
Rumi Pov
"Lo nggak keberatan kalau gue masuk ke dalam, kan?"
Lyan berhenti menapaki tangga untuk ke teras rumahnya. Tentu saja dia tahu alasanku bertanya karena sepertinya dia juga menungguku untuk bertanya, terlihat dari tingkahnya.
Dia tersenyum, "Ayo masuk," katanya sambil melambaikan tangannya.
Aku segera turun dari motorku. Untungnya hujan tadi tidak berlangsung lama jadi kami berdua bisa pulang lebih cepat walaupun hawa dingin terasa menusuk sampai ke tulang.
Lyan membiarkan pintu rumahnya terbuka karena aku harus memasukan motor ke dalam garasi. Setelah memastikan motorku terparkir aman aku segera mengunci kembali pintu rumahnya.
Lyan ada di ruang tamu. Dia sudah mengganti pakaiannya yang basah.
"Lo mau gue beliin baju?"
"Nggak usah."
Dia menatapku, kemudian membuang muka dengan cepat. Apa dia gugup?
"Gue mau ke toilet dulu. Lo bisa minum beer atau apapun terserah lo."
Lyan sudah terburu ingin beranjak, namun aku lebih dulu menahan tangannya. Dia hampir jatuh karena keseimbangannya yang oleng jika tidak aku tahan.
"Gue udah nunggu dan lo menang."
Entah kenapa detak jantungku ikut berpacu cepat, aliran darahku pun menderu sampai aku bisa merasakannya. Lyan menatap mataku dan dia membuka sedikit bibirnya. Aku harap ekspresiku tidak terlihat nyata jika aku sangat menginginkannya, "Kita udah sepakat tadi."
Aku baru sadar telah memojokkan Lyan saat punggungnya membentur dinding. Karena dia tidak mengelak aku mulai mengunci pergerakannya dengan menempatkan kedua tanganku ke dinding tepat di sisi wajahnya.
Lyan menelan ludahnya, "Iya gue tahu," bisiknya gugup, "lo mau apa?"
Aku mencondongkan tubuhku lebih dekat. Menurunkan tanganku ke pinggulnya sampai dia menahan napas karena menanti apa yang akan aku lakukan selanjutnya, "I want to give you that orgasm," bisikku. Aku menghembuskan nafas hangatku di sekitar lehernya sampai dia ikut bernafas berat dan bergidik, "the one you lied about."
"Itu lo tahu kalau gue bohong."
__ADS_1
Aku mengabaikan kalimatnya karena sudah terlalu malas meladeni omong kosongnya, "Mau gue kasih orgasme atau nggak?"
Lyan menghembuskan napasnya kembali dengan gemetar, pinggulnya sedikit menggeliat, "Iya."
Aku menariknya masuk ke dalam pelukanku. Menyatukan bibirku dengan bibirnya. Kami berciuman dengan tergesa-gesa. Tangannya sudah lebih dulu melepas semua kancing kemejaku dan melemparkanya sebelum kami sampai ke sofa.
Lyan mendorongku sampai aku terduduk dan dia segera mengambil tempat di atas pangkuanku. Kakinya terbuka lebar karena menduduki pahaku.
Aku melepaskan ciuman kami dan mulai menarik ujung dressnya. Karena basah dan menempel erat di kulit membuatnya sulit untuk ditarik.
Dia ikut mendesah putus asa karena kegagalanku.
"Buka baju lo," perintahku.
***
Lyan Pov
Aku terbangun cepat keesokan paginya dengan senyum lebar yang menghiasi bibirku. Harusnya aku bisa bergerak seperti biasanya tapi aku harus menahan diri karena aku merasakan sakit in my sensitive region.
Aku mendengar suara ribut di pantry, padahal aku yakin semalam si Rumi sudah kuusir karena aku tidak ingin menyembunyikan pria di rumah.
Lalu bajingan mana yang berani masuk ke dalam rumah yang hanya berisi aku seorang?
"Woi lo maling, ya? Berani-beraninya lo masuk rumah gue."
"Bangun udah pagi. Kamu berani teriak-teriak ke Mama?"
Mama keluar dari dapur dengan sebelah tangan memegang capitan penggoreng dan sebelahnya lagi memegang adonan yang tidak kutahu apa itu. Dia memelototiku, terlihat tidak senang dengan sikapku, namun sayangnya aku sudah terbiasa dengan protesannya.
