
Aku memutar mataku dan mengambil suapan nasi goreng terakhirku sambil memberi isyarat pada Lyan agar dia mengikutiku. Lyan melakukannya tanpa protes. Dia juga mulai menatap sekeliling rumah dengan seksama. Tempat ini memang sangat luas, tapi aku menyukainya. Aku benci jika harus berbagi termasuk pada keluargaku sendiri.
Aku membawa Lyan ke lantai dua yang biasanya memang aku gunakan untuk menghilangkan penat. Aku membuka penghalang kaca sehingga angin malam dapat masuk dan mengisi ruangan. Itu adalah ruangan besar dengan balkon yang menghadap ke arah perkotaan yang dihiasi kelap-kelip lampu. Di sebelah kiri ruangan terdapat bar pribadi yang memang sengaja aku buat, di sampingnya ada gym kecil. Di bagian kanan ruangan kamar tamu dengan jendela besar yang memberi pemandangan langit malam berbintang. Di tengah ruangan terdapat sofa bed dengan TV LED 42 inch. Ah, jangan lupakan speaker di bagian sampingnya.
"Gue bisa mati cepat kalau tinggal di tempat kayak gini." Dia menatapku dengan pandangan jengkel, "lo suka banget ya sama interior yang gelap-gelap. Hampir semua furnitur dan cat dinding rumah lo warnanya hitam kalau nggak abu-abu. Paling terang aja dongker, " tebakan Lyan sangat tepat dan itu membuatku mengangguk.
Kami berdua berjalan beriringan menuju bar, "Lo mau minum apa?" tanyaku. Lyan dengan sangat antusiasnya langsung memeriksa berbagai macam alkohol yang terdapat di dalam kulkas kaca. Karena tampaknya dia tidak menemukan apa yang dia mau, pandangannya kembali beralih pada koleksi wine yang ada di lemari kaca samping.
"Gue mau wine. Pilihan yang kadar alkoholnya paling kuat," katanya.
Aku mengangguk dan segera beranjak pergi untuk mengambil sebotol anggur yang memiliki kadar alkohol paling tinggi. Sesuai dengan request darinya. Aku menuangkan untuknya ke dalam gelas dan langsung memberikan padanya.
Lyan terkikis, "Thank you. Kenapa?" tanyanya karena aku masih menatapnya.
"Senang gue lihat lo happy kayak gini," ucapku sambil menuangkan untuk diriku sendiri.
"Gue emang harus happy. Kan lo yang suruh. Cheers?"
Aku menandakan tepi gelas anggurku ke gelasnya dengan lembut, "Cheers. Semoga lo nggak ingat-ingat lagi kejadian paling siap yang pernah lo alami."
Lyan memutar matanya malas sambil menyesap anggur miliknya perlahan. Aku menunggu dia berbicara sambil ikut meminum milikku. Melihat Lyan yang menutup mata sambil bersenandung membuatku awas.
"Ini enak," katanya dengan senyuman yang bertambah lebar di wajahnya. Dia mengangguk puas sebagai penghargaan. Dan dia juga kembali menyesap minumannya, "wah... Gue bisa rasain alkoholnya ngalir ke pembuluh darah gue. Luar biasa minuman lo."
"Lo suka?" Aku terkekeh melihat ekspresi kagum dari wajahnya. Dia mengangguk kesenangan dan langsung berdiri tanpa aba-aba.
"Boleh nggak kalau minumnya di balkon? Please?"
Mendengarnya berbicara dengan nada imut membuatku tidak bisa untuk menolak. Memang Kapan lagi aku bisa melihatnya bertingkah imut jika bukan sekarang.
__ADS_1
"Terserah lo." Aku mengambil botol anggur tadi dan mengikuti dia yang sudah berjalan lebih dulu. Lyan melompat seperti anak kecil. Tampaknya dia sudah mabuk karena dia berlarian dan sampai menabrak pagar pembatas. Jika aku tidak berteriak memintanya untuk berpegangan, mungkin saat ini wanita itu sudah terjun bebas ke lantai dasar.
"Pelan-pelan, Lyn."
Dia hanya tersenyum membalas ku, "Lo bajingan yang paling beruntung yang gue kenal dan lagi lo tinggalnya di penthouse yang keren kayak gini."
Aku menggelengkan kepalaku pelan sambil melangkah ke sampingnya. Mengikuti Lyan yang sedang bersandar di pagar pembatas, "Emang rezeki gue aja itu.
"Nyamannya kalau tinggal di sini. Nggak bising. Nggak keganggu suara knalpot dan pastinya nggak ada nyamuk jahat yang bisa gigit lo. Ditambah lo juga punya pemandangan yang menakjubkan yang bisa lo lihat kapan pun lo mau. Lo beruntung banget."
