
Vivi terperangah kaget saat tahu dari Reihan kalau ternyata harga sepatu yang dimiliki suaminya sangat mahal.
Mana bisa dia beli sepatu semahal itu, untuk makan dan rokok nya saja sehari hari dia peroleh dari aku, dan selama ini aku tahu kalau dia tidak mungkin punya simpanan sebanyak itu! lagipula sepatu semahal itu tidak mungkin temannya memberikannya secara cuma cuma. batin Vivi bermonolog.
Tok..tok..tok..
Terdengar suara dari luar yang mengetuk pintu membuat Vivi tersadar dari lumunannya.
"Ya, masuk!" saut nya.
"Maaf bu, ini saya mengantarkan berkas yang harus ibu kerjakan!" ucap Rina salah satu karyawan disana.
"Oh, iya, terimakasih." saut Vivi menerimanya dengan senyuman.
Kemudian Rina berlalu dari ruangan Vivi. Disaat yang bersamaan datang Teni yang baru saja sampai ke ruangannya.
"Haduh aku terlambat masuk kantor!" ucap Teni uring uringan.
"Kenapa sih bu?" tanya Vivi.
"Iya gara gara semalam diajak ke club' malam sama anak anak, alhasil kesiangan deh nyampe kantor!" jelasnya.
"Engga kok, lagian aku juga baru dateng." saut Vivi.
"Tapi ini uda mau jam 8 Vi, biasanya jam 7 aku udah nyampe kantor!" saut Teni manyun.
"Ya udah, ga papa lah sekali sekali, ga mungkin langsung dipecat bapak manager kan?" ledek Vivi tersenyum.
Teni menghirup napas panjang lalu membuangnya kasar..
"Uhh..dasar!!!" sautnya.
"Ya uda kerja kerja! jangan uring uringan, masih pagi ini!" saut Vivi.
Mereka pun kembali disibukan dengan pekerjaannya masing masing.
*
Disisi lain, Dicky sudah tiba di cafe tempat kerja nya.
"Pagi, bu Sisca." sapanya pada Sisca yang sedang duduk di kantornya.
"Pagi ky, yu aku tunjukin ruangan yang jadi ruangan kamu!" saut Sisca
"Lagian kamu formal banget sih, biasa aja kali!" ucap Sisca yang kemudian beranjak ke ruangan Dicky.
"Ga enak didenger karyawan lain!" saut Dicky.
"Ok, tapi cuma di depan karyawan lain aja ya, kalau ga ada siapa siapa jangan lah panggil aku Bu!" ucap Sisca.
"Siap non...!" ledek Dicky tersenyum.
Sisca pun memukul pelan tangan Dicky.
"Ini ruangan kamu! kalau ada apa apa kamu bisa tanya ke aku, ok!"
__ADS_1
"Siap, ka, thanks ya!"
"By the way, kamu ada hubungan ya sama Raisa? aku jadi penasaran!" tanya Sisca.
"Gosip dari mana sih?" tanya balik Dicky.
"Ya aku denger aja, gitu?" saut Sisca.
"Ga usah di denger gosip murahan kayak gitu!"
"Ya uda deh aku ke ruangan ku dulu ya, masih banyak yang harus aku kerjakan, oh iya jam 10 nanti kita meeting ya!" ucapnya.
"Siap bu!"
Hah..akhirnya kerja juga, uda bosen banget diam dirumah, ngumpet dibalik ketiak isteri. batinnya.
Dicky kemudian duduk di kursi kerjanya.
Sudah ada beberapa file yang menumpuk di mejanya, dia kemudian membuka satu persatu file nya.
Sore harinya, biasa nya Raisa yang akan mengajak jalan Dicky terlebih dahulu, tapi karena tadi pas pergi mood Dicky sedang tidak baik pada isterinya alhasil kali ini dia yang mengajak duluan Raisa jalan.
Sayang, jalan yuk! isi pesan Dicky melalui ponselnya.
Tak berapa lama Raisa membalasnya.
Boleh donk sayang! kalau gitu aku tunggu di cafe nya Ardi ya!
Ok! see you!
"Sore mas! mau saya panggilkan Pa Ardinya?" sapa seorang waiter yang sudah mengenali Dicky dengan baik.
"Iya boleh, tapi sebelum itu tolong pesan kan saya kopi hitam ya!" jawabnya.
Beberapa menit kemudian pesanan datang, dan juga Ardi yang kemudian duduk di depan sofa yang diduduki Dicky.
"Hai bro! pa kabar?" sapa Ardi.
"Hai, baik, kamu gimana?" jawab Dicky sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman sahabat pada Ardi.
"Baik, lama kamu ga kesini!" sautnya.
"Iya, uda sibuk urusan kerjaan!" ucap Dicky tersenyum sambil menyeruput kopinya.
"Urusan kerja apa urusan cinta nih??" ledek Ardi.
"Yang jelas dua duanya!" mereka pun tertawa.
"Gimana uda jalan cafe nya?" tanya Ardi.
"Belum sih, pembangunannya belum kelar, tapi uda 90%, sambil jalan lagi ngurusin dulu surat perijinannya bro!" saut Dicky.
"Iya banyak banget yang harus dikerjain sebelum mulai opening!" sautnya.
Dicky mengangguk, tanda setuju, kemudian mereka berbincang banyak masalah cafe. Setengah jam kemudian Raisa sampai di cafe yang dituju.
__ADS_1
"Tuh bini muda lu dateng!" ledek Ardi yang sudah melihat Raisa di pintu masuk nya.
Dicky kemudian menoleh ke arahnya dan melambaikan tangannya. Raisa pun langsung melangkah menuju meja Dicky.
"Hai sayang!" sapa Raisa sambil cipika cipiki dengan Dicky.
"Hai" jawab Dicky.
Dan Raisa pun langsung menyapa Ardi, mengulurkan tangannya untuk bersalaman, kemudian dia duduk di sofa sebelah Dicky.
"Bro, aku tinggal dulu ya masih ada kerjaan yang belum beres!" ucap Ardi pada mereka berdua.
"Ok!" saut Dicky.
Raisa pun memesan makanan dan minuman terlebih dahulu sebelum menghilangkan rasa penasarannya terhadap Dicky, karena ini untuk pertama kalinya Dicky yang meminta mereka untuk jalan bareng.
"Ada apa?" tanya Raisa.
"Apanya yang ada apa?" jawab Dicky.
"Sepertinya kamu sedang ada masalah ya?" tanya balik.
"Iya, aku lagi suntuk di rumah." saut Dicky.
"Mau berbagi sama aku?" saut Raisa yang langsung memegang erat tangan Dicky.
"Ya, sebenarnya aku sedang kesal dengan isteriku, karena dia membahas lagi kenangan pahit yang sudah aku kubur dalam dalam." saut Dicky lirih
"Kenangan pahit apa memangnya?"
"Aku berpacaran dengan Vivi sudah lama, semenjak kami kenal di sekolah menengah pertama, cinta monyet begitu orang memanggilnya, tapi bagiku dia cinta pertama ku, saat mulai beranjak dewasa, saat kami sekolah menengah atas aku mulai agak ragu dengannya, dan dari situ aku mulai mengenal wanita wanita lain, tentu hubunganku dan Vivi akhirnya menjadi renggang."
Raisa hanya diam, mendengarkan setiap cerita dari kekasihnya.
"Saat aku berkunjung kembali ke rumah Vivi, aku melihat motor yang sudah sangat aku kenal milik siapa, aku penasaran dan memberanikan diri mengetuk pintu rumahnya, ternyata benar, sedang ada Yoga di sana, dia adalah temanku, teman sebangku ku di kelas." Dicky menyeruput kembali kopinya sebelum melanjutkan ceritanya.
"Lalu?" tanya Raisa yang penasaran.
"Saat aku bertanya pada Vivi tentang hubungan kita, dia menjawabnya enteng, kalau kita sudah putus. Tentu saja aku tak terima, karena aku memang belum memutuskan hubungan antara kita.
Yang lebih menyakitkan dia lebih memilih Yoga, yang baru saja dia kenal dari pada aku. Saat aku akan memukul Yoga, dia melerai pertengkaran kami, dan melindungi Yoga."
"Tapi sekarang kalian menikah kan? itu berarti Vivi sekarang memilih kamu?" tanya Raisa.
"Ya, dia sekarang isteriku, kembali padaku karena pernikahannya dengan Yoga tidak bahagia!"
"Itu berarti kamu menikahi janda bekas temanmu?" ucap Raisa.
"Ya." saut Dicky sedikit emosi dengan perkataan Raisa.
"Sayang aku kira...ternyata kisahmu.."
"Ya memang menyedihkan.." ucap Dicky lirih.
Bersambung...
__ADS_1