Sabar Yang Melampaui

Sabar Yang Melampaui
Vivi pulang ke rumah


__ADS_3

Setelah pulang kerja Dicky langsung menuju ke rumah sakit untuk mengunjungi kembali isteri nya yang sedang dalam masa pemulihan.


"Kondisi pasien sudah mulai normal pak, nyonya Vivi besok sudah bisa pulang!"" ucap dokter yang memeriksa Vivi.


"Baik dok, terima kasih banyak." saut Dicky


Dokter pun berlalu dari ruangan Vivi di rawat.


"Alhamdulillah nak, besok kamu sudah bisa pulang ke rumah! ibu sangat senang sekali mendengarnya." ucap Ibu senang.


"Iya alhamdulillah Bu, Vivi juga sudah bosan tinggal di rumah sakit ini, rasa nya badan Vivi pegal semua Bu!" saut Vivi.


"Sabar ya sayang, tinggal satu malam lagi!" ucap Dicky.


"Bu, apa saya bisa minta tolong ibu tinggal dulu di rumah kami?" tanya Dicky.


"Hanya sebentar saja Bu, sampai Vivi kembali pulih, karena saya harus bekerja Bu, tidak bisa merawat Vivi sepenuhnya, kalau Ibu tinggal di rumah, saya jadi tenang bekerja nya!" timpa Dicky.


"Mas, ga usah lah ngerepotin Ibu, lagi pula ibu juga sudah beberapa hari menemani kita disini, kasian Ayah dan Arief!" tolak Vivi.


"Sebenarnya Ibu tidak merasa di repot kan sama sekali sayang, lagi pula Arief sudah bisa mengurus dirinya sendiri, hanya saja Ibu perlu bicarakan dulu dengan Ayah kamu ya!" saut Ibu sambil mengelus tangan Vivi.


"Iya bu!" saut Dicky.


Tak lama berselang datang Reihan dan Teni menengok Vivi ke ruangan nya.


"Hai, beb gimana kabarnya? uda mendingan?" tanya Teni yang langsung masuk dan menghambur ke dalam pelukan Vivi.


"Hai, kangen..!" sorak Vivi bahagia.


"Iya aku juga kangen, anak anak yang lain juga kangen sama kamu Vi!"


"Oh iya sampai lupa, ini aku bawa kue buat kamu, siapa tahu kamu suka! dimakan ya, biar cepet sembuh!" saut Teni sambil menyimpan kue di atas meja.


"Wah makasih banyak ya say..!"


Berbeda dengan Teni yang langsung menghampiri Vivi, Reihan langsung menghampiri Dicky dan ibu nya.


"Sore, Mas..! Bu!" sapa Reihan mengulurkan tangannya bergantian pada Dicky dan ibu mertua nya.


"Sore Pak Reihan!" sapa ibu dan Dicky.

__ADS_1


"Ah tolong jangan panggil saya pak bu, panggil saya Reihan saja!" saut nya.


"Iya nak Reihan!"


"Bagai mana keadaan Vivi?" tanya Reihan pada Dicky.


"Vivi sudah boleh pulang besok pagi pak!" saut Dicky.


"Oh syukurlah, lebih baik mendapatkan perawatan di rumah agar cepat pulih." jawabnya.


"Iya pak, terima kasih karena bapak sudah menanggung biaya perawatan Vivi selama dia di rawat di sini pak!" ucap Dicky.


"Ah tidak usah sungkan, lagi pula Vivi itu karyawan saya sudah seharusnya saya bertanggung jawab atas apa yang terjadi padanya, karena dia mengalami kecelakaan saat akan pergi ke kantor!" saut Reihan.


"By the way tidak usah panggil saya Bapak, agak kaku kedengarannya, dan mungkin kita juga tidak beda jauh umurnya!" ucap Reihan seraya tersenyum.


Mereka pun tertawa bersama, terlihat sangat akrab, seperti sudah mengenal sejak lama.


"Baik mas!" saut Dicky..


"Nah itu lebih baik!" jawab Reihan tersenyum.


"Boleh saya sapa Vivi mas?"


