Sabar Yang Melampaui

Sabar Yang Melampaui
Nasehat seorang sahabat


__ADS_3

Dickypun merenungi apa yang terjadi pada dirinya belakangan ini. Semua yang terjadi memang seperti mimpi untuknya. Bertemu lagi dengan wanita yang belum bisa dia lupakan sepenuhnya dari dalam hatinya, sampai memutuskan untuk menikahinya tanpa menimbangkan segala konsekuensinya.


"Kamu sebenarnya masih belum bisa nerima masa lalu Vivi Ky!" ucap Frans yang saat itu berlalu mengambilkan kopi untuk sahabatnya.


Dicky mengusap kasar wajahnya, dia memang belum bisa sepenuhnya melupakan masalalu Vivi yang sudah menikah dengan temannya sendiri, teman sepergaulannya di sekolah menengah atas. Dia merasa sangat kecewa, bagaikan ditusuk dari belakang saat tahu kalau temannyalah yang ternyata sudah merebut hati Vivi darinya.


Beberapa menit Frans datang membawakan dua cangkir kopi untuknya dan Dicky.


"Minum dulu tuh, aku tahu kamu belum sempat ngopi dirumah." ucap Frans meletakan kopinya dimeja.


Memang Frans lah yang paling mengerti semua kondisi Dicky selama ini, karena dia satu satu nya orang yang selalu berada disamping Dicky, baik susah maupun senang.


Dickypun meminum kopi yang disuguhkan Frans pelan.


"Kalau kamu mau terus bertahan sama Vivi mending kamu ikuti saranku, kecuali kamu mau ninggalin dia demi kebahagiannya bro! Vivi juga butuh bahagia setelah dia disakiti oleh mantan suaminya, bukan malah kamu sakiti lagi mental dan fisiknya!!" ucap Frans panjang lebar.


Dicky hanya diam saja mendengarkan nasehat dari Frans, karena apa yang Frans ucapkan memang benar adanya, dia seperti diujung jurang yang didepannya ada macan yang siap menerkamnya, maju salah mundurpun tak kuasa.


"Saran aku sih mending sekarang kamu pulang, minta maaf sama bini kamu tuh!" timpa Frans.


"Tapi dia salah Frans, jelas jelas dia salah, uda berani mabuk ko, dan dia juga uda ngehina aku Frans, nyuruh aku yang kerja!" saut Dicky.


"Lahhh..emang harusnya kamu yang kerja kan sebagai imam yang baek, ya tanggung jawablah, salah darimananya sih bro?" Frans mengacak kasar rambutnya, dia tak habis pikir dengan yang dipikirkan sahabatnya itu.


"Iya bukannya aku ga berusaha nyari kerjaan kan kamu tahu sendiri gimana keadaanya, susah cari kerja sekarang Frans, ga segampang yang kamu bayangin!" saut Dicky.


"Ya kamu juga yang bikin susah! Uda dikasih yang gampang tinggal minta kerjaan sama bokap atau sama kakak kamu yang maskulin itu, malah mau susah susah nyari kerjaan sendiri!" ledek Frans.


"Hadeuhh, susah nih kalau onta arab uda kayak gini nih, malah beku otaku ini!" saut Dicky mengacak rambutnya kasar.


"Ya uda kamu mau ikut ke kantor aku apa mau kemana? Soalnya aku harus ngantor hari ini, banyak kerjaan nih!" saut Frans beranjak dari tempat duduknya.

__ADS_1


"Kagak, lagu mager, aku mending maen ps aja disini!" saut Dicky.


Frans kemudian bersiap untuk pergi ke kantornya, sedangkan Dicky masih tetap berada dirumahnya Frans untuk memikirkan apa yang seharusnya dia lakukan.


*


Hari sudah siang ketika Vivi baru saja bangun dari tidurnya, dia merasakan saHarikit pada bagian wajahnya dan juga pergelangan tangannya.


Diapun tidak terlalu memperdulikannya karena dia butuh membersihkan diri dengan keadaan tadi pagi yang berantakan, tidak sempat membersihkan dirinya.


