
"Sudah mendingan?" tanya Reihan ketika Vivi menyeka air matanya.
Vivi mengangguk pelan.
"Maaf kan aku mas!" ucap Vivi.
"Maaf, untuk apa?"
"Aku jadi bercerita tentang masalahku." saut Vivi lirih.
"Tidak apa, lagipula aku akan sangat senang kalau kamu menceritakan semua masalahmu, aku jadi merasa dianggap." saut Reihan tersenyum.
Reihan menuangkan lagi minuman ke gelas Vivi kemudian memberikannya.
"Minumlah supaya kamu merasa lebih baik!" ucapnya.
"Vivi kemudian meminumnya, aku sekarang akan bernyanyi untuk menghiburmu. Ok!"
Vivi kemudian tersenyum. Reihan kemudian memutar lagu dari Cakra khan "kekasih bayangan".
Padamu pemilik hati yang tak pernah ku miliki
Yang hadir sebagai bagian dari kisah hidupku
Engkau aku cinta dengan segenap rasa di hati
S'lalu ku mencoba menjadi seperti yang engkau minta
Aku tahu engkau, sebenarnya tahu
Tapi kau memilih seolah engkau tak tahu
Kau sembunyikan rasa cintaku
Di balik topeng persahabatanmu yang palsu
Kau jadikan aku kekasih bayangan
Untuk menemani saat kau merasa sepi
Bertahun lamanya kujalani kisah cinta sendiri
Mungkin memang benar
Cinta itu tak lagi berharga
__ADS_1
Semua percuma bila engkau tak punya ikatan
Vivi terdiam mendengarkan setiap lirik dari lagu yang dinyanyikan oleh Reihan.
Kenapa harus lagu ini sih? Lirik lagu nya kenapa seolah olah ditujukan padaku, bathin Vivi
Reihan menyanyikan lagu itu penuh dengan penghayatan, seolah benar apa yang ada dalam benak Vivi kalau lagu itu ditujukan untuknya. Kadang dia juga bernyanyi sambil menatap wajah Vivi yang sedang sendu.
"Ada apa? kamu terlihat melamun lagi?" tanya Reihan ketika dia baru saja menyelesaikan lagunya.
"Ah, tidak mas, gapapa kok!
"Vi, sebenarnya..." timpa Reihan yang terpotong karena tiba tiba ada yang mengetuk pintunya dari luar.
Tok..tok..tok..
Muncul mami Rara dari pintu itu.
"Mami.." teriak Vivi yang langsung menghambur ke dalam pelukan bekas mami nya itu.
"Hai, sayang, gimana kabarmu?" tanya mami Rara.
"Aku baik mi.." sautnya.
"Ah, mami bisa aja!" saut Vivi tersenyum.
"Mas Reihan apa kabar? sudah lama ga kemari!" sapa mami Rara pada Reihan.
"Baik mi, sini mih, minum dulu!" saut Reihan mengajak mami Rara untuk duduk di sofa dan menuangkannya minuman.
"Biar saja aja mas!" saut mami Rara.
"Ga papa mih, kali kali, kita rayakan karena Vero sekarang sudah bekerja kantoran mih." ucapnya.
"Oh iya say? kamu kenapa ga kabarin mami? aduh mami sedih banget kehilangan kamu!" saut mami Rara.
"Nah ini aku sekarang baru mau kabarin mami! maaf ya mi aku ga bisa kerja lagi disini!" ucap Vivi.
"Syukurlah say, kalau kamu sudah mendapatkan pekerjaan yang layak, yang membuat kamu jadi wanita terhormat!" saut mami Rara.
"Iya alhamdulillah mi." saut Vivi.
"Ayo dong mi, kita senang senang ya malam ini! ucap Reihan.
"Ok mas, tapi mas masih mau jadi tamu di tempat karaoke ini kan, walaupun Vero uda ga kerja disini lagi?" tanya mami Rara.
__ADS_1
"Tenang aja mi, nanti aku pasti sering kesini sama Vero!" ucap Reihan.
Mami menemani mereka minum dan juga bernyanyi dan berjoget, tentu sangat menghibur Vivi yang sedang sedih. Karena Vero juga minta tolong dipanggilkan Cello dan teman temannya yang lain yang tidak diboking untuk bersenang senang malam itu.
Disela sela kegiatannya Vivi teringat lagi dengan bayang bayang suaminya yang ternyata selingkuh dibelakangnya, dan dia seketika terdiam, duduk di kursi dan merebahkan kepalanya.
"Kamu kenapa? tanya Reihan yang kemudian mendekati Vivi.
"Apa salahku mas? kenapa semua orang yang aku sayangi menghianatiku?" Vivi meracau karena dia sudah banyak minum.
Vivi kembali menangis dipelukan Reihan.
"Mas tahu aku memang tidak cantik seperti mereka diluaran sana, aku juga tidak memiliki tubuh yang indah, dan aku juga bukan orang yang kaya raya, tapi aku sudah berusaha semampuku untuk menjadi isteri yang baik, tapi kenapa suami kuasih berselingkuh di belakangku!" Protes Vivi sebenarnya ditujukan pada suaminya.
Reihan hanya mendiamkan Vivi dan mencoba menenangkannya dengan sentuhan dan belaian ke rambutnya. Dia tahu keadaan Vivi yang sekarang sedang terpuruk.
Beberapa menit berlalu dia dipelukan Reihan, dan saat tersadar dia mengusap air matanya.
"Tapi aku harus kuat mas, untuk menghadapi suamiku, aku pasti bisa memenangkan lagi hati suamiku!" ucap Vivi kemudian dia berdiri dan menikmati lagi minuman yang masih tersedia di mejanya, lalu ikut berjoget bersama orang orang du ruangnnya.
Tak terasa malam semakin larut, ketika sudah sampai malam, Vero dan Reihan pun sudah dalam keadaan mabuk, tapi Reihan yang sudah biasa dengan keadaannya mencoba untuk tetap bisa mengontrol dirinya.
"Vi, ini sudah tengah malam, suami kamu pasti mengkhawatirkan kamu karena kamu belum pulang!" ucap Reihan.
"Ah, sudahlah mas, lagipula tadi dia sudah menghubungiku kalau di tidak akan pulang malam ini, karena ada urusan." saut Vivi.
"Iya tapi kita harus tetap pulang, ingat Vi besok kita harus ngantor." ucap Reihan.
"Ah, ya sudahlah." saut Vivi dengan raut wajah kecewa.
"Lain kali kita pasti kesini lagi, Ok!" bujuk Reihan.
Lalu setengah jam kemudian mereka closing, Vivi dan Reihan pun segera berlalu untuk pulang ke rumah.
Beberapa menit kemudian, Reihan sampai di depan rumah Vivi.
Reihan sebenarnya tidak tega karena disepanjang perjalanan Vivi tertidur karena keadaannya yang sudah mabuk, tapi apa boleh buat demi kebaikannya dia harus membangunkannya, dia tidak mungkin menggendongnya sampai masuk ke dalam rumah dan menidurkannya di ranjangnya, walaupun itu yang ada dipikirannya sekarang ini.
"Vi..Vivi.." Reihan mencoba membangunkannya.
Dia mencoba dengan menyentuh pipinya karena Vivi tak kunjung terbangun. Ditatapnya wajahnya dalam.
Kamu cantik Vi, seharusnya kamu bisa mendapatkan kebahagian, bukan hanya rasa sakit dari suami mu itu, andai saja aku yang menjadi suami mu, aku tidak akan menyia nyiakan wanita sepertimu, gumam Reihan dalam hati.
Bersambung...
__ADS_1