
Vivi yang baru keluar dari tempat kerjanya dibuat kaget dengan laki laki yang sedang menunggu di parkiran depan karaoke, laki laki itu tak lain adalah Reihan. Dia mencoba menghampirinya tapi seketika menghentikan langkahnya.
Isshhh apa aku yang ke GeEran kalau mas Reihan sedang menungguku? gumamnya dalam hati.
Ternyata Reihan yang melambaikan tangannya duluan kepadanya dari tempatnya berdiri, dari situ Vivi pun langsung tahu kalau ternyata dirinyalah yang sedang Reihan tunggu.
"Lho Mas Reihan sedang nunggu siapa disini?" tanya Vivi sekedar basa basi.
"Jelas nunggu kamu lah!" saut Reihan.
"Nunggu aku? Kok engga kasi kabar dulu?" tanya Vivi heran, biasanya Reihan akan chat Vivi kalau mau bertemu atau memintanya ke suatu tempat seperti kemarin.
"Surprise..." jawab Reihan sambil tersenyum manis.
"Kok bisa tahu sih kalau aku pulang jam segini?" timpa Vivi.
"Iya tadi aku chat ke mami Rara." saut Reihan.
"Ayo aku antar pulang!" timpa nya sambil membuka pintu mobilnya untuk Vivi.
"Ga usah mas aku bisa pulang sendiri kok..!" saut Vivi tersenyum.
"Kamu tuh ya udah aku bela belain dari jakarta langsung kesini untuk jemput kamu kerja, kamu malah menolak!" saut Rehan yang terliahat kesal.
Siapa suruh, gumam Vivi dalam hati.
"Oh gitu yah..? Maaf kalau gitu, ya uda kalau mau nganter aku pulang, ayo." saut Vivi tersenyum seraya duduk dimobilnya Reihan.
Kemudian Reihan pun masuk kedalam mobilnya dan melajukan kendaraannya.
"Mau makan dulu?" Tanya Reihan sambil fokus menyetir.
"Aku sih uda makan mas tadi, tapi kalau mas mau makan biar aku temenin." saut Vivi.
"Masih ada waktu kan sebelum subuh, kita mampur dulu ke warung seafood pinggir jalan mau engga?" saut Reihan.
"Boleh mas." saut Vivi.
Beberapa menit kemudian mereka sampai ke tempat yang dituju. Reihan memesan nasi goreng seafood sedangkan Vivi hanya memesan cumi goreng tepung untuk dia jadikan camilan, karena dia tadi sudah makan di room waktu menemani kakek Roni bernyanyi.
__ADS_1
Sambil menikmati makanannya, mereka asyik berbincang.
"Aku dengar dari mami Rara kalau kamu mengalami kejadian yang tak mengenakan tadi di room, apa benar?" tanya Reihan.
"Iya mas, tadi aku mengalami pelecehan oleh tamu yang membokingku." saut Vivi lirih.
"Kerja di dunia malam seperti ini sangat berbahaya buat kamu Vi!" timpa Reihan.
"Iya sih mas, tapi mau gimana lagi, aku sudah mencoba melamar kemana mana, tapi masih saja belum mendapatkan panggilan pekerjaan." saut Vivi lirih.
"Memang sebelumnya kamu ada pengalaman kerja dimana?" tanya Reihan.
"Aku pernah kerja di cafe jadi kasir, reseptionis di hotel, jadi spg di pusat perbelanjaan, aku juga bahkan pernah jadi waitrees di sebuah restoran." saut Vivi.
"Pengalamanmu cukup banyak, ya sudah nanti aku carikan kamu pekerjaan, mau?" tanya Reihan masih menikmati makanannya.
"Betul mas, mau banget.." saut Vivi sumeringah.
"Iya lagipula seorang wanita seperti kamu tidak cocok bekerja seperti ini!!" saut Reihan.
"Memang aku wanita macam apa?" saut Vivi heran.
Ada apa dengan dia sih, selalu seperti ini membuatku salah tingkah saja, bathin Vivi.
Entah perasaan yang seperti apa tapi Vivi sudah tidak bisa menolak lagi atau melepaskan pegangan tangan Reihan, yang jelas dia merasa tenang sekarang karena sudah ada orang yang mau melepaskannya dari jeratan kehidupan malamnya sekarang ini.
"Ah mas mah terlalu berlebihan, lagi pula aku sudah biasa ko bekerja, jadi kalau diam dirumah terus rasanya membosankan." saut Vivi.
