pintu kelas.
"Sepatu ku hilang di mushola sekolah "Kata Rindu sambil kedua nya sama-sama pergi duduk ke kursi masing-masing.
" Apa sebaiknya kita laporkan masalah ini pada kesiswaan"Kata Winda
"Tidak perlu, aku gak mau buat kegaduhan." Biarlah nanti aku pakai sepatu yang lama"Kata Rindu.
"Kayaknya yang mencuri sepatu mu dan sandal mu orang yang sama. " Kata Winda melihat ke arah nya sambil dalam benak nya mencurigai Aidan
"Iya, aku juga berfikir seperti itu, kira-kira siapa ya, " Kamu ada mencurigai seseorang. "Tanya Rindu
"Ada, Aidan. "Aku yakin dia yang punya dendam dengan mu. " Kata Winda
"Tadi aku bertemu dengan nya, dan ia bersikap biasa saja seolah tidak melakukan apapun." Kata Rindu
"Justru karena tindakan itu. " Kamu patut mencurigai karena biasa nya ia akan berusaha mencari tau siapa orang yang menjahili kamu, ia kan dari dulu menyukai mu namun kamu menolak nya bahkan di hadapan semua orang mungkin ia marah dan ingin membuat mu menderita. "Kata Winda
" Bisa jadi, Jika itu benar dia. "Lihat saja akan ku laporkan pada wali kelas nya agar ia mendapatkan hukuman, dia pikir aku takut dan pendiam tidak berani melapor. " Kata Rindu nampak geram kepada Aidan namun ia juga tau bahwa belum ada bukti yang menunjukkan Aidan yang mencuri sepatu nya hingga ia berfikir ingin mencari bukti yang mengarahkan kepada Aidan.
"Eemm... Apa rencana mu" Tanya Winda
"Belum ada rencana, lagi pula kita harus fokus untuk ujian nasional. " Gak usah menghabiskan waktu untuk hal itu, " Aku pikir mereka pasti tidak lagi menjahili ku karena sudah cukup menjahili "Kata Rindu
" Gak ada kata cukup untuk membully karena bagi mereka setiap melihat orang yang dibully nya menderita dan terluka itu paling menyenangkan, mereka tidak akan puas selama masih melihat mu. "Kata Winda
" Iya aku tau, tapi kan aku akan lulus dari sekolah ini setelah itu gak bertemu lagi"Kata Rindu.
"Iya juga. Oh ya kamu tau gak, kalau Gio masuk ke rumah sakit." Kata Winda
__ADS_1
"Enggak, dia sakit apa. " Kata Rindu
"Sakit tipes" Jawab Cello mendengar pembicaraan kedua nya dan ia pun duduk di kursi depan berhadapan dengan Rindu.
"Stadium berapa. " Tanya Rindu
"Aku gak tau, tapi jelas ia sekarat, sungguh aku sudah menduga dari awal bahwa Gio menutupi penyakit nya dari kita, makanya dari itu setiap hari dia selalu berbicara tentang kematian. " Kata Cello
"Kematian? " kami ada mengatakan kepadanya bahwa dia tidak boleh berpikiran negatif, dia harus yakin kalau dia pasti sembuh "Kata Rindu
" Aku tidak mengatakan nya, "Dia selalu mengatakan bahwa jangan ingat tentang jodoh karena mungkin saja jodoh yang awal menjemput kita adalah kematian. " Kata Cello
"Kenapa dia berbicara seperti itu padamu, pasti menurut ku karena kamu selalu berharap menemukan pasangan yang terbaik tapi kamu melupakan bahwa kematian tidak menunggu untuk dijemput" Kata Winda
"Hahaha, Iya kamu tau aja, oh ya soal menjenguk Gio kita tunda." saat ia sudah pulang ke rumah, baru kita jenguk karena dokter belum mengizinkan masuk ke ruangan nya, ia benar-benar butuh waktu pemulihan yang lama"Kata Cello
****
"Amiin." Jawab Winda dan Cello.
"Oh ya Rindu, sepatu mu kemana. " Tanya Cello melihat ke arah nya
"Udah hilang. " Jawab Rindu
"Apa? " siapa yang berani mencuri sepatu mu, aku akan mencari orang tersebut, akan ku pukul habis-habisan sampai ia jera"Kata Cello beranjak dari kursi dan berniat keluar kelas namun Rindu dengan cepat menahan nya dengan memegang tangan Cello sontak Cello sangat gembira ia terus menatap tangan nya yang dipegang oleh Rindu, terlihat Winda hanya tersenyum melihat ekspresi Cello yang begitu bahagia.
