
"Kenapa dia ada di sini?"
Aku harus berkali-kali mengingatkan diriku untuk tidak menghajar Dimas jika aku tidak ingin berakhir di penjara.Bara yang menyadari tingkahku yang mengepalkan tangan secara tidak wajar itu langsung melerai kami berdua.
"Gue yang minta dia datang."Bara berbicara dengan senyuman dan antusiasme yang tinggi, "gue harap lo nggak masalah Dim dan itu juga berlaku buat lo Lyan."
Aku memilih untuk mengalihkan pandanganku ke arah Lyan daripada melihat Dimas.Dari raut wajahnya aku bisa mengetahui jika dia juga merasa terganggu dengan kehadiranku, tapi dia tidak terlalu mempermasalahkannya dan mengangguk, "Gue nggak masalah dia ada di sini asalkan... Dia nggak ngomong sepatah katapun," perlakuan dia terlalu kejam.Bagaimana mungkin manusia bisa tahan untuk tidak berbicara.
"Keren," sungutku.
Dimas ikut balas, "Nggak ngomong sepatah katapun, Rumi," ejeknya dan itu kembaki bikin kesal
Aku tahu jika aku terlalu lama berada di dekat dan melihat emosiku pasti akan terpancing.Jadi, aku memilih untuk menatap cermin dan aku bisa melihat Lyan menggoyangkan kepalanya yang kecil dan memohon padaku untuk menahan diri.
Aku memejamkan mataku untuk menghalau emosi yang sudah mengalir hingga ke ujung kepala, lalu memilih untuk menjauh dari Dimas dan mengambil duduk di sudut studio tari milik Lyan.Dimas juga ikut pergi dan dia memilih ke arah berlawanan.Mungkin dia enggan dekat denganku, jangan lupakan juga jika saya sama tidak sudinya dengan dia jika harus berdiam lama bersama
Bara mengusap pelan pundakku dan meyakinkanku sebelum berjalan ke arah Lyan.Aku bisa melihat wanita itu tersepu ketika Bara menjahit tangannya untuknya.
Bibirku tertarik ketika dia sudah mulai menggerakkan tubuhnya.Langkah kakinya konstan dan dia tampak lebih menarik saat menari.Wajahnya berseri-seri tampak dia sangat menikmati kegiatannya saat dia menari.Lyan tampak seperti orang yang berada.Dia terlihat luar biasa dan berbeda.
Dia yang seperti itu membuatku tidak bisa membencinya.
Sayangnya aku memisahkan diri, meski Dimas ada di seberang tapi aku tetap menikmati kesendirianku.Hanya ketika aku bisa melihat dengan cermat orang-orang di sekitarku.Aku bisa mendiagnosa mereka dan menebak bagaimana kepribadiannya.
Aku mengabaikan Dimas.Pada dasarnya aku tidak pernah membenci pria itu tapi melihat dia yang sangat menjaga Lyan kadang membuatku salut.Kalau dipikir mereka berdua hanya teman dan tidak ada deklarasi yang memberitahu jika mereka berdua memiliki hubungan, hanya melihat yang terlalu menjaga Lyan terasa sangat aneh .Jujur saja sejak dimana aku menghajarnya, mulai detik itu rasa tidak sukaku tumbuh.Ternyata selama ini aku masih belum menganalisis pria itu karena dia terlalu sering bersama Lyan, seperti yang kalian tahu, aku sangat membenci wanita itu jadi aku tidak menghabiskan waktu untuk menganalisis orang -orang yang ada di sekitar dia.Dimas, pria itu sangat sulit ditebak.Dia memiliki sifat yang optimis dan semangat, namun terkadang dia sangat dingin dan tidak tersentuh.
__ADS_1
Saya beralih membocorkan Bara dan entah mengapa rasa bangga itu muncul ketika mengetahui jika dia memiliki bakat.
Tatapanku akhirnya melawan Lyan.Orang yang selalu menjadi alasanku uring-uringan tidak jelas.Entah kenapa melihat menari mengingatkanku akan fantasi pembohong yang kuharap akan terjadi.Melihat dia menari penari telanjang dan menghabiskan malam yang panas berdua denganku.
