Salah Gaul

Salah Gaul
delapan belas


__ADS_3

Rumi Pov


"Bar, gue mau tanya sesuatu ke lo?"


Bara mematikan ponselnya dan mengalihkan fokusnya padaku, "Lo mikir apa sih sampai lo nggak konsen seharian?"


Aku mendengus ke arahnya. Sialan, dia terlalu mengenalku dengan baik daripada orang lain dan lebih menyebalkannya dia itu sahabatku. Tidak ada yang tidak dia ketahui soalku.


"Bisa nggak lo nggak usah baca pikiran gue," gumamku pelan sambil berusaha menghindar dari tatapan matanya, "gue mau tanya soal, maksud gue-"


"Gue sama Lyan bakal latihan dari jam 7 sampai jam 10. Lo bisa kalau datang kalau lo mau." Dia menyeringai dan itu cukup membuatku memiliki alasan untuk memukulnya, "itu kan yang buat lo uring-uringan seminggu ini."


"Udah gue bilang stop baca pikiran gue," kataku sambil memberikannya jitakan pelan," lagian gue itu nggak uring-uringan karena dia, gue ngerasa bosan aja karena setiap malam nggak ada lo yang biasanya ngerusuh di rumah."


Bara memutar matanya malas, "Bullshit. Sejak kapan lo sepeduli itu sama gue."


"Gue peduli sama lo," kataku mencibir. Aku akui suasana hatiku memang tidak baik seminggu ini.


Sejak kejadian terakhir dimana aku berhasil menciumnya, entah kenapa sensasi dari dari ciuman yang diberikan Lyan tidak menghilang dari pikiranku. Aku seperti sudah kecanduan dengan bibir wanita itu, bahkan kini aku malah menginginkan hal yang lebih.


"Satu lagi yang harus lo tahu. Dimas biasanya juga datang buat nonton, jadi pastiin supaya lo nggak berantem lagi sama dia."


Aku mengangguk tidak peduli. Baru saja aku membuka mulut untuk bertanya, Bara segera memotong, pria itu ada kelas dan akupun juga sama.


"Lo tahu kan gue nggak butuh peringatan. Gue bisa lakuin apa yang gue mau dan pastinya tanpa menimbulkan masalah," kataku cepat.

__ADS_1


"Tapi lo nggak pernah ngobrol sama bokap lo."


"Dia itu backing utama gue. Tanpa gue ngomong pun dia pasti bakal nyelesain semua masalah yang gue buat," memang itu yang sering Papa lakukan dan itu bukan hal yang baru bagi Bara, "kalau gitu gue duluan. Sampai ketemu nanti di studionya Lyan," hanya saja realitanya tidak seperti itu.


Bara tertawa, "Bilang aja lo mau ketemu dia."


Aku mengabaikan Bara yang menggodaku dan memutuskan untuk melangkah lebih cepat menuju kelas. Sampai di kelas, aku segera mencari tempat duduk favoritku yang dari sini aku bisa melihat Lyan lebih jelas.


Dosen pengampu datang dan aku langsung menyandarkan diri ketika dia sudah mulai membahas materi. Fokusku tidak pada dosen maupun materi, aku hanya fokus pada Lyan dan butuh beberapa menit sampai aku menyadari jika dia mengcurly rambutnya dan itu membuat rambutnya terlihat lebih pendek. Aku mengernyit, padahal aku menyukai rambutnya yang panjang itu.


Barusan aku bilang apa?Apa aku gila?


"Singkirkan pikiran bodoh lo sekarang dan fokus ke materi Rumi." Aku mendesis pada diriku sendiri dan mencoba kembali fokus pada dosen. Sialan, gue datang dan masuk kuliah bukan untuk mendengar kisah hidup dari dia dan pasti jam ini akan sangat membosankan karena dia terus menerus membicarakan omong kosong.


sejujurnya aku sudah bertekad untuk memperhatikan materi, tapi dosen yang bercerita membuat moodku hancur dan akhirnya akupun memutuskan untuk kembali akan menutup mataku sampai aku tiba-tiba merasakan ada seseorang yang menyentuh pundakku dengan lembut.


Dia datang pada waktu yang tepat, batinku.


