Sabar Yang Melampaui

Sabar Yang Melampaui
Terpaksa


__ADS_3

Dicky sudah mulai bangun dan hari ini adalah hari pertamanya tanpa sarapan sang istri karena dia tahu istrinya itu masih tidur terlelap. Dia hanya membuat sendiri kopi hitam kesukaannya dan melewatkan sarapannyaa karena tentu saja dia malas kalau harus masak sendiri.


Setelah selesai dengan kegiatan menyiram tanaman dan merawat burung burung kesayangannya, dia beranjak pergi dari rumah, tak lupa dia mengambil dulu beberapa lembar uang yang tadi Vivi simpan di meja makannya.


Tumben Vivi banyakan ninggalin uang untuku, ah mungkin karena tadi aku sudah memarahinya, bathin Dicky.


Dia kemudian mengendarai motornya untuk pergi menuju ke cafe dimana dia sudah ada janji bersama Sisca untuk meeting masalah pekerjaan.


Karena jalanan yang tengah padat dari kendaraan, Dickypun tiba empatpuluh menit kemudian di cafe tersebut. Disana sudah ada Sisca dan dua orang lainnya satu perempuan dan satu laki laki.


Dickypun menghapiri mereka bertiga ke mejanya.


"Maaf saya terlambat." sapa Dicky pada ketiganya.


"Ah kamu mah kebiasan, ga pernah tepat waktu!" saut Sisca.


"Iya tadi macet dijalan." timpa Dicky.


"Ni kenalin Pak Gumilang, dia ini seorang konsultan yang sudah banyak menangani cafe cafe terkenah di kota dan juga di luar kota!" timpa Sisca.


"Oh iya, saya Dicky, ini yang akan jadi Manager kita nanti pak!" kemudian Sisca memperkenalkam mereka.


Merekapun berjabat tangan saling memperkenalkan namanya masing masing.


"Dan ini Mba Raisa, dia sebagai Manager Keuangan nantinya." Sisca menambahkan.


Kemudian Dicky mengalihkan tangannya kepada Raisa untuk berkenalan.


Mereka bertiga asyik membicarakan project yang akan mereka bangun. Tak lupa Sisca memesankan makanan untuk mereka karena waktupun sudah menunjukan jam makan siang.


Setelah mereka menikmati makan siangnya di cafe tersebut, merekapun kemudian segera beranjak menuju cafe yang masih dalam pembangunan, tak jauh dari cafe tersebut hanya beberapa menit saja sudah sampai di tempat.


Sisca kemudian mengajak Dicky untuk berkeliling kedalam cafe tersebut.


"Gimana Ky menurut kamu tempatnya?" tanya Sisca seraya mereka berjalan mengelilingi tempat yang sedang dalam pembangunan itu.

__ADS_1


"Tempatnya sudah bagus, strategis, dan luas, apa kita tidak akan menambahkannya dengan bar? Caffe and bar gitu? Atau Bar and lounge? Ini tempat kan lumayan besar Sis?" tanya Dicky pada Sisca.


"Iya sih aku juga lagi mikir mikir dulu konsep yang dikasi sama konsultannya sama seperti yang kamu bilang, cuma anggarannya Ky.." saut Sisca sambil nyengir.


"Lah kamu kan tinggal kasi aja proposalnya aja sama ayah kamu, bukannya beliau juga investor di cafe ini?"


"Iya sih Ky, aku lagi mempertimbangkan itu, tadinya sih aku pikir aku pengen buka perusahaan sendiri gitu Ky, tanpa uang dari Papa."


"Ah gaya lu!!" ga mungkin!! Seorang Sisca bisa mandiri sendiri tanpa uang dari Papahnya itu!!" Dicky menekankan kata Papah nya sedikit menyindirnya.


"Tadinya aku mau belajar dari kamu yang bisa hidup tanpa uang dari orangtua."


"Jelas beda lah, aku tuh laki laki, mau gimanapun jelas aku punya tanggung jawab lebih daripada seorang wanita kayak kamu!"


"Kamu mah tinggal ongkang kaki aja, liat perusahaan kamu berjalan, dengan investornya dari Papa kamu!" saur Dicky enteng.


"Halah kamu ini, bukannya dukung aku malah mojokin!" saut Sisca memajukan bibirnya yang sudah berbentuk seperti kerucut.


Dickypun dengan segera merangkul pundak Sisca, karena memang mereka sudah lama berteman, tidak ada lagi rasa canggung diantara mereka berdua.


Merekapun kembali ketempat sebelumnya bersama Pak Gumilang dan Raisa.


