
Seminggu berlalu, dari kejadian itu, Vivi masih belum bisa melupakannya, tapi dia masih bisa menjalani hari harinya dengan tenang, dengan bibir yang tersenyum dan juga sikap yang seperti biasa terhadap suaminya.
Bukan tidak ingin membahasnya, dia hanya mencoba bersabar dan mencari lebih dalam lagi tentang perselingkuhan suaminya itu.
"Sayang, hari ini aku mulai kerja di cafe!" ucap Dicky ketika dia baru saja memulai aktifitas paginya, mandi dan memakai pakaian yang rapi, memakai kemeja panjang dan juga celana kerja yang rapi.
"Alhamdulillah, syukurlah mas, kalau kamu sudah mulai bekerja di cafe itu!" saut Vivi yang mana dia juga sudah bersiap dengan setelan kantornya.
"Ya sudah mas, sarapan dulu, aku sudah buatkan nasi goreng!" timpa Vivi.
"Iya ayo!" saut Dicky sambil merangkul isterinya itu.
Mereka makan dalam diam, hanya suara sendok dan garpu yang bersahutan. Tak ada yang memulai percakapan.
Belakangan ini Dicky memang berbeda dari hari hari biasanya, dia terlihat lebih pendiam, dan cuek, terkadang dia juga banyak sendiri bermain dengan ponselnya.
Dan sudah lama juga mereka tidak romantis, bahkan tidak melakukan hubungan suami isteri. Setiap hari ketika Vivi pulang kerja dia pasti tidak mendapati suaminya, dan Dicky akan pulang larut malam, lalu dengan segera dia tidur di samping isterinya, hanya membelakangi isteri nya, tanpa pelukan yang biasanya dia lakukan terhadap isterinya.
Vivi sangat menyadari perbedaan sikap suami nya yang berubah menjadi sangat dingin terhadapnya, hanya saja dia tidak ingin bersikap gegabah, dia ingin meluapkan semua perasaannya pada saat dia mendapatkan cukup bukti tentang perselingkuhan suami nya.
Setelah sarapan dengan segera Dicky bersiap untuk pergi ke cafe nya, dia memakai sepatu monk strap pemberian dari Raisa, dan kebetulan Vivi juga berada di sofa ruang tamunya sedang bersiap untuk memakai sepatu juga.
Sepertinya sepatu mas Dicky baru, aku baru melihatnya, bathin Vivi.
__ADS_1
"Mas, sepatu nya baru ya? aku baru melihatnya? tanya Vivi penasaran.
"Ya, Ardi yang memberikannya." saut Dicky.
"Oh, baik banget ya Ardi, kapan kapan kamu kenalin aku ya?" ucap Vivi tersenyum.
"Untuk apa? nanti kamu malah ditaksir sama Ardi!" ledeknya.
"Ah, kenapa kamu bicara seperti itu?" saut Vivi tersenyum
"Ardi itu masih lajang, dan kamu sekarang menjadi wanita karier, persis seperti tipe wanita yang Ardi sukai, aku tidak ingin nanti dia naksir kamu!" sautnya.
"Yah kamu mas, cemburu ya?" ledek Vivi.
"Bukan cemburu, tapi lebih berjaga jaga, takut kejadian kemarin terulang lagi, ketika kamu direbut dariku oleh temanku sendiri! PAHAM!!!" ucap Dicky.
Degg..
Vivi tersentak kaget mendengar kata kata yang diucapkan begitu lantang dari Dicky, memang Dicky masih belum bisa untuk melupakan kejadian itu, kejadian ketika Vivi malah pacaran dengan teman Dicky, teman sesekolah nya, yang menjadi suami dari Vivi.
Hal yang membuatnya membenci wanita bernama Vivi, tapi disisi lain dia memang belum bisa melupakan Vivi, satu satu nya wanita yang bisa membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.
Vivi hanya terdiam melihat kemarahan Dicky yang seperti itu. Dicky langsung menyalakan motornya dan segera berlalu meninggalkan Vivi, tanpa kata atau pun berpamitan, padahal sebelumnya Dicky akan mengantar Vivi terlebih dahulu ke kantornya sebelum dia berangkat ke cafe.
__ADS_1
Tapi karena salah bicara sedikit Vivi akhirnya harus kena marah Dicky, dan dia akhirnya memutuskan untuk pergi seperti biasa ke kantornya dengan ojek online.
Dijalan Vivi terpikir kan tentang sepatu yang Dicky pakai tadi.
Sepatu itu terlihat sepatu yang begitu mahal, dan tidak mungkin ada seseorang yang sengaja memberikannya dengan cuma cuma, lagipula dari mana mas Dicky punya uang untuk membeli sepatu semahal itu.
Ahh..kembali rasa curiga itu mulai menyeruak di pikiranku, apa mungkin wanita itu yang memberikannya? bathin Vivi.
Karena lamunan nya tak terasa ojek yang dia tumpangi sudah berhenti di depan kantornya, dan dia langsung membayarnya, kemudian berlalu masuk ke dalam ruangannya.
"Pagi..."sapa Vivi pada semua rekan kerja yang dia jumpai di jalan menuju ke ruangannya.
"Pagi juga..." merekapun menjawab nya seraya tersenyum.
Vivi memang tidak pernah memperlihatkan kepada orang orang jika dia sedang ada dalam masalah, dia bisa menutupi nya dengan senyum sumeringah nya, terkecuali pada orang orang yang memang mengenal Vivi dengan baik, seperti Reihan dan Teni, mereka sudah cukup lama mengenal Vivi, alhasil Vivi tidak bisa menyembunyikan rasa sedih atau kecewanya terhadap mereka berdua.
Vivi datang ke ruangannya sebelum Teni datang, dia kemudian melamun masih heran dengan sepatu yang dipakai suaminya, lalu dia mengirim pesan pada Reihan.
Mas Rei, maaf aku mau tanya, kira kira sepatu model monkstrap yang asli harganya berapa ya?
Tak lama Reihan membalas pesan Vivi.
Sekitar 5000 Vi, kamu mau hadiahkan untuk suami mu? tanya Reihan.
__ADS_1
What? kamu ga salah mas?
Bersambung...