
Lyan's
"Gue nonton blue film buat ngilanging stress sih biasanya," ujarku.
Tinggal sendiri dan juga bekerja untuk menghasilkan uang, benar-benar membuatku merasakan sepi. Aku terkadang lelah menjalani semua rutinitas yang membosankan. Ada kalanya aku ingin berhenti mengerjakan semua ini.
"Dasar aneh."
"Nggak aneh." Aku memajukan wajahku sedikit agar dapat melihat wajahnya, "cuma mau lihat pemeran cowok yang keluar setiap dua menit sekali."
Rumi tertawa keras, suaranya terdengar seksi dari jarak sedekat ini, "Gila kali. Ya nggak mungkin setiap dua menit dodol. Cowok juga bisa pingsan kalo ereksi 3 kali di jam yang sama."
"Masak cuma tiga kali? Gue aja bisa lebih dari tiga kali, sama orang yang berpengalaman tapi." Aku menggodanya.
"Lo nantangin gue apa nawarin nih?"
Aku memutar malas mataku. Entah mengapa aku merasa ada sekumpulan kupu-kupu yang berterbangan saat Rumi sedikit menggodaku, "Nggak dua-duanya," seruku. Suaraku sedikit bergetar menahan sensasi aneh itu. Aku berharap Rumi tidak memperhatikan.
"Dih. Kenapa? Lo gugup?" Dia terkekeh dan terus- menerus menggodaku, "lo lagi ngebayangin kita tidur bareng ya."
"Enak aja. Nggak ya," sanggahku terlalu cepat, "lagian kenapa harus dibayangin?"
Demi apa pun aku merasa malu saat ini. Rumi seperti manusia yang bisa membaca apa yang tengah aku fikirkan.
"Nggak usah nyangkal. Gue tahu lo suka sama gue." Rumi terus tertawa membuat wajahku merah seketika.
Aku mencubit pipinya dan membungkam mulutnya dengan tangaku karena dia masih terus-terusan mentertawakanku, "Semuanya juga tahu kalau lo yang naksir gue," balasku.
Rumi hanya diam. Dia tidak menyangkal atau membenarkan tuduhanku. Saat aku berpikir kami akan melanjutkan perjalanan dalam kesunyian Rumi tiba-tiba bertanya, "Lo ngapain latihan tari stripper di studio?"
Aku menggeleng mendengar pertanyaan retoriknya, "Nggak semua tari itu disebut stripper. Rumi."
Rumi mendengus tidak percaya, "Tapi lo lebih bagus kalau jadi penari stripper, gue udah lihat tadi. Coba pikirin baik-baik mana tahu lo tertarik."
"Itu mah lo yang suka."
__ADS_1
"Ya iyalah gue suka."
"Dunia sedang tidak baik-baik aja kayanya. Tumben-tumbenan seorang Rumi muji gue," gumamku merasa malu.
"Gue nggak muji dodol." Rumi membentak.
"Penari stripper kan dibayar karena mereka mencari nafkah dengan cara menari. Terus tadi lo bilang tarian gue kayak stripper artinya gue penari yang bener-bener bagus dan harus dibayar."
"Penari stripper dibayar karena mereka telanjang, Lyn."
"Lo nggak tau ya? Gue juga bisa tari strippper," kataku polos.
Rumi tersandung bahkan hampir terjatuh. Untung saja dia tetap bisa menyeimbangkan badan sehingga kami berdua tidak tersungkur.
Aku tertawa ternyata seorang Rumi bisa salah tingkah juga. Selama sisa perjalanan menuju rumahku perdebatan tetap hadir di antara kami.
Rumi masih hafal jalan menuju rumahku. Jalan yang dulu selalu kami lalui bersama. Mama saja sampai mengenal seorang Rumi karena berkali-kali Rumi datang untuk menyambangiku ke rumah.
Jika kalian berpikir aku dan Rumi pernah memiliki masa lalu indah bersama, kalian salah sangka. Hobby Rumi itu menyiksaku, dia datang kerumah karena ingin membawaku pergi untuk mendaki atau bermain roller coster. Yang terpenting melakukan aktivitas yang dapat menyiksaku. Panutan sekali kan manusia satu ini.
Aku turun dari punggunya, mencoba melangkah meski rasanya sedikit nyeri, "Sorry deh. Namanya juga musibah kan kaki gue keseleo."
"Makannya diperiksa bener-bener sebelum lompat."
