
Menjelang siang Vivi sudah di pindahkan ke ruang perawatan, akhirnya Vivi membuka matanya, perlahan dia melihat ke sekitar ruangan itu, samar dia lihat wajah ibu nya yang memang sedang duduk di sampingnya, menunggu Vivi agar segela pulih kembali.
"Sayang..alhamdulillah akhirnya kamu sadar nak.." saut ibu sambil mengusap air matanya dan tersenyum melihat Vivi akhirnya membuka matanya.
"Ibu, aku dimana?" tanya Vivi heran.
"Kamu di rumah sakit sayang.." saut Ibu.
"Ah..kepalaku..rasanya sakit Bu.." rintih Vivi.
"Jangan dulu banyak bergerak ya, ibu akan panggilkan dokter!" saut Ibu.
Ayah dan Dicky juga Arief juga sedang berada di ruangan itu, ruang perawatan VIP yang Reihan pesankan untuk perawatan Vivi. Mereka sontak menghampiri Vivi.
Ibu kemudian menekan tombol yang ada di samping ranjang, tak berapa lama dokter dan perawat pun datang.
"Maaf pak bu, apa bisa yang lain keluar dulu, dokter mau memeriksa pasien nya agar tidak mengganggu, hanya boleh satu orang saja yang menemani pasien saat ini." saut perawat.
"Baiklah sus." jawab ibu Vivi.
"Nak Dicky biarkan ibu saja ya yang menunggu Vivi diperiksa oleh dokter?" tanya ibu pada Dicky.
"Baik bu kalau begitu saya akan keluar dulu." saut Dicky yang kemudian disusul oleh ayah Vivi dan juga Arief.
Beberapa menit dokter memeriksa Vivi, "Nyonya Vivi baik baik saja bu, tidak perlu khawatir, hanya perlu perawatan dan penyembuhan pada luka bekas jahitannya saja, wajar kalau masih terasa sakit di bagian yang terluka, karena luka nya memang cukup dalam." saut dokter ramah.
"Terima kasih dok" saut ibu Vivi.
Dokter beserta suster pun kemudian berlalu dari ruangan Vivi.
Keluarganya kemudian masuk kembali melihat keadaan Vivi.
"Bagaimana bu? apa kata dokter?" tanya Dicky.
"Alhamdulillah dokter bilang kalau Vivi baik baik saja nak, hanya saja masih perlu perawatan lebih di bekas luka jahitannya." saut Ibu.
"Syukurlah.." ucap Dicky dan ayah bersama.
"Sayang, bagaimana keadaan mu?" tanya Dicky sambil menggenggam jemari Vivi.
"Aku baik baik saja kok mas," saut Vivi tersenyum.
__ADS_1
"Cepat sembuh ya! semua orang merindukanmu!" timpanya.
Vivi mengangguk tersenyum. Tak berapa lama suster datang membawakan makanan untuk Vivi.
"Makan ya? aku yang suapin?"ucap Dicky.
Dicky kemudian menyandarkan tubuh Vivi pelan pelan pada ranjang yang disanggah beberapa bantal, dia membuat Vivi senyaman mungkin saat duduk di ranjangnya, dia mungkin merasa bersalah terhadap Vivi sekarang ini, makanya dia terlihat lebih perhatian pada Vivi.
"Bu, yah maaf kalau Vivi membuat kalian semua khawatir!" ucap Vivi lirih.
"Iya sayang, kamu memang membuat kami semua khawatir, tapi kami senang karena kamu mampu berjuang nak!" saut ayah Vivi tersenyum.
"Iya kak, ibu menangis terus saat diberi tahu kalau kakak kecelakaan!" ucap Arief mendekat ke arah Vivi.
"Iya maaf kan kakak ya!" ucap Vivi sambil memegang tangan Arief.
"Yang banyak makan nya kak, biar bisa cepet pulang!" timpa Arief.
Vivi dan Dicky kemudian tersenyum.
"Kakak mu pasti akan cepat pulang Rief." ucap Ibu.
Vivi sudah selesai makan, dan dia harus minum obat yang diresepkan oleh dokter.
"Sayang, aku mau izin keluar sebentar ya, kasian Ayah, Ibu dan Arief dari tadi pagi belum makan karena mengkhawatirkan mu! aku mau beli makanan dulu untuk mereka!" ucap Dicky.