Aku memang bajingan dan aku tidak akan menyangkalnya karena bagaimanapun aku pria yang seharusnya berlindung di balik kata normal.Hanya saja aku merasa tertantang dengan Lyan.Dia tidak pernah menyodorkan dirinya padaku tapi dia juga tidak menolak saat aku merayunya.Bagiku itu sudah cukup untukku terus maju dan membuatnya menyerah.
"Bara tolong konsentrasi!"
Lyan kembali jatuh saat Bara tidak berhasil menangkapnya tepat waktu setelah dia melompat.Gerakan yang digambarkan Lyan adalah gerakan yang sulit dan Bara pun juga menemukan waktu sulit yang tepat untuk menangkap Lyan.
Bera merauh tangan Lyan dan membantunya bangun, "Maaf. Gue bekum nemu ritme yang pas," katanya dengan wajah penuh penyesalan.
Lyan mendengus dan tatapannya berkedip ke arahku untuk pertama kalinya sejak dia memulai.Belum sempat aku membalas dia sudah lebih dulu memalingkan wajahnya.
Mereka berlatih selama satu jam tanpa henti dan itu membuatku lapar.Bukankah latihan ini harus berakhir sampai disini.Lyan benar-benar membuat Bara lelah apalagi langkah tari yang sepertinya sangat sulit diikuti oleh Bara.
“Gue pulang!”Dimas tiba-tiba berdiri dari tempatnya dan mengangkat tangannya tanda menyerah, “udah malam gue harus pergi.”
Lyan sendiri sudah bersandar di dinding dia juga tampak kelelahan, "Iya. Hati-hati."
Dimas kini beralih pada Bara, "Lo yang bakal antar dia pulang, kan?"
"Iya. Jangan khawatir."
"Oke," ucapnya, setelah mendapat jawaban dari Bara dia mendekat ke arah Lyan dan memberikan wanita itu kecupan perpisahan di pelipisnya, "lo baik-baik aja kan pulang bareng dia?"
__ADS_1
Aku langsung memalingkan wajahku dari pemandangan yang menjijikan di depan sana.Sahabat macam apa yang bertingkah seperti itu?Apa yang harus kecupan seperti yang diberikan?Lagian Lyan bukan lagi anak kecil.
Dia pergi dan dia benar-benar mengabaikan kehadiranku seperti aku yang mengabaikan dia. Kepergiannya membuatku bangkit dari tempat dudukku sambil sedikit merentangkan kakiku. Aku tidak melihat tapi aku bisa merasakan tatapan Lyan yang menatapku dan itu membuatku berjalan mendekat ke arahnya.
"Ternyata lo masih hidup."Bara meninju lenganku main-main.Aku tidak menjawab dan hanya menatap tatapan kosong.Bara mendengus sinis me, "gue bakal istirahat sekarang dan 10 menit lagi gue bakal balik."Bara langsung pergi meninggalkanku berdua hanya dengan Lyan setelah dia mengatakan itu.
"Kenapa dia begitu terus sih?"Lyan prihatin kesal, "selalu aja ninggalin gue cuma berduaan sama lo."
"Mungkin dia capek dan butuh istirahat," kataku acuh.
Lyan menghela napas pelan dan mengembuskan napas lega.Dia bangkit kembali dengan rambut yang berantakan dan keringat yang memenuhi baju bagian depannya.
"Kenapa mata lo selalu natap dada gue sih? Apa masih kurang pelayanan dari cewek-cewek lo?"
AKu tidak bisa menahan tawaku karena tertangkap basah membocorkan aset berharganya.Memang jika berada di samping Lyan, otak mesumku selalu bekerja lebih cepat.
Pandanganku naik ke wajahnya dan dia juga tampak tengah menahan senyumnya.Dengan tahu aku melangkah mendekat.
Dia mengangkat tangannya untuk menahanku, "Jangan berpikiran kalau lo bisa nikmatin punya gue." Dia memperingatkan sambil menggelengkan kepalanya, "Bara bisa balik tiba-tiba."
Aku tersenyum karena kebodohannya. Jadi intinya dia mengundang?
"Dia bakal lama di luar. Percaya sama gue," kataku memprovokasinya.
Wanita itu mulai melirik ke pintu sambil menggigiti bibirnya mencoba mempertimbangkan tawaranku. Aku sangat berharap dia melakukan aoayyang aku sarankan, tapi seperti biasanya. Sudah pasti Lyan lebih memilih jawaban yang berlawanan.
__ADS_1