
"Mas, titip Vivi sama ibu ya! saya pergi pakai motor!" saut Dicky ketika sudah menaikan Vivi dan ibunya ke dalam mobil Reihan.
"Hati hati ya!" timpa nya.
"Siap..ya sudah kita jalan dulu ya!!" saut Reihan.
"Mas, maaf ya merepotkan kamu!" ucap Vivi pada Reihan yang sedang fokus menyetir.
"Kan aku sudah pernah bilang jangan terlalu sering bilang maaf!" saut Reihan enteng.
"Iya nak Reihan kami sudah banyak ngerepotin kamu!" saut ibu yang duduk di belakang.
"Tidak apa apa Bu, saya ikhlas kok." saut Reihan yang tersenyum.
"Kita mampir sarapan dulu ya, kalian pasti belum sempat sarapan kan?timpa nya.
"Iya memang kami belum sempat sarapan tadi mas." saut Vivi tersenyum.
Reihan kemudian menghentikan laju mobilnya di depan roda bubur ayam di pinggir jalan.
"Mau di tempat ini? apa kita ke cafe aja?" tanya Reihan.
"Disini saja nak Reihan." saut ibu.
"Ya sudah mari Bu, Vi kita turun."
Mereka dengan senang hati menyantap bubur ayam di pinggir jalan dengan orang orang disekitarnya, dengan sekilas menatap Vivi yang memang kepalanya masih di perban. Tapi Vivi menghiraukan nya saja.
"Apa masih sakit?" tanya Reihan.
"Sekarang sudah mendingan mas, sudah mulai berkurang rasa sakitnya, mungkin karena luka nya sudah mulai mengering." saut Vivi tersenyum.
Ibu memperhatikan mereka berdua, sikap mereka memang cenderung sedikit berbeda dari sekedar pegawai dan atasannya. Memang setiap ibu selalu memiliki insting yang peka.
Setelah selesai menyantap sarapan nya mereka segera melaju ke rumah Vivi, tak berapa lama mereka pun sampai di rumahnya.
Vivi yang berjalan melewati gang depan rumahnya, dipapah oleh Ibu nya dan Reihan yang mengikuti nya dari belakang.
"Ayo, mas masuk dulu!" saut Vivi ketika sudah sampai di depan rumahnya.
Mereka bertiga kemudian masuk, dan ibu segera menyiapkan secangkir kopi untuk Reihan ke dapur.
"Mas, makasih banyak ya, karena sudah mau selalu direpotkan olehku!" saut Vivi.
"Ga papa Vi, kamu tenang aja, dan jangan selalu bilang terima kasih pada ku!" sautnya tersenyum.
"Tapi memang keadaannya begitu mas!" saut Vivi.
"Ini nak diminum dulu kopinya!" ucap Ibu yang menyimpan kopi di meja depan Reihan.
__ADS_1
"Iya,terima kasih bu!"
"Ibu tinggal dulu ya, ibu mau membereskan dulu barang barang Vivi di belakang!" saut Ibu. kemudian berlalu pergi meninggalkan mereka di ruang tamu.
"Mas, mungkin aku baru bisa beberapa hari lagi masuk kantor!" ucap Vivi.
"Kamu ga usah pikirin pekerjaan Vi, yang penting kesehatan kamu, itu dulu aja!" saut Reihan sambil menyeruput kopi nya.
"Tapi aku ga enak sama anak yang lain mas, aku baru kerja di sana tapu sudah tidak masuk berhari hari." timpa nya.
"Bukan kan mereka kemarin nengokin kamu di rumah sakit, mereka kan tahu kamu mengalami kecelakaan Vi, jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan itu!"
"Iya, tapi sepertinya luka ku ini juga akan lebih cepat sembuh kok, lagi pula aku sudah bosan diam terus!" gerutu Vivi.
"Haduh..emang kamu tuh ya, kepalanya keras!" ledek Reihan tertawa.
"Kalau kepalaku keras ga akan luka gini mas kesandung aspal!" saut Vivi yang kemudian mereka tertawa bersama.
Syukurlah, Ibu bisa melihat kamu tertawa lepas seperti itu lagi sayang, karena selama ini ibu perhatikan kamu seperti ada dalam tekanan, tidak ada senyum seceria kali ini. Semoga kamu bisa menggapai bahagia mu nak! batin ibu dalam hati yang melihat mereka sedang tertawa lepas.
"Kalau gitu aku pamit ya, aku masih harus ke kantor!" ucap Reihan kemudian.
"Iya mas!" saut Vivi.