"Iya baiklah mas, maaf merepotkan mu!" ucap Vivi.
"Yah, bu saya pamit sebentar, titip Vivi ya!" ucap Dicky.
"Iya tenang aja nak, kami disini pasti menjaganya dengan baik." saut Ayah.
Dicky kemudian berlalu pergi dari ruangan itu, di tengah perjalanan dia cek ponsel nya yang sedari tadi pagi berdering, dia mengabaikan nya karena memang perasaan khawatir dan bersalah berkecamuk dalam dirinya sehingga dia tidak sempat mengangkat telepon yang sedari pagi berdering, 21 panggilan tak terjawab dari Sisca, Raisa dan juga nomer kantor.
Pertama tama Dicky menelepon Sisca terlebih dahulu untuk meminta maaf dan mengabarkan bahwa isterinya mengalami kecelakaan. Akhirnya Sisca yang dengan penuh rasa iba pun dia mengerti yang sedang di hadapi Dicky, dan Sisca pun berniat menengok Vivi nanti selepas pulang kantor ke rumah sakit.
Setelah selesai urusan dengan Raisa, Dicky pun mengabarkan kecelakaan Vivi pada Raisa, kali ini dia hanya mengabarkan lewat pesan dari ponselnya.
Entah apa yang ada di pikiran Raisa karena dia pun sangat mengerti sekali pada keadaan Dicky sekarang ini, dia tidak pernah cemburu atau mempermasalahkan Dicky dengan isterinya, hanya saja setiap Raisa ingin bersama Dicky, Dicky harus bisa meluangkan waktu untuknya, selebihnya dia tidak pernah mempermasalahkan apapun.
Sesaat setelah Dicky pergi, datang Reihan ke rumah sakit, dia tidak lupa membawa serta Teni bersamanya serta membawa satu parcel buah buahan untuk Vivi.
__ADS_1
Tok..tok..tok.suara pintu yang diketuk Reihan dari luar.
Reihan pun langsung membuka pintu ruang perawatan Vivi karena dia tahu disana pasti ada Dicky yang sedang menunggu nya.
"Selamat siang om, tante!" sapa Reihan lalu dia menghampiri kedua orang tua Vivi dan memperkenalkan dirinya.
"Perkenalkan om saya Reihan, rekan kerja Vivi di kantor!' ucap Reihan pada ayah Vivi sambil mengulurkan tangan.
Reihan dan Teni di sambut dengan baik dan ramah oleh orang tua Vivim
"Selamat siang nak Reihan!" saut ayah Vivi menerima uluran tangan Reihan sambil tersenyum ramah.
Begitu juga dengan ibu dan juga Arief mereka tersenyum ramah pada Reihan dan Teni.
"Saya Teni Tante, saya teman Vivi, waktu di sekolah SMK dulu dan akhirnya sekarang sekantor! ucap Teni memperkenalkan dirinya.
"Terima kasih, nak Reihan, nak Teni sudah mau menjenguk Vivi.
Reihan terlihat sumeringah akhirnya dia bisa melihat lagi senyuman Vivi walaupun sedang berbaring di ranjang pasien.
Kemudian Reihan dan Teni menghampiri Vivi di ranjangnya.
Hai, Vi, gimana kondisi kamu sekarang? tanya Teni yang juga terlihat bagia tidak sepanik tadi pagi.
"Aku baik Ten, terima kasih sudah mau datang! Terima kasih Pak Reihan" saut Vivi tersenyum.
"Kamu apaan sih, kamu harusnya lebih berterima kasih sama Pak Reihan karena dia nyawa kamu bisa tertolong!" cablak Teni.
"Upss.." dia menutup mulutnya!
Reihan menyenggol tangan Teni, berharap dia tidak mengatakannya, malah keceplosan.
"Apa?" tanya Vivi heran.
"Ah, Teni becanda kok Vi, jangan dipikirkan kata kata dia tadi!" ucap Reihan.
"Iya, lagipula alhamdulillah keadaan kamu sudah baikan, tadi kita hampir saja pingsan menunggu kamu lama di ruangan ICU!" timpa Teni.
"Jadi kalian berdua nungguin aku? maaf karena aku tidak tahu, maaf juga sudah membuat kalian cemas!" ucap Vivi.
"Ga papa Vi, yang penting sekarang kamu sudah sadar, dan cepat pulih ya!" saut Reihan.
__ADS_1
Bersambung...