"Maaf." Kata Rindu melepaskan dengan cepat tangan Cello
"Iya tidak apa-apa. " Kata Cello tersenyum
__ADS_1
"Iya benar tuh Rindu, tidak apa-apa. " Lama pun tidak masalah untuk Cello. "Iya kan Cello? " Kata Winda tersenyum.
"Kamu bilang apa sih, " Sudahlah Cello kamu lebih baik kembali ke kursi mu. "Kata Rindu nampak duduk ke kursi nya namun Cello tetap tidak menuruti perkataan Rindu ia memilih untuk kembali duduk di kursi depan berhadapan dengan Rindu.
"Rin.... setelah lulus sekolah ini aku akan pindah ke Surabaya bersama keluarga besar ku. " Mungkin kami selamanya tinggal di sana, aku pun tidak melanjutkan kuliah tapi aku akan berwirausaha dengan bantuan modal dari keluarga ku, "Jika aku sudah sukses nantinya dan aku akan menemui mu untuk menjadi pasangan halal mu. " Apakah kamu menerima atau menolak." Sungguh aku benar-benar menyukai mu"Kata Cello melihat ke arah Rindu
"Cello, " Sampai kapan kamu terus berbicara seperti itu. " Sudah ku katakan bukan?" pasangan halal ku sudah tertulis di kitab lauhul'mahfuz. "Hanya saja aku belum bertemu dengan nya." Namun siapapun itu aku tidak memikirkan nya karena aku tau Allah yang maha menentukan atas semua kebahagiaan dan kesulitan yang menimpa ku di dunia ini. "Jadi aku berharap kamu pun begitu sama-sama berfikir bahwa soal jodoh serahkan sama Allah, jangan mengharapkan ku karena bisa saja aku lebih dulu bertemu dengan ajal ku dan kamu akan bertemu dengan jodoh mu yang lebih baik dari ku dan Allah tau yang terbaik untuk semua hamba nya." Aku mohon berhenti lah mengatakan hal itu, Fokus saja memperbaiki diri dari hari ke hari. "Sekarang aku tau mengapa Gio setiap waktu berbicara kematian dengan mu karena kematian itu pasti. " Kata Rindu beranjak dari kursi nya dan pergi meninggalkan Cello dan Winda di kursi tersebut nampak Rindu tidak suka akan kata-kata Cello. Semua teman Rindu termasuk sang sahabat mengetahui bahwa Rindu tidak pernah memperlihatkan rasa cinta nya pada seseorang secara berlebihan bahkan hampir dari masa sekolah pertama, Winda tidak melihat Rindu pernah mengatakan bahwa ia mencintai seseorang.
"Cello !!" sudahlah, " jangan berharap kepada yang tidak pasti, " Cinta mu kepada Rindu itu bertepuk sebelah tangan namun Cinta mu kepada Allah tidak akan pernah bertepuk sebelah tangan dari pada berfikir akan cinta Rindu lebih baik memikirkan cinta Allah, Iya kan? "Kata Winda tersenyum pada nya nampak Winda merasa kasihan kepada Cello ia tau bahwa Cello sudah dari masa sekolah pertama sampai sekarang cinta nya kepada Rindu selalu diingat nya.
"Kata-kata mu gak ada beda nya dengan Gio, kayaknya kalian jodoh deh. " Kata Cello tersenyum
"Aku lagi serius, " Tolong jangan bercanda "Kamu dengar kan apa yang kukatakan. " Kata Winda
"Iya dengar, jujur aku sedih cinta ku bertepuk sebelah tangan tapi ya. "Mau bagaimana lagi mungkin ini cara Allah memperlihatkan bahwa Rindu memang bukan untuk ku dan aku tidak perlu repot-repot menyebutkan nama nya di doa ku" Kata Cello
"Itu baru namanya Cello. " Kata Winda tersenyum dalam benak nya memang yang baik untuk mereka semua adalah sama-sama berlomba dalam mendekat kan diri kepada Allah.
Tak lama Rindu masuk kembali ke kelas nya saat melihat ibu mata pelajaran seni budaya masuk ke kelas nya dan terlihat semua murid duduk rapi di kursi masing-masing.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh" Ucap guru nya
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh "Ucap mereka semua serentak.
" Hari ini kita ada latihan drama sampai sore ibu harap kalian jam 2 siang nanti sudah ada di aula sekolah, pakai pakaian biasa dan untuk perempuan usahakan pakai celana longgar biar mudah dalam bergerak." Nanti gak repot "Kata guru nya melihat ke arah murid nya.
" Baik buk."Buk saya pakai baju panjang selutut, "Apakah boleh. " Kata Rindu
"Tentu boleh, lebih bagus malah. " jawab guru nya.
__ADS_1
Dan kini dalam perjalanan terlihat Rindu dan Winda berjalan kaki untuk sampai ke halte bus namun dalam perjalanan Arman dan Cello menghadang keduanya.