*


Jam satu siang Vivi baru terbangun dari tidurnya, perutnyapun sudah berbunyi keroncongan, karena cacing cacing didalamnya sudah meminta haknya terpenuhi, karena semalam Vivi tidak selera makan bakmie yang sudah dia beli akibat kemaran Dicky padanya.


Diapun langsung beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum mengisi perutnya. Dilihatnya Dicky sudah tidak ada dirumah.


Pergi kemana mas Dicky, tumben jam segini uda ga ada dirumah, mana ga pamit, huuuhh..mungkin dia masih marah padaku, bathin Vivi.


Setelah membersihkan dirinya Vivi langsung menghangatkan bakmie yang dia beli tadi subuh, memang rasanya sudah berbeda dan mienya sudah mengembang, tapi Vivi lebih memilih menghangatkannya daripada mubazir harus membuangnya. Lagipula karena Dicky sudah tidak ada dirumah, dia malas untuk memasak, rasanya badannya lemas, tak bersemangat hanya sekadar memasak untuk dirinya sendiri.


Kadang Vivi tak mengerti kenapa suaminya itu bisa sekasar itu terhadapnya, dia hanya mencoba untuk bertahan menghadapi rumah tangganya dan berharap ke arah perubahan yang lebih baik.


Setelah dia menghabiskan makanannya, diapun hanya rebahan sambil menonton televisi dan sesekali membuka ponselnya, berharap suaminya itu menghubunginya, namun tetap tidak ada pesan atau panggilan yang masuk.

__ADS_1


Ya sudah biar aku yang menghubungi mas Dicky duluan, bathinnya.


Vivipun langsung menelpon Dicky, dan disebrang sana Dickypun langsung mengangkat telpon yang terhubung padanya.


Assalamualaikum mas..


Ya waalaikumsalam, suara disebrang sana


Kamu dimana mas? aku bangun kamu udah ga ada?


Aku lagi ngomongin kerjaan sama patner kerjaku, saut Dicky disebrang sana.


Terdengar riuh suara wanita yang sedang tertawa, entah menertawakan apa.


Mungkin memang patner kerja mas dicky perempuan. Bathin Vivi


Kamu pulang sore apa malam? Soalnya aku harus kerja malam lagi mas. Apa aku harus masakin kamu dulu sebelum bekerja? Tanya Vivi di telpon.


Sepertinya aku pulang malam, iya kalau gitu kamu kerja aja, ga usah pikirin aku, nanti aku makan diluar. saur Dicky datar yang kemudian mematikan telponnya secara sepihak.


"Ih, mas Dicky aku belum selesai ngomong malah main matiin aja sih, takut ganggu kali ya?" gerutu Vivi.


Waktu berlalu hanya dilewati Vivi rebahan saja didepan tv nya, tak terasa sore menjelang, Vivi segera membersihkan dirinya untuk kemudian pergi bekerja.


Kali ini dia tidak mampir dulu ke rumah Gladies karena sudah berpesan kalau Gladies tidak akan kerja malam ini. Lagi pula Gladies hanya mengisi kosong nya saja sebagai seorang pemandu lagu, dia sudah diangkat sekarang menjadi simpanan seorang pejabat, yang memang bertemu di tempatnya bekerja sebagai pemandu lagu, jadi dia bekerja bukan untuk uang lagi, tapi hanya untuk kesenangan semata.


Rasanya memang Vivi tidak mempunyai semangat untuk bekerja sebagai pemandu lagu, karena memang ini bukan dunianya. Tapi apa boleh buat untuk sekarang dia terpaksa menjalaninya untuk bisa menghidupi dirinya dan juga suaminya.


Vivipun tiba di hotel tempatnya bekerja, dia langsung melenggang ke ruangan ladies, dan berusaha bergaul dengan para ladies lainnya, agar dia tidak merasa sendirian disana. Dia juga kemudian bersiap di makeup dan rambut yang dicatok lurus, sedangkan baju minidress yang memperlihatkan bentuk tubuhnya dan juga highheels yang menunjang penampilannya sudah tersedia di loker milik Gladies yang sudah diberikan kuncinya kepada Vivi agar Vivi bisa memakainya kapan saja.


Malam ini dia diboking oleh seorang pria yang sudah berumur, hampir seumur dengan ayahnya. Tapi karena banyak uang pria tua itu masih terlihat gagah dengan setelan jas yang apik di tubuhnya, rapih dan maskulin, membuat siapa saja yang melihatnya tahu bahwa dia paling tidak adalah seorang Direktur utama perusahaan.


Hadihhh...aku terpaksa harus melayani bapak bapak seumuran ayahku lagi, males banget, gerutu Vivi didalam hati.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2