Reihan pun kemudian menghampiri Vivi yang sedang asyik mengobrol dengan Teni, melepas kerinduan nya, padahal baru dua hari lalu mereka bertemu.


Kemudian Reihan berjalan ke arah Vivi.


"Bagaimana keadaanmu?" sapa Reihan sambil tersenyum.


"Baik pak, maafkan saya karena belum bisa masuk kantor ya pak, padahal saya belum sebulan berkerja di kantor bapak, tapi saya sudah libur lama." saut Vivi lirih.


"Tidak apa apa Vi, nama nya juga musibah, kamu tidak usah khawatir setelah kamu sembuh total kamu masih bisa bekerja lagi kok!" saut Reihan tersenyum.


"Iya Vi, lagian tenang aja, kerjaan kamu aku yang handle biar Pak Reihan tidak mencari orang baru buat gantiin kamu!" canda Teni.


"Maaf ya ngerepotin kamu!" saut Vivi.


"Santai aja, yang penting kamu sembuh dulu, jangan pikirin hal lain Vi, banyakin istirahat aja biar kamu cepet pulih lagi dan segera masuk kantor lagi. Ok!"


"Iya Deh,, makasih banyak ya!"

__ADS_1


*


Keesokan pagi nya Reihan sudah bersiap untuk menjemput Vivi di rumah sakit, karena kemarin sore Dicky sempat meminta tolong padanya untuk menjemput Vivi pulang ke rumah karena dia ada urusan pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkannya, dan Reihan pun dengan senang hati menerima permintaannya.


Vivi ditemani Dicky dan Ibu sudah bersiap siap mengemas barang mereka yang akan segera pulang ke rumahnya, hanya tinggal menunggu Reihan datang menjemput mereka.


"Selamat pagi!" sapa Reihan yang membuka pintu ruangan Vivi.


"Pagi.." semua orang menjawab bersamaan.


"Mas, maaf jadi ngerepotin mas ya!" ucap Dicky yang masih canggung dan malu karena meminta bantuan Reihan.


"Santai aja, lagi pula hari ini saya ada waktu luang."


"Maaf karena saya harus segera pergi ke cafe, ada urusan kerjaan yang tidak bisa ditinggal!" saut nya kemudian menghampiri Vivi.


"Iya mas ga papa kok, serahkan sama saya!" saut Reihan.


"Sayang , maaf karena aku harus pergi kerja ya, makanya aku minta tolong mas Reihan untuk mengantarkan kamu bersama ibu pulang ke rumah." ucap Dicky mengelus pipinya.


"Kamu apa apaan sih mas, malah ngerepotin pak Reihan, kita kan bisa naik taksi.!" saut Vivi cemberut.


"Saya ga keberatan kok Vi, kamu tenang aja!" saut Reihan tersenyum.


"Iya maaf ya nak Reihan kami sudah banyak ngerepotin nak Reihan!" ucap Ibu Vivi.


"Tidak apa apa Bu, saya senang, karena disini saya seperti mendapatkan keluarga, maklum saya anak yatim piatu Bu!" saut Reihan.


"Oh, maafkan Ibu ya nak, kalau begitu kamu bisa menganggap kami seperti keluarga kamu sendiri, jangan sungkan ya!" ucap Ibu.


"Iya Bu, terima kasih!"


"Semua nya sudah siap kan? saya juga sudah menyelesaikan administrasinya tadi diluar, jadi ayo kita berangkat sekarang?" timpa Reihan.


"Iya, ayo nak!"


Reihan kemudian membawakan salah satu barang yang dibawakan Ibu Vivi.


"Ayo sayang!" ajak Dicky yang menggenggam tangan Vivi.


Sebenarnya batin ini tak rela melihat kamu bermesraan seperti itu dengan suami mu Vi, tapi apalah daya tangan tak sampai, aku memang mencintai wanita yang sudah bersuami, jadi aku harus menanggung segala konsekuensinya, walaupun dari dekat hati ku bergejolak, tapi cinta ku tidak berkurang sedikitpun...batin Reihan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2