
"Hai Raisa, ayo duduk!" sapa Dicky pada Raisa yang baru datang.
"Hai Mas!" sapa balik Raisa yang kemudian duduk disamping Dicky.
"Ini kenalin temenku, sekaligus pemilik cafe ini, Ardi!" timpa Dicky.
"Oh, kenalin saya Raisa!" ucap Raisa yang mengulurkan tangannya kepada Ardi yang duduk didepannya.
"Ardi." saut Ardi datar menerima uluran tangan Raisa.
Kemudian Ardi memanggil lagi waiter pegawainya ke mejanya untuk memesankan minuman dan makanan untuk Raisa.
"Mau minum apa Raisa?" tanya Ardi.
"Ice lemon tea aja Mas!" saut Raisa.
"Makanannya?" timpa Ardi.
"Nanti aja Mas." saut Raisa tersenyum.
"Ok, mas ice lemon tea aja satu ya, itu dulu!" ucap Ardi pada pegawainya.
"Baik pa." saut pegawainya yang kemudian berlalu.
"Raisa rumah dimana?" tanya Ardi basa basi.
"Di Jln. Riau Mas." saut Raisa.
"Oh ga jauh dari sini, kapan kapan boleh mampir ya?" timpa Ardi tersenyum melirik ke arah Dicky, yang memang dia hanya ingin membuat Dicky terganggu.
"Boleh mas, silahkan." jawabnya.
Kemudian mereka asyik ngobrol baik itu pribadi maupun tentang kerjaan seputar cafe.
Satu jam berlalu mereka lewati dan Ardi pergi untuk pamit kepada mereka karena ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya.
Kini Dicky dan Raisa tinggal berdua saja di sofanya.
"Habis ini mas ada acara lagi engga?" tanya Raisa pada Dicky.
"Ga ada sih.." jawab Dicky sambil menyeruput minumannya.
"Kenapa emang?" timpanya.
"Mau ga temenin aku malam ini? habisnya aku lagi suntuk, orang tuaku sedang pergi ke luar kota, dan teman temanku yang lain sedang sibuk dengan acaranya masing masing." saut Raisa terdengar manja.
Dicky yang tentunya merasa senang mendengar perkataan dari Raisa, tidak dia pungkuri bahwa mana ada laki laki yang akan menolak wanita secantik dan sesexy Raisa.
__ADS_1
"Boleh, kebetulan aku ga punya acara juga malam ini." saut Dicky tersenyum.
"Bagus deh kalau gitu aku mau kita ke tempat karaoke yuk, kita senang senang nyanyi nyanyi disana, gimana?"
"Ok! Mau jalan sekarang?" tanya Dicky.
"Ayo, sekarang aja!" saut Raisa sambil memanggil waiter untuk membayar tagihannya.
Kebetulan Raisa adalah anak dari keluarga yang cukup mapan, tidak heran kalau dia yang membayar semua tagihannya di cafe itu.
Raisa memang wanita yang menarik, keluarganya mapan, tapi dia malah mau mandiri dengan mencari pekerjaan sendiri ditempatnya Sisca, kebetulan dia baru lulus kuliah bagian keuangan, entah bisa atau tidak bekerja di perusahaan orang lain, lantaran dia sudah biasa mendapatkan semua yang dia mau dari orang tuanya.
Sebetulnya orang tua Raisa juga sudah menyarankan agar dia meneruskan saja kuliah S2 nya di luar negeri, atau bekerja diperusahaan milik ayahnya, tapi Raisa menolaknya, dia memilih jalannya sendiri, dengan bekerja dulu di tempat orang lain lalu setelah dia mempunyai pengalaman yang cukup dia akan membuka perusahaannya sendiri.
Tak lama merekapun beranjak dari cafenya Ardi menuju ke sebuah tempat karaoke.
"Motor kamu tinggal disini aja gapapa kan mas?" tanya Raisa.
"Ga papa kok, ntar aku titip Ardi." saut Dicky.
Mereka pergi berdua memakai mobil milik Raisa. Tak membutuhkan waktu lama merekapun sampai di tempat karaoke karena memang jaraknya tidak begitu jauh dari cafe milik Ardi.
"VIP untuk berdua ya mba." Raisa memesan room di reseptonist karaoke tersebut.
"Mari ikut saya bu!" ucap pegawai yang ada disana mengantarkan Raisa dan Dicky ke ruangan yang mereka pesan.
"Kamu mau minum apa Mas? cocktail apa botolan aja?" tanya Raisa.
