
"Cieehhh,, ada yang uda move on nampaknya, srigala mulai menampakan taringnya lagi nih..!" ledek Ardi yang memang sedari tadi dia sudah memperhatikan Dicky sejak keluar dari mobilnya Raisa.
"Ssstttt..berisik lu!!" saut Dicky sambil merebahkan dirinya di sofa biasa mereka santai.
"Jadi penasaran, kamu ternyata ga pulang ya semalam? Berarti sama.." belum sempat Ardi menyelesaikan ucapannya sudah dipotong oleh Dicky.
"Alahhhh..kamu kayak yang belum pernah aja!!" saut Dicky agak malu.
"Wow, Dicky yang aku kenal bucin banget sama Vivi, sekarang pindah ke lain hati." ledek Ardi.
"Entahlah, lagian siapa sih yang mampu menolak cewek secantik dia, coba kamu yang ada diposisi aku gimana?" tanya Dicky tersenyum.
"Eh, emang kamu pikir aku cowok apakah??" saut Ardi tertawa.
"Alah..sama aja kalee..buktinya sama si intan itu...???" ledek balik Dicky.
"Hahahaha..."
Kemudian merekapun tertawa dengan ulahnya. Begitulah ternyata obrolan para laki laki yang selingkuh diluaran sana.
Mereka tidak menyesali perbuatannya sedikitpun, malah merasa bangga memiliki lebih dari seorang isteri untuk mereka bersenang senang, entah itu ada perasaan atau hanya sebatas obsesi belaka.
*
Dirumah Vivi yang baru saja membuka mata dari tidurnya langsung mengecek ponselnyaa dan berharap ada pesan masuk dari suaminya.
Syukurlah mas Dicky baik baik saja, kalau begitu aku harus segera membersihkan diriku dan bersiap menunggu kepulanganmas Dicky, bathinya.
Segera saja Vivi meninggalkan tempat tidurnya, membereskannya, lalu beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Tak berapa lama Dicky datang dengan membawa makan siang yang dia beli dari rumah makan padang tadi sebelum beranjak pulang.
Vivi masih berada dikamar untuk memolis dirinya dengan make up tipis sehari harinya ketika Dicky membuka pintu kamarnya.
"Mas, akhirnya kamu pulang juga." ucap Vivi langsung mencium tangan suaminya.
"Iya maaf ya, aku sampai ga pulang karena aku ketiduran semalam abis minum sambil maen ps di rumahnya Frans sampai pagi." saut Dicky mencium kening isterinya.
"Ga papa sih mas sebenarnya kalau ponsel kamu aktif dan kasi kabar ke aku, aku cuma khawatir takut terjadi apa apa sama kamu!" ucap Vivi.
"Ya uda ayo makan, aku sengaja beli makanan kesukaan kamu tadi diluar sebelum pulang, biar kamu ga usah capek capek masak." saut Dicky.
"Ya uda yuk kedapur." saut Vivi.
__ADS_1
Mereka berdua kemudian menuju dapur dan Vivi segera menyiapkan nasi padang beserta lauknya babat dan terong balado.
Selesai makan seperti biasa merekapun kemudian bersantai di ruang televisi, Dicky yang merokok setelah makan ditemani Vivi yang bersantai menonton chanell favoritenya.
"Kamu ga usah kerja ya malam ini!" ucap Dicky pada isterinya.
"Kenapa memangnya mas?" saut Vivi.
"Aku mau ngajakin kamu ke suatu tempat.
Entah ada angin apa, ga seperti biasannya suamiku ini ngajak jalan, tumben, bathin Vivi dalam hati.
"Malah Bengong!" ucap Dicky membuyarkan lamunan Vivi.
"Ga mau???" tanyanya.
"Mau donk mas, aku cuma heran aja kamu ngajakin jalan, aku perasaan ga ulang tahun." saut Vivi tersenyum.
"Emang aku ngajakin kamu jalan cuma pas kamu ulang tahun aja?" ucap Dicky.
"Kan memang kamu ulang tahunpun aku belum pernah ngajakin jalan?" timpanya menyeringai.
"Ya bukan itu maksud aku mas..." saut Vivi takut suaminya akan marah dengan apa yang dia ucapkan.
"Iya makasih banyak mas..!" saut Vivi yang kemudian memeluk suaminya.
