Sabar Yang Melampaui

Sabar Yang Melampaui
Reihan Rajatta Pratama


__ADS_3

Vivi membiarkan Dicky dengan kemarahannya, dia tidak mau kalau terjadi sesuatu lagi padanya kalau membahas tentang baju itu.


Sesaat sebelum Vivi pergi bekerja dia kemudian menghampiri Dicky untuk meminta maaf padanya.


"Mas aku pamit kerja, dan maaf untuk hal yang tadi aku sudah membuatmu marah." ucap Vivi pada suaminya sambil mengulurkan tangannya untuk salim.


Tidak ada sepatah katapun yang terlontar dari mulut Dicky padahal Vivi sangat ingin mendengar penjelasan dari mulutnya. Tapi Vivi tidak memperpanjang masalah itu, membiarkan saja Dicky dengan diamnya, lalu beranjak keluar untuk segera menuju tempat kerjanya.


Terlintas didalam benak Vivi bagaimana kalau memang benar Dicky selingkuh dibelakangnya? Apa yang harus dia lakukan kali ini? Apa dia harus mengalami hal yang sama seperti apa yang pernah terjadi dengan suami pertama nya yang membuat pernikahannya hancur seketika karena orang ketiga.


Sepanjang perjalanan Vivi hanya meratapi nasibnya, pernikahan yang kandas itu karena perselingkuhan suaminya, dan sekarang apa yang harus dia lakukan untuk mempertahankan suaminya itu.


Aku mungkin tidak secantik wanita lain, tubuhku tidak sesexy wanita lain, kulitku juga tidak putih, aku juga tidak mempunyai harta yang berlimpah, mungkin itu alasannya kenapa suami ku selingkuh dengan wanita lain yang lebih darinya, apa yang harus aku lakukan untuk mengjindari perselingkuhan itu lagi? bathin Vivi bermonolog.


Sesampainya di tempat kerja pun Vivi yang biasanya ceria dan bercanda dengan ladies ladies lain menjadi lebih pendiam, dia masih memikirkan tentang suaminya itu.


"Vero, mas Reihan tuh uda nunggu kamu di ruang Vip 3, cepet siap siap ya, jangan ngelamun aja!" saut mami Rara yang menghampiri Vivi dan membuyarkan lamunannya.


"Hah, iya mi, aku segera kesana!" saur Vivi tersenyum dan segera beranjak dari room ladies itu.


Ada rasa bahagia di hati Vivi ternyata Reihan yang membokingnya malam ini, dia tidak akan merasa was was lagi takut kejadian yang seperti kemarin akan menimpanya lagi.


Vivi yang tiba di ruangan yang dituju langsung menyapa Reihan, dengan cipika cipiki khas orang yang bersahabat. Vivi sudah tidak canggung lagi sekarang dengan Reihan mungkin memang karena dia sudah cukup nyaman bersama Reihan.


"Ni kenalin, sahabat aku Wisnu!" sappa Reihan memulai percakapan mereka.


"Hai, aku wisnu!" sapa teman Reihan tersebut mengulurkan tangannya.


"Hai, panggil aku Vero!" saut Vivi.


"Mas ga boking ladies?" tanya Vivi.


"Oh kamu yang namanyah Vero, Belum sih, tapi coba rekomen kamu aja deh, ga usah showing!" saut Wisnu.

__ADS_1


"Iya ver, panggilin temen kamu aja lah langsung buat dia nih, kaku orangnya!" ucap Reihan tersenyum meledek Wisnu.


"Ok deh, bentar aku bilang mami ya!"


Beberapa menit kemudian datang Chika, dia seorang ladies yang memang sudah memiliki anak satu, dia juga seorang single mom yang ditinggal meninggal oleh suaminya, kehidupannya dramatis sama seperti ladies lainnya yang kebanyakan karena masalah ekonomi dan keterbatasan keterampilan juga pendidikan.


"Hai, aku Chika!" sapa Chika pada Reihan dan Wisnu didepannya.


Merekapun kemudian bersalaman dan memperkenalkan dirinya.


Seperti biasa mereka memesankan minuman para tamu dan memilih lagu apa yang ingin mereka nyanyikan.


Disela sela Chika dan Wisnu yang sedang bernyanyi berduet, Reihan memperhatikan Vivi yang memang lebih banyak diam ini, tidak seperti hari hari yang pernah mereka lewatkan sebelumnya.


"Ada apa Ver?" tanya Reihan padanya.


"Ga ada apa apa kok mas, emang kenapa?" tanya balik Vivi.


