Sabar Yang Melampaui

Sabar Yang Melampaui
Pertengkaran di room


__ADS_3

Dua hari Vivi tidak bekerja dan hanya menghabiskan waktu di rumah saja bersama Dicky, hanya saja uang yang dia punya sudah tinggal sedikit lagi dan itu artinya malam ini Vivi harus bekerja lagi.


"Mas, sore ini aku harus bekerja, karena uang yang aku punya sudah tinggal sedikit lagi." ucap Vivi pada Dicky saat mereka tengah bersantai di ruang tamunya.


"Iya nanti aku antar kamu ke tempat kamu kerja!" saut Dicky tersenyum.


"Iya baiklah mas." ucap Vivi enggan menolak karena takut akan Dicky salah paham jika dia menolak ajakan Dicky.


Sore menjelang setelah Vivi menyelesaikan pekerjaannya ia bergegas untuk pergi ke tempat kerjanya diantar oleh suaminya.


Sesampainya di hotel tempat Vivi bekerja diapun berpamitan kepada suaminya.


"Mas aku kerja dulu ya!" ucap Vivi mengulurkan tangannya untuk salim kepada suaminya itu.


"Iya kalau begitu aku juga langsung ke tempatnya Ardi ya!" saur Dicky yang dengan segera berlalu dari situ.


"Hai cantik..kemana aja iyey baru masuk kerja lagi!" sapa Cello makeup artis di ruangan ladies.


"Iya abis liburan dulu!" jawab Vivi datar.


Dia langsung duduk di depan cermin karena kebetulan Cello yang saat itu tidak sedang mendandani ladies lain.


Cello dengan segera membersihkan makeup tipis Vivi untuk dia dandani seperti biasa, dan dia melihat jelas muka Vivi yang masih lebam dan membiru bekas pertengkaran kemarin dengan suaminya.


"Ya ampun iyey ...ini pasti kdrt!" ucap Cello berbisik.


"Sttt,, ga usah berisik Cello, bisakan bikin supaya ga kelihatan!" saur Vivi.


"Itu sih gampang BESTie!" saut Cello dengan tangan gemulainya.


"Ok say, ntar aku tambahin!" timpa Vivi.


Butuh waktu setengah jam untuk Vivi bersiap dengan dandanannya yang cantik dan tubuhnya yang gempal semakin terlihat saat memakai mini dress nya, juga high heels yang menambah jenjang kakinya.


Ketika dia sudah ada yang boking bersama ladies lainnya, seperti biasanya para ladies pun menyajikan minuman yang ada dimeja menemani para pria hidung belang yang haus akan hiburan.


Vivi, Syara dan Arsyla yang sedang diboking di room yang sama oleh para tamu dari Jakarta, mereka menikmati malam bersama dengan dentuman music dan minuman yang memabukkan bersama sajian makanan ringan lainnya.


Arsyla yang tiba tiba menjambak rambut Vivi yang ketika itu sedang mengobrol dengan tamu yang memboking Vivi membuat kepala Vivi seketika terjengkang kebelakang.


"Aduh...!!" teriak Vivi yang kala itu merasakan sakit di rambutnya.


"Ngapain kamu deketin cowok aku hah??" tanya Arsyla yang bernada seakan sebuah ancaman.


"Lepasin!!!!" teriak Vivi yang menyingkirkan tangan Arsyla dari kepalanya.


"Eh Dasar Pe****r berani kamu rebut tamu aku!!!" teriak Arsyla yang mendorong tubuh Vivi.


Tamu yang berada dihadapan Mereka bukannya melerai mereka yang sedang berdebat, malah menjadikan mereka seolah tontonan yang mengasyikan.

__ADS_1


"Apaan sih kamu Arsyla orang tamunya yang deketin aku" Vivi menjelaskan.


"Ah dasar memang kamu Penggoda suami orang!!" teriak Arsyla.


Vivi hanya tersenyum sinis pada Arsyla. Dia sebenarnya emang tidak mau meladeni wanita semacam itu yang sedang meracau ketika mabuk.


"Yang Pelakor itu jelas jelas kamu!" saut Vivi.


"Apa kamu bilang? Berani ya kamu!" Arsyla lalu mendekati wajah Vivi dan kemudian dia menjambak lagi rambut Vivi.


Kali ini Vivi tidak diam dia kesal karena dia merasa tidak melakukan kesalahan, Vivi melakukan hal yang sama terhadap Arsyla.


"Kalau aku berani kamu mau apa?" saut Vivi yang tidak melepas tangannya di rambut Arsyla.


Merekapun perang jambak jambakan rambut yang akhirnya dilerai oleh salah satu laki laki yang berada di ruangan tersebut, tamu yang memboking Vivi.


"Ah sudahlah ayo Vero kita ke sebelah sana lagi!" ucap laki laki yang tiba tiba menarik tangan Vivi untuk menghindar dari Arsyla.


Vivi Pun hanya mengikuti tamu yang memboking nya malam itu untuk duduk berjauhan dari Arsyla dan tamunya.