"Namanya juga refleks." Aku tertawa membuat Rumi menggeleng tidak paham, "masuk dulu yuk gue traktir minum." Aku mencari kunci di saku tasku.
"Siip. Bir kan? Dua botol ya." Rumi mengambil kunci dari tangaku dan membuka pintunya, "ayo silahkan masuk. Nggak usah sungkan."
Dia siapa? Bukannya ini rumah gue? Seseorang tolong bawa Rumi pergi.
Aku hanya diam mengikuti langkahnya dan dia mulai memperhatiakan rumahku. Tanpa disuruh Rumi berinisiatif menghidupkan lampu dan membuka kulkasku. Dia menganggap rumahku seperti rumahnya sendiri ternyata.
"Yang sopan coba. Lo kan tamu."
Dia tidak menggubrisku sama sekali. Di tangannya sudah tergenggam manis botol bir simpananku dan tanpa permisi dia membukanya dan langsung meneguknya.
__ADS_1
"Gue bukan tamu, jadi santai aja," katanya sambil duduk bersandar di sofa. Dia mengangkat kakinya ke atas meja dan membuatku ingin sekali mengomelinya, tapi harus kutahan karena panggilan alam memaksaku untuk beranjak pergi.
"Turunin nggak kaki lo dari meja. Nggak sopan tahu." Aku menggigitnya sebelum berjalan memasuki kamarku dan menguncinya.
Aku mencoba bertahan dengan rasa linu yang semakin kuat. Dengan kecepatan kilat aku membersihkan diri karena tadi aku banyak berkeringat saat latihan. Hanya membutuhkan sepuluh menit untukku menyelesaikan mandi dan buang air kecil. Setelahnya aku berdiri di depan cermin untuk menggunakan skincare malam.
Rumi masih di sana saat aku keluar dari kamar. Duduk dengan nyaman sambil menonton televisi. Aku kira dia sudah pulang karena tadi terdengar suara pintu yang tertutup. Aku meruntuki kebodohanku yang hanya menggunakan hotpants katun dan juga kaos usang yang transparant.
Dia menatapku intens saat aku melangkah santai kearah dapur. Inginnya aku kembali ke kamar dan mengganti pakaianku tapi sudah terlambat karena Rumi sudah melihat aku keluar. Pandangan matanya yang amat intes membuatku gugup. Untung saja botol yang kuambil tidak sampai jatuh. Aku tidak ingin salah tingkah didepannya.
Rumi menatapku dari atas kebawah. Hal itu dilakukannya berkali-kali sampai membuatku gerah seketika.
"Lo lagi ngundang gue nih ceritanya."
"Kalau gue bilang iya emang lo mau soent night sama gue," kataku sambil menaiki meja untuk duduk di atasnya.
Rumi mengepalkan tangannya. Rahangnya terkantup erat.
Dia segera meneguk birnya dan berdiri dari duduknya. Rumi Abhimaya bukan pria dengan otot menonjol tapi proposi tubuhnya yang tegap dengan sedikit otot yang bermunculan menambah kesan liar nan menggoda. Kaos putih berpotongan v neck yang dikenakannya membuatku ingin merobeknya dan mengintip bagaimana tubuhnya yang tersembunyi di sana.
Aku menggigit bibir bagian bawahku. Pipiku memanas saat aku memikirkan hal tak senonoh tentang Rumi. Saat ingin mengembalikan kewarasanku aku terlambat Rumi sudah berada tepat di depanku dengan wajah sempurna miliknya yang bagai pahatan.
"Apa?" kataku.
"Lo pikir bisa lo bisa godain gue, hum?" Rumi berkata pelan namun mengancam. Aku yakin jika dia memiliki kesempatan untuk menghajarku dia akan dengan senang hati meninjuku.
"Gue juga nggak mood buat godain lo, jadi lo diem aja."
Dia bergeming di tempatnya. Matanya menatap tajam kearahku. Semakin lama semakin intens, hangat nafas miliknya terasa semakin dekat.
Rumi mendekatkan wajahnya dan mengecup pelan keningku. Hanya sesaat kemudian beralih pada kedua pipiku dan berakhir di bibir.
Awalnya hanya kecupan singkat namun perlahan kecupannya semakin dalam dan menuntut.
He's good kisser.
__ADS_1
Aku sendiri sampai kewalahan untuk mengimbangi Rumi. Dia seperti orang lain.