
Lyan Pov
Aku menatap Rumi tidak percaya. Pria itu terlihat salah tingkah. Jika saja aku tidak memperhatikan aku pasti menganggap wajahnya yang memerah itu karena demam. Padahal itu efek dari rasa malu yang dia terima.
"Rumi emang liar makannya nafsunya besar," kata Bara yang langsung mendapat delikan tajam dari Rumi.
"Harusnya lo ada di posisi gue. Itu cewek yang mancing gue dan gue nggak bakal nolak cewek yang nyerahin dirinya sendiri ke gue"
"Benar. Apalagi she had big *****."
"Hello boys. Let's case close gue masih di sini."
"Lagian lo ngomong apa sih, Bar. Brengsek banget deh."
"Kan lo juga ikut," cibirnya, "jadi gimana? Lo kasih izin nggak?"
"Lo minta izin apa ngajak debat sih? Lo perlu izin dari gue, kan?" Bentak Rumi kencang, "gue kasih izin. Lo bisa dance sama dia. Jadi sekarang keluar dari rumah gue."
"Keluar?" tanya Bara dengan ekspresi tidak percaya, "lo nggak ngaca apa? Lihat penampilan lo kalau gue nggak dateng lo pasti udah jadi mayat."
"Lo jangan ngomong kayak gitu, deh."
Saat aku mengatakan itu, Rumi dan Bara langsung menatapku aneh. Rumi kelihatan bingung, sedangkan Bara memasang tampang sombong yang menyebalkan di wajahnya.
"Berhenti bahas soal kematian."
"Lo tahu apa?" Rumi sudah akan melanjutkan kalimatnya tapi langsung dipotong Bara. Mereka benar-benar menguji kesabaranku.
"Harusnya lo terima sama apa yang di omongin Lyan, lo terlalu keras kepala dan pasti nggak ada orang yang betah di samping lo," cecar Bara.
"Gue mau sih nemenin lo tapi sayangnya gue harus latihan sore. Jadi Lyan, lo bisa tinggal di sini sampai gue selesai latihan kan? Dan kalau lo bersedia itu jadi bantuan terbaik dari lo buat gue," lanjutnya.
Aku menatap Rumi penuh harap agar dia menolak apa yang Bara ucapkan tapi anehnya lagi dia tidak menyela ataupun protes pada Bara. Dia hanya menghindari tatapanku sambil menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Lo harus mau ditunggu sama dia," kata Bara sambil menunjukku.
Rumi mengangguk dan Bara tertawa. Dia berjalan ke arahku dan membuatku benar-benar berdebar karena aroma cologne yang dia kenakan.
Ya Tuhan, bisakah aku bercinta dengan pria ini?
"Gue bakal pulang cepat. Jadi please jaga dia dan buat dia minum obat juga." Dia berbisik di telingaku sebelum pergi.
Aku masih berdiri di sana bahkan saat Bara sudah menghilang di balik pintu.
Maafkan aku, aku lemah dengan pria seksi dan tampan.
"Ngeri lo. Awas aja sampai ngiler di karpet gue," cecar Rumi sewot seperti biasa.
Aku menenangkankan diriku. Berhubungan dengan Rumi yang sedang sakit itu cobaan. Aku mengabaikan cibirannya dan melangkah masuk mendekatinya.
Aku melangkah ke sisi meja di samping tempat tidurnya dan melihat obat-obatan yang telah disiapkan Bara. Saat aku mulai memilih Rumi bersuara.
Aku menatapnya karena terkejut dan sedikit khawatir, "Dari Kemarin?"
Dia hanya diam tidak mengatakan apapun tapi aku sudah tahu jawabannya. Selama mengenal Rumi aku hampir mengetahui bagaimana dia berekspresi dan ekspresi yang dia tunjukkan itu adalah ekspresi saat dia tidak ingin terlihat lemah.
Aku pernah melihatnya ditendang dan dia juga tidak berekspresi apa pun. Sudut hatiku tersentil, sebenarnya bagaimana dia menjalani hidup?
