Sabar Yang Melampaui

Sabar Yang Melampaui
Perasaan Reihan


__ADS_3

"Selamat datang kembali di kantor say..!" ucap Teni pada Vero.


"Makasih beb..!" saut nya.


Vero sudah kembali lagi ke kantornya, seminggu dia beristirahat di rumah membuatnya rindu dengan pekerjaan nya.


"Hahh, akhirnya aku bisa kembali bekerja lagi di kantor ini!" timpa Vero sambil menghempaskan tubuhnya ke kursi kerja nya.


"Gimana keadaan kamu uda pulih bener kan?" tanya Teni.


"Uda kok, ga usah khawatir beb..!" saut nya.


"By the way kamu uda bilang makasih sama Pak Reihan?" tanya Teni.


"Iya lah dari kemaren aku udah bilang makasih sampai berpuluh puluh kali malah, waktu itu dia juga jemput aku pulang waktu di rumah sakit, karena suami ku ada kerjaan." saut Vivi.


"Bukan yang itu beb..!" saut Teni.


"Lantas? maksud kamu yang mana?" Vivi masih bingung.


"Waktu kamu di rumah sakit kan dokter bilang kamu kehilangan banyak darah dan stok darah di rumah sakit sedang kosong, nah kebetulan disitu uda ada Pak Reihan yang siaga nungguin kamu, kebetulan darah kamu sama, Pak Reihan lah yang jadi donor kamu!"


"Kamu serius?" tanya Vivi heran.


"Iya lah serius, nih ya aku bilang, pas kamu kecelakaan itu pihak rumah sakit neleponin nomer ponsel suami kamu, tapi suami kamu malah ga aktif nomernya, jadi choice nya ngambil di panggilan terakhir kamu kan tuh di ponsel kamu, ya nomer Pak Reihan, akhirnya dia duluan yang nyampe sini untuk mengurus semua administrasi kamu di rumah sakit."


"Ya ampun beb, aku ga nyangka!" saut Vivi masih heran.


"Iya beb, Pak Reihan nih malahan terlihat banget khawatir sama kamu! kayaknya bener deh dia diam diam memendam perasaan suka sama kamu!" timpa Teni.


Mas Reihan, ternyata donorin darah nya buat aku? batin Vivi.


"Ih kamu apaan sih, mana mungkin bos kita bisa jatuh cinta sama upik abu nya, ngawur kamu!"


"Eh cerita nya bukan hanya ada di buku atau film kok, banyak tuh yang di dunia nyata!" saut Teni.


"Eh lagian aku kan uda punya suami, ga mungkin juga kali! udah ah, mendingan kita kerja , daripada ngomong yang engga engga!" saut Vivi beralih pada berkas yang harus dikerjakannnya.

__ADS_1


Aku mau kita ketemu pas makan siang nanti mas, apa kamu bisa? pesan yang Vivi kirim lewat ponsel nya pada Reihan.


Beberapa detik kemudian terdengar notifikasi pesan masuk ke ponselnya.


Ya tentu Vi!


Ok, mas aku tunggu di cafe biasa, sampai ketemu!


Tak ada balasan dari Reihan, tapi Vivi tahu karena dari pesan nya itu sudah centang biru, yang berarti sudah dia baca pesannya.


Vivi segera menuju cafe yang dia janjikan bersama Reihan saat waktu istirahat tiba menggunakan ojek online seperti biasa. Karena melihat Reihan yang belum tiba Vivi duduk menunggu di meja dan memesan minum dulu sembari menunggu Reihan datang.


Beberapa menit kemudian Reihan tiba.


"Hai Vi, gimana kabar kamu uda pulih total kan?" sapa Reihan.


"Hai mas, alhamdulillah aku baik baik saja mas." saut Vivi yang berdiri dan mereka cipika cipiki tanda persahabatan.


"Belum pesan makan?" tanya Reihan yang hanya melihat minuman di meja mereka.


"Ya sudah aku pesan dulu ya!"


Reihan pun memesankan mereka makan siang yang sama pada salah satu waiters di cafe itu.


