Sabar Yang Melampaui

Sabar Yang Melampaui
Belum sadarkan diri


__ADS_3

Ditengah perjalanan Reihan menghubungi Teni untuk segera ke rumah sakit tempat Vivi dirawat, dia tidak ingin muncul kesalah pahaman antara dia dan Vivi nanti oleh suaminya kalau dia hanya datang seorang diri kesana.


Sesampainya ke sana Reihan langsung menuju ruangan ICU, dan menunggu dokter siaga, sampai seorang perawat datang menghampirinya.


"Apa Bapak keluarga pasien yang bernama Vivi?" tanya perawat pada Reihan.


"Saya rekan kerja nya sus, bagaimana keadaannya sus?" tanya Reihan cemas.


"Pasien kehilangan banyak darah karena luka di kepalanya sangat serius, dan sampai saat ini belum sadarkan diri, dia membutuhkan donor darah dengan cepat, akan tetapi persedian darah di rumah sakit ini sedang kosong Pak! apa anda bisa membantu, tolong carikan orang yang bisa menyumbangkan golongan darah O+!"


"Tolong segera cek darah saya sus, kebetulan golongan darah saya juga O+!" saut Reihan antusias.


"Baik segera ikut saya pak!" ucap perawat tersebut yang langsung pergi ke ruangan pemeriksaan darah bersama Reihan yang mengekorinya di belakang.


Teni sudah sampai di depan ICU, tapi dia tidak menemukan orang yang dikenalnya di sana. Kemana Pa Reihan? batin nya.


Teni kemudian menunggu di kursi tunggu pasien, tak berapa lama Reihan datang menghampirinya.


"Sudah lama kamu?" tanya Reihan.


"Beberapa menit yang lalu pak, bagaimana keadaan Vivi pak?" saut nya.


"Aku baru saja mendonorkan darahku untuknya, dia kehilangan banyak darah dari kecelakaan itu, sekarang masih belum sadarkan diri." ucapnya penuh tekanan.


"Maaf, ini barang barang atas nama Vivi tadi orang yang menolongnya menitipkannya pada kami!" ucap salah seorang perawat yang membawakan tas dan sepatu yang dipakai Vivi.


"Terima kasih banyak sus." saut Teni yang kemudian mengambilnya.


"Kamu tolong hubungi suami nya, kata perawat tadi yang menghubungi nomer suami nya tidak bisa dihubungi!" ucap Reihan.


"Baik pak!" saut Teni.


Teni kemudian mencoba menghubungi nomer ponsel Dicky, untungnya saat itu Dicky sudah kembali mengaktifkan ponselnya.


Iya, kenapa Vi? saut Dicky dari seberang sana.


"Maaf, mas ini dengan Teni, maaf kalau saya lancang memakai nomer ponsel Vivi untuk menghubungi anda, karena Vivi sekarang sedang berada di rumah sakit, dia mengalami kecelakaan tadi pagi saat hendak pergi ke kantornya." jelas Teni pada Dicky melalui ponselnya.

__ADS_1


Deggg...


Tangan Dicky bergetar, dan jantungnya berdegup cukup kencang mendengar kabar apa yang baru saja dia dapatkan.


Di rumah sakit mana mba? bagaimana keadaanya?" saut nya panik.


"Masih belum sadarkan diri di ruang ICU mas, di rumah sakit HS!" jawab Teni.


Terima kasih, saya akan segera ke sana. jawab Dicky.


Dengan rasa panik yang melanda Dicky langsung ke rumah sakit dimana Vivi dirawat, meninggalkan Raisa yang saat itu sedang membersihkan diri di kamar mandi.


Dicky merasa sangat bersalah karena dia mematikan ponselnya, dan tidak tahu apa yang terjadi dengan isterinya. Dicky langsung menuju ruang ICU dan menemui Teni dan juga Reihan yang sudah berada di ruangan tunggu.


"Bagaimana keadaan isteri saya?" tanya nya panik dan khawatir.


"Masih ditangani dokter mas!" saut Teni.


Dicky terduduk lemas di kursi tunggu, dia sama sekali tidak menyangka kejadian ini dialami oleh isterinya.


Dicky sudah berjalan bulak balik seperti orang yang kebingungan,


"Kenapa lama sekali dokter belum keluar?" gerutu Dicky.


"Kata dokter dia mengalami benturan yang hebat dibagian kepalanya, dan mengeluarkan darah cukup banyak, makanya perlu penanganan khusus." ucap Reihan.


"Anda?" tanya Dicky yang memang tidak mengenal Reihan.


"Saya Reihan, saya manager di tempat Vivi bekerja!" saut Reihan memperkenalkan dirinya.


"Dicky." saut Dicky menjabat tangan Reihan.


"Terimakasih kalian berdua sudah menemani Vivi!" timpanya.


Ya, saya Teni, saya teman sekantornya, juga teman sekolahnya waktu di sekolah menengah atas dulu, dan ini barang barang Vivi mas."ucap Teni sambil memberikan tas dan sepatu Vivi.


"Terima kasih." saut Dicky.

__ADS_1


Teni dan Reihan hanya mengangguk tanpa kata.


Lalu dari mana saja anda saat isteri anda membutuhkan anda disisi nya? huh dasar laki laki! gerutu Teni dalam hati.


"Keluarga pasien?" tanya dokter yang baru saja keluar dari ruang ICU itu.


"Saya suami nya dok, bagaimana keadaan isteri saya?" saut Dicky cemas.


"Nyonya Vivi sudah melewati masa kritisnya, dan sekarang beliau sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan." saut dokter tersebut sambil tersenyum, kemudian segera berlalu.


"Terima kasih banyak dokter!" saut Dicky.


Alhamdulillah, Vi kamu sudah membuatku khawatir dan ketakutan! batin Reihan.


"Syukurlah, alhamdulillah Vivi baik baik saja." ucap Teni.


"Iya alhamdulillah." timpa Reihan.


Mereka kemudian menunggu Vivi sampai dipindahkan ke ruang perawatan dan bisa untuk menengoknya.


"Pak, apa tidak sebaiknya bapak ke kantor saja, mungkin bapak ada beberapa rapat penting atau pekerjaan penting lainnya?" tanya Teni pada Reihan.


Sebenarnya saat itu Reihan ingin sekali menemani Vivi dan menunggu sampai Vivi sadar, tapi kata kata Teni ada benarnya, lagipula tidak baik dia berada di rumah sakit ini, hanya akan membuat pikiran buruk suami Vivi.


"Ya sudah baiklah, saya memang ada beberapa janji hari ini, tapi saya nanti akan berkunjung kembali untuk menengok Vivi." saut Reihan.


"Terima kasih banyak pak!" ucap Dicky.


"Sama sama" saut Reihan yang menerima uluran tangan Dicky.


Kemudian Reihan berlalu pergi dan mengurus semua biaya administrasi perawatan Vivi.


Berbeda dengan sopir ojek online yang saat itu memang sudah sadarkan diri karena dia tidak mengalami luka yang cukup serius. Vivi harus mengalami beberapa jahitan di kepalanya karena terbentur trotoar saat itu, sehingga mengeluarkan banyak darah dari kepalanya, untung saja saat itu Tuhan masih menghendaki Vivi untuk menikmati kehidupannya lagi.


Vivi memang wanita yang kuat, mungkin dia juga masih mempunyai tekad yang kuat untuk kehidupannya, untuk mendapat kehidupan yang bahagia untuknya, makanya dia juga berjuang demi kehidupan keduanya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2