Menjelang sore mereka bersiap untuk pergi ke tempat yang sebelumnya baru terpikirkan Dicky sesaat setelah dia berpisah dengan Raisa, mungkin ada rasa bersalah dihatinya atau mungkin hanya untuk menutupi perselingkuhannya saja.
Vivi berdandan seperti biasanya dia memakai celana jeans dan kaos yang ditutupi blazer hitamnya, juga flatshoesnya yang mencerminkan memang dia hanya wanita sederhana yang tak sempurna, dia hanya berusaha tampil senormal mungkin dihadapan suaminya untuk menutupi identitasnya sebagai perempuan pemandu lagu.
Mini Dress dan juga high heels yang dia punya sebagian pemberian dari Gladies dan hanya beberapa yang dia beli sendiri disimpannya di loker para ladies, agar suaminya tidak curiga dengan barang barang tersebut yang memang sebelumnya belum pernah Vivi miliki.
"Uda siap sayang?" tanya Dicky yang kemudian merangkul pinggang Vivi.
"Uda mas." sautnya.
"Ya uda ayo!" timpa Dicky yang kemudian mereka berjalan keluar rumah.
Mereka pergi mengendarai motor yang biasa Dicky pakai, tak lupa sebelumnya mengunci rumah rapat rapat.
"Sebenarnya kita mau kemana sih mas?" tanya Vivi yang heran ditengah perjalanan, karena sebelumnya dia belum pernah melewati jalan itu.
"Ada deh, kan surprise!" saut Dicky yang masih mengemudi.
__ADS_1
"Kamu ada ada aja deh, pake surprise segala!" saut Vivi yang mengeratkan pelukannya kepada Dicky.
Satu jam lebih perjalanan merekapun sampai pada tempat yang tuju.
"Sampai..." ucap Dicky yang kemudian menghentikan laju motornya didepan sebuah restoran yang lumayan mewah.
Restoran yang memiliki pemandangan yang indah dari atas ketinggian, dan gemerlap lampu kota Bandung yang menawan. Sungguh membuat hati Vivi terpesona dibuatnya.
"Wah mas indah banget viewnya!" ucap Vivi yang mengikuti Dicky berjalan menuju restoran tersebut.
"Iya kan surprise." saut Dicky yang kemudian menggandeng tangan isterinya.
Dicky sengaja memilih meja diluar resto agar bisa menikmati makan malamnya dihiasi indahnya pemandangan dan gemerlap kota. Tak berapa lama seorang waitress datang menghampiri mereka.
"Selamat malam pa, bu, ini untuk menu nya!" sapa seorang waitress ramah yang kemudian memberikan buku menu restorannya.
"Mau makan apa?" tanya Dicky sambil melihat lihat menu yang ada di bukunya.
"Emm..samain aja lah seperti yang kamu pesan mas!" saut Vivi tersenyum.
"Nah gitu setiap ditanya jawabnya samain aja, giliran disamain, salah, trus manyun!" saut Dicky tersenyum.
"Iya deh aku pesen Tenderloin aja ya mba, medium sausnya blackpaper." ucap Vivi kepada waitress tersebut menyampaikan sedetail mungkin agar waitress nya tidak terlalu banyak bicara.
"Untuk minumnya original mojito ya!" timpanya.
"Kalau saya Iga bakar aja mba, minumnya teh tawar panas." saut Dicky menambahkan.
Kemudian waitress itupun berlalu setelah sebelumnya menuliskan pesanannya.
"Gimana, indahkan sayang?" saut Dicky sambil memegang erat tangan Vivi.
Tumben ya banyakan kata sayangnya? Guman Vivi sambil tersenyum.
"Iya mas, indah banget aku suka banget.." jawab Vivi sambil tersenyum.
"Maaf ya selama ini aku uda banyak nyakitin kamu, dan maaf juga kalau aku masih belum dapat kerjaan, jadi kamu yang harus capek bekerja.!" ucap Dicky terdengar indah ditelinga Vivi.
"Iya mas, aku ga papa kok, aku ikhlas kerja buat kita, dan kamu sabar ya, mungkin waktunya belum tepat, nantu juga kalau uda pas, kamu pasti dapatin lagi kerjaan yang cocok buat kamu mas..." saut Vivi menenangkannya.
Kemudian malam itu mereka menikmati makan malamnya, dinner romantis yang sebelumnya memang belum pernah Vivi rasakan selama dia berpacaran ataupun setelah menikah dengan Dicky.
Bersambung....
__ADS_1