"Emang kamu suka minum? tanya balik Dicky.
"Iya, kamu ga keberatan kan?" timpa Raisa.
"Oh engga dong, santai aja!" saut Dicky.
"Ok, kalau gitu botolan aja ya!" timpa Raisa.
Raisapun memesan satu botol minuman bermerk untuk mereka dan rokok juga beberapa camilan pendamping.
"Mas deh nyanyi duluan, aku mau dengerin suara mas nyanyi!" ucap Raisa.
"Kamu mau aku nyanyi lagu apa?" tanya Dicky tanpa merasa canggung.
"Terserah mas aja deh pokoknya lagu yang enak didengar." timpa Raisa tersenyum manja.
Dickypun kemudian menyanyikan dua lagi dari Three Doors Down judulnya "Here without you" dan lagu dari Audio Slave berjudul " like a stone".
Raisa mendengarkan suara Dicky dengan seksama sambil menikmati rokok dan minuman yang ada di mejanya.
__ADS_1
"Suara kamu bagus banget mas, uda kayak penyanyi terkenal!" puji Raisa saat Dicky sudah menyelesaikan lagu keduanya.
"Biasa aja, sekarang kamu dong yang nyanyi!" saut Dicky pada Raisa.
"Iya deh.." saut Raisa
Raisapun menyanyikan lagu favoritenya dari Adele berjudul "Don't you remember". Ternyata suara Raisa juga tak kalah dari Dicky, dia juga punya suara tinggi yang khas dan merdu.
"Wah..hebat suara kamu juga tak kalah bagus dari Raisa penyanyi itu!" ucap Dicky pada Raisa selesai Raisa bernyanyi.
"Ah..kamu bisa aja mas..." saut Raisa tersipu malu.
"Mas apa kamu uda punya isteri?" tanya Raisa pada Dicky.
"Sudah." jawab Dicky datar.
Apa dia ga akan marah malam malam gini belum pulang?" timpanya.
"Tenang aja, isteriku kerja malam, jadi sekarang dia sedang sibuk, ga akan memperdulikan aku!" saut Dicky enteng.
"Lho kok gitu mas?" tanya Raisa heran.
"Iya lagipula aku belum dapat kerjaan dan hanya mengandalkan hidup dari isteriku setiap harinya, mana perhatian dia denganku? yang ada dia juga bekerja karena terpaksa entah itu iklas apa engga juga aku ga tau!" saut Dicky menjelaskan.
Sepertinya ada masalah dengan rumahtangga nya mas Dicky, bagus deh ada kesempatan aku buat deketin dia, bathin Raisa tersenyum.
"Ya sudah kan ada aku, mulai sekarang aku mau kok merhatiin kamu, kebutuhan kamu, apapun itu." ucap Raisa sambil menggandeng tangan Dicky dan bersandar dibahunya.
Merekapun menikmati malam itu dengan menghabiskan waktu di tempat karaoke tersebut sambil menikmati minuman beralkohol yang sudah tersaji.
"Mas aku bosan, uda naik nih..clubing yuk!" ucap Raisa pada Dicky yang juga sudah merasakan kepalanya kleyengan karena satu botol minuman yang hampir dihabiskannya hanya berdua saja.
"Ayo!" saut Dicky kemudian mereka beranjak dari sana setelah membayar semua tagihannya.
Tentu saja Raisa yang membayar tagihannya, karena Dicky memang hanya membawa uang beberapa ratus ribu saja yang diberikan oleh Vivi seperti biasanya untuk makan dan bensinnya.
Beberapa menit kemudian mereka sampai ditempat club' malam terkenal di kota Bandung, kemudian masuk kedalmnya.
Gemuruh dan dentuman lagu yang sangat memekakan mereka malah menambah semangat mereka untuk berjoget, menggoyangkan semua tubuhnya, tanpa memperdulikan sekitarnya, tak lupa memesan kembali minuman beralkohol di bar.
Malam semakin menanjak membuat mereka lupa pulang, tapi para pegawai di club' malam itu mengingatkan pada mereka kalau sebentar lagi waktunya club' itu untuk closing dan itu artinya mereka harua segera mengakhiri kesenangannya disana.
Raisa dan Dicky yang sudah sempoyonganpun mulai menyadarkan dirinya masing masing.
"Mas mau pulang ke hotel apa kerumahku..?" tanya Raisa di telinga Dicky yang memang harus bicara dekat atau keras karena music yang kencang di club' malam itu.
??????
__ADS_1
Bersambung...