
"Ya sudah Vi, karena disini aku ditugaskan untuk mengarahkan tugas tugas kamu bekerja di kantor ini, kita kerja profesional aja ya, walaupun kita ini teman, tapi disini tidak boleh ada yang tahu kalau kita ternyata teman lama, dan jangan sampai ada teman teman yang lain tahu kalau kamu kerja disini atas rekomendasi Pa Reihan." ucap Teni pada Vivi yang menganggukan kepalanya.
Alhamdulillah ternyata aku kerja dengan teman lama waktu di SMA dulu, aku jadi engga canggung kalau ada yang aku ga paham dari pekerjaan baruku, dan semoga orang orang dikantor ini semuanya ramah, bathin Vivi.
Teni adalah teman lama Vivi sewaktu dia sekolah dulu, pertemanan mereka terputus ketika Teni melanjutkan kuliahnya di luar kota untuk mengambil administrasi perkantoran. Dan disinilah dia, bekerja sebagai salah satu staff HRD di kantor milik mertua dari Reihan.
Vivi kemudian diarahkan untuk bekerja di depan komputer, memasukan data data input manual ke dalam komputer. Dulu Vivi sekolah di SMK dengan mengambil jurusan Administrasi perkantoran, jadi setidaknya dia tidak terlalu blank dalam menangani data data yang harus dia kerjakan dan juga karena sebelumnya Vivi lumayan menguasai komputer, Vivi dengan mudah bisa mengerjakan pekerjaan barunya kali ini. Dan keberuntungan Vivi juga dia bisa satu ruangan dengan Teni, jadi dia tidak merasa canggung lagi jika ada yang tidak bisa dia kerjakan.
"Beb, beruntung banget aku bisa ketemu kamu disini, jadi aku ga kaku kalau ada yang aku ga paham dalam pekerjaan ini, karena jujur saja aku baru banget mendapatkan kerja kantoran seperti ini." saut Vivi sambil tetap fokus ke layar komputernya.
"Iya, untung sekarang kamu patner kerjaku, jadi aku bisa lebih leluasa kerjanya, ga kayak yang kemaren kemaren!" saut Teni.
"Memang yang kemaren kenapa beb?" saut Vivi.
"Yang kemaren tuh lebih mentingin gaya dan penampilan cuma untuk menggaed salah satu dari bos kita, padahal otaknya nol." saut Teni.
"Oh iya, kek gitu kok bisa kerja disini! padahal kantor ini kan cukup besar.?" saut Vivi.
"Iya biasalah, cem ceman salah satu bos disini." saut Teni.
"Oh gitu..tapi kamu juga jangan salah sangka tentang hubungan aku dan Reihan lho!" saut Vivi.
"Aku uda tahu kok cerita tentang kamu dari Reihan, jadi kamu ga usah khawatir kalau aku punya pikiran buruk tentang kamu!" saut Teni.
"Emang Reihan cerita apa aja tentang aku?" tanya Vivi heran.
"Dia cerita banyak tentang kamu kasih tahu ga ya?" saut Teni dalam tawanya meledek Vivi.
"Apa?" saut Vivi.
"Emmm..itu..kamu itu.."
__ADS_1
Tak sempat Teni meneruskan ucapannya sudah ada suara ketukan pintu dari arah luar sana.
Tok..tok..tok..
"Iya masuk." saut Teni dari dalam ruangannya.
"Maaf bu, bu Vivi dipanggil ke ruangan Pa Reihan sekarang juga." saut seorang wanita yang Vivi kenal tadi seorang reseptionis.
"Oh, iya, baiklah." saut Teni.
Wanita tadi pun segera keluardari dalam ruangan Teni dan Vivi.
"Tuh panjang umur banget ya! Baru aja diomongin uda nyuruh kamu ke ruangannya!" ledek Teni sambil tersenyum.
"Ruangannya sebelah mana?" tanya Vivi.
"Lantai dua, dari sini kamu ke reseptionis di kiri ada lift kamu pake lift, ke sebelah kanan, nanti ada tulisannya Bpk.Reihan Rajatta Pratama." jelas Teni tersenyum
"Siap bu Vi!" saut Teni sambil berlagak memberi hormat pada Vivi.
"Apaan Sih..!!" Vivi segera berlalu menuju ruangan yang dimaksud.
Di perjalanan ke ruangan Reihan banyak pekerja disana juga yang menatap Vivi, ada yang tatapannya heran, ada juga para pria yang mungkin terkesima melihat penampilan Vivi, ada juga yang terlihat jutek.
Tapi Vivi dengan senyumnya melewati para pegawai yang sama sama bekerja disana.
Tok..tok..tok..
"Masuk!" suara jawaban dari dalam ruangan.
Kemudian Vivi segera masuk ke dalam ruangan tersebut, ruangan yang sangat luas, ada sofa yang terlihat elegan, juga meja kerja berukuran besar dan laptop juga tumpukan berkas berkas di ruangannya.
__ADS_1
"Selamat pagi pa!" sapa Vivi dengan segera mengulurkan tangannya.
"Selamat pagi!" Reihan kemudian tersenyum dan menyambut uluran tangannya.
"Selamat bergabung di perusahaan kami, semoga kamu betah kerja disini dan bisa bekerja sama dengan baik di perusahaan ini!" saut Reihan tersenyum merekah.
Dia tidak pernah seceria ini di kantornya, tapi hari ini semua pegawai pun bahkan membicarakannya, karena biasanya Reihan tidak pernah tersenyum kepada para pegawainya. Jika ada yang menyapa dia hanya menjawabnya datar.
"Iya, terima kasih banyak pak." saut Vivi yang juga tersenyum manis.
"Apa kamu Bu Teni sudah menyampaikan apa saja pekerjaan kamu?" tanya Reihan.
Sekarang mereka harus terbiasa dengan sikap seolah tidak pernah mengenal satu sama lain, tapi itu hanya sebatas dikantor, profesional kerja. Dan untuk jam di luar kantor tentu saja mereka tidak akan seperti itu.
"Sudah pak, dan saya senang sekali bisa bekerja di kantor ini, terima kasih karena bapak sudah mau menerima saya bekerja di kantor ini!" saut Vivi pada Reihan yang terlihat biasa saja tanpa merasa canggung.
"Ok. Kalau begitu kamu bisa melanjutkan pekerjaan kamu Vi, eh maaf Bu Vivi." saut Reihan tersenyum.
"Siap, pa, terima kasih."
Vivi berbalik ke arah dimana pintu, tak lama dia harus kembali berbalik karena kemudian Reihan memanggil lagi namanya.
"Bu Vivi.."
"Iya Pa?"
"Selamat bekerja!"
"Sama sama Pak!"
Kemudian Vivi pun berlalu meninggalkan Reihan yang masih melongo di tempat dia berdiri. Dia nampaknya sangat terkejut dengan penampilan bekerja Vivi sekarang, lebih cantik dan anggun, dengan make up tipis dan baju kerja yang menutup tubuh sexy nya itu. Tidak seperti masih bekerja sebagai LC di sebuah karaoke itu, memang Vivi terlihat lebih sexy dengan baju mini drees yang mengekspose tubuh yang sedikit gempalnya, dada yang berukuran lumayan besar, juga bagian kaki yang putih mulus. Tapi nyatanya Vivi terlihat lebih berwibawa saat berdandan sebagai wanita karier yang bekerja di kantor.
__ADS_1
Bersambung...