
Vivi masih tertidur pulas saat Reihan sudah bersiap untuk pergi ke kantornya.
"Sayang..bangun, ini sudah pagi, kita harus ke kantor!" ucap Reihan sambil mencium kening Vivi.
Vivi perlahan mulai membuka matanya yang dilihat Reihan yang sedang tersenyum kepadanya, dia lalu membalas senyuman itu.
"Tapi aku masih ngantuk mas,," rengek Vivi manja.
"Baiklah kalau begitu kamu bisa ijin saja, tidak usah bekerja ya! nanti biar aku yang bilang pada Teni kalau kamu kelelahan semalam!" ledek Reihan sambil tersenyum.
"Tidak tidak, jangan katakan itu, baiklah baiklah aku bangun!" saut Vivi bangun dari ranjangnya dan menutupi tubuhnya dengan selimut karena semalam dia tidur tanpa sehelai benang pun.
Reihan tersenyum melihat kelakuan Vivi, "Ya sudah sayang bersihkan dirimu, aku sudah menyuruh pegawai untuk menyiapkan baju kantor mu!" timpa Reihan.
"Tapi mas, bagaimana bisa?" tanya Vivi heran.
"Bisa sayang!" Reihan mengacak rambut Vivi pelan.
"Baiklah kalau begitu aku mandi dulu!" saut Vivi sambil berjalan menuju kamar mandi di ruangan itu.
Beberapa menit kemudian Vivi keluar dari kamar mandi, dia hanya memakai handuk kimono saja.
"Sayang, mana baju nya?" tanya Vivi.
"Ini, pakailah, untuk wanita pujaan ku!" saut Reihan sambil mengecup pipinya.
Vivi membalikan badan nya hendak masuk lagi ke kamar mandi, tapi tiba tiba Reihan menariknya ke dalam pelukan nya.
"Mas, apa apaan sih, aku harus ganti baju segera kan!" ucap nya.
"Kenapa harus di kamar mandi, di sini juga bisa kan?" saut nya.
"Ih kamu apa apaan sih!" rengek Vivi malu.
"Kenapa memangnya? bukan kah semalam aku sudah melihat seluruh tubuhmu?" ucap Reihan menggoda Vivi dengan membuka tali kimono nya.
__ADS_1
"Vivi menepis tangan Reihan kemudian buru buru dia membalikan badan nya.
"Kalau aku ganti baju disini, yang ada kita bisa terlambat datang ke kantor mas!" saut Vivi berjalan ke arah kamar mandi.
Reihan hanya tersenyum melihat tingkah Vivi yang sepertinya dia masih malu akan kejadian semalam. Ada rasa bahagia dalam hati Reihan karena dia akhirnya bisa mendapatkan Vivi seutuhnya, walaupun dia tidak tahu hubungan nya akan berakhir seperti apa, yang jelas untuk saat ini dia menikmati hubungan nya dengan Vivi.
Setelah Vivi selesai berganti pakaian dia keluar dari kamar mandi lalu disambut Reihan yang sudah menyiapkan sarapan untuk mereka berdua di kamar.
"Maaf ya kita harus sarapan di kamar dulu, semoga suatu hari nanti kita bisa tampil berdua di depan umum tanpa harus sembunyi sembunyi seperti ini!" ucap Reihan menggenggam jemari Vivi.
"Iya tidak apa apa mas, aku bahagia, yang penting kita bisa berdua." saut Vivi tersenyum.
"Ya sudah, ayo makan dulu, nanti aku akan siapkan kamu taksi untuk pergi ke hotel, kamu mengerti kan kondisi nya, kita belum bisa barengan!" timpa nya.
Vivi tersenyum dengan ucapan Reihan, dia tahu dan sadar akan dosa besar yang dia buat, akan tetapi untuk saat ini dia merasa bahagia dan merasa nyaman jika sedang bersama Reihan.