Aku menegakkan tubuhku dan menyugar rambutku ke belakang lalu membalas senyumannya. Hal yang selalu aku lakukan untuk merayu mereka, "Hai," balasku sambil menampilkan senyuman nakal yang membuat para wanita tergila-gila, tapi aku tetap berhati-hati dan tidak berlebihan agar tidak terkesan jika aku menerimanya. Dan satu lagi, aku terkenal karena aku tidak terlalu peduli dengan  mereka, "Lo Desi, kan?"


Dia tampak senang karena aku tahu namanya. Wajahnya memerah dan dia juga menyelipkan rambutnya ke belakang telinga karena gugup, "Iya gue Desi. Maaf, gue harusnya nggak lancang," katanya lalu mundur dan kembali melihat ke depan.


Aku menggunakan kesempatan itu untuk menatapnya terang-terangan, "Maksudnya?"


"Harusnya gue nggak ngomong sama lo." Dia berbisik di dekatku dengan tergesa-gesa dan itu membuat pipinya merona merah, "maksudnya gue, gue bahkan sampai ngumpulin keberanian gue selama satu bulan cuma buat nyapa lo dan setelah gue berhasil gue malah bingung mau ngomong apalagi."

__ADS_1


Aku menahan senyumku karena kepolosan Desi. Padahal tidak harus sampai seperti itu, aku akan membalas sapaan orang lain jika mereka menyapaku ketika aku berada dalam kondisi yang normal.


"Gimana pendapat lo tentang film Marvel?"


Dia menoleh lagu padaku dan matanya membelalak sempurna, "Lo juga nonton film?"


"Apa ada larangan tertulis kalau gue nggak boleh nonton film?" tanyaku masih sambil menatapnya.


"Nggak sih," cicitnya sambil menggoyangkan tangannya, "cuma... Lo itu kelihatan kayak orang yang nggak suka nonton film."


Aku tertawa mendengar alasannya, "Orang-orang emang kadang ngambil kesimpulan kayak gitu, tapi itu karena mereka nggak kenal gue."


Desi tersenyum gugup dan aku dapat melihat lesung pipi kecil yang muncul di pipinya. Dia cantik dan makin bertambah menarik ketika lesung pipinya terlihat jelas. Rambutnya yang lurus dengan sentuhan catokan kini tampak bervolume dan tatapan matanya jernih sangat berbinar seperti anak kecil.


"Sorry, harusnya gue nggak langsung percaya gitu aja sama rumor yang kesebar tentang lo," akunya cepat, "gue juga film Marvel dan gue udah rewatch sampai 3 kali di bioskop."


"Gue udah nonton empat kali," kataku sambil menyeringa, "apa yang-" kalimatku terputus ketika aku mendengar suara yang sangat kukenal berbicara.


"Permisi, Pak. Apa Bapak bisa mengingatkan dua orang yang ada di belakang untuk berhenti berbisik dan tertawa ketika Bapak sedang mengajar? Karena itu mengganggu mahasiswa yang lain." Lyan berkata dengan nada yang terdengar sangat kesal yang langsung menbuatku berpikir jika dia menguping pembicaraan kami. Bukannya marah, tapi aku malah merasa senang.


Dosen tua yang sudah berumur itu hanya tersenyum. Dia tipikal kakek-kakek yang memperlakukan kami seperti cucunya, jadi meski ada keributan besar pun dia tidak akan marah. Itu yang aku suka darinya makannya aku berani bersikap kurang ajar. Pak Danu juga sangat mengenalku.


"Buat yang mengobrol di belakang, saya minta waktunya dulu untuk mendengar penjelasan saya dan nanti setelah kelas selesai kalian bisa melanjutkan kembali obrolan kalian."


Desi langsung menggeser kursinya menjauh dariku dan menunduk karena malu. Sedangkan aku malah asyik memperhatikan Lyan dan menunggu sampai dia menoleh ke arahku. Sesuai dugaanku, dia langsung melakukan hal itu setelah Pak Danu kembali mengajar.

__ADS_1


Aku memberinya acungan jempol dengan tatapan yang sinis.


Lyan masih terus memelototiku dan aku tidak punya alasan yang tepat kenapa dia begitu. Dia mengerutkan hidungnya laku menjulurkan lidah dan membalikkan tubuhnya sebelum aku bisa membalas. Dan tingkahnya itu malah membuatku senang.


__ADS_2