Dia melihat wajahnya di cermin, tampak memar bekas di bagian hidung dan tulang pipinya bekas tamparan Dicky tadi pagi, baru kali ini Dicky sampai meninggalkan bekas kemarahannya terhadapnya. Dan Vivipun sadar kalau dia memang sudah sangat membuat suaminya itu marah besar dengan kelakuannya.


Vivi segera membersihkan diri, tampak sekali matanya yang sembab dan wajahnya yang kusam, hari ini dia tidak bisa pergi kemanapun karena pasti orang orang akan mempertanyakan apa yang telah terjadi padanya sampai mendapat luka lebam di wajahnya.


Vivi hanya duduk di sofa ruang tamu nya setelah dia memasak mie instan karena perutnya yang mulai terasa lapar. Dia merenungi kejadian semalam memang salahnya karena telah membentak suaminya itu.


Vivipun memustuskan untuk tidak pergi bekerja malam, dia hanya akan diam dirumah, mengerjakan pekerjaan rumahnya dan memasak untuk suaminya itu.


Sore menjelang Dickypun pulang kerumahnya, didapatinya pintu rumah yang tidak terkunci menandakan isterinya masih ada dirumah.


Dicky langsung masuk ke rumah dan mendapati isterinya yang sedang memasak didapur, lalu dengan segera dia memeluk isterinya itu dari belakang.


"Aku kangen banget sama kamu!" ucap Dicky ke telinga Vivi.


"Mas, aku lagi masak ini..." saut Vivi yang merasa geli ketika hembusan Dicky mengenai telinganya.


"Sebaiknya aku selesaikan dulu masakan aku ini, setelah itu kita makan ya!" saut Vivi memutarkan tubuhnya dan memapah Dicky untuk duduk di kursi meja makannya.


Mereka bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa apa diantara mereka.


Lebih baik seperti ini, tidak membahas dulu pertengkaran semalam. bathin Vivi.

__ADS_1


"Mas mending kamu mandi dulu gih, abis itu kita makan, daripada kamu jenuh nunggu masakan aku mateng." ucap Vivi tersenyum manja.


"Iya aku mandi dulu." saut Dicky.


Beberapa menit kemudian Dicky selesai mandi dan makananpun siap dihidangkan oleh Vivi di meja makannya.


Merekapun makan bersama, sudah seminggu ini memang rumah terasa hampa, tidak ada komunikasi diantara mereka, sekadar di chatt whattupp saja, itupun hanya hal yang tidak penting.


"Gimana kerjaan kamu apa bisa menjadi seorang public relation?" Tanya Dicky membuyarkan kesunyian di meja makan mereka.


"Sejauh ini aku masih harus banyak belajar mas, untungnya disana semuanya pada baik mau membimbingku dalam banyak hal." saut Vivi bohong.


"Baguslah,." saut Dicky datar.


Setelah menikmati makan, Vivi segera membereskan meja makannya, sedangkan Dicky beralih pada sofa tempat biasa mereka menonton tv diruang keluarga untuk menikmati rokoknya sambil menonton acara televisi.


Beberapa saat kemudian Vivipun menghampiri suaminya yang sedang santai itu dan duduk disampingnya.


Lebih baik aku meminta maaf pada mas Dicky, agar dia tidak marah lagi, bathinnya.


"Mas, a..aku minta maaf soal kejadian semalam ya, aku salah, pulang dalam keadaan mabuk dan aku sudah berani membentak kamu." ucap Vivi lirih memberanikan diri memulai percakapannya dengan suaminya itu.


Dicky lalu memegang wajah Vivi dengan lembut dan mencium keningnya.


"Aku yang minta maaf karena aku yang telah membuat memar ini di wajah kamu!" saut Dicky mengusap pelan wajah Vivu yang memar.


"Iya mas, aku ngerti kamu khilaf karena aku yang salah." ucap Vivi seraya memeluk suaminya itu.


Setelah percakapan itu Vivi dan Dicky menikmati malamnya seperti biasa, setelah menonton tv dan membahas acara tv bersama, mereka beralih pada ranjangnya dan memulai kegiatan panas mereka yang memang mereka rindukan.


Malam itu ditemani guyuran hujan diluar yang membuat suasana semakin romantis, sepasang suami isteri yang sedang dilanda kerinduanpun menghabiskan malamnya dengan ******* dan peluh yang membanjiri tubuh mereka.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2