Salah Gaul

Salah Gaul
sepuluh


__ADS_3

"Selamat datang di kompetisi tari freelines tahunan!" Suara MC menggema di dalam dan di luar aula gedung pertunjukan. Aku dan Rumi saling berpandangan tanpa sadar, "hari ini adalah perempatan final, jadi silakan letakkan taruhan anda di tempat yang sudah disediakan."


"Taruhan?" Rumi bertanya padaku dan aku mulai melihat ototnya menegang.


"Iya. Lo pikir pemenangnya dapat hadiahnya dari mana kalau nggak dari taruhan." Aku memutar mataku heran sedangkan Rumi menatapku tidak percaya, "bisa bantu lepasin nggak sih gua mesti ke dalam sebelum acara mulai." Aku kesal karena helm yang aku gunakan susah untuk dilepas.


Aku kira Rumi akan pergi meninggalkanku karena aku merengek tapi di luar dugaan dia membungkuk di depanku dan mulai melepaskan kaitan helm, "Ini gampang lho Lyn."


Aku bisa merasakan kepalaku yang terasa ringan dan mulai tersenyum senang.


"Lo nggak sakit, kan? tiba-tiba senyum sendiri,"


kalimat Rumi tidak berhasil membuatku kesal. Hari ini aku amat bersemangat dan tidak ingin terdistrak dengan gangguan Rumi.


"Kalaupun gue sakit nggak ada urusannya sama lo. Gue duluan ya sampai ketemu di dalam." Aku berbalik untuk melangkah pergi saat Rumi tiba-tiba menarik tanganku. Aku menatap tidak sabar ke arahnya, "kenapa? Gue hampir telat." Dia menjilat bibirnya gugup sebelum berbicara. Kenapa dengan anak ini?


"Be the best stripper out there, okay?"


Aku memiringkan kepalaku ke samping. Dia masih saja mengantai tarianku sejenis stripper tapi kalimat yang diucapkannya berhasil membuatku tersanjung pipiku pun ikutan merona, "Gue udah siap buat jadi yang terbaik. Jadi, gua udah bisa pergi, kan?"


Rumi melepaskan pegangannya dariku. Dengan cepat aku berlari menuju backstage untuk kembali bersiap. Area lomba yang digunakan semacam club khusus untuk kaum elite yang tentu saja memiliki space luas dan mewah. Aku segera menuju ke arah panitia untuk menuliskan namaku. Ada lima kontestan dan aku peserta terakhir.


Si penutup acara? Aku sangat menyukai sebutan itu.


Ini merupakan pertama kalinya aku mengikuti lomba semacam ini dan aku merasa terintimidasi oleh mereka. Maksudku, aku juga pernah mengikuti lomba dan tampil di hadapan orang banyak tapi malam ini berbeda. Para penonton yang hadir memang banyak dan kebanyakan dari mereka adalah orang-orang berduit tapi lomba ini ilegal semacam judi yang mempertaruhkan barang. Tapi kali ini taruhannya adalah tarian. Hobi aneh dari orang-orang berduit yang baru aku ketahui.


Semakin malam suasana semakin panas setengah kontestan sudah mulai tampil dan mereka semua amat luar biasa. Mengagumkan.


Jika lomba ini diselenggarakan seperti biasa mungkin aku akan mengucapkan selamat pada mereka dengan sepenuh hati tapi sayangnya para kontestan di sini juga sibuk menarik diri agar tidak terlihat terlibat obrolan dengan satu sama lain. Tetapi aku tidak peduli karena aku harus menang melawan mereka.


"Lyana Aara-belle?" Seorang pria dengan buku catatan dan mic yang tergantung di lehernya mendekatiku, "siap-siap lima menit lagi giliran lo."


"Iya kak saya sudah siap."

__ADS_1


"Formal banget, sih." Pria itu terkekeh membuatku tersenyum canggung, "nanti lo masuk pas nama lo disebut ya. Nggak usah tegang. Good luck."


Aku mengangguk saat pria itu menepuk pelan pundakku seolah memberi semangat. Dia segera beranjak pergi setelah menjelaskan sesuatu padaku. Aku sangat tegang sampai tanganku mulai mendingin. Suara musik bergema pelan karena peserta sebelumku masih menari di atas panggung.