Aku hanya terkekeh dan tidak mengatakan apa-apa untuk semua penjelasan dari Lyan. Dan sisanya hanya keheningan yang merayapi kami berdua.
"Kira-kira Bara marahnya parah nggak ya sama gue?" ucapnya tiba-tiba. Menghentikan keheningan yang terasa memuaskan itu.
Aku menghela napas, ragu untuk menjawab pertanyaannya, "Setahu gue dia bukan orang yang gampang marah ke orang lain. Tapi sekalinya marah..."
Lyan langsung menoleh padaku. Dia menggigit bibir bawahnya tampak gugup, "Gue terlanjur malu tadi." Dia mencoba menjelaskan, "gue tahu nggak seharusnya gue bersikap kayak gitu. Dia udah mau bantu gue dan gue juga tahu kalau sebenarnya dia cowok yang baik. Cuma..."
Lyan menghabiskan minumannya dalam satu kali teguk dan meletakkan gelasnya ke atas meja kecil yang berada di sampingnya.
"Gue nyeramin ya."
Kali ini Lyan tampak benar-benar kecewa pada dirinya sendiri. Aku menyimpan wineku di tempat itu dan berdiri di depan Lyan, "Hei, it's okay," gumamku, sambil mengulurkan tangan untuk menyentuh pipinya. Dia menghembuskan napas dengan gemetar karena sentuhan ku, "lo bisa minta maaf ke dia. Gue yakin dia juga bakal maafin lo."
Lyan menghela napas lagi. Dia kini menatapku dengan tanganku yang masih berada di pipinya. Jarak di antara kami sangat minim.
"Gue nggak suka minta maaf ke orang lain."
Aku terkekeh dan mencondongkan tubuhku lebih dekat ke arahnya, seolah kami memang ditakdirkan untuk berdekatan seperti ini. Mata cokelatnya itu memandangku lurus dan dia menggigit tipis bibirnya sambil meraih kaos depanku.
__ADS_1
"Kayaknya lo kebanyakan minum alkohol."
Hembusan napas kami yang saling bertabrakan malah membuat pikiranku terganggu. Ini semua akibat wine.
Dia meraih salah satu tanganku dan melingkarkan ke pinggangnya yang ramping. Hari-hariku mengelus pelan kulit di balik kaos oversize yang dia kenakan. Sensasi itu membuat tubuhnya bergetar dan dia langsung bangkit berdiri, memeluk leherku erat dan mempersempit jarak di antara kami.
"Lo tahu." Dia mendesah dan itu benar-benar memancing nafsuku, "kalau aja lo yang jadi partner gue bukannya si Bara. Lo pasti nggak akan biarin gue jatuh."
"Tapi gue nggak tahu caranya."
Lyan tersenyum licik sebelum perlahan menggerakkan tubuhnya. Dia memaksaku untuk bergerak bersamanya, "Gue bisa ajarin lo."
Aku tidak percaya jika kini aku benar-benar berdansa dengan Lyan di tengah malam di balkon rumah ketika kami sedang mabuk.
"Lo bakal ngamuk ke gue juga kalau gue mengacau di panggung kayak tadi."
Lyan tampaknya tidak bisa mengalihkan pandangannya dari wajahku karena dia sama sekali tidak berkedip.
"Udah jelas." Dia mengakui, dan aku langsung meletakkan tanganku yang lain di pinggulnya dengan posesif, "tapi gue tahu lo nggak bakal biarin gue jatuh." Suaranya yang lembut dan lambat berhasil membangkitkan nafsuku.
"Jadi kalau gue setuju jadi partner lo dan kita berhasil menang malam ini." Aku mendorongnya ke dalam dan melangkah semakin jauh hingga menuju kamarku, "Lo bakal kasih gue apa?"
Dia menghela napas kasar dan bibirnya terbuka. Lyan menangkup wajahku dengan tangannya yang hangat dan mendekatkan ke wajahnya sendiri. Jarak bibir kami hanya tinggal satu inch.
"Gue bakal kasih apapun yang lo mau."
"Lo selalu bilang apapun." Aku menyelipkan tanganku ke pahanya dan mengangkatnya dengan gerakan cepat. Dia tersentak hingga membuat rambutnya menutupi wajahku. Aroma yang menguar dari Lyan membuatku hampir gila, "harusnya lo bisa kasih sesuatu yang lebih spesifik tanpa embel-embel apapun."
Aku mengangkatnya menuju tempat tidur.
__ADS_1
"Dan harusnya lo juga tahu apa yang bakal gue kasih ke loo tanpa harus gue sebutin. Apa harus gue praktekan sekarang?"