Sabar Yang Melampaui

Sabar Yang Melampaui
Sudah mulai berubah


__ADS_3

Vivi masih asyik mengobrol dengan Reihan sementara ditempat lain Dicky juga sedang bercinta dengan kekasihnya di hotel.


"Ayo Vi kita pulang sekarang, takutnya suami kamu nanti marah lagi kalau kamu sampai telat pulang ga kayak biasanya." ucap Reihan.


"Ayo mas." saut Vivi.


"Nanti aku kabarin kamu kalau uda nemu kerjaan yang cocok sama kamu!" timpa Reihan.


"Iya terimakasih banyak mas!" saut Vivi tersenyum.


Kemudiam mereka memasuki mobil dan melajukan kendaraannya menuju ke rumah Vivi.


Di dalam mobil Reihan memberikan beberapa uang kertas untuk Vivi, kali ini jumlahnya tidak sebanyak kemarin, tapi Vivi rasa sudah lebih dari cukup.


"Mas aku jadi malu, kalau setiap kali kita ketemu kamu selalu kasih aku uang, padahal aku tidak menemani kamu bekerja seperti biasa." ucap Vivi lirih.


"Ga usah khawatir, aku ikhlas kok, itu untuk kamu beli makan!" saut Reihan sambil mengepalkan uang ke tangan Vivi.


Sebenarnya Vivi merasa sungkan, tapi Reihan memaksanya untuk tidak menolaknya, maka Vivi pun akhirny menerim pemberian uang dari Reihan.


Sesampainya dirumah Vivi kembali tidak menemukan suaminya di rumahnya, biasanya jika tidak bergadang menonton televisi suaminya itu pasti sedang tertidur di kamarnya, karena kebetulan Vivi pulang dini hari tidak terlalu subuh, tapi untuk kedua kalinya dia mendapati suaminya tidak pulang ke rumah.


Vivi tidak ada pikiran buruk sedikitpun pada suami nya, dia percaya suaminya itu pasti baik baik saja diluar sana.


Palingan mas Dicky ketiduran lagi di rumah Frans karena mabuk, bathin Vivi.


Dia pun segera menuju ke kamarnya, membersihkan diri, lalu mengganti pakaiannya kemudian langsung naik ke ranjangnya untuk beristirahat.


Siang harinya ketika dia sudah mulai bangun, dia pun tak kunjung mendapat kabar dari suaminya yang belum pulang, dia mencoba menghubungi ponselnya tapi tidak aktif, dan pesan di whatapp nya pun masih centang satu, dia sangat khawatir tapi lebih memilih berpikiran positif.


Vivi pun kemudian melanjutkan aktifitas seperti biasanya, membersihkan rumah dan memasak untuk suami nya.


*


Ditempat lain, sepasang dua insan baru saja membuka mata mereka setelah beberapa ronde mereka lakukan sampai subuh tadi.


"Mas kamu hebat banget...aku puas...banget..!" ucap Raisa yang memeluk Dicky disampingnya.


"Iya donk sayang karena kamu memang selalu menggemaskan, membuat sosisku selalu menegang." saut Dicky seraya tersemyum.

__ADS_1


"Ah kamu mas..." saut Raisa manja memukul pelan dada Dicky yang masih belum berpakaian.


"Ya sudah kalau gitu aku mandi duluan ya!" timpa Raisa.


"Ok!" saut Dicky.


Dicky kemudian mengambil ponselnya yang selalu dia matikan ketika bersama Raisa, terdapat beberapa panggilan tak terjawab dari Vivi dan beberapa pesan.


Dicky kemudian langsung menelpon kembali Vivi dan seperti biasa dia bilang ke istrinya kalau dia ketiduran di rumahnya Frans.


Selesai mereka membersihkan diri kali ini Raisa meminta nomer rekening Dicky, dan diapun mentransfer sejumlah uang yang lumayan banyak, dua juta rupiah telah masuk ke rekening Dicky, mungkin itu balasan Raisa karena Dicky yang sudah memuaskannya diatas ranjang.


"Mas aku sudah mentransfer kamu uang, itu untuk kamu beli rokok ya!" ucap Raisa yang kembali memoles dirinya di depan cermin.