Aku harus tetap tenang agar tidak mengganggu konsentrasiku nanti. Aku sudah berjanji pada seseorang untuk menjadi penari terbaik malam ini. Gagasan itu membuatku semakin percaya diri dan melangkah dengan pasti saat naik ke atas panggung.


Lampu di redupkan suara kerumunan tiba-tiba mulai senyap. Aku menarik nafas dalam-dalam seraya menutup mata. Ketika aku membuka mata seseorang berdiri di ujung sana memberikan semangat lewat senyum yang dia suguhkan.


***


Aku menyelesaikan pertunjukanku dengan baik. Tidak menyangka respon audience seantusias itu. Standing applouse dan teriakan penuh siulan menggema. Mungkin karena aku sebagai penari terakhir makanya mereka sangat menikmati pertunjukanku.


Begitu menuruni panggung orang-orang mulai menghampiriku. Aku sampai harus mendorong mereka menjauh karena merasa udara di sekelilingku berubah panas dan aku merasa sesak. Tanpa aku sadari seseorang menarik tanganku dan membawaku keluar dari kerumunan. Rumi tersenyum saat matanya menatapku lekat.


"Gimana tarian gue?"


"Mesti di jawab ya? Lo sendiri lihat kan gimana gilanya orang-orang waktu nyambut lo turun."


Aku menyibakkan rambutku senang, "Keren kan gue. Nggak nyangka banget."


Dia membawaku ke luar club. Udara seketika berubah menjadi segar. Ternyata banyak juga yang memilih keluar untuk menghirup udara segar walau pun di dalam sana masih banyak space yang kosong.


"Gue yakin lo pasti menang."


Aku beralih menatap Rumi. Kalimatnya terdengar sangat meyakinkan.


Memangnya dia juri?


"Kata siapa?"


"Kata gue. Because you're amazing tonight, Lyn."


"Lo sibuk merhatiin penampilan gue doang tapi nggak merhatiin tarian gue?"

__ADS_1


Dia memalingkan wajahnya cepat, "Kan sama aja Lyn. Gue liat penampilan lo include tarian lo lah. Emang bisa dipisah-pisah."


Aku tertawa, "Bercanda Rumi. Gue boleh minta tolong buat beliin minuman nggak?"


"Gue nggak minum. Lo mesti pulang ke rumah dengan selamat."


"Gue yang minum."


"Okey. Ya udah ayuk."


"Gue nggak mau masuk." Aku sengaja cemberut menahan Rumi yang akan membawaku ke sebuah meja, "gue mau whiskey segelas aja." Aku khawatir saat tiba-tiba tubuh Rumi menegang karena sentuhanku. Dengan sengaja aku mendekat maju dan berbisik di telinganya, "please?"


Rumi melepaskan rangkulanku dengan kasar tapi tetap beranjak masuk ke dalam untuk mengambil segelas whiskey.


Aku menatap langit yang bergemuruh sambil menutup mata. Tidak terasa tetesan hujan mulai mengenai wajahku. Aku merasa senang. Hujan merupakan salah satu hal yang membuat tawaku tetap ada dan aku menikmati kala rintikan hujan berubah menjadi guyuran yang amat deras.


Aku memeluk diriku sendiri membiarkan guyuran hujan membasahiku tanpa ampun. Seseorang batuk di belakangku membuatku berbalik dan menemuka Rumi berdiri dengan segelas whisky milikku.


"Gue kira lo nggak suka hujan?" Aku bertanya padanya. Melangkah mendekatinya untuk mengambil whiskey pesananku. Aku meminum dan tenggorokanku terasa terbakar saat cairan itu mulai turun dari tenggorokan.


Rumi mengangkat bahunya tidak peduli. Dia tiba-tiba melingkarkan tangannya di pinganggku dan menarikku masuk ke dalam dekapannya.


"Lo nggak boleh natap gue kayak gitu," bisiknya.


Aku meminum seteguk lagi lalu tersenyum menggoda kepadanya, "Kayak apa?"


"Senyum dengan muka polos lo yang nggak berdosa."


"Gue pingin ngomong sebelum gue mabuk," kataku.


Hujan dan whisky membuatku sulit menahan pandanganku tetapi Rumi tetap tenang tampak tidak terpengaruh.


"Tell me."

__ADS_1


"Kalau nanti gue mabuk dan minta lo buat ngelakuin itu sama gue." Aku melingkarkan tanganku di leher Rumi, "please do it," ujarku seraya memulai untuk memberikannya kecupan liar.


__ADS_2