"Mama!" Aku segera berlari mendekat dan benar-benar melompat ke pelukannya.
"Adonan mama Lyan," protesnya sambil meletakkannya ke atas meja untuk membalas pelukanku. Bahkan Mama memeluku lebih erat.
"Mama kapan sampai?" Aku tidak bisa menyembunyikan senyumku karena kehadirannya, padahal kali ini Mama hanya pergi dua minggu lebih sedikit, tapi aku merasa seperti kami sudah lama tidak bertemu.
__ADS_1
"Sekitar jam lima pagi," jawabnya. Sambil mendorongku masuk ke dapur mengikutinya. Aku mengeluarkan piring dari rak untuk membantu Mama menyajikan pancake dengan garnish berry dan syrup maple. Aroma yang dikeluarkan makanan itu membuat perutku berbunyi.
"Mama sengaja nggak bangunin kamu karena masih subuh, jadi Mama masuk pakai kunci duplikat."
Aku merasa bodoh karena berpikiran jika itu Rumi yang masih tinggal.
Mama segera ikut bergabung denganku di meja setelah menuangkan susu karton ke gelas. Kami menyantap sarapan kami sambil bercerita. Mama memberitahuku soal pernikahan terakhir yang dia atur di daerah puncak. Mama juga menjelaskan soal bagaimana kedua mempelai itu bertemu dan saling jatuh cinta yang hanya aku balas dengan anggukan, karena setiap acara pernikahan yang Mama handle selalu ada cerita romantis dibaliknya.
"Harusnya kamu ada di pesta pernikahannya si Salsa. Itu wedding paling menyentuh yang pernah Mama handle. Suaminya Salsa sampai nangis mungkin emang karena dia cinta banget sama si Salsa," kata Mama sedikit menggebu.
"Tim wedding Mama kan emang amazing. Apalagi bagian make up."
"Dia cantik bukan karena make up ya Lyn. Hatinya juga cantik."
"Iya iya, tapi kan dibantu juga sama make up," protesku tidak mau kalah.
Mama cuma menggelengkan kepalanya karenaku, "Jadi gimana pendapatmu soal pernikahan?"
"It's great, meski nggak semua pernikahan berjalan lancar tapi nggak ada masalah buat mencoba hidup dengan orang yang kita cintai. Asal jangan salah pilih pasangan dan Lyn nggak ada rencana buat menikah," Aku berpikir sejenak, "sounds good ya, Ma," cengirku.
Mama mengerutkan kening karena jawabanku, mungkin sedikit tidak habis pikir dengan jawaban yang aku lontarkan. Aku menatapnya, mata hitam cerahnya tidak menunjukkan sisa-sia rasa lelah. Mama itu cantik dan sampai saat ini belum ada yang bisa menandingi kecantikan yang Mama punya.
"Nggak ada yang namanya kesalahan dalam memilih kalau soal pernikahan, sayang."
Aku mengambil piring-piring yang sudah kosong dan membawanya ke wastafle, "Iya iya. Mama udah sering ngomong kayak gitu sampai Lyn bosan dengarnya."
Mama diam sampai aku selesai mencuci piring-piring tadi. Aku tidak pernah mengatakan hal itu sebelumnya, hanya saja aku sudah tidak nyaman dengan percakapan ini.
"Kenapa kamu nggak mau nikah? Apa karena Mama?"
Aku sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan ini, "Bukan ... " Aku berbalik menatapnya yang terlihat sendu, "come on Ma. Ini bukan salah Mama, Lyn tahu apa yang udah terjadi. Dia yang hancurin pernikahan kalian dan juga konsep pernikahan impian yang Lyn mau, jadi sekarang konsep itu udah nggak berlaku lagi. Maaf kalau omongan Lyn kelewatan, tapi Lyn nggak percaya sama yang namanya pernikahan."
Mama menatapku nanar. Lima tahun sudah berlalu dan Mama masih saja menangis setiap kali membicarakan dia. Manusia brengsek itu.
"Lyn mau mandi dulu," kataku, "habis ini kita harus pergi belanja terus makan siang di luar. Jadi Mama harus lupain percakapan ini."
__ADS_1