Sabar Yang Melampaui

Sabar Yang Melampaui
Titik awal perselingkuhan


__ADS_3

Vivi melepaskan tangannya perlahan dari tangan Reihan, tidak menjawab apa yang Reihan ucapkan padanya, dia merasa tidak enak hati, dengan apa yang dilakukannya, niat Vivi memang untuk mencari uang tambahan dengan menemani Reihan jalan, tapi dia tidak berpikir sedikitpun untuk berpindah kelain hati selain suaminya Dicky.


"Maaf mas, aku permisi ke toilet dulu." alasan Vivi untuk melepaskan tangannya dari Reihan.


"Oh iya" jawab Reihan pelan.


Dia semakin penasaran dengan Vivi, entah ada perasaan lain dihatinya yang begitu aneh, merasa sangat senang bila bertemu dengan Vivi, mungkin sudah mulai tumbuh benih benih cinta dihati pria itu.


Ah kenapa rasanya begini, sama ketika aku merasakan jatuh cinta dulu, bersemangat sekali kalau bertemu dengan Vero, gumamnya dalam hati.


Beberapa menit kemudian Vivi duduk kembali dimejanya yang sudah tersaji minuman diatasnya.


Vivi kemudian meminum minuman yang sudah dia pesan tadi secara perlahan, dia mulai canggung dengan sikap Reihan terhadapnya.


"Ver, apa kamu tidak bisa meninggalkan suami kamu itu? Dia sudah keterlaluan banget sama kamu!" ucap Reihan terhadapnya.


"Aku ga bisa mas, aku baru saja menikah dengannya empat bulan terakhir ini, aku tidak mau menjadi janda untuk yang kedua kalinya." saut Vivi.


"Jadi sebelumnya kamu pernah menikah?" tanya Reihan, dia semakin penasaran dengan wanita yang berada didepannya itu.


"Ya, sudah mempunyai satu anak, dan anaku dibawa ayahnya." jawab Vivi lirih.


"Anak kamu laki perempuan? Sekarang berapa taun usianya?" tanya Reihan lagi.


"Laki laki mas, baru 3tahun, tapi mantan suamiku tidak mengijinkan aku untuk menemuinya, sudah ada satu tahun ini aku tidak bertemu dengan anaku." jawab Vivi kemudian.


"Ko gitu, itu kan hak kamu untuk bertemu dengan anak kamu, lagipula anak kamu masih balita, dia ga berhak memisahkan anak dari ibunya!" saut Reihan merasa jengkel.


"Iya sih mas, tapi itu salah satu syarat kalau aku mau berpisah darinya." jelas Vivi.


Reihan yang semakin dibuat penasaran dengan kehidupan Vivi pun terus melanjutkan pertanyaannya.


"Apa alasan kamu ingin sekali berpisah dari mantan suami kamu sehingga kamu rela mengorbankan anak kamu hidup dengannya?" tanya Reihan kemudian.


"Itu karena aku sudah muak dengan perilaku mantan suamiku yang sering gonta ganti perempuan, selingkuh dibelakangku." saut Vivi geram saat menceritakan masalalunya.


"Pantas saja, sayang banget wanita seperti kamu cuma disia siakan, suatu saat orang yang telah menyianyiakan kamu pasti menyesal telah meninggalkan wanita seperti kamu!" ucap Reihan kembali memegang tangan Vivi.


Vivi merasa tidak enak dengan penolakan yang kedua kalinya, untung saja ada waiters yang datang untuk mengantarkan makanan pesanannya sehingga Reihan langsung menarik kembali tangannya.


Mereka kemudian mengobrol asyik sambil menyantap makanannya.

__ADS_1


"Aku antar kamu pulang ya!" ucap Reihan ketika sudah selesai dengan makannya.


"Iya mas." saut Vivi enteng.


"Ya sudah nanti terlalu subuh kamu pulang, sebaiknya kita pulang sekarang." timpa Reihan.


Vivi mengangguk tanpa menjawabnya, yang kemudian mereka beranjak dai mejanya untuk kemudian pulang.


Diperjalanan Reihan memberikan uang pada Vivi satu juta rupiah, uang yang cukup banyak kalaupun Vivi bekerja mungkin butuh waktu empat hari untuk menghasilkan uang senilai itu.


"Mas ini uang untuk apa? banyak banget?" tanya Vivi heran.


"Untuk uang jajan kamu, beberapa hari ini aku akan keluar kota, dan tidak akan bertemu kamu, jadi itu untuk bekal kamu!" jawab Reihan.


Vivi masih heran dengan kelakuan pria didepannya ini, kenapa sepertinya dia tidak sayang memberikan uangnya kepada wanita yang baru dikenalnya beberapa hari ini, bahkan perjumpaan mereka baru tiga kali.


