Salah Gaul

Salah Gaul
lima belas


__ADS_3

Lyan Pov


"Lo udah gila?"


Bara hanya mengangkat bahunya tidak peduli saat dia membawaku masuk ke gedung dimana Rumi tinggal.


"Jangan tanya gue. Gue juga cuma disuruh. Mending Lo tanya langsung sama dia."


Aku memberinya tatapan tajam tapi tidak dihiraukannya, Bara malah menekan tombol lift dan menarikku masuk. Dia bersandar pada dinding lift yang terbuat dari kaca, membuat orang-orang yang menaiki lift dapat melihat pemandangan di luar sana.


Apartemen yang ditempati Rumi merupakan salah satu apartemen yang memiliki fasilitas mewah. Meski tidak berada di pusat kota tapi akses menuju fasilitas publik sangat terjangkau.


Aku membalikkan tubuhku untuk menikmati pantai yang membentang di bawah sana. Rumi itu bajingan paling beruntung yang pernah kukenal.


Lift berbunyi dan pintu terbuka. Bara menyunggingkan senyum tipis di bibirnya, dan aku masih menatap kesal ke arahnya.


Bara itu termasuk pria tampan yang memiliki wajah di atas rata-rata menurutku. Dia memiliki bibir berwarna pink yang penuh. Mata cokelat besar dengan hidung yang mancung dan tajam. Rahangnya tegas dengan urat-urat yang terlihat menambah kesan maskulin untuknya.


Pertama kali aku melihat Bara, aku ingin mengajaknya berteman tapi sayangnya dia terlalu sulit didekati dan pada akhirnya aku kalah langkah dengan Rumi. Dan hari ini adalah pertama kalinya kami berbincang cukup lama meski yang kami bicarakan hanya berputar pada Rumi seorang.


"Gue lihat lo dance minggu lalu. Semi final, kan? You're amazing," katanya.


"Thank you," jawabku. Aku tidak terbiasa menerima pujian dan rasanya aneh mendapatkan pujian dari teman sendiri.


Aku masih memikirkan kelanjutan jawaban untuk Bara, tapi pintu lift keburu terbuka dan aku menganga tidak percaya dengan apa yang aku lihat ...


"Dia tinggal di penthouse?!"


Bara mentertawakan reaksiku yang berlebihan dan malah membawaku ke pintu besar yang ada di sana. Aku terkagum-kagum melihat ruangan ini tapi juga merasa minder disaat yang bersamaan.


"Lo udah siap?" tanya Bara.


Terima kasih karena tidak mengejekku kampungan.


Jarinya langsung menekan bel dan aku tiba-tiba saja merindukan Damar. Jika dia ada di sini sekarang sudah pasti kami akan saling berbisik dan berdecak kagum melihat kemewahan ini. Tapi sayangnya dia sudah termat membenci Rumi, jadi mari kita lupakan dia sejenak.


"Emang dia ada di rumah? Lo kok bisa seyakin itu?" Aku bertanya dengan tujuan untuk menunda pertemuan kami.

__ADS_1


"Dia nggak kuliah, lagian Rumi nggak suka pergi ke tempat lain. Jadi pasti dia ada di rumah."


Detak jantungku berdegup kencang. Aku gugup.


Untuk beberapa menit bel dibiarkan berbunyi dan itu membuatku lega. Pasti karena Rumi tidak ada di rumah.


"Tunggu aja bentar lagi. Dibukain pasti sama dia," kata Bara yang seakan tahu apa yang aku pikirkan.


Tiba-tiba pintu terbuka, Rumi muncul dari dalam yang membuatku langsung mengernyit.


"Lo sakit?!" tanyaku.


Rumi keluar dengan pakaian aneh yang mustahil dia kenakan jika aku tidak melihatnya langsung. Dia mungkin mengenakan lima atau enam sweater dan celana tebal yang aku tidak tahu berapa jumlah yang dia kenakan. Tubuhnya terlihat lebih berisi dengan pakaian aneh itu.


Aku menatapnya sejenak ternyata wajahnya sudah memerah, matanya juga berair, dan hidungnya merah.


"Ngapain lo berdua ada di sini?" Suaranya serak dan dia sesekali meringis saat berbicara, "Bar, Lo ngapain bawa dia ke sini?"