"Nama asliku Vivi mas." saut Vivi tersenyum manis.


"Lebih enak rasanya kalau aku panggil kamu Vivi, kamu ga keberatan kan?" tanya Reihan.


"Iya boleh mas." saut Vivi.


Sambil menuangkan minuman ke dalam gelas yang sudah kosong, Vivi kemudian bercerita kepada Reihan tentang apa yang sedang terjadi diantara dirinya dan juga suaminya.


Memang sangat tidak baik menceritakan aib rumah tangga kepada orang lain, apalagi itu adalah laki laki lain, tapi apalah daya, rasanya unek unek dihati nya sudah tidak bisa lagi ditahan.


"Kemarin saat kita pulang dari tempat makan, suamiku ga pulang mas, dia pulang siangnya, dan dia bilang ketiduran dirumah temannya karena mabuk, tapi setelah aku mencuci pakaiannya, pakaiannya itu wangi parfum wanita, yang jelas itu bukan parfum yang biasa dipakainya." cerita Vivi pada Reihan.


"Lalu?" tanya Reihan penasaran dengan cerita Vivi yang terhentu karena Vivi meneguk dulu minuman beralkoholnya.


"Lalu aku bicara dan bertanya padanya, tentang bajunya yang wangi parfum wanita itu, tapi dia malah marah, berteriak kasar dan menggebrak meja, yang membuatku semakin curiga padanya." timpa Vivi.

__ADS_1


"Oh..rupanya kamu berpikir suami kamu itu selingkuh dengan wanita lain? Sampai sampai kamu tidak seceria biasanya?" tanya Reihan.


"Iya mas, wajar kan aku curiga kepada suamiku." jawab Vivi.


"Iya itu hal yang wajar Vi, tapi apa sebaiknya kamu berpikir positif dulu, mungkin saja kan dia pergi ke club malam, lalu tak sengaja ada wanita yang mabuk didepannya dan suami kamu hanya respons menahannya, jadi mereka terpaksa harus berpelukan, seperti drama drama korea itu!" saut Reihan tertawa untuk menghibur Vivi.


Tapi perkataan Reihan ada benarnya juga, mungkin saja memang kejadiannya seperti itu, dan Vivi bisa bernafas lega karenanya.


"Sudahlah daripada kamu galau mending kamu nyanyi aja agar bisa melampiaskan juga kekesalan yang ada di hati kamu!" timpa Reihan.


"Iya makasi mas, bebanku sedikit berkurang karena mu!" saut Vivi tersenyum.


"Kalian mau ngobrol aja nih, bukannya kamu kesini untuk bernyanyi ditempat karaoke eh, malah asyik ngobrol!" ledek Wisnu pada Vivi dan Reihan.


"Ah kamu tuh kayak yang ga pernah tahu kalau abg lagi kasmaran gimana!" jawab Reihan yang kemudian merangkul pundak Vivi.


Sentuhan sentuhan seperti itu sudah dia biasa dapatkan dari para tamunya, asal tidak lebih tidak dia permasalahkan, walaupun pada awalnya dia merasa risih, tapi kemudian apalah daya jika semuanya tentang uang, dia tidak bisa menolak kalau hanya rangkulan rangkulan biasa saja, asalkan tidak lebih seperti yang tamu kurang ajar itu.


Dua jam berlalu kegiatan mereka didalam room, asyik bernyanyi, berduet dan sampai berjoget, hingga seorang waitres mengetuk pintu room dan menanyakan apa jam nya mau ditambah atau tidak, maka Reihan pun menjawabnya tidak, dia menghentikannya aktifitasnya untuk kemudian beranjak keluar room dan membayar semua tagihannya.


"Aku tunggu kamu di parkiran ya, aku mau kita makan dulu!" bisik Reihan ketelinga Vivi.


"Iya mas, kalau gitu aku ganti baju dulu dan menghapus make up tebalku ini ya!" saut Vivi sambil tersenyum dan beranjak pergi.


Reihan pun mengganguk tanpa menjawabnya, kemudian dia beranjak keluar ketika sudah membayar semua tagihannya.


Beberapa menit kemudian mereka sudah berada di sebuah cafe yang masih ramai pengunjung walaupun waktu sudah menunjukan tengah malam.


Kemudian memesan makanan dan beberapa menit kemudian makanan sudah disiapkan oleh waiters di mejanya.


Sambil menyantap makanannya Reihan memberikan satu buah kartu nama sebuah perusahaan elektronik disana ada nama yang tercantum "Reihan Rajatta Pratama" manager operasional.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2