Pada akhirnya dia mengangguk, "Gue nggak punya tenaga buat masak. Semalam gue pesan makan tapi gue muntahin semua. Gue aja sampai nggak bisa minum gara-gara radang gue kumat."
Aku duduk di tepi tempat tidurnya, mengawasinya dengan hati-hati, "Gue minta maaf. Gue nggak tahu kalau lo sensitif sama air hujan."
Rumi menarik dirinya sedikit keluar dari selimut. Bagian dadanya terlihat dan itu benar-benar sangat merah. Aku mengulurkan telapak tanganku di dahinya.
Dia menggeram karena bergerak sedikit. Bagaimana bisa dia bertahan sendirian sepanjang malam?
"Gue siapin makan buat lo dulu," kataku padanya, "mau gue anter ke dokter?"
__ADS_1
Ini mungkin percakapan paling normal diantara kami. Kenapa rasanya sangat canggung?
"Please jangan ke Dokter," gumamnya, "dan please gue jangan diracun."
Aku terkekeh karena leluconnya. Suasana di antara kami sedikit nyaman karena dia. Aku mencubit hidungnya pelan sebelum bangun, "Lo harus hati-hati karena masakan gue sangat mengandung racun," balasku.
"Baiklah," katanya. Dia bersiap untuk bangun tapi jatuh kembali dan kepalanya membentur bantal.
"Lo mau ngapain? Nggak usah bangun biar gue cari sendiri di mana dapur lo," kataku sambil membantunya untuk berbaring.
Rumi sudah tidak sanggup untuk membuka matanya jadi dia hanya menghela nafas dan mengangguk. Dan itu adalah hal yang mengejutkan. Aku belum pernah melihatnya sepenurut ini.
Dia langsung tertidur beberapa menit setelah aku selesai menyelimutinya. Aku menatapnya yang terlihat tenang sangat berbeda 180 derajat dengan dia yang berada dalam kondisi sadar.
Aku langsung bergegas keluar, membiarkannya tidur dengan nyaman. Sampai dapur aku terkejut karena dari semua area tempat ini yang paling bersih. Aku mulai membuatkan Rumi bubur ayam dengan bahan-bahan yang teramat lengkap di kulkasnya dengan beberapa tangkup roti bakar untuk tambahan sambil menunggu Bara pulang.
Aku sebenarnya bukan chef handal tapi karena Mama sering pergi dan aku juga tidak bisa memesan food delivery setiap saat, jadi aku memutuskan untuk belajar memasak. Dan hal yang paling dibutuhkan di sini adalah kesabaran.
Setelah berkutat dengan macam-macam bahan aku merasa lapar juga. Aroma yang keluar dari bubur tidak bisa membohongi perutku yang ikutan meronta. Aku menyuapkan setangkup roti bakar sebelum membawa makanan yang lain ke kamar Rumi.
Dia masih tertidur lelap saat aku masuk ke kamarnya dan aku harus bergerak ekstra hati-hati agar tidak mengganggunya. Aku mengambil tempat di ujung tempat tidur hanya untuk menatapnya sekali lagi.
Rumi itu bajingan. Kadang dia bersikap kasar kadang juga bersikap seperti biasa. Jika hanya menilai dari tampilan luar, Rumi itu 95 persen pria yang akan dinobatkan menjadi most boyfriendable ever dan sepertinya dia ditakdirkan untuk menjadi pencuri perhatian kaum Hawa.
Lihat saja perawakannya yang atletis dengan tampang diatas rata-rata menjadi nilai jual tersendiri untuknya.
"Rum ...." Aku menepuk pelan pipinya, "bangun dulu, gue udah bawain lo makanan."
"Lo beneran masak buat gue?" gumamnya pelan, "gue pikir lo pulang."
Aku memutar mataku karena prasangka buruknya. Meski kami tidak pernah akur bukan berarti aku tega membiarkan dia kelaparan sendirian di sini. Aku membantunya untuk bangun dan duduk tegak. Demamnya masih belum turun sedikit pun.
"Sarapan dulu biar lo nggak lemas."
__ADS_1