Vivi juga sebenarnya enggan bertemu dengan suami nya setelah apa yang sudah dia perbuat di belakangnya, semua kebohongan dan kasih sayang nya ternyata hanya topeng belaka, selama ini Vivi bahkan rela untuk bekerja sebagai pemandu lagu di sebuah karaoke hanya untuk bisa memenuhi semua kebutuhan dia, tapi apa yang dia dapat tidak sebanding dengan pengorbanan yang sudah dia lakukan untuknya.
Dia sudah muak dengan semua pria yang pernah bersamanya selalu selingkuh di belakangnya, dan kini saat bersama Reihan dia juga belum bisa percaya kepada Reihan begitu saja, karena kejadian sebelum nya yang pernah di selingkuhi oleh mantan suami nya dan kini suami nya sendiri, membuat nya berani untuk selingkuh.
"Angkat saja sayang, itu pasti dari suami kamu!" ucap Reihan.
"Engga mas, aku sedang malas berbicara sama dia, biarkan saja!" saut nya.
Beberapa detik kemudian muncul notifikasi pesan dari Dicky.
Vi, apa kamu sudah ke kantor? aku pulang ke rumah untuk mengambil baju kerjaku, tapi kamu sudah tidak ada di rumah.
Sebenarnya Vivi malas untuk membalasnya, tapi dia harus bersikap biasa saja dulu, agar perselingkuhan nya tidak terbuka dihadapan nya.
Iya mas, aku ada rapat penting hari ini, makanya aku sudah pergi pagi pagi sekali. jawaban pesan dari Vivi.
Oh ya sudah sayang, selamat bekerja ya! balas Dicky.
Vivi tidak membalasnya, dia menghiraukan nya saja, malahan pesan nya tidak dia buka.
__ADS_1
Rasanya aku sudah malas dengan mu mas Dicky, tapi aku tau aku sangat mencintai mu, rasa nya berat jika aku harus berpisah dari mas, aku takut nanti nya aku akan menyesal kalau kita sampai berpisah, batin Vivi.
"Kenapa sayang?" tanya Reihan yang melihat raut wajah Vivi menjadi berubah setelah mendapat pesan dari suami nya.
"Em, engga kok mas!" saut nya.
"Apa ada masalah?" timpa Reihan.
"Ga ada kok, dia cuma bertanya apa aku sudah di kantor, karena dia tidak menemukan aku di rumah saat dia pulang untuk berganti baju." saut Vivi.
"Lalu apa kamu jawab iya?" tanya Reihan.
"Ya, mas aku bilang aku ada rapat penting jadi pergi pagi pagi sekali!" saut nya.
"Apa kamu menyesal telah berhubungan bersama ku?" timpa Reihan menatap sayu mata Vivi.
"Engga kok mas, kenapa kamu bertanya begitu?" saut Vivi.
"Raut wajahmu berubah ketika sudah mendapatkan pesan dari suami mu, aku tidak mau ada kebohongan diantara kita Vi, aku mohon kalau kamu bersedia menjalin hubungan dengan ku, aku harap kamu tidak menyembunyikan hal apapun dariku!" ucap Reihan tegas.
"Iya mas, aku janji aku tidak akan menyembunyikan hal sekecil apapun dari kamu!" saut Vivi tersenyum meyakinkan nya, menggenggam jemari Reihan.
Reihan pun membalas genggamannya dengan tangan yang satu nya.
"Aku ingin selalu bisa membahagiakan mu Vi, andai kamu berpisah dengan Dicky, aku pasti akan menikahi mu, dan akan menceraikan isteriku Maya." timpa Reihan.
"Aku tidak tahu mas, untuk sekarang aku belum bisa membuat keputusan, aku harap kamu bisa memakluminya ya!" saut Vivi.
"Iya baiklah kalau itu yang kamu inginkan, aku juga tidak akan memaksa kamu, yang jelas jika kami membutuhkan apapun, bicara padaku, selama aku bisa, aku akan berusaha memenuhi nya!" ucap Reihan.
"Tentu mas!"
Mereka lalu menghabiskan sarapan nya dan segera untuk beranjak ke kantor dengan kendaraan masing masing, karena mereka belum siap menjadi bahan gunjingan orang orang di sekitar mereka.
Bersambung...
__ADS_1