
"Sayang ini sudah hampir tengah malam, dan kamu juga sudah mulai mabuk, ayo kita pulang!" ucap Reihan di telinga Vivi.
"Ahh..engga mas aku masih mau disini!!" saut Vivi merengek manja.
"Tapi besok kita harus ke kantor sayang! next kita pasti kesini lagi" bujuk Reihan.
Vivi pun mengangguk pelan.
"Mi, kita closed ya! tolong minta in billing nya mi!" saut Reihan yang kemudian berbicara pada Mami Rara kalo mereka akan segera pulang.
"Lah kok sebentar sih bos?" saut Mami Rara.
"Iya besok kita harus ngantor Mi!" timpa Reihan.
"Oh ya sudah kalau begitu, mami kasi tau anak anak ya!"
Setelah selesai dengan semua tagihan nya dan memberi uang tips kepada para pegawai nya, Reihan dan Vivi pun kemudian berpamitan pada mereka semua.
"Aku tidak mau pulang ke rumah!" rengek Vivi pada Reihan di dalam mobil nya.
Malam itu Reihan menelpon sopir nya, karena dia mabuk dan sudah tidak ingin membawa mobilnya sendiri.
"Tapi nanti suami mu pasti marah pada mu kalau kamu tidak pulang!" saut Reihan.
"Biarkan saja, dia juga paling sedang bercumbu dengan wanita selingkuhan nya itu!" timpa nya.
__ADS_1
"Sayang, ga baik berburuk sangka seperti itu pada suami kamu.." saut Reihan.
"Sudahlah mas, kamu ga percaya, ini cari saja foto foto suami ku sedang bersama wanita lain, sudah aku kirim ke galeri ponsel ku!" ucap Vivi meracau sambil memberikan ponsel nya.
Reihan pun membuka galeri foto pada ponsel Vivi, ternyata benar apa yang di ucap kan Vivi selama ini, Dicky yang terlihat sangat baik dan juga terlihat sangat mencintai Vivi ternyata telah menyakiti Vivi selama ini, Reihan geram, wanita yang disayangi nya ternyata telah di sia siakan.
Selama ini Reihan mengalah karena Vivi terlihat sangat mencintai Dicky, tapi tidak untuk sekarang, Reihan akan memenangkan hati Vivi agar dia mau berpisah dengan Dicky dan Reihan bisa memilikinya.
"Pa, antar kita ke hotel X ya!" ucap Reihan pada sopir nya.
"Siap Tuan!" saut sopir tersebut.
Sesampai nya di hotel Reihan memapah Vivi berjalan, karena langkah Vivi sudah gontai dan hilang keseimbangan karena mabuk.
"Kamu senang? kamu tidak aku bawa pulang ke rumah, tapi ke hotel!" bisik Reihan ke telinga Vivi.
Sesampainya di kamar hotel Reihan kemudian menidurkan Vivi di ranjang king size kamar hotel itu, Vivi yang sudah tak berdaya dan memejamkan matanya karena mabuk hanya menurut saja.
Reihan merapihkan rambut Vivi yang berantakan di wajahnya, dia membelai lembut pipinya, "mulai hari ini kamu akan aku buat bahagia Vi." bisik Reihan di telinga Vivi.
Tanpa diduga Vivi malah mengalungkan tangan nya di leher Reihan yang membuat Reihan terkejut, dia pikir Vivi sudah terlelap dalam tidurnya.
"Kemarilah buat aku bahagia!" ucap Vivi memeluk Reihan.
Reihan pun menerima nya dengan senang hati, akhirnya mereka mulai ber ciu*an pelan dan romantis sampai mereka terbuai dengan suana malam itu, dan akhirnya berubah menjadi ciu*an panas yang me mabukan. Reihan melepaskan pangutan mereka dan kemudian dia mulai menjelajahi leher jenjang milik Vivi. Ada rasa yang menyisir tubuh Vivi begitu hebat, rasa yang tidak bisa diungkapkan.