Kemudian Vivi memanggil Ibu yang sedang ada di belakang.
"Bu..! Mas Reihan mau pamit nih..!!" teriaknya.
"Bu, saya pamit harus segera ke kantor!"
"Oh iya kalau begitu nak Reihan, terima kasih banyak ya! hati hati di jalan!" saut ibu tersenyum manis.
"Iya Bu, sama sama." kemudian Reihan mencium tangan Ibu Vivi, dan segera berlalu dari rumah nya.
*
"Sayang, alhamdulillah kamu sudah mulai pulih sekarang, tidak apa apa kan ibu tinggal?" ucap Ibu sambil mengelus rambut Vivi.
Sudah dua hari Ibu Vivi menginap di rumahnya untuk menjaga nya, dan sekarang Vivi sudah terlihat pulih, dia sudah bisa mengerjakan pekerjaan rumah yang ringan seperti menyapu, atau mengelap meja. Perban di kepala nya juga sudah tidak melingkar seperti kemarin, dia hanya menempelkannya di bagian luka nya saja,
"Sebenarnya Vivi masih mau tinggal bersama Ibu, tapi kasihan juga Ayah dan Arief kalau Ibu terus terusan tinggal disini!" saut Vivi lirih.
"Iya sayang, sekarang kamu juga sudah bisa mengerjakan pekerjaan yang ringan ringan kan, jadi Ibu sudah tidak merasa khawatir lagi nak!" saut Ibu tersenyum.
"Kalau begitu nanti biarkan Mas Dicky yang mengantarkan Ibu ke rumah ya!" saut Vivi.
"Tidak usah sayang, ayah akan menjemput kesini, sekalian dia mau nengokin kamu! lagipula suami kamu itu harus kerja kan!" saut Ibu.
"Oh, ya sudah kalau begitu Bu!" saut Vivi.
__ADS_1
Tok..tok..tok..
Terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Iya sebentar!" saut Vivi.
"Mama!" saut Vivi kaget ternyata Ibu mertua nya yang datang.
"Hallo sayang, apa kabar?" tanya mama Viona sumeringah.
Vivi langsung mencium tangan Ibu mertua nya itu dan mempersilahkan nya masuk.
"Alhamdullilah sudah mulai pulih Ma!" saut Vivi tersenyum.
"Silahkan masuk ma!" timpa Vivi sambil berjalan ke ruang tamu.
"Iya sayang, Dicky kerja?" tanya Mama Viona.
"Iya ma, sebentar Vivi buatkan minum ya ma, sekalian Vivi panggilkan Ibu di belakang." saut Vivi segera berjalan ke arah dapurnya.
Vivi kemudian segera mengambilkan nya minum dan Ibu nya segera ke depan untuk menemui besan nya.
"Selamat pagi bu, apa kabar?" sapa Mama Viona ramah sambil mengulurkan tangannya dan cipika cipiki dengan besannya.
"Pagi Bu Viona, alhamdulillah saya baik Bu! Ibu sendiri gimana kabarnya, sudah lama kita tidak bertemu ya?" saut Ibu Vivi.
"Saya alhamdulillah baik juga bu, iya ya sudah lama tidak bertemu!" ucap Mama Viona yang kembali duduk.
"Mumpung ada disini ayo atu mampir dulu ke rumah saya!" saut Mama Viona ramah.
Vivi pun datang membawakan dua cangkir teh manis panas untuk Ibunya dan juga ibu mertua nya.
"Sayang, ini mama bawakan kue, Mama siapkan ke belakang ya biar mama kamu cobain!" ucap Mama Viona.
"Oh, makasih banyak ma, biar Vivi saja yang siapin ya!" saut Vivi mengambil kue nya dari tangan Mama Viona.
"Ayo Bu, dicicipi kue nya!" ucap Mama Viona
"Lah Vi, kamu tuh tamu bukan nya dikasih makanan, lah ini malah yang punya rumah di suguhi!" saut Ibu tersenyum.
"Ga papa Bu, saya kesini kan niat nya mau nengokin mantu!" saut Mama Viona.
"Wah enak kuenya Bu! pantas saja toko kue milik Ibu laris ya" ucap Ibu Vivi mencicipi kue pemberian Mama Viona
"Iya alhamdulillah Bu, sudah rejeki saya punya karyawan yang kreatif dan selalu menuangkan ide ide baru untuk toko kue saya ." saut Mama Viona.
"Iya syukurlah Bu, usaha nya semoga semakin sukses ya!" doa Ibu Vivi.
"Amin amin..!"
__ADS_1
Bersambung...