"Mas, maafkan aku, aku baru tahu kalau ternyata kamu mendonorkan darahku pada saat aku di rumah sakit, dan aku belum mengucapkan terima kasih!" ucap Vivi.


"Dasar comel, padahal sudah aku bilang dia ga usah bilang bilang, eh masih aja dia comel mulutnya!" saut Reihan tersenyum.


"Makasih ya mas, ternyata benar kamu adalah malaikat penolongku yang tak bersayap!" saut Vivi tersenyum sambil minum air yang dipesannya.


"Kamu apa apaan sih Vi, kamu berlebihan! lagi pula memang golongan darah kita sama, dan aku menolong kamu berdasarkan kemanusian Vi!" saut Reihan.


Apa mungkin aku berharap yang lain dari kata kata nya? kenapa rasanya sedih mendengar dia menolongku karena dasar kemanusiaan?


Raut wajah Vivi terlihat berbeda saat mendengar ucapan Reihan. Ternyata Reihan memang sangat peka terhadap sikap Vivi, dia tahu betul hanya dari melihat wajah Vivi yang berubah.


Apa ini waktunya aku mengatakan perasaanku terhadapnya? tapi aku takut dia melarang ku mencintai nya setelah tahu perasaanku terhadapnya. batin Reihan

__ADS_1


"Vi, sebenarnya ada hal lain yang ingin aku katakan padamu!" ucap Reihan yang memegang jemari Vivi.


"Hal lain apa maksud mas?" tanya Vivi heran.


"Waktu itu aku hampir mengatakannya pas kita lagi di tempat karoke tempat kerja kamu, inget ga? cuman waktu itu keburu dateng mamih Rara." saut Reihan


"Iya apa?" tanya Vivi semakin penasaran.


"Sebenarnya dari awal pertemuan kita aku sudah mulai menyukaimu Vi! dan perasaan ini sudah lebih daripada perasaan seorang sahabat.!" ungkap Reihan.


Degg.


Jantung Vivi mulai berdetak kencang, dia gugup layaknya seorang abg yang sedang ditembak oleh seorang laki laki.


"Maksud nya . .?" tanya Vivi


"Ya Vi, aku mencintai kamu..." ucap Reihan lirih.


"Mas, tapi.."


"Aku tahu kamu sudah bersuami, aku juga tahu kalau cintaku ini salah sama kamu, tapi semua nya mengalir begitu saja Vi..Tolong jangan jadi berbeda terhadapku Vi, jika kamu tidak bisa membalas perasaanku terhadapmu, tidak apa apa, tapi jangan melarang ku untuk mencintaimu, aku tahu cinta ku tidak akan mungkin bisa memiliki, cukup bagiku melihat mu tersenyum, itu sudah sangat membuatku bahagia Vi..!"


Vivi terpaku mendengar pernyataan dai Reihan, ternyata yang di bilang Gladies dan Teni itu benar, bahwa Reihan menyimpan perasaan lain terhadapnya.


"Aku tidak berharap jawaban dari mu, aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku mempunyai perasaan lain terhadapmu, dan aku sudah lega dengan memberitahukan nya padamu, terlepas kamu mau terima atau tidak, aku hanya ingin selalu bersama denganmu!"


"Mas Reihan...sebenarnya aku tidak menyangka kamu mempunyai perasaan lain terhadapku, yang aku tahu kita memang tidak mungkin bersama, kamu pria yang sudah beristeri dan aku wanita yang sudah mempunyai suami, tapi aku berterima kasih kamu sudah mau mencintai ku apa adanya, selama ini kamu sudah banyak sekali membantuku,.." saut Vivi yang kemudian tangan yang satu nya lagi menggenggam tangan Reihan.


"Untuk saat ini, memang aku sebenarnya..."


Kata kata Vivi terpotong karena ada waiters yang mengantarkan makanan ke meja mereka dan kemudian mereka melepaskan pegangan mereka karena merasa risih dan malu.


"Makasih Mas.." ucap Reihan dan Vivi bersamaan pada waiters tersebut.


Setelah menyiapkan semua di meja waiters itu pun kemudian berlalu meninggalkan mereka yang kemudian diam terpaku, dan suasana nya menjadi canggung.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2