Dicky yang sedang bersiap untuk pulang pun penasaran dan mengecek m-banking nya, sontak dia kaget ternyata ada uang masuk senilai dua juta rupiah ke rekeningnya.


"Sayang, makasi banyak ya!" saut Dicky yang langsung memeluk Raisa dari belakang.


"Sama sama mas, uang itu cukup kan buat kamu, kalau kamu butuh apa apa kamu jangan sungkan bilang ke aku ya! Aku pasti dengan hati ngasi apapun buat kamu!" saut Raisa yang membalikan tubuhnya dan kemudian bergelayut manja kepada Dicky.


"Ok!" saut Dicky yang kemudian mengecup lembut bibir Raisa.


"Ok, sayang." saut Dicky.


Setelah siap mereka check out dari ruangan hotelnya dan bergegas menuju cafe yanag ingin dituju olleh Raisa.


Beberapa menit kemudian mereka sampai pada cafe yang dituju, dan mulai makan siang berdua disana.


"Mas, bisa kan kamu temani aku besok, ke mall, temenin aku shopingg ya!" ucap Raisa sambil menyantap makan siangnya.


"Apa sih yang engga untuk kamu sayang!" saut Dicky mencubit gemas dagu Raisa.


"Makasih ya mas!" timpanya.


"Sama sama." jawab Dicky.


Setelah selesai menyantap makan siangnya mereka pun segera pulang kembali ke rumah masing masing.


*

__ADS_1


Dicky yang tentu saja disambut oleh isterinya dirumah tidak sehangat biasanya.


"Mas aku sudah masak untuk kamu makan, mau makan sekarang?" ucap Vivi.


"Tidak, aku sudah makan tadi." saut Dicky datar meninggalkan Vivi di ruang tamu.


Vivi tidak menyerah dia langsung mengambilkan segelas air untuk Dicky ke dapur.


"Ini mas, minum dulu." ucap Vivi memberikan gelas berisi air putih pada Dicky.


Dicky meminumnya sedikit, dia langsung mengganti pakaiannya kekamar dan langsung menuju ke halaman rumah untuk mengurusi burung burung peliharaannya, dan juga menyiram tanaman tanaman di sana.


Vivi membiarkan saja suaminya itu, dia langsung menuju kamar untuk mengambil cucian bekas pakaian Dicky barusan.


Wangi parfum perempuan? tadi mas Dicky bilang dari rumah Frans tapi kemejanya wangi banget, dan jelas ini bukan parfum mas Dicky? Gumam Vivi dalam hati.


Sore harinya, setelah Vivi membereskan pekerjaannya dan juga bersantai di depan tv, dia kemudian mengajak suaminya itu untuk makan. Merekapun makan di ruang makan, Vivi yang begitu penasaran dengan hal yang baru saja dia dapatkan tadi memberanikan diri untuk menanyakannya kepada Dicky.


"Mas tadi aku cuci pakaian yang kamu pakai tadi malam, kenapa wangi parfum perempuan?" tanya Vivi.


Brakkkk....


Dicky yang emosi menggebrakan meja dihadapannya, karena terbuat dari kaca sontak membuat kaget suaranya terdengar nyaring, dan untung saja mejanya tidak pecah.


Vivi pun sontak dibuat kaget karenanya.


"Apa kamu menuduhku berselingkuh dengan wanita lain hanya karena bajuku wangi parfum perempuan?" teriak Dicky.


"Bukan begitu mas, aku hanya bertanya, kenapa kamu begitu marah?" saut Vivi masih sabar.


"Jelas lah pertanyaan kamu memojokanku seolah aku ini selingkuh dibelakangmu!" saut Dicky masih dengan menekan suaranya tinggi.


"Kalau kamu memang tidak selingkuh harusnya kamu tidak semarah ini mas!" saut Vivi yang mulai emosi.


"Hah...sudahlah, aku muak dengan pertanyaan kamu!" Kemudian Dicky pun pergi berlalu ke ruang televisi.


Vivi yang masih diam terpaku merasa heran dengan tingkah suami nya itu.


Kalau memang dia tidak selingkuh, harusnya dia tidak emosi seperti itu, bisa kan menjelaskannya padaku, kenapa bisa nempel wangi parfum perempuan di baju yang dia pakai, Vivi bermonolog dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2