
Dicky baru saja sampai rumah dia tidak mendapati isterinya yang biasanya masih tertidur pulas di ranjangnya, tapi Vivi tidak ada dirumah walaupun hari masih jam 10 siang. Dia lanjut menyimpan barang barang yang dibelikan oleh Raisa kemarin sepatu branded dan juga jam tangan yang harganya fantastis.
Kemana Vivi sepagi ini? Tumben biasanya jam segini dia masih tidur, tapi rumah sudah bersih dan wangi. Bathin Dicky.
Dicky kemudian menyalakan ponselnya dan dia dapati pesan dari isterinya.
Oh rupanya sekarang dia kerja pagi, syukurlah, jadi aku tidak perlu khawatir lagi dengannya, gumamnya.
Dicky kemudian membalas pesannya.
Maaf sayang aku baru pulang, banyak perkerjaan yang harus aku lakukan kemarin, syukurlah kamu kerja pagi, aku jadi tidak terlalu khawatir.
Selamat bekerja ya, semangat!!
Kemudian Dicky melakukan aktifitas rutin nya mengurus burung burung peliharaannya, lalu setelah itu mengurus tanaman tanaman di halaman rumahnya.
*
"Ayo Vi uda waktunya makan siang nih!" ajak Teni.
"Kamu duluan aja ya, nanti aku nyusul!
Waktu istirahat Vivi baru bisa membuka ponselnya yang dia dapati pesan dari suaminya.
Iya mas, alhamdulillah, ini aku baru saja istirahat, maaf aku ga sempet nyiapin makanan untuk kamu, tapi aku tinggalkan uang di laci biasa ya untuk kamu beli makan. Pesan dari Vivi.
Beberapa menit kemudian ponselnya kembali berbunyi notifikasi pesan.
Aku tunggu di cafe belakang kantor ya sekarang! Aku share lokasinya.
Ternyata pesan chat dari Reihan.
Reihan sengaja ingin makan siang dengan Vivi ditempat yang biasa jarang ada karyawan kantor lainnya mampir ke cafe itu, karena cukup jauh tempatnya.
Aku pikir balesan dari mas Dicky, ternyata Reihan, aduh mana cukup jauh tempatnya, mana cukup waktu kalau aku jalan kaki, hah! ya sudah aku pesan ojek online saja! Gerutu Vivi dalam hati.
Vivi kemudian beranjak dari ruangannya menuju tempat yang Reihan janjikan.
"Hai!" sapa Reihan.
"Hai!" jawab Vivi sambil tersenyum manis.
"Maaf ya harus datang kesini jauh dari kantor!"
"Ga papa kok mas, aku pakai ojek online barusan."
"Maaf kalau di kantor aku cuek atau kita pura pura saling tidak mengenal, kamu tahu kan aku tidak mau kamu menjadi bahan gunjingan karyawan lain!"
"Iya mas, aku paham! Ga papa santai aja mas" saut Vivi tersenyum.
"Gimana kerjaannya? Bisa?"
"Alhamdulillah bisa mas, untungnya aku paham kalau hanya memasukan data data ke dalam komputer! Dan kamu tahu mas, ternyata Bu Teni itu temen sekolah aku waktu SMK!"
__ADS_1
"Oh iya? Baguslah kalau begitu, aku tidak salah memilih dia untuk menjadi patner kerja kamu!"
"Iya makasih banyak ya mas, aku ga tahu harus ngomong makasi berapa banyak lagi ke kamu!" saut Vivi tersenyum.
Pembicaraan mereka terhenti karena ada waiters yang menghampiri mereka untuk menuliskan makanan yang akan mereka pesan.
"Kamu ga usah sungkan Vi!" saut Reihan memegang punggung Vivi.
Vivi pun tersenyum dengan sikap Reihan. Entah beberapa hari ini dia menjadi memiliki perasaan aneh jika Reihan menyentuhnya.
"Aku ikhlas bantuin kamu! Sesungguhnya aku tidak ingin melihat kamu bekerja malam seperti kemarin, pekerjaan itu memiliki resiko yang cukup besar untuk kamu! Dan kamu tidak cocok bekerja disana!"
"Iya makasi mas!"
"Kamu terlalu banyak mengucapkan kata terima kasih mas, carilah kata kata yang lain untukku." canda Reihan sambil tersenyum.
"Ah, tapi memang kata kata itu spontan keluar dari mulutku untukmu!"
"Ya sudah minum dulu!"
Kebetulan waiters sudah mengantarkan minumannya.