__ADS_1
Tangan Reihan pun mulai ikut bergerak pada gundukan kenyal milik Vivi, perlahan Reihan mulai membuka kancing kemeja yang dipakai Vivi, membuka bagian yang menutupinya, dan mulai me re*atnya pelan, membelai puncak gunung miliknya yang membuat leguhan indah dari mulut Vivi, karena merasa gemas Reihan kemudian memindahkan wajahnya ke arah situ, dan mulai melahapnya, menikmati suara indah yang mulai keluar dari mulut Vivi.
Puas dengan bagian atas, Reihan kini menjelajahi bagian bawah tubuh Vivi, dia sudah mulai mer*ba bagian inti tubuh Vivi, Reihan pun melepaskan Jas dan kemeja yang dipakainya membuang ke sembarang arah, dan dia pun dengan perlahan membuka penutup bagian bawah tubuh Vivi.
Tubuh Vivi mulai menegang saat Reihan memegang bagian kl i toris milik Vivi dan mempermainkan nya dengan pelan, membuat tubuh Vivi mendapat ha*rat yang luar biasa indah, dan membuat ciu*an mereka lebih dalam lagi.
Reihan melepaskan pangutan mereka, membuat Vivi sedikit kesal padahal dia masih sangat menginginkan nya.
Tapi rasa kesal itu tergantikan oleh kebahagiaan yang tiada tara saat Reihan mulai berada di bawah kukungannya, dia ternyata beralih pada bagian inti tubuh Vivi, menyentuh bagian kl i toris, menikmati nya bak es krim yang sudah mulai meleleh. Vivi mulai melenguh membuat suara suara indah di kamar hotel itu, tangannya tanpa sadar meremas kuat rambut Reihan.
Vivi merasakan hal indah yang belum pernah dia rasakan saat bersama suami nya, Dicky ataupun Yoga tidak pernah memperlakukan Vivi lembut seperti itu, mereka akan langsung pada inti nya saja, dan berbalik membelakangi Vivi saat sudah pelepasannya.
"Bagaimana sayang?" lirih Reihan sambil tersenyum puas melihat wajah Vivi yang mulai nyaman dengan permainan nya.
"Oh..mas.." Vivi hanya menjawab dengan anggukan.
Netra mereka sudah mulai sama sama sayu menikmati setiap aktivitas nya, senjata laras panjangnya pun sudah mulai menegang menginginkan hal yang lebih. Reihan pun membuka bagian bawah pakainnya dan mereka sudah sama sama tanpa sehelai benang pun.
"Boleh?" sebelum membenamkan senjata miliknya Reihan ijin dulu, karena dia tidak ingin ada keterpaksaan dan tanpa sadar mereka melakukannya.
Vivi mengangguk, Reihan pun tersenyum dan tanpa menunggu lagi dia langsung membenamkan senjata laras panjang miliknya ke aset milik Vivi. Suara lenguhan pun terdengar saat sesuatu mulai masuk memenuhi aset milik Vivi, tubuhnya mengejang ke belakang dan tangan nya pun mencengkram bantal dengan kuat.
Perlahan Reihan mulai menghentak, diiringi dengan ciuman dan belaian tangan nya pada tubuh Vivi. Vivi sangat menikmati permainan nya kali ini, baru kali ini dia merasakan pelepasan yang tanpa ampun dari Reihan.
Tuan nya itu kini sedang berada di atas tubuhnya memberinya kebahagian yang tiada tara. Dia sadar betul apa yang sedang dilakukannya adalah sebuah kesalahan, tapi akan lebih salah lagi jika dia tidak bisa menikmati nya, dia juga berhak mendapatkan kebahagian, dia sudah tidak ingin lagi menangis dan mengemis memohon cinta yang tulus dari suami nya.
__ADS_1
Dan malam itu berakhir dengan suara suara indah nya dan peluh di setiap pori pori kulitnya, saat mereka melakukan pelepasan secara bersamaan, di kamar hotel yang menjadi saksi cinta terlarang mereka.
Bersambung...