Ada kekaguman luar biasa yang tercipta di hati Reihan kepada Vivi, yang jelas hatinya kini sudah mulai jatuh cinta pada Vivi, tapi dia juga tidak bisa sembarangan menyatakan cinta pada Vivi karena dia tahu kalau Vivi adalah seorang wanita yang sudah bersuami, Reihan hanya bisa memperhatikannya saja dan sangat ingin membuat kehidupan Vivi lebih baik, tanpa bisa memilikinya.
"Tapi memang sudah seharusnya wanita seperti itu kan?" saut Reihan.
"Iya memang sih, untuk sebagian wanita, tapi masih banyak wanita lain yang tidak seberuntung itu, yang harus tetap bekerja walaupun sudah bersuami." saut Vivi lirih.
"Seperti kamu?" timpa Reihan.
Vivi hanya tertunduk dan terdiam untuk beberapa saat, dia tidak bisa menjawab lagi pertanyaan yang dilontarkan Reihan.
Suatu saat kamu juga pasti akan seperti itu Ver...bathin Reihan.
__ADS_1
*
Ditempat lain Dicky di sebuah cafe mulai bertemu lagi dengan Sisca untuk membicarakan proyek cafe mereka yang sebentar lagi akan rampung pembangunannya.
Tentu saja disana juga ada Raisa, karena memang mereka sekarang adalah patner kerja.
"Mulai minggu depan kita sudah mulai bekerja ya, aku harap kalian bisa membantuku untuk membangun cafe ini bersama sama!" ucap Sisca.
"Kalau gitu aku pamit duluan ya, Raisa apa kamu mau bareng?" timpa Sisca.
"Kebetulan aku bawa mobil mba, mba duluan saja, nanti aku nyusul pulang." jawab Raisa
Sisca pun kemudian pamit kepada Dicky dan juga Raisa yang berada didepannya.
"Aku kangen banget sama kamu mas..." ucap Raisa kepada Dicky yang mulai merapatkan duduknya.
"Iya aku juga kangen kamu." saut Dicky tersenyum smirk.
"Kita habiskan malam ini lagi ya!" saut Raisa dengan manjanya.
"Tapi..." saut Dicky yang langsung dipotong pembicaraannya.
"Aku tidak menerima penolakan mas, tidak ada tapi tapian." saut Raisa yang kesal.
"Tapi aku sedang tidak memegang uang sama sekali Raisa!" saut Dicky menjelaskan.
"Iya aku ngerti kok, gapapa mas, nanti biar aku lagi yang menanggungnya, ok! Pokoknya aku mau kita mengahabiskan malam ini berdua!" saut Raisa memeluk erat tangan Dicky serata menempelkan kepalanya di bahu Dicky.
"Iya iya baiklah sayanggg..." saut Dicky seraya mencubit hidung mungil Raisa.
"Ih uda mulai bilang sayang, terima kasih ya mas!" saut Raisa gembira dipanggil sayang.
Malam itu mereka pergi lagi ke sebuah club' malam untuk menghabiskan malamnya, tentu saja mereka sangat menikmatinya, dengan gemuruh dan dentuman lagu, ditemani botol minuman beralkohol yang tersedia dimejanya.
Semenjak kenal dengan Raisa Dicky yang semula tidak suka pergi ke club' malam jadi terpaksa harus menemani Raisa ke club malam, dan setelah dua kali ke tempat itu diapun mulai menikmatinya, mereka pun mulai bergoyang diiringi music dj yang keras dan gemerlap lampu yang redup.
Malam ini terulang kembali kejadian seperti kemarin, tubuh mereka mulai memanas sesaat setelah mereka menghabiskan banyak minuman beralkohol yang membuat mereka mabuk, dan tentu saja malam itu mereka berakhir hotel.
Mereka berdua bercengkrama melepas rindu seperti abg yang baru saja mengenal cinta. Bermesraan layaknya seperti kekasih, dan mulai memanas diiringi perasaan yang semakin menggebu menginginkan hal yang lebih.
__ADS_1
Dan akhirnya perasaan itu tak tertahankan lagi membuat mereka berakhir di ranjang panasnya, memadu kasih, menyatukan tubuhnya, dan mulai dibanjiri dengan keringat dan suara suara yang begitu merdu dari kedua insan yang sedang dimabuk nafsu itu.