"Bagaimana kabar suamimu?"
"Mungkin dia baik baik saja mas, entahlah akhir akhir ini aku juga jarang bertemu dengannya, semalam saja dia tidak pulang kerumah, dan baru membalas pesan chat aku, katanya dia baru pulang karena ada banyak kerjaan."
"Apa dia sudah mulai bekerja?"
"Dia bilang akan sedang mengerjakan project cafe bersama temannya!"
"Akhirnya dia mendapat kerjaan, cepat atau lambat kamu juga mungkin tidak akan bekerja lagi!"
"Kenapa begitu mas?"
"Kan suami kamu sudah mendapatkan perkerjaan?"
"Engga kok mas, aku biasa bekerja walaupun suami aku bekerja, selama masih bisa ya kenapa engga?"
"Tapi bukannya biasanya seorang isteri hanyaa diam saja dirumah, menunggu suami pulang kerja?"
"Aku ga gitu mas, lagipula selama kita belum dikasi momongan, aku akan jenuh kalau cuma diam dirumah terus."
"Oh gitu ya! Memang kamu wanita hebat Vi!" puji Reihan.
"Biasa aja kali mas, banyak kan perempuan lebih memilih bekerja daripada berdiam diri dirumah." Vivi tersenyum.
Mereka melanjutkan percakapannya sambil menikmati makan siang yang sudah tersaji di meja.
"Mas besok mau ga antar aku ke tempat kemarin aku bekerja? Soalnya aku belum sempat pamitan pada mamih Rara dan juga teman teman yang lain disana."
"Boleh, sepulang ngantor ya! Kebetulan aku juga lagi ga ada kerjaan!"
"Iya mas."
__ADS_1
"Mas sebaiknya aku balik ke kantor duluan ya, aku tidak mau kelamaan istirahat di hari pertama aku bekerja!" ucap Vivi sesaat dia menyelesaikan makan siangnya.
"Ya sudah, silahkan! Aku masih mau disini." saut Reihan
Vivi pun berlalu meninggalkan Reihan di cafe itu sendirian.
Aku semakin mengagumi mu Vi, sayang kita terlambat bertemu! bathin Reihan.
Sesaat dia keluar dari cafe dia mendengar ada suara yang memanggil namanya.
"Vivi!"
Vivi spontan menengok ke arah sumber suara.
"Gladies..." ucap Vivi.
"Hai"
Merekapun berpelukkan melepas rindu, cipika cipiki pastinya.
"Wahh..sudah jadi wanita karier rupanya!" puji Gladies.
"Iya alhamdulillah dies..kamu kemana aja? Selama aku bekerja di tempat kamu kamu ngilang gitu aja! Nomer ponsel kamu ga aktif!" saut Vivi cemberut.
"Iya say, aku diajak suamiku liburan beberapa minggu diluar negeri, jika aku sedang bersama suamiku aku memang sengaja menonaktifkan ponselku" saut Gladies tersenyum lebar.
"Wah...senangnya..yang baru pulang dari luar negeri..!" saut Vivi mulai tersenyum.
"Kamu kerja dimana sekarang?"
"Di kantor N" di jalan Jakarta sana!"
"Oh, syukurlah Vi akhirnya kamu bisa terlepas dari pekerjaan disana!"
"Iya dies..alhamdulillah, aku dipekerjakan dikantor itu juga berkat salah satu tamu ku!"
"Oh ya benarkah? Bagus donk! Tapi kalau kayak gitu tuh berarti tamu kamu itu ada perasaan lain padamu!"
"Ah kamu yang benar aja, lagipula dia salah seorang manager disana, mana mungkin dia ada perasaan lain padaku yang hanya seorang pemandu lagu di tempat karaoke!"
"Eh kamu bersyukur, itu tandanya orang itu diam diam menyukaimu, sampai bela belain kamu untuk bekerja di tempatnya!"
Vivi hanya tersenyum menanggapi perkataan Gladies.
"Maaf ya dies, aku harus segera balik kantor nih! Uda abis jam istirahatku!"
"Ok, nomer ponselku masih sama kok, kamu kabarin aku nanti ya!"
"Siap say!"
Mereka kemudian berpelukan dan mengakhiri pertemuannya. Vivi segera lanjut untuk kembali ke kantor. Disepanjang perjalanan dia juga memikirkan perkataan Gladies barusan.
Benarkah kalau Reihan ada perasaan lebih terhadapku? Bathin Vivi.
__ADS_1
Bersambung...