"Tapi mas, ini kebanyakan, sayang uangnya nanti isteri kamu marah lagi jatahnya berkurang." saut Vivi tersenyum.


"Sudah ambil aja, ga usah pikirin orang lain kalau kamu sedang bersamaku." saut Reihan memegang tangan Vivi.


"Ya sudah kalau gitu aku terima ya! Terimakasih banyak ya mas" saut Vivi girang.


Apalah dayanya ketika menemukan uang yang lumayan banyak tanpa harus capek bekerja, uang memang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang, Vivi yang menerimanya juga bukan tanpa alasan, dia ingin mengumpulkan uang yang banyak dari hasil kerjanya supaya dia bisa membuka usaha agar dia berhenti dari pekerjaannya sekarang yang dibilang hina untuk kebanyakan orang.


Sesampainya dirumah dia tidak mendapati suaminya yang biasanya sudah tertidur di kamarnya.


Lho mas Dicky kok ga ada, tumben ga seperti biasanya? bathin Vivi.


Kemudian Vivi langsung menghubungi nomer ponsel suami nya, tapi tidak diangkatnya, dan dia baru ingat kalau hari sudah menjelang subuh, mungkin suaminya itu masih tertidur pulas. Lalu dia putuskan untuk mengirim pesan saja. Berharap suaminya bisa membacanya dan pulang dengan selamat. Namanya seorang isteri pasti akan merasa khawatir terjadi apa apa pada suaminya, karena suaminya tidak memberi kabar apapun padanya.


*


Disisi lain Dicky yang memang sedang melewati malam bersama Raisa di sebuah club' malam di kota Bandung.


Raisa seorang wanita yang menjadi patner kerja di cafe yang akan dikelola oleh Dicky bersama Sisca.


Awal pertemuan mereka mungkin biasa saja seperti patner kerja lainnya, akan tetapi seiring berjalannya waktu yang memang mereka bertukar nomer ponsel tadinya untuk kepentingan kerja, tapi kemudian mereka saling bertegur sapa dan mulai menghangat seiring waktu berjalan.


Bentuk perhatian dari Raisa walaupun itu kecil, hanya di chat whatsapp yang bertanya sudah makan? Atau lagi ngapain? Membuat hati Dicky meleleh, Raisa adalah sosok wanita yang memang cantik, modis, sexy dan pintar, membuat laki laki manapun yang dekat dengannya tidak akan bisa menolak pesonanya.


Sore itu ketika Dicky mengantarkan Vivi untuk bekerja, dia mengatakan akan langsung pergi ke tempat Ardi, memang benar dia ketempatnya Ardi dan itu untuk bertemu dengan Raisa.

__ADS_1


Mas kita ketemuan yuk? Chat dari Raisa.


Boleh dimana? balas Dicky.


Terserah kamu dimana tempatnya, nanti aku kesana.


Baiklah sore nanti aku share lokasinya ke kamu.


Ok mas..


Maka merekapun bertemu di cafe milik Ardi.


"Hai bro!" Dicky menyapa Ardi sesampainya di cafe.


"Hai apa kabar kamu? Udah lama euy ga kesini?" tanya Ardi seraya berjabat tangan dengan Dicky.


"Iya nih lagi sibuk urusan kerjaan!" jawab Dicky santai sembari duduk di sofa tempat Ardi mengawasi semua pekerjanya.


"Uda kerja nih sekarang?" tanya Ardi sambil memanggil satu waiters pegawainya untuk memesankan minuman dan makanan untuk Ardi.


"Belum buka sih bro tempatnya, project sama Sisca yang waktu itu." saut Dicky.


"Oh, pesen dulu deh biar santai!" titah Ardi.


Dickypun memesan minuman dan makanan ringan di cafe itu.


"Sengaja kesini apa uda ada janji sama seseorang?" tanya Ardi.


"Uda ada janji mau ketemu Raisa, pegawainya Sisca juga." saut Dicky.


"Ciehhh, hati hati lo, pindah kelain hati, uda move on rupanya!!" ledek Ardi sambil tertawa.


"Ada ada aja kamu!" jawab Dicky tersenyum.


Beberapa menit berlalu Raisa pun datang dengan setelan feminimnya, sangat sexy dengan one shoulder dress yang dia kenakan, menambah kesan cantik dan exotis, juga high heels yang menambah jenjang kakinya, membuat semua orang dicafe itupun menatapnya.


"Jangan berisik, tuh dia dateng!" ucap Dicky mengangguk ke arah wanita yang sedang berjalan ke arah mereka berdua.


Ardipun memandangi wanita yang tidak lain adalah Raisa itu dai ujung rambut sampai ujung kaki.


Pantas saja si Dicky bisa pindah kelain hati, lah wanita barunya modelnya kayak begini...! gerutu Ardi dalam hati.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2