"Kacau banget sih lo." Bara mendorong Rumi masuk kembali ke dalam, dia meraih tangan Rumi yang sepertinya sudah berada diambang batas, "kita bicarakan nanti. Buat sekarang lo harus balik tidur. Kenapa nggak kasih tahu gue kalau lo sakit," cecarnya.


Aku terkejut dengan keakraban mereka dan lebih terkejut lagi saat melihat Rumi yang menuruti Bara tanpa protes. Aku menutup pintu di belakangku dan mengikuti mereka berdua masuk.


Aku menatap ke sekeliling penthouse milik Rumi dan mengernyit melihat keadaanya. Ada bekas makanan yang tergeletak di mana-mana, bersama dengan botol minuman alkohol dan bekas puntung rokok. Dan lihat ... banyak sekalian pakaian yang berserakan. Jika kutaksir pastinya pakaiannya lebih banyak daripada pakaianku.


Aku mencoba mengabaikan penthouse yang hancur ini dan mengikuti mereka masuk ke dalam kamar Rumi yang ternyata sangat bersih dibandingkan ruang tamunya tadi.


Aku berdiri di dekat pintu dengan canggung sementara Bara merebahkan Rumi kembali ke tempat tidur.


"Lo harusnya kasih tahu gue-" Bara masih saja protes tapi tetap membantu mencarikan obat untuk Rumi. Sayangnya pria itu tidak peduli dan tidak ingin menggubrisnya. Tatapannya malah terpaku padaku.


Jika dia tidak sakit pasti aku sudah diusirnya keluar dari sini.


"Bisa jelasin ke gue kenapa itu cewek bisa ada di apart gue?" katanya pada Bara.


Bara hanya tersenyum gugup, dan melihatku dan Rumi secara bergantia.


"Lyan cuma mau nanyai sesuatu ke lo."

__ADS_1


"Gue nggak suka dia ada di sini," bentak Rumi.


"Listen to her first, oke?" Bara berusaha menenangkan Rumi yang sumbu amarahnya mulai terpancing.


Jika saja aku tidak membutuhkan dia sudah pasti aku akan pergi saat ini juga.


"Jadi gini masalahnya buat penampilan babak final gue butuh partner dan gue bakal langsung didiskualifikasi kalau nggak punya pasangan,," ucapku to the point.


Rumi menatapku seolah aku gila, "gue nggak nari."


Aku tertawa, "Gue nggak minta lo buat jadi pasangan gue," decakku dan dia masih menatapku bingung, "gue mau pinjam Bara buat jadi pasangan gue."


"Terus apa hubungannya sama gue?"


"Karena dia temen lo dia minta gue buat ngomong dulu ke lo, berarti dia minta izin ke lo," kataku kesal.


Rumi mengerang, sedangkan Bara mencoba menyembunyikan diri di balik bantal.


"Lo bercanda ya, Bar," sembur Rumi. Sedangkan dia malah tersenyum malu-malu di balik bantal yang membuatku bergidik.


"Malu-maluin gue lo. Gue kan bukan orang tua lo."


"Iya emang." Bara menurunkan bantalnya agar dapat berbincang secara nyaman, "lo ingat cowok yang ngajak Lyan ke Prom Night nggak dan lo ngajak gue buat motong bannya, terus ngebuat dia nggak bisa datang tepat waktu?"


"Apa-apaan lo berdua?" Aku memekik terkejut mendengar fakta ini. Antara marah dan lucu. Mataku langsung beralih seratus persen ke Rumi tapi pria itu malah memelototi Bara yang ember disaat yang tidak tepat.


"Lo ngapain usil begitu?"


"Rumi emang aneh. Dia selalu kasih pelajaran ke cowok yang nyakitin lo-"


"Shut up bastard!" Rumi melemparkan bantal tepat ke wajah Bara dan setelah itu dia memelototiku, "gue usil karena lo ngadu ke Dekan soal gue yang having *** di kelas. Lagian gue lakuin itu supaya lo nggak having *** sama dia."


"Dasar lo. Gue nggak ngesex sama dia."


"Lo pikir gue percaya?"


"Gue ngadu karena lo udah kelewatan dan gue nggak salah dong karena lo emang ngelakuin itu."

__ADS_1


Dia menatapku tajam dan tidak membalasnya lagi, mungkin karena dia sudah kehabisan kata-kata.


Siapa sebenarnya yang bodoh di sini?


__ADS_2