Ih rese banget LC yang satu itu, kalau ga dilerai tadi Uda aku sumpal tuh mulut, batinnya dalam hati.


"Ga baik berantem kayak tadi, kayak bukan teman satu profesi aja!" ucap tamu nya Vivi yang biasa dipanggil Bang Toni.


"Habisnya Vivi kesel bang, orang dia yang tiba tiba jambak rambut Vivi duluan." saut Vivi membuat mulutnya menjadi kerucut.


"Dia itu cemburu karena kamu lebih cantik dan suara kamu juga lebih bagus darinya!" saut Bang Toni.


Vivi Pun tersenyum mendengar pujian yang tamunya berikan untuknya.


"Ya sudah daripada kamu kesel lebih baik kamu minum dulu nih!" timpa Bang Toni yang menyodorkan satu shoot minuman ke arah Vivi.


Vivi yang masih dalam keadaan emosi akhirnya langsung meneguk minuman yang diberikan Bang Toni.


Vivi yang sekarang sudah terbiasa dengan kehidupan malamnya di tempat kerja ataupun sepulang bekerja, mau bagaimana lagi, mau tidak mau dia harus membiasakan dirinya dengan kehidupannya yang baru, yang entah sampai kapan harus dia jalani.


Sebenarnya dia sudah mulai muak apalagi jika ada tamu yang bersikap tidak sopan padanya atau lebih tepatnya melecehkannya, dia berusaha untuk tidak menyinggung tamunya, berusaha lebih tenang dengan penolakan yang harus diterima tamunya, karena Vivi bukanlah ladies yang bisa dua voucher atau bisa open BO.


*


Setelah selesai menerima tamu, Vivi yang menerima chat WhatsApp dari Nita yang dia sendiri lupa kenapa bisa ada nama Nita di kontak ponselnya.


Vero, kerja ga?


Iya, kerja, Nita mana ya?


Aku Reihan, malam itu aku simpan kontak aku di ponsel kamu dengan nama Nita agar suami kamu ga curiga kalau aku laki laki😁


Oh, Mas Reihan, ada apa kontak Vivi? Biasanya langsung kesini?

__ADS_1


Aku lagi pengen ke tempat lain, tapi bareng kamu? Apa bisa?


Bisa kebetulan Vero Uda selesai di boking.


Ya udah setengah jam lagi sopir aku jemput kamu ya!


Ok mas.


Vivi pun dengan segera membersihkan dirinya dan mengganti baju kerjanya, dan sesuai janji setengah jam kemudian sudah ada sopirnya Reihan yang menjemput Vivi di depan tempat kerjanya.


Lalu mobil itu melaju, entah membawanya kemana Vivi hanya percaya saja sopir Reihan yang membawanya.


Beberapa menit kemudian mereka sampai di sebuah club' malam yang terkenal di kota Bandung.


Nah lho, salah kostum nih, gimana nih? Aku pikir mau ketemunya di cafe? Bathin Vivi.


Sudah ada Reihan yang menunggu di depan club' itu, lalu dengan cepat Reihan pun masuk ke dalam mobil yang sudah ada Vivi didalamnya.


"Hai,..!" sapa Reihan.


"Hai mas...Lho aku pikir aku harus masuk kesana? Aku bingung soalnya aku salah kostum." saut Vivi tersenyum.


"Engga, aku lapar, aku ingin kamu menemaniku makan, bisa kan?" saut Reihan.


"Ok" saut Vivi datar.


Setelah mereka sampai kesebuah Cafe and Bar Reihan pun duduk di depan Vivi, dan tentu saja luka lebam di wajah Vivi sekarang terlihat karena dia sudah menghapus makeup tebalnya, dia yakin kalau luka itu pasti Vivi dapatkan dari suaminya.


"Vero, wajah kamu..?" Reihan menghentikan ucapannya sambil mengusap lembut wajah Vivi.


"Engga kok mas, ini cuma kebentur pintu." saut Vivi tersenyum.


"Kamu bicara seolah aku ini anak kecil!!" saut Reihan yang nada bicaranya terdengar seperti sedang marah.


"Iya aku.." saut Vivi terhenti dengan ucapannya karena ada seorang waiters yang menghampiri mereka.


Merekapun memesan makanan dan minuman yang ada di cafe itu.


"Itu pasti perbuatan suami kamu kan?" ucap Reihan kemudian setelah waiters itu berlalu dari mejanya.


"Iya mas, tapi semua salah aku kok mas, aku ga pandai menyembunyikan kalau aku pulang dalam keadaan mabuk waktu itu, jadi suami aku marah." saut Vivi membela suaminya.


"Kalau dia ga suka kamu yang seperti itu lantas kenapa dia ga cari kerja untuk memenuhi kebutuhan kamu? bukan harus kamu yang bekerja seperti ini!" saut Reihan.


"Iya bukannya dia ga cari kerja mas, cuma belum dapat yang pas aja." bantah Vivi.


"Kamu memang sangat mencintainya, sampai sampai kamu rela bekerja seperti ini untuk suami kamu itu Ver!" timpa Reihan yang kemudian menggenggam erat tangan Vivi dimeja.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2