Sabar Yang Melampaui

Sabar Yang Melampaui
Sakit Hati


__ADS_3

Vivi tiba dikantornya dengan rasa tidak bersemangat, dia masih teringat kejadian semalam saat menerima telepon dari perempuan yang bernama Raisa.


Vivi lalu menghubungi Gladies sekeder ingin curhat padanya, karena dia tak mampu menahan rasa sakit nya sendirian, akan tetapi sayang nya Gladies ternyata sudah ada acara yang lain dan dia tidak bisa menemui Vivi kali ini.


"Morning" sapa Vivi pada Teni setelah tiba di ruangannya.


"Morning beb." jawab Teni.


"Itu kerjaan kamu sudah ada di meja ya!" timpa Teni


"Ok, thank you beb!"


"Sama sama."


Karena tidak banyak bicara pagi ini Teni juga menjadi heran dengan sikap Vivi, dan rasa penasarannya membuatnya bertanya.


"Ada apa beb? Hari ini kelihatannya kamu lesu gitu, apa kamu ga enak badan?" tanya Teni.


"Engga beb, ! Aku cuma kurang tidur aja semalam." jawab Vivi lesu.


"Kalau kamu kurang enak badan kamu bisa kok izin dulu, supaya ga kerja hari ini!" timpa Teni.


"Ga usah, aku ga papa kok, lagian aku baru hari kedua kerja dikantor ini masa uda mau izin lagi sih, ga enak sama yang lain!" saut Vivi.


Teni hanya tersenyum mendengar perkataan Vivi.


"Aku sama anak anak nanti mau istirahatnya di kantin aja kok, kamu ikut ya! Lagipula kemarin kamu kan istirahatnya ga sama kita kita! Biar kamu bisa lebih akrab gitu sama anak anak sekantor!" ucap Teni beberapa menit kemudian.


"Iya baiklah." saut Vivi


Vivi pun masih mencoba berkonsentrasi pada pekerjaannya, walaupun dengan perasaan yang masih tidak karuan.


Morning! Sapa Reihan lewat chat di ponselnya.


Morning jawab Vivi datar


Apa kabar kamu hari ini?


Aku sedang tidak baik Mas


Ada apa?


Aku tidak bisa menyampaikan lewat ponsel, aku ingin bicara langsung saja nanti.


Baiklah kita ketemu saat istirahat makan siang.


Maaf aku tidak bisa, Mas, aku sudah ada janji sama anak anak untuk makan siang di kantin kantor.


Ya sudah, selepas pulang kantor kita ketemu di cafe kemaren, ok!


Iya mas.


Vivi hanya bisa menutupi lukanya dengan senyuman dan canda tawanya bersama teman teman sekantornya, setidaknya beban yang dia pikul untuk sementara bisa terlupakan.


Jika saja masih bekerja di tempat karaoke mugkin dia bisa melampiaskannya dengan minuman beralkohol untuk melupakan sejenak bebabannya.


Aku sudah di cafe mas, chat Vivi pada Reihan.


Iya, tunggu sebentar ya, aku segera kesana.


Beberapa menit kemudian Reihan tiba di cafe yang sudah ada Vivi disana memesan minuman terlebih dahulu untuk menghilangkan rasa bosannya menunggu Reihan.


"Hai!" sapa Reihan.

__ADS_1


"Maaf nunggu lama!" timpanya.


"Hai mas, iya gapapa!" saut Vivi.


"Ada apa? Kelihatannya kusut banget?" tanya Reihan.


"Mas, kita jadi ke tempat kerjaku yang kemaren kan? tanya Vivi tanpa menjawab pertanyaan Reihan.


"Boleh."


"Ya uda ayo, sekarang aja!"


Reihan pun heran melihat Vivi yang sangat antusias ingin pergi ke tempat karaoke nya bekerja sebelumnya menjadi ladies.


"Ok, ayo!"


Merekapun segera berlalu dari cafe itu menuju tempat karaoke nya.


"Kamu kenapa sih Vi, sepertinya dari tadi kamu melamun terus?" tanya Reihan membuyarkan lamunan Vivi yang sedang melihat pemandangan kota melalui jendela mobil Reihan.


"A..apa mas?"


"Ada apa? Ada yang kamu pikirkan?Apa masalah kerjaan?"


"Engga kok mas, kerjaan semuanya baik, masih bisa aku hendle." Saut Vivi tersenyum.


"Kalau begitu kenapa?"


Vivi terdiam, masih terbayang olehnya kejadian tadi malam ketika mendengar suara wanita dengan mesra memanggil suaminya dengan panggilan sayang.


"Vi..?"


Vivi bahkan tak menoleh ketika Reihan memanggilnya.


"Ya mas" sentuhan Reihan membuyarkan lamunannya.


"Kita sudah sampai." timpanya.


"Oh iya mas."


Mereka langsung masuk untuk menemui mami Rara, tapi mami Rara belum datang karena saat itu masih jam 6 sore.


"Mas sambil menunggu mami Rara mau ga, boking room sebentar." tanya Vivi pada Reihan.


"Boleh."


"Mba room Vip ya! Untuk dua jam kedepan!" ucapnya pada reseptionis karaoke tersebut.


"Boleh mba Vero, silahkan, masuk langsung apa perlu saya antar?" saut reseptionis itu yang kemudian memang sudah kenal betul dengan Vivi.


"Engga usah mba! Saya kan sudah tahu ruangannya dimana!" saut Vivi tersenyum.


Kemudian berlalu ke room yang dibokingnya.


Sebelumnya mereka memesan minuman dan camilannya kepada waiters disana.


"Hai, mba Vero, wihh kayaknya sudah jadi wanita karier nih!" sapa waiters.


"Hai, iya alhamdulillah, ka, sekarang uda ga kerja malam lagi!" saut Vivi ramah.


"Mau pesan apa mba?"


"Biasa ya, ma***l satu dan orange jus satu, tachosnya satu, segitu dulu ya ka!" saut Vivi.

__ADS_1


"Siap mba." sambil berlalu meninggalkan ruangan tersebut.


Vivi mulai memilih lagu yang ingin sekali dia nyanyikan. Reihan hanya tersenyum melihatnya.


"Gapapa kan mas aku nyanyi?"


"Pertanyaan macam apa itu, jelas jelas kamu sedang di tempat karaoke kan? Ya nyanyi saja, aku tidak akan melarangmu!" saut Reihan terkekeh.


Kemudian Vivi menyanyikan lagu dari setia badn yang berjudul sakit hati atau asmara 2.


Kau sudah tak seperti kau yang dulu


Kau sudah tak sanggup untuk setia


Kau bergegas pergi meninggalkan ku


Kau sudah memilih yang lain..


Kau memang tak seperti


Kau yang dulu


Kau memang tak sanggup


Untuk setia


Ku menangis sedih


Ditinggalkanmu


Ku sudah tak tahan lagi..


Aku tlah kau buat sakit hati...


Menderita karena cintamu


Aku memang tak bisa


Menjadi yang terbik untuk dirimu..


Vivi menyanyikan lagunya dengan penuh perasaan dengan emosional, sampai tak terasa air matanya menetes begitu saja.


Reihan yang melihatnya sudah tahu pasti ada sesuatu yang terjadi dengan Vivi.


Tak berapa lama waiters datang membawakan pesanannya, Vivi menyeka air matanya, lalu disela sela lagu dia menuangkan minumannya ke gelas dan kemudian meminumnya.


Reihan hanya membiarkan saja dulu Vivi melampiaskan rasa dihatinya, mungkin dengan begitu dia akan merasa sedikit lebih tenang.


Setelah Vivi selesai menyanyikan lagu itu kemudian dia memutar lagu lainnya masih dari setia band, tapi tanpa karaoke.


Sudah 3 gelas Vivi minum, Reihan memperhatikannya.


"Sudah dulu! Sekarang coba kamu ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Reihan sambil meletakan gelas yang akan Vivi minum.


"Semalam aku tidak sengaja mengangkat ponsel mas Dicky karena berdering terus saat mas Dicky sedang di kamar mandi, panggilan telepon itu dari wanita bernama Raisa, saat aku angkat tiba tiba wanita itu memanggil mas Dicky dengan sebutan sayang, disitu aku bisa menyimpulkan kalau wanita itu adalah kekasih mas Dicky mas!" ucap Vivi lirih.


"Mungkin kamu salah dengar Vi, atau panggilannya salah sambung?" tanya Reihan yang berusaha menenangkan Vivi.


"Tidak mas, jelas jelas aku dengar sendiri, dia bilang, sayang kenapa kamu ga angkat telefon dariku sih! mas Dicky, sayang,.ih kenapa kamu ga jawab aku sih..! Dia bilang gitu saat aku tidak menyautnya dan aku langsung mematikan teleponnya waktu itu!" jelas Vivi pada Reihan.


Vivi menjelaskannya dengan rasa sakit yang mendalam, dia tidak mampu lagi menahan air mata nya, dia pun menangis.


Reihan kemudian merangkulnya, mencoba menenangkannya dengan pelukan, mengusap lembut rambut Vivi, dan membiarkan Vivi menangis sejadi jadinya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2