
"Iya... terimakasih ya udah ngehibur aku, huh aku penasaran banget siapa orang yang dengan tega mengambil sandal ku, benar-benar tidak punya hati " kata Rindu dengan menggenggam tangan nya terlihat ia sangat kesal namun ia terus berusaha menenangkan hati nya dengan beristighfar agar dijauhkan dari hati yang pendendam yang mana sifat itu akan memperburuk dirinya sendiri saja.
Tak lama hanya duduk diam tiba-tiba terlihat Ahnaf mendatangi kedua nya dan mengucapkan salam.
"Assalamu'alaikum" kata Ahnaf dengan baju koko putih dan celana hitam.
"Waalaikumsalam, ustadz" Jawab Winda berdiri seketika tak kala melihat Ahnaf menghampiri keduanya.
"Kenapa kalian masih duduk di sini, gak langsung pulang, ini belum larut masih banyak orang juga, lebih baik kalian pulang sekarang orang di rumah pasti sedang menunggu kalian" kata Ahnaf nampak melihat ke arah Winda sedangkan Rindu hanya diam dengan pandangan ke depan ia menjawab salam dari Ahnaf di dalam hati nya sehingga Winda dan Ahnaf tidak mendengarnya dan berfikir Rindu tidak mendengar salam dari Ahnaf.
"Iya benar ustadz, namun sandal Rindu hilang dan dari tadi dia murung karena sandal hadiah dari kakak nya hilang" kata Winda sambil melihat ke arah Rindu sedangkan orang yang dilihat nya itu sama sekali tidak menggubris ikut melihat nya.
"Benarkah itu Rindu" tanya Ahnaf melihat ke arah gadis yang sedang bersedih itu.
"Eemm, yuk winda kita pulang" kata Rindu pergi pulang ke rumah nya tanpa memakai alas kaki dan Ahnaf bisa melihat itu, ia terus kepikiran dari kemarin apa ia telah bersikap salah pada Rindu sehingga Rindu menolak berbicara padanya bahkan hanya satu pertanyaan yang diberikan nya Rindu diam seribu bahasa dan hanya menjawab dengan "Eemm" saja
"Ustadz mengenal Rindu" tanya Winda nampak ia tidak langsung menyusul sahabat nya ini yang berjalan perlahan-lahan itu dalam benak Winda ia tau bahwa Rindu melambatkan jalan nya karena menunggu nya.
"Iya saya mengenal nya justru saya tidak mengenal mu karena baru pertama kali ini saya melihat mu bersama Rindu" kata Ahnaf pria berpostur tinggi ini nampak melihat ke arah Winda.
"Oh kenalkan saya Winda sahabat nya Rindu dari kelas 2 SD, kami dari dulu sampai sekarang selalu bersama" kata Winda
"Eemm...saya Ahnaf kamu tidak perlu memanggil saya ustadz, panggil saja saya bang Ahnaf itu lebih baik" kata Ahnaf
__ADS_1
"Baik, oh ya bang Ahnaf, kenal Rindu di mana seperti nya Rindu tidak menyukai ustadz" kata Winda
"Saya pertama kali bertemu dengan nya saat di Mesjid yang terletak di pusat kota dan di situ saya bertemu dengan nya sehabis shalat Ashar dan ia tidak sendiri saat itu bersama dengan taman laki-laki nya namanya kalau gak salah Cello dan di Mesjid lagi saya bertemu dengan nya sehabis shalat juga"kata Ahnaf tersenyum tipis melihat ke arah Winda
"Eemm, baiklah senang bertemu dengan bang Ahnaf, saya permisi dulu, Rindu udah nunggu tuh, takut dia marah kalau dia marah itu serem banget" kata Winda tersenyum nampak ie pergi menghampiri Rindu.
"Iya... " kata Ahnaf tersenyum dan terlihat ia juga kembali ke parkiran dan masuk ke dalam mobil nya yang berwarna putih.
"Ngomong apa aja sih, lama banget. Kamu memang gak bisa lihat pria tampan, mau nya selalu lama ngobrol, sampai teman nya dianggurin" kata Rindu nampak berjalan bersampingan dengan Winda tanpa alas kaki.
"Anda penasaran? " tanya Winda tersenyum
"Enggak sama sekali" jawab Rindu nampak berjalan namun terlihat sebuah mobil berhenti di samping mereka dan terlihat saat kaca mobil terbuka Ahnaf yang memanggil keduanya.
"Winda, Rindu yuk biar saya anterin sampai rumah" kata Ahnaf melihat kedua nya di balik kaca mobil nya.
"Rindu.... kita pulang naik mobil nya Ahnaf yuk" kata Winda berbisik padanya dari jauh Ahnaf bisa melihat bahwa Winda sedang membujuk Rindu untuk ikut naik mobil nya, ia tau betul bahwa Rindu tidak mau ikut. Sejujurnya dalam benak nya ia sangat ingin Rindu bersikap baik padanya meskipun mereka tidak bersama sebagai pasangan namun bisa saling menjaga silaturahmi.
****
"Enggak, aku gak mau. Lebih baik pulang jalan kaki, lagi pula yang benar saja rumah ku dekat dari sini bisa dilihat kursi depan rumah ku terletak di ujung jalan itu. Kamu kalau mau naik mobil nya, naik saja aku gak larang" kata Rindu pergi meninggalkan Winda dan jalan tanpa melihat ke arah Winda.
Seketika sahabat nya ini sangat sedih akan sikap Rindu yang menolak untuk naik mobil nya Ahnaf. Membuat Winda berinisiatif pura-pura pingsan agar Rindu tidak punya celah lain untuk menolak naik mobil nya Ahnaf.
__ADS_1
"Rindu..... " teriak Winda dan ia langsung terjatuh ke jalan aspal, Ahnaf yang melihat Winda pingsan langsung menghampiri nya.
Dari jauh Rindu terperanjat mendengar suara keras Winda memanggil nya. Langsung ia berbalik melihat ke belakang dan betapa terkejut nya ia melihat sahabat nya ini jatuh tergeletak tak sadarkan diri dan dilihat lah Ahnaf tidak melakukan apa-apa hanya diam seperti orang kebingungan, terlihat Ahnaf ingin memegang tangan Winda namun ia kembali diam seakan takut untuk menyentuh tangan Winda.
"Ya Allah apa yang harus kulakukan, aku tidak bisa menyentuh tangan nya, Astaghfirullah Rindu cepat lah datang ke sini bantu sahabat mu" Gumam Ahnaf pada dirinya sendiri dan ia melihat Rindu sudah berlari menuju Winda
"Win... Win... kamu kenapa, sadarlah" kata Rindu menepuk-nepuk pelan pipi Winda dan nampak Winda membuka mata nya melihat ke arah Rindu
"Rindu....kepala ku pusing, seperti nya aku tidak sanggup jalan kaki "kata Winda nampak Rindu membantu Winda untuk bangun dan duduk, terlihat Winda memegang kepala nya sambil mengatakan bahwa dia sangat pusing.
" Baiklah, kamu naik mobil nya Ahnaf saja, aku akan membantu mu untuk naik ke mobil nya biar aku saja yang jalan kaki"kata Rindu melihat ke arah Winda
"Kenapa memang nya kalau kamu juga ikut naik mobil saya, lagi pula akan terasa canggung jika saya dan Winda saja yang ada di mobil, takut akan menimbulkan fitnah, jika kamu ada maka akan ada tiga orang bukan dua orang yang mana fitnah nya akan lebih besar, rumah mu kan tidak jauh paling sebentar saja sudah sampai, dan kamu juga tidak akan berlama-lama duduk di mobil saya, saya juga tau kamu tidak menyukai saya tapi ini melihat teman mu yang tidak sanggup berjalan"kata Ahnaf.
"Winda...solusi satu-satu nya tidak hanya naik mobil, bisa juga aku memopang mu untuk sampai rumah" kata Rindu melihat ke arah Winda tanpa melihat ke arah Ahnaf dan sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari Ahnaf.
"Rindu, kamu tidak menjawab pertanyaan dari bang Ahnaf" kata Winda
"Tidak apa Winda, saya tau Rindu tidak mau berbicara dengan saya, baiklah Assalamu'alaikum" kata Ahnaf tersenyum pada Winda dan terlihat ia bangkit untuk pergi ke mobil nya yang terparkir di pinggir jalan, ia tidak bisa berlama-lama karena ia juga harus pulang karena dari tadi ibu nya terus mengirim pesan meminta nya untuk segera pulang.
"Tunggu, jika memang tidak keberatan saya dan Winda mohon diberi tumpangan untuk ke rumah" kata Rindu melihat ke arah nya.
"Sama sekali tidak keberatan, kan sejak awal saya yang menawarkan duluan tapi kamu yang tidak mau, saya tidak memiliki niat buruk sama sekali hanya murni ingin mengantarkan kalian saja karena keadaan di sini juga sudah sepi" kata Ahnaf
__ADS_1
"Iya terimakasih" kata Rindu dan terlihat lah akhirnya rencana Winda tidak sia-sia Rindu mau juga untuk naik mobil nya Ahnaf dan kini nampak Ahnaf mengendarai mobil nya dalam kecepatan sedang, sedangkan Winda dan Rindu terlihat duduk di kursi belakang.
Dalam hal ini Rindu sudah mulai curiga bahwa kemungkinan besar Winda berpura-pura pingsan karena mengingat Winda langsung sembuh sